61. Pertengkaran

1035 Kata
Adalah Marquess Carnold yang berdiri tegap di samping kakaknya yang duduk lesu di atas kursi kerja. Ansel terlihat memusingkan sesuatu. Pria itu memandangi tumpukan dokumen di meja kerja sambil menumpukan dahi ke tangan. Ionna menautkan alis saat Ansel mengangkat wajah, menampakkan kantung hitam tebal menggelayuti bawah matanya. Mereka sudah lama tidak bertemu di meja makan. Jadi, jangan salahkan Ionna yang bertanya-tanya alih-alih mengetahui apa yang telah terjadi kepada sang kakak. Tidak seperti biasanya, Ansel tidak melebarkan senyum ketika melihat adik perempuannya datang. Apa Ionna berbuat salah lagi? Kenapa akhir-akhir ini Ansel sering sekali marah-marah. Dia bahkan lebih sensitif dari kaum hawa yang mengalami siklus bulanan. “Aku tidak marah, Ionna. Jika kau penasaran.” Ionna mendesah kasar tanpa sadar. Padahal dirinya belum berkata apa-apa. “Ada apa kau memanggilku?” “Sebentar, biarkan aku berpikir dulu. Luce, suruh mereka keluar.” Lucian yang sejak tadi diam mengangguk. Ia hendak membuka mulut untuk melaksanakan perintah Ansel, namun sang lady justru menahan para pelayan ruang kerja di tempat. “Bawakan kami seperangkat teh kamomil dan kudapan ringan. Kembali dalam waktu lima belas menit setelah aku memanggil kalian. Mengerti?” “Aye, My Lady.” “Bagus. Kalian bisa pergi.” Setelah kelima pelayan berpamitan pergi, barulah Ansel bisa bernapas lega. Kegelisahan dan kekhawatiran mendominasi ekspresinya yang sedang tidak sedang baik-baik saja. Ada hal yang perlu ia lakukan, salah satunya adalah keselamatan adik perempuannya. Mereka tidak saling berjumpa selama berhari-hari dan itu membuat Ansel takut dirinya melewatkan sesuatu tentang Ionna. Untuk kali pertama dalam hidup, Ansel merasa frustasi karena tidak bisa berbuat apa-apa. Berdiam diri, menahan diri sama sekali bukan hal yang ia sukai. Ia bisa saja membunuh Ruford Barten yang dirumorkan masih berkeliaran di duchy Laundrell. Tempo hari, seluruh duchy dihebohkan oleh kemunculan Duke Barten di pasar kota. Ansel tidak mungkin bersikap was-was seandainya tidak ingat pria itu telah menyeret Lady Evangeline Hernsberg ke dalam permainannya. Jika Lucian punya Lady Hernsberg yang harus dilindungi, maka Ansel punya Ionna. Keberadaan Ruford di duchynya jelas-jelas bukan sekadar ‘berlibur’ seperti yang dikatakan pergaulan sosial. Mereka tidak tahu apa yang pernah pria itu lakukan terhadap Ionna. Jeremy Castiello dan Daniel Swenpard mungkin tidak akan merencanakan upaya balas dendam dan mengusik hidup Ionna lagi, namun Ruford Barten adalah orang konyol yang selalu ingin menunjukkan kehebatannya kepada publik. Kemunculannya di pasar kota seakan memberitahu Ansel bahwa pria itu bisa melakukan apa saja, termasuk mencelakai Ionna, di saat dirinya lengah. Hanya dengan membayangkan adik perempuannya jatuh ke lubang yang sama seperti Lady Evangeline rasanya sungguh menakutkan. “Sel. Ansel. Ansel!” Ansel tersentak, merasakan tepukan Lucian di pundaknya. Ia setengah melamun ketika mencari-cari Ionna yang masih di depan mata. Gadis itu memiringkan kepala dengan alis bertaut begitu pandangan mereka bertemu. Tumben-tumbennya Ansel kehilangan fokus dan tidak berkonsentrasi pada lingkungan sekitarnya? Ionna menyadari ada yang tidak beres saat Ansel membenarkan posisi duduk dan menautkan kesepuluh jari di atas meja kerja. Dan lagi, Lucian ada di sini. Apakah itu artinya— Ionna memandang sejenak pria pirang itu, menggigit bibir berusaha untuk tidak terdistraksi oleh keberadaan Lucian. Ugh, desiran aneh di dadanya benar-benar mengganggu. “Jawab yang jujur, Ionna.” Kerutan di dahi Ionna semakin dalam mendengar suara Ansel yang berubah serius. “Ke mana kau saat aku dan Ibu pergi tempo hari? Pelayan kamarmu bilang kau, Annie, dan Raphael menghilang hingga tengah hari. Apa kau mencoba membodohiku?” Ionna merutuki si pelayan bermulut ember. Ia akan mencari tahu siapa pelayan itu nanti. “Kami bertiga berkuda mengelilingi desa.” “Bohong. Chelsea sedang dalam perawatan karena dia sakit. Kau berbohong, Ionna.” “Kenapa kau mencampuri urusanku?” “Apa sesusah itu menjawab pertanyaan kakakmu?!” Ionna refleks berjalan mundur. Ansel menggebrak meja, nyaris membalikkannya bila Lucian tidak lekas menghentikannya. Wajah Ionna seketika pucat pasi, tangannya bergetar, dan ia meneguk ludah menerima tatapan dingin dari tanzanite Ansel yang berilat marah. Kenapa? Ada apa? Apakah masalah besar meninggalkan rumah dan bersenang-senang di pasar kota? Apakah Ansel akan menghukumnya karena berbaur dengan kehidupan rakyat biasa? Banyak bangawan yang melakukan penyamaran untuk melihat kehidupan lain di luar kediaman megah mereka, namun Ionna yakin Ansel tidak akan mengerti karena pria itu selalu menikmati kemewahan yang disuguhkan kelas atas. Mengepalkan tangan kuat-kuat, Ionna berkata dengan susah payah sambil memaksakan diri menghadapi gelombang kemarahan Ansel , “Aku tidak pernah bertanya ke mana kau pergi, dengan siapa kau bertemu, maupun apa saja yang kaulakukan di luar sana. Selama ini aku diam saja meskipun kau tidur dengan banyak wanita dan memperlakukan mereka seperti mainan. Karena itu, kau tidak berhak mengetahui apapun aktivitasku di luar sana! Kau tidak berhak!” “Hah, sialan.” Agaknya, cecaran Ionna barusan memadamkan api yang sedetik lalu menyulut sumbu emosi di kepala Ansel. Tubuh Ansel pun jatuh lemas di atas kursi. Menekan-nekan kening yang terasa penuh, Ansel enggan memikirkan cara untuk menyampaikan maksud kekhawatirannya terhadap Ionna. Ia sedang diselimuti kejenuhan. Penyelidikan alkohol terlarang memang ditangani oleh sahabatnya. Tetapi, untuk masalah Ruford si cecunguk itu Ansel harus berhati-hati setiap mengambil langkah. Sementara itu, diam-diam Lucian mencemooh betapa payahnya Ansel. Ia adalah penonton bayaran yang sempurna untuk menyaksikan pertengkaran hebat antara kakak-beradik Laundrell. Jika dia tidak di sini, Ansel bisa benar-benar mengangkat meja berat itu dengan satu tangan dan melemparkannya ke ujung ruangan. Dasar orang gila. “Maafkan saya menyela pembicaraan kalian,” ucap Lucian akhirnya, memutuskan mencairkan kecanggungan di ruangan itu. “Kami mendengar kabar burung mengenai Duke Barten, My Lady. Beliau muncul di pasar kota di hari yang sama ketika Anda menghilang. Itu sebabnya His Grace sangat mencemaskan Anda.” Ionna beralih menatapnya dengan mata memerah menahan tangis. Pertahanan gadis itu bisa runtuh kapan saja bila mereka tetap bungkam. “A-aku.” Ionna tergagap dan entah mengapa Lucian merasa ada sesuatu yang tengah gadis iu sembunyikan. “A-aku tidak ada hubungannya dengan Duke Barten. Aku baik-baik saja, jadi jangan cemaskan aku.” Bukankah itu justru terdengar seperti sebaliknya? “Baiklah. Hanya itu yang ingin kami ketahui. Terima kasih telah menjawab pertanyaan saya, My Lady.” Lucian menatap Ionna lekat-lekat tepat ketika suara ketukan pintu menginterupsi mereka. Pelayan-pelayan tadi kembali membawa perlengkapan teh dan kudapan yang Ionna minta. Ionna pun pamit undur diri dan menyuruh mereka menghidangkan teh untuk kakaknya yang terlihat lelah. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN