43. Her Choice

1209 Kata
Kunjungan rutin para tetua bulan ini lebih cepat beberapa hari dari yang dijadwalkan. Tampaknya, Gilbert Laundrell dan putranya tidak sabar menunggu jawaban Duke dan Duchess mengenai perjodohan Lady Ionna. Ionna menuangkan teh ke satu-persatu cangkir orang yang duduk di meja bundar. Merupakan suatu keajaiban Ansel bergabung bersama mereka pada kunjungan kali ini. Kepuasan tergambar jelas dalam wajah Gilbert dan Constantine. Akhirnya, mereka berhasil menarik perhatian sang duke menggunakan rencana perjodohan adik perempuannya. “Kurasa kalian sudah bosan hidup,” celetuk Ansel. Tanzanitenya berkilat dingin, sementara tangan kanannya sedari tadi memegang gagang pedang. “Kenapa menjodohkan adikku dengan Ruford Barten? Kalian mau mati?” Gilbert dan Constatine meminum teh mereka dengan tenang. Tak mengacuhkan ancaman Ansel, Constatine menatap dan berujar pada sang duchess, “Jadi, bagaimana saran kami, Your Grace? Apa Anda dan His Grace telah mempertimbangkannya?” Lihat mereka. Mereka berlagak menghormati Ibunya ketika Ansel ada di sini. Mereka bahkan dengan beraninya mengabaikan eksitensi Ansel dan menganggap pria itu seperti angin. Ionna melirik sang kakak yang duduk di sampingnya melalui ekor mata. Telinga pria itu diselubungi semburat merah. Ansel bisa melepaskan  pedangnya kapan saja. “Gilbert, Constantine, aku bisa memenggal kepala kalian sekarang juga! Cepat jawab pertanyanku!” “Apa yang perlu kami jawab, My Lord?” Constantine pun angkat bicara. Pria itu menatap Ionna alih-alih Ansel yang sebuas serigala. Senyum terlukis di bibir pria itu. “Kami ingin Lady Ionna menemukan calon yang tepat. Seandainya Duke Barten tidak memenuhi syarat atau standar Anda, kami bisa merekomendasikan calon yang lain untuk sang lady.” “Tugas kalian adalah mengatur pernikahanku. Bukan pernikahan adikku!” “Itulah yang sedang kami lakukan.” “Oh? Kalian berniat menghapus aturan urutan pernikahan dan membuat adikku menikah lebih dulu?” “Bila Anda tidak keberatan, Anda bisa menikah menggantikan Lady Ionna. Kami memiliki profil para lady yang mungkin cocok dengan selera Anda. Ayah, bisakah Anda berikan daftarnya—” Brak! “Dasar k*****t! Aku tidak peduli kau ini paman, sepupu ayah, atau tetua sekalipun! Aku akan menggorok lehermu dan menggantungnya di gerbang rumahmu , Sialan!” “Ansel!” “Kakak! Hentikan!” Ionna menarik-narik mantel Ansel yang dirundung amarah.  Pria itu tiba-tiba bangkit, mengeluarkan pedang, dan mengacungkannya ke leher Constantine. Ujung pedang yang tajam berkilauan, seolah siap memisahkan leher dan kepala pria berambut panjang di sebeang meja. Napas Ionna memburu mencegah tangan Kakaknya mengayunkan pedang. Ia tidak mau melihat darah terciprat di teh dan makanannya. Ia juga tidak mau pelayan-pelayan malang itu pingsan di tempat. Kakaknya benar-benar akan membunuh Constantine jika Ionna terlambat sedetik saja. “Yo-your Grace, tolong turunkan pedang Anda,” ucap Gilbert gemetaran. Constantine menelan ludah sambil mengangkat tangan di udara. Ya Tuhan, ternyata perkiraan mereka salah. Menaklukan Duke Laundrell adalah sesuatu yang sangat mustahil. Hari ini, nyawa seorang tetua hampir melayang di kediaman utama. Ionna merebut pedang Ansel lalu mendirikannya di samping kursi. Selain itu, kenapa Ibunya diam saja? Constantine mengembuskan napas panjang. Bulu kuduknya meremang, syaraf -syaraf otaknya memberi perintah supaya menyerah ketimbang kehilangan nyawa.  “Maafkan kami. Kami sangat lancang. My Lord, tolong ampuni nyawa saya.” “Aku mengampuni nyawamu kali ini, Sialan.” Ansel mendengus sebal. “Tapi, tidak di masa depan. Sekali lagi kau menyeret Ionna dalam masalah pernikahanku, maka tidak hanya kau. Ibu, istri, anak, adik, dan pria di sebelahmu ini akan kubantai hidup-hidup. Apa kau mengerti, Constantine?” Agaknya ultimatum itu sukses membungkam mulut Constantine dan Ayahnya. Acara minum teh di siang hari berlangsung hening setelahnya. Ionna menelan pudingnya bulat-bulat, menunggu siapa orang pertama yang akan memeca keheningan di antara mereka. Omong-omong, Ionna sama sekali tidak terganggu dengan atmosfer di gazebo. Menikmati taman bunga dan serangga yang berterbangan ke sana-ke mari membantunya melupakan kerisauan hati barang sejenak. Ionna tidak ingin memikirkan Lucian lagi. Malah, ia merasa harus menepati janjinya pada mendiang Marchioness. Peluang mendapatkan hati Lucian semakin kecil. Dan kini, peluang itu telah menyentuh angka nol. Selama berhari-hari Ionna terbaring di atas kasur karena penyakitnya. Ia tidak bisa makan dan minum dengan benar, tidur diiringi rasa sakit, dan berjalan dengan sensasi mual tak tertahankan. Ansel bahkan tidak pergi ke manapun dan menemaninya sepanjang waktu di kamar. Hal yang seharusnya dilakukan seorang ibu justru dipenuhi oleh Ansel. Mungkin, bila Ayahnya masih hidup, beliau akan melakukan hal yang sama seperti yang Ansel lakukan untuknya. Kakaknya begitu menyayanginya. Ionna sadar itu. Ia telah memberi pria itu banyak kesulitan dan membencinya karena rasa iri dan perhatian yang Kakaknya dapatkan. Meskipun sudah lama Ionna ingin memperbaiki hubungan mereka, namun ia tetap tidak bisa. Hatinya terus berkata bahwa Ansel telah cukup menerima balasan yang setimpal. Tetapi, logika Ionna terus bergerak dan ia akan membayar utang budi dari semua kebaikan Ansel selama ini. Ia tidak akan menyulitkan pria itu lebih dari ini. Ionna mendongak saat merasakan tatapan bangga Duchess Laundrell. Apa hanya ini satu-satunya caranya membuat Ibunya bangga? Ionna menunduk dan tersenyum getir. Terus menyendokkan puding ke mulut, membiarkan semuanya mengalir sebagaimana mestinya. Sejak awal keinginannya untuk bersanding dengan Lucian pun sangat ambigu. Ia memang mencintai pria itu, namun sebatas cinta untuk melihat pria itu tersenyum. Ada atau tidaknya Ionna di dunia ini tidak akan memengaruhi hidup Lucian. “Kami telah memutuskannya, Paman, Sir Constantine.” Suara merdu Duchess Laundrell mengisap habis seluruh keheningan dan kecanggungan yang menyelubungi mereka. Ionna menghindari kontak mata dengan Ansel. Pasti Ansel menduga bahwa Ibu akan mengutarakan penolakan terhadap pernikahannya dengan Duke Barten. “Duchess, Anda tidak perlu memikirkan saran kami. Kami tarik kembali niatan kami untuk menjodohkan Lady Ionna dengan His Grace Duke Barten.” Duchess Laundrell tersenyum sinis mendengar penuturan Gilbert. Mereka sungguh bermuka dua, huh? “Kalian terlanjur memberi kami pilihan, Paman.” “Kami akan menyerahkan pernikahan Lady Ionna kepada keluarga utama. His Grace benar. Dalam hal ini, kami tidak boleh ikut campur.” “Sayang sekali kalian terlambat mengakuinya.” “Tidak, Madame. Kami mohon pikirkanlah perasaan Her Ladyship. Beliau tidak menginginkan pernikahan ini. Untuk apa memaksa beliau?” “Siapa yang bilang aku memaksa putriku? Dan siapa yang bilang aku akan menikahkan putriku dengan Duke Barten?” Punggung Ansel menegak, merasa ketinggalan kereta. Ia menoleh ke Ibu dan adik perempuannya bergantian, memandang keduanya dengan tanda tanya besar di kepala. “Apa maksud, Ibu? Kita belum membahas rencana pernikahan, Ionna. Kenapa tiba-tiba sekali, Bu?” “Adikmu sendiri yang menginginkannya Ansel. Setelah sekian lama, akhirnya dia menjadi anak yang penurut.” Ionna memejamkan mata rapat-rapat. Beruntung ia menggerai rambut bergelombangnya hari ini. Ia jadi bisa menyembunyikan ekspresinya dari semua orang. “Ionna, apa maksudnya ini? Kau memintaku supaya menolak perjodohanmu, tapi apa ini? Kau menusukku dari belakang?” “Ansel.” “Tidak, Ibu. Aku membutuhkan penjelasan adikku. Apa Ibu bisa diam dan tidak menyela kami?” “Tidak ada penjelasan, Ansel. Ionna menerima lamaran Lord Sebastian Magnolia tiga hari yang lalu.” “Apa? Lamaran dari siapa?” “Lord Sebastian Magnolia, pewaris tunggal Duke Magnolia,” ulang sang duchess penuh penekanan. Wajah Ansel menggelap. Secara otomatis kepalanya berputar ke arah Ionna yang menunduk lesu. Tanzanitenya membesar, inilah kali pertamanya Ionna membuatnya marah. Ia hendak membawa adiknya pergi dari tempat ini saat ibunya menambahkan, “Kau tahu Ibu sudah menantikan kesempatan ini begitu lama dan kau jangan coba-coba ikut campur dalam urusan ini.” To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN