46. Questions

1024 Kata
 Rintihan Ionna membuat Lucian kebingungan. Ia merasa dirinya tidak memegang lengan kiri Ionna sekuat itu, namun mengapa gadis itu kesakitan tanpa sebab? Lucian mengamati wajah Ionna yang dipenuhi keringat dingin. Setetes air mata pun jatuh menuruni pipinya. Lucian tahu Ionna tidak sedang bersandiwara. Jadi, ia mengambil katalog cincin di lantai, menyentuh pundak gadis itu, dan bertanya di mana yang salah. “Apa saya melukai Anda, My Lady?” Ionna menegang, tanpa sadar mundur selangkah dan menyembunyikan tangan kirinya di balik tubuh. “Tidak. Aku cuma terkejut. Maafkan aku karena bereaksi berlebihan.” Lucian tampak meragukan jawabannya. “Jika saya memang melukai Anda, katakan saja, My Lady. Saya akan bertanggung jawab?” Bertanggung jawab, huh? Lucian selalu mengambil tanggung jawab atas segala hal yang tidak berhubungan dengan dirinya. Ionna menatap pria itu tajam. Benar sekali. Ada satu pertanyaan lain yang mengganjal benaknya sejak lima tahun lalu. Alasan bergabungnya Lucian ke parlemen dan kepergiannya ke Andasia. “Sampai kapan kau akan bersikap baik hati dan bijaksana, Marquess Carnold? Kau merasa bertanggung jawab atas lukaku? Lalu, bagaimana dengan perasaanku?” Pikiran Ionna mulai kacau. Kekesalannya terhadap Miss Erica Levon bercampur menjadi satu dengan rasa nyeri yang membakar sepanjang lengan kirinya. Ionna menghadiahkan senyum sinis untuk pria di depannya. Ya Tuhan, Ionna harus bisa mengendalikan diri. “Tidak. Lupakan tentang perasaanku. Kebaikanmu selama ini kusalahartikan sehingga aku yang berakhir menyukaimu. Tapi, Marquess Carnold, kuharap kau tidak lari dari pertanyaan ini. Lima tahun yang lalu, apa kau mengambil keputusan itu karena diriku? Karena kau ingin menyelamatkanku?” Ekspresi datar Lucian tidak memberinya petunjuk apapun mengenai praduga dalam kepala. Pria itu setenang air yang mengalir di Sungai Eden istana. Ionna menyambar katalog cincinnya, mengabaikan tatapan Lucian yang sama sekali tidak berpaling darinya. “Saya tidak mengerti apa yang Anda katakan, My Lady.” Ionna pasti terlihat konyol menumpahkan kemarahannya pada Lucian. Jika Ionna sungguh berniat melupakan pria itu, seharusnya ia bersikap natural dan mengubur dalam-dalam kenangan mereka selama ini. Ionna memejamkan mata untuk menguasai emosinya. Ia tidak boleh meledak. Ia tidak boleh membiarkan bom waktu itu menghancurkan ketegarannya. Ia harus bisa menunjukkan bahwa tanpa Lucian pun, ia bisa bertahan dengan tekad dan keyakinannya sendiri.  “Aku telah mengatakan hal yang tidak berguna.” Ionna merentangkan gaun dan membungkuk kepada Lucian. Lucian membalasnya dengan anggukan hormat. “Lebih dari itu, My Lady, apa tangan Anda baik-baik saja?” Lucian bersikeras menanyakan keadaannya. Berjalan melewati pria itu, Ionna pun meraih kenop pintu, meremasnya erat, membukanya secara perlahan. “Tolong, berhenti mengkhawatirkanku,” lirihnya dengan suara gemetar. Mereka saling memunggungi satu-sama lain. Ionna takut pertahanannya runtuh bila terus menghidu aroma Lucian dan berhadapan dengan sosoknya yang indah. Ionna takut dirinya akan goyah. “Jika kau bersikap peduli padaku, maka tidak akan ada yang berubah, My Lord. Setidaknya, bisakah kita menciptakan jarak lebih jauh? Aku tidak ingin menyakiti hatiku lagi. Lagipula, aku bukan siapa-siapa bagimu. Aku, aku sedang berusaha melupakanmu. Aku janji akan melupakan perasaan ini. Jadi, kumohon bantu aku, My Lord.” Derit pintu yang nyaring menggetarkan gendang telinga Lucian. Tapak sepatu Ionna sayup-sayup menjauh dan Lucian mendengar pintu kembali di tutup setelahnya. Lucian memandang lurus ke depan sambil meredakan gejolak asing dalam d**a. Tangannya gemetaran. Ia pikir dirinya telah melukai gadis itu saat menarik lengannya. Mungkin, cengkeramannya terlalu kuat. Mungkin, ia telah meremas lengan kurus gadis itu. Atau mungkin juga, ia membuat gadis itu terkilir dan kejadian yang sama ketika dansa di malam debutan terulang lagi. Wajah Lucian digelayuti awan mendung. Pria itu menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab ucapan Ionna dengan sangat terlambat. “Aye, My Lady.” --- Ionna meringis tiap kali Annie menyentuhkan kapas di atas luka memanjang yang kembali terbuka. Kapas itu mengisap darah yang mencoba menyembul ke permukaan kulit. Sementara itu, Annie menangis sesenggukan tak tega melihat puluhan bekas luka di lengan kiri Nonanya. Ia tidak ada di samping Ionna saat gadis itu menyayat tangannya sendiri. Seandainya ia ada di sana, ia pasti bisa menghentikan gadis itu dan lukanya tidak akan menjadi separah ini. “Maaf, My Lady. Saya akan lebih memperhatikan Anda mulai sekarang. Saya tidak akan meninggalkan Anda dan selalu berada di sisi Anda sepanjang waktu.” “Kenapa kau tidak jadi pengawas penjara saja, Annie?” seloroh Ionna, menertawakan ekspresi masam Annie. “Hei, ayolah, Annie sayang. Kau telah melakukan banyak hal untukku. Kau satu-satunya orang yang paling perhatian dan menjagaku dengan baik.” “Tapi, luka ini—” “Jangan mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja.” Annie mengangguk kemudian membalut luka Ionna dengan perban. Gadis itu pun menurunkan lengan gaun Ladynya, menyeka air mata, dan menutup kotak obat di pangkuan. “Apa Marquess Carnold penyebabnya, My Lady?” tanya Annie, sedikit kesal. “Tidak. Dia tidak tahu dan tidak sengaja. Ini bukan kesalahan siapa-siapa.” “Bagaimana pertemuan kalian tadi?” “Tidak ada yang istimewa. Kami tidak banyak bicara dan aku pergi karena dia datang untuk menemui Kakak.” Sebuah pelukan mendarat menghangatkan tubuh Ionna. Tepukan di punggung Annie berangsur-angsur menenangkan hati dan pikiran Ionna yang berantakan. Ionna selalu menangis di pelukan Annie. “Anda ingin menangis, My Lady?” “Aku bukan anak kecil.” “Benar. Anda tidak boleh menangis lagi. Mata Anda bisa sakit dan wajah Anda bisa bengkak.” “Hum, lagipula aku harus fokus pada pertunanganku, bukan? Aku bukan seorang gadis lajang sekarang. Lord Sebastian Magnolia pasti—” Ionna menggigit bibir. Suaranya mulai bergetar dan ia membenci dirinya sendiri yang berbohong dengan terus mengatakan baik-baik saja. Annie membaca perasaannya seperti cenayang. Gadis itu mengetahui segala penderitaan dan rasa sakitnya seperti seorang saudara. Ionna bersyukur memiliki Annie seorang di sisinya. Jika bukan karena Annie, bagaimana bisa ia bertahan di rumah terkutuk ini? “Lord Sebastian Magnolia pasti akan menyayangiku. Benar ‘kan, Annie? Beliau pasti akan memperlakukanku dengan baik dan mencintaiku. Kenapa aku menjadi gadis yang menyedihkan?” Annie memeluk Ionna lebih erat. Ia mengusap surai kemerahan gadis itu, membiarkan sang lady menumpahkan tangis di pundaknya yang basah. Ia tidak peduli. “Ya. Beliau pasti akan sangat menyayangi Anda. Bersemangatlah, My Lady. Anda tidak sendirian di dunia ini. Ingatlah itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN