45. Little Incident

1544 Kata
“Saya tahu perkataan saya ini lancang, tapi apa orang-orang Andasia tidak punya malu? Bisa-bisanya Lady Hernsberg menjamu Anda secara pribadi di peringatan kematian Marchioness? Dan kenapa Marquess Carnold mengizinkannya, My Lady?” Omelan Annie tadi pagi terjadi ketika Ionna menerima surat secara terpisah dari kediaman Carnold. Surat pribadi, yang ditulis langsung oleh Lady Evangeline membuat Annie yang tidak pernah mengutuk seorang bangsawan murka. Seolah belum cukup hadir di dalam penantian ladynya, Lady Evangeline seperti sengaja merencanakan ini seakan ia— Seakan ia ingin memperingatkan Ionna agar tidak mengganggu hubungan mereka. Ionna mengumpulkan konsentrasi dan kembali memandangi satu-persatu desain cincin di pangkuannya. Hari ini, seorang penjual cincin datang ke kediaman Laundrell, jauh-jauh dari Magnolia atas perintah Sebastian. Begitu Ionna menerima lamaran Sebastian Magnolia, seisi kerajaan Gouvern sontak menggila. Banyak surat, bunga, dan hadiah Ionna terima sebagai ucapan selamat. Dan Duke Magnolia—calon mertuanya—dikabarkan akan mengunjungi Celeton dalam waktu dekat. Itu artinya pertemuan dua keluarga besar akan segera diadakan dan pertunangan sudah tidak bisa dihindari. Sebuah cincin bertahtahkan kristal ambordian biru menarik atensi Ionna. Ia jadi teringat pada sepatu pemberian Lucian saat debutan. Sepatu itu menjadi saksi bisu akan dansa pertama dan penolakan Lucian terhadap dirinya. Ionna bersumpah tidak akan memakai sepatu itu lagi dan sebisa mungkin menghapus perasaannya. Ia tidak mau terlantu-lantu dengan perasaan sengsara itu lebih lama. “Bagaimana kabar Young Lord Magnolia, Miss Levon?” tanya Ionna yang berusaha menyingkirkan Lucian dari pikirannya. Wanita berkacamata berusia tiga puluh tahunan yang duduk di hadapannya menyesap teh sebelum menjawab pertanyaannya. “Beliau terlihat bahagia saat kami bertemu. Beliau berkata sejak dulu menunggu waktu yang tepat untuk mengirimkan lamarannya. Ternyata sudah lama beliau menjadi pengagum rahasia Anda, My Lady.”  Ionna telah terbiasa dengan para pengagum rahasia di luar sana, namun frasa waktu yang tepat ia rasa benar-benar menyelamatkannya. Sang ibu sedang harap-harap cemas apakah Sebastian Magnolia akan melamar putrinya—karena kemungkinan pria itu menjadi orang terakhir di bumi yang melamarnya—hingga memberi ancaman tentang pernikahannya akhir tahun nanti. Selain itu, tepat sekali berbarengan dengan rencana perjodohan konyol Ruford Barten dan kepulangan Lucian yang menyakitkan hati. Jika Sebastian Magnolia tidak melamarnya, mungkin Ionna sungguh tidak berniat menikah. Setidaknya pria itu memiliki simpati yang tinggi dan menghormati kaum wanita. Ia adalah pilihan terbaik. “Aku merasa tersanjung mendengar hal ini darimu. Tolong, katakan pada His Lordship bahwa aku sangat menantikan pertemuan keluarga kami. Kuharap beliau selalu berada dalam keadaan sehat,” kata Ionna sambil membolak-balik katalog desain. Erica Levan tersenyum penuh arti. Meski sang lady tidak menunjukkan kegembiraan seperti Sebastian Magnolia, ia tahu Lady Ionna Laundrell adalah gadis yang baik. Sebenarnya Erica tidak ingin menghubungkan ini dengan rumor-rumor yang beredar. Tapi, tabiat Lady Ionna tidak seburuk yang dikatakan rumor lima tahun lalu. Rumor –rumor yang nyaris merusak reputasi sang lady tak lebih dari sekadar omong kosong belaka. Lady Ionna bahkan seratus kali lebih baik dari para gadis bangsawan yang Erica temui. “Omong-omong, My Lady, apa kabar tunangan Marquess Carnold dari Andasia itu benar?” Ionna hendak menunjuk salah satu desain cincin ketika Erica melontarkan pertanyaan itu. “Iya.” Ia menampilkan senyum yang mengindikasikan dirinya tidak ikut campur dalam pertunangan Marquess Carnold. Ia tahu diam-diam masyarakat kelas atas bergosip mengenai persaudaraannya dengan Lucian di masa lalu. Kenapa baru sekarang Ionna menyadari lautan gosip di ulang tahun Lady Immelda? “Apa kalian pernah bertemu, My Lady?” Erica bertanya lagi. “His Grace mengundang mereka makan malam tempo hari.” “Oh? Lalu, bagaimana tunangan Marquess—ma-maksud saya, Lady Evangeline Hernsberg itu? Saya juga dengar Her Grace menjamunya secara pribadi.” Lirikan Ionna membuat pelayan-pelayan di belakang sana refleks menundukkan kepala. Sudah ia duga gosip selalu dimulai dari pelayan di rumahnya. “Saya tidak ingin berkomentar, Miss Levan.” “Eum, lantas bagaimana tanggapan Anda? Bukankah Anda dan Marquess Carnold seperti saudara kandung? Marchioness Carnold mengasuh An—” “Miss Levan, kau tidak datang untuk mengorek informasi pribadi yang seharusnya kau tanyakan pada orangnya langsung,” sela Ionna muak. Erica Levan terkesiap karena sikap tegasnya yang tiba-tiba. “Kita di sini untuk memilih desain cincin, bukan untuk bergosip. Berhentilah bersikap tidak pantas, terlebih pada seorang marquess.” “Maafkan saya, My Lady.” “Kau keterlaluan.” “Maaf?” “Kau keterlaluan, Miss Levan. Kumohon pulanglah. Kita lanjutkan pertemuan ini besok.” “Ba-baiklah, My Lady. Saya pamit undur diri. Permisi” Selanjunya, Ionna tak lagi tertarik dengan desain-desain mewah cincin dalam katalog. Ia menyuruh seluruh pelayan ruang duduk pergi mengikuti Erica Levan, melempar katalog ke meja, dan meraup wajahnya yang pasti terlihat mengerikan. Ia merasakan matanya memanas dan telapak tangannya basah. Ionna pun menurunkan tangan, mendapati bintik-bintik air mata menempel di telapak tangannya. Ia telah berusaha keras menguatkan diri dan berjanji tidak akan menangis karena masalah sepele. Tetapi pada kenyataannya, Ionna selalu gagal. Usahanya selalu sia-sia dan ia selalu berakhir menjadi gadis yang menyedihkan. Ionna sadar pertunangan ini merupakan bentuk pelariannya yang belum bisa merelakan Lucian ke pelukan wanita lain. Kendati Lucian berkata tidak bisa mencintai siapapun, namun masa depan tidak dapat menjamin Lucian akan melabuhkan hatinya pada Lady Evangeline Hernsberg. Berharap pun percuma. Ionna telah membakar delapan ratus kertas lipatnya dan menarik semua permohonan yang ia tulis di sana. Tuhan tidak akan mendengar permintaannya. Begitu pula ibu dan orang-orang di rumah ini. Seumur hidup Ionna akan terus terombang-ambing di antara dusta dan kepalsuan. Ionna pun menyeka air matanya yang bercucuran bak air terjun. Membersitkan ingus, Ionna menyentuh lengan gaun kuning yang menutupi luka-luka di pergelangan tangannya. Ionna telah menciptakan banyak luka baru selama beberapa hari terakhir. Darah dari luka sayat yang kali terakhir ia buat hampir tidak bisa berhenti saking dalamnya goresan. Ionna menekan sedikit lengannya yang berdenyut perih lalu melempar pandang keluar jendela. Rasanya ingin sekali ia menunggangi Chelsea siang ini. --- Lucian mematung di ambang pintu. Ruang duduk yang biasa ia singgahi ketika bertamu ke kediaman Laundrell telah lebih dulu diisi oleh seseorang yang tengah termenung menatap jendela. Warna merah rambut orang itu melembut terkena pantulan cahaya mentari siang hari. Gaun kuning yang orang itu kenakan terasa sesak dan gerah saat Lucian menebak jenis kain apa yang digunakan. Lucian tidak bisa heran karena orang itu adalah Lady Ionna Laundrell. Entah mengapa, sudah menjadi kebiasaan sang lady mengenakan sarung tangan panjang atau gaun berlengan panjang di segala musim. Lucian berniat pergi tanpa suara saat kepala gadis itu tertoleh dan mata mereka bertumbuk dalam satu titik. “My Lord.” Sejak malam itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Lucian ke mari untuk berbagi temuan Louis—mata-matanya di kediaman Hernsberg—kepada Ansel, namun sungguh sial ia harus bertemu dengan Lady Ionna dan teringat percakapan mereka malam itu. “Selamat siang, My Lady. Tampaknya saya telah mengganggu Anda.” “Kau tidak menggangguku. Aku tahu kau akan bertemu dengan Kakak. Aku akan pergi dan mengutus pelayan memanggilnya.” Sepertinya Ionna tengah memainkan perannya sebagai adik perempuan Duke Laundrell. Lucian tidak peduli dengan informalitas itu. Toh, sudah sepantasnya Ionna bersikap demikian. Seorang lady terhormat dengan kedudukan tinggi seperti dirinya tidak boleh menundukkan kepala kepada bawahan sang kakak. “Tidak perlu, My Lady.” Lucian melangkah masuk, menutup pintu. Ia menghentikan pergerakan Ionna yang bangkit dari sofa. “Saya akan menunggu di sini.” “Haruskah aku menemanimu, Marquess?” Hati Lucian mencelos nyeri. Aquamarine gadis itu kehilangan cahayanya. “Saya tidak keberatan, My Lady, tetapi, bukankah Anda sibuk mempersiapkan sesuatu?” Lucian melihat sebuah katalog cincin terbuka asal di atas meja. Manik Ionna mengikuti arah pandangnya. Dengan cepat, gadis itu menyambar katalog tersebut dan menyembunyikan di belakang tubuh. Pertunangan Lady Ionna Laundrell dengan Lord Sebastian Magnolia telah tersebar di seluruh penjuru Gouvern, menyaingi kabar pertunagan Lucian dan Evangeline. Lucian menjadi orang pertama yang mendengar pertunangan Ionna dari mulut Ansel yang frustasi. Pria itu langsung menjemput dan membawanya ke klub untuk minum dan main kartu. “Kalau begitu, saya pamit mengurus sesuatu tersebut, My Lord. Saya permisi.” “Aye, selamat siang, My Lady.” Sepasang sepatu berhiaskan pita dan bunga matahari berayun dan mengetuk-ngetuk lantai. Gaun yang gadis itu kenakan mengembang dan menyapu lantai porselen yang mengkilap. Detikan jam seakan mengiringi setiap langkah Ionna yang berjalan pelan ke arahnya. Sementara itu, Lucian hanya bisa memandang Ionna dengan mata tak berkedip. Sinar matahari yang menyirami sosoknya dari belakang semakin memancarkan karisma Ionna sebagai lady yang sempurna. Tak salah berbagai macam julukan yang menggambarkan keindahan melekat pada dirinya. Sejenak, Lucian membayangkan aroma asin lautan dan pemandangan senja yang ia lihat di atas Kapal Aquamarine. Perjalanannya menuju Andasia, kesan tentang sang lady selama perjalanan, begitu membekas dalam ingatannya. Lucian berasakan debaran samar dalam dadanya. Manik hijaunya ingin mengunci sosok indah Ionna lebih lama dan— “My Lady! Hati-hati!” Seruan Lucian menggema di ruangan itu tatkala sepatu Ionna menginjak ujung gaun. Ionna pun terhuyung, nyaris jatuh mencium lantai bila Lucian tidak menangkapnya dengan cekatan. Lucian membantu gadis itu memosisikan badannya di atas kaki lalu memeriksa bagian yang Ionna injak. Embusan napas lega keluar begitu ia tidak menemukan kerusakan pada gaunnya. Ia pun mengangkat wajah dan mengernyit mendapati Ionna memegangi lengan kirinya yang ia cengkeram, meringis dalam diam. Tapi, tunggu. Kenapa gadis itu tampak kesakitan? To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN