“Ionna! Hei! Tunggu! Kau tidak mendengarkanku?”
Suara Ansel memantul-mantul di sepanjang koridor kediaman Laundrell. Pria itu hampir lelah mengejar adiknya yang terus berjalan tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Para pelayan yang mereka lewati membungkuk kebingungan. Apa hal yang membuat sang duke dan sang lady bermain kejar-kejaran seperti anak kecil? Dilihat dari raut wajah sang lady, tampaknya suasana hati gadis itu sedang buruk.
Sebetulnya tidak hari ini saja mereka mendapati awan mendung di atas kepala sang lady. Gadis itu menjadi lebih sering diam dan melamun, bahkan tidak meributkan masalah kecil pada Annie dan Raphael seperti biasa. Tiada yang bisa menebak apa yang telah terjadi. Tetapi, beredar gosip bahwa Lady Ionna menerima lamaran penerus Duke Magnolia tempo hari. Apa berjodoh dengan calon yang selama ini Ibunya idam-idamkan menjadi masalah tersendiri bagi sang lady? Atau jangan-jangan Lady Ionna diam-diam memiliki kekasih dan terpaksa menerima lamaran itu? Itukah sebabnya ia terus mencari alasan menunda pernikahan selama bertahun-tahun?
Di rumah ini, berbagai spekulasi dan gosip tentang Lady Ionna memanas dalam tiga hari terakhir. Jika gosip itu sampai ke telinga sang duke maupun Duchess, maka tamatlah riwayat mereka.
“Ionna!”
Kali ini Ansel berhasil mencekal pergelangan tangan Ionna. Ditariknya lengan kurus itu ke belakang, sedikit kasar, namun ia tidak peduli. Ionna berhasil menghancurkan batas kesabarannya.
“Apalagi sekarang?” Ionna menyentakkan genggaman Ansel dengan kasar. Bukannya terlepas, genggaman pria itu justru menjadi sebuah cengkeraman kuat. Ia meringis saking sakitnya.
“Sebenarnya, apa maumu?”
“Apa kau mempermasalahkan lamaran Young Lord Magnolia?”
“Kenapa kau melakukannya?”
“Jika kau khawatir didesak menikah karena urutan pernikahan konyol itu, aku berencana memulai hubungan dengan pertunangan. Kau puas?”
“Kau pikir aku mengkhawatirkan itu?” geram Ansel, penuh penekanan pada setiap kata yang ia lontarkan.
Napa panas bak hewan buas menerpa kulit wajah Ionna. Ansel tidak pernah marah. Meskipun Ionna berbuat kesalahan besar dan melukai harga diri kakaknya, Ansel sama sekali tidak marah. Ionna tahu segila apa kakaknya ketika marah. Ia pun tahu sebengis apa kakaknya di medan perang. Manik indigo kakaknya selalu berkilat mengerikan hingga terkadang Ionna tidak bisa membedakan apakah itu monster atau Ansel yang berdiri di depannya.
Tapi, kini pria itu justru memasang ekspresi terluka. Dia tampak begitu menderita dan membuat perasaan bersalah semakin menguasai diri Ionna. Kenapa Ansel suka sekali menunjukkan kelemahannya pada Ionna? Apa dia sedang mencoba menyiksa Ionna sebagai pembalasan?
“Lantas?” Ionna membuang muka. Ansel mendelik menatapnya.
“Apa itu benar-benar keinginanmu? Kenapa kau tidak membicarakannya lebih dulu denganku?” Kemarahan Ansel perlahan memudar, begitu juga dengan cengkeramannya. Pria itu menunduk dan menyandarkan kepala di pundak Ionna. Adik perempuannya sungguh sulit dimengerti.
“Setelah kau memintaku membujuk Ibu yang keras kepala, sekarang kau malah menerima lamaran dari pria lain? Kenapa kau melakukannya, Ionna?”
Kelopak mata Ionna bergerak turun. “Setidaknya His Lordship memperlakukan wanita dengan lembut. Dia tidak seperti Duke Barten. Beliau adalah pria terhormat. Aku percaya His Lordship calon suami yang tepat untukku.”
“Bukannya kau tidak ingin buru-buru menikah?”
“Aku berubah pikiran.” Ionna menggigit lidah. Kebohongan memang senjata paling ampuh untuk membunuh diri sendiri. “Aku berjanji tidak akan menyulitkanmu lagi. Dengan begini, mereka akan diam. Mereka tidak akan memanfaatkanku lagi untuk mendesakmu.”
“Apa yang kaukatakan, Ionna?” Ansel mendongak lalu mengguncang tubuh Ionna keras. “Aku ini kakakmu!”
“Kita sudah impas, Kakak.” Cara Ionna mengatakan kakak menusuk ulu hati Ansel. Bagaimana bisa gadis itu berbuat sekejam ini padanya? “Mulai saat ini, aku tidak akan bergantung kepada siapapun lagi, termasuk kau.”
Gadis itu berbalik setelah mendorong Ansel dengan kekuatannya yang tak seberapa. Selangkah demi selangkah Ionna menjauh dari sang kakak yang terpaku menatap punggungnya. Garis batas yang memisahkan mereka semakin jelas. Ansel mengerang frustasi. Ia memukul patung armor lalu menendang helm besi yang jatuh dan menggelinding di kakinya. Sebanyak apapun Ansel berkorban demi kebahagiaan Ionna, tali yang sudah terlanjur putus tidak bisa disambung kembali.
“Kau selalu seperti ini, sial!”
---
Alis Lucian saling bertautan.
Lembaran di tangannya adalah daftar nama undangan yang Evangeline tulis untuk peringatan kematian ibunya. Lucian mengangkat wajah dan menatap Evangeline ragu. Apa gadis itu ingin mengadakan pesta untuk merayakan kematian sang ibu?
“Apa tidak ada yang memberitahumu?” tanya Lucian, menyerahkan lembaran kembali pada Evangeline.
Evangeline mengedikkan bahu. “Apa ada seseorang yang belum terdaftar di sini? Aku sudah membaca nama-nama kenalanmu di buku tamu keluarga Carnold dan memastikan semuanya diundang. Jika ada yang kurang, bilang saja. Aku tinggal menambahkannya.”
“Bukan itu masaahnya, Evangeline.” Lucian menghela napas. “Kau tidak perlu membuat undangan untuk peringatan kematian. Cukup tulis surat pada kerabat. Kita tidak sedang membuat pesta.”
“Maaf, aku tidak tahu.” Bibir Evangeline mengerucut lesu. “Seharusnya aku bertanya lebih dulu padamu. Aku terlalu bersemangat lantaran ini kali pertamanya aku mengatur sebuah acara.”
“Kau bisa bertanya pada Jacob.”
“Sir Jacob menempel erat di sampingmu.”
Lucian melirik Jacob di sebelahnya lantas berdeham. “Baiklah. Sisanya, kau bisa bertanya langsung kepadaku.”
Sambil menjentikkan jari, Evangeline melampirkan senyum percaya diri. “Aye.”
“Ada lagi yang kaubutuhkan?”
“Sebenarnya bukan sesuatu yang kubutuhkan sih, tapi pertanyaan.”
Seolah perdebatan kemarin tidak pernah terjadi, Evangeline tampak baik-baik saja dan bersikap seperti biasa. Dia tidak tampak seperti gadis pencemburu yang mengungkit-ungkit masalah rumor lima tahun yang lalu. Terkadang, Lucian bertanya-tanya bagaimana bisa Evangeline berubah dalam semalam.
“Apa itu.” Suaranya terdengar bosan dan tidak tertarik.
Evangeline mendecih pelan. “Duke Laundrell dan keluarganya bukan kerabatmu, bukan? Kenapa kita harus mengundang mereka?”
Pertanyaan bernada polos itu membuat Lucian dan Jacob saling bertukar pandang. Lucian yakin sekali Evangeline telah mendengar banyak jasa Ansel dan hubungan keluarga mereka sejak dulu. Apa dia ingin menyangkut-pautkan hal ini dengan Ionna lagi? Lucian mulai memasang tampang tak sengaja. “Kau tahu sendiri jawabannya, Eva.”
“Kalau begitu, kau menganggap mereka kerabat?”
“Mereka yang kausebut bahkan lebih berharga dari sebutan kerabat.”
“Lucian, kau ingat percakapan kita kemarin bukan?”
“Apa maumu, Evangeline?”
Mata Eva menyipit. Gadis itu meletakkan telunjuk di bibir, menghiasi wajah cantiknya yang terpoles riasan tipis. “Luce, bolehkah aku mengundang Lady Ionna secara pribadi? Kudengar Lady Ionna menghabiskan sebagian besar masa-masa kecilnya di tempat ini. Aku ingin mendengar kisah masa kecilmu darinya. Karena kau pelit dan tidak mau menceritakannya padaku, sebagai tunanganmu, aku harus berusaha untuk mendapatkannya, bukan? Bagaimana menurutmu? Kau mengizinkanku bukan?”
Sialan. Lady Evangeline Hernsberg ternyata selicik ular berbisa.