Siapapun tahu bahwa Isabelle Carnold mencintai suaminya, sangat mencintai Marcus Carnold hingga ketika ajal menjemput pun wanita itu masih memikirkan pria yang sama sekali tidak mencintainya.
Setelah kematian Marchioness Carnold, Lucian kemudian sadar, cinta ibu kepada ayah merupakan suatu obsesi belaka. Itu dapat dimengerti mengingat Marquess terdahulu memiliki riwayat perselingkuhan bahkan di awal pernikahannya. Jangan tanya Lucian mengetahui fakta memalukan itu dari mana. Laporan keuangan dan sertifikat tanah yang dimanipulasi tidak mungkin bisa membohongi Lucian.
Berterimakasihlah pada Marquess terdahulu yang memfokuskan pendidikan Lucian pada pertanian dan ekonomi. Tidak hanya menjadi seorang ahli pedang, Lucian akhirnya menemukan kecatatan dalam laporan keuangan dan beberapa sertifikat tanah selama belasan tahun. Ayahnya memiliki setidaknya lima wanita simpanan di tiga duchy berbeda dan terus menerima uang sebelum Lucian memutus bantuan itu. Saat ia diangkat menjadi marquess yang baru, Lucian harus menyelesaikan masalah yang Ayahnya perbuat sembari menarik kembali semua estat, tanah, dan kekayaan kelima wanita simpanan tersebut.
Tapi, ada satu hal yang tidak Lucian mengerti sampai sekarang.
Kenapa Ibunya terobsesi pada pria yang sering meninggalkannya dan pulang dengan jejak lipstik di kemeja yang ia pakai?
Kenapa Ibunya terobsesi pada pria yang tidak sedikitpun meliriknya saat ia terbaring lemah di atas ranjang?
Bagi sebagian orang, memiliki seorang anak perempuan dapat memberikan keajaiban dan keberkahan dalam sebuah keluarga. Ayahnya adalah salah satu orang yang memercayai mitos kuno tersebut. Lucian mendengar hal ini dari Jacob saat dokter memvonis Ibunya tidak dapat mengandung lagi.
Penyebab Ibunya keguguran setiap wanita itu akan melahirkan bayi laki-laki adalah—
kekerasan rumah tangga.
Marchioness Carnold sangat mencintai suaminya, terobsesi padanya hingga menutupi perbuatan keji Marquess dengan dalih fokus membesarkan Lucian saja.
Lucian tidak ingin dicintai dengan cara Ibu mencintai sang ayah. Selain itu, bukankah ada pepatah yang mengatakan buah tak jatuh jauh dari pohonnya? Lucian takut ia memiliki iblis yang sama seperti Ayah bersemayam dalam dirinya. Ia takut suatu hari nanti akan melukai istrinya dan mengulang masa lalu dalam kehidupan pernikahannya kelak. Oleh sebab itu, Lucian pikir, ia akan menikahi wanita yang bersedia menandatangani kesepakatan di atas kertas. Wanita yang kuat, yang memiliki pendirian tinggi, dan tak gentar melawannya.
Lucian akan menikahi wanita seperti itu. Dan sosok wanita itu ada dalam diri Evangeline.
Persetan dengan cinta, Lucian tidak akan menempuh kehidupan pernikahan di jalan merah muda.
Lalu, Lady Ionna Laundrell.
Bagaimana sebenarnya perasaan Lucian terhadap gadis dewasa itu?
Bohong bila Lucian berkata bahwa ia tidak peduli pada gadis itu. Bohong bila ia berkata bahwa dirinya tidak pernah terpikat akan pesona gadis itu. Dan tentunya, Lucian berbohong saat ia berkata bahwa perasaan sang lady terhadap dirinya merupakan bentuk dari obsesi.
Ionna terlalu mencintainya dan Lucian takut menerima kenyataan itu. Jauh dalam lubuk hatinya, ada tempat khusus untuk Ionna sejak dahulu kala. Lucian menyadari kebimbangan yang mengganggunya baru-baru ini dan ia harus menyingkirkan bibitnya sebelum tumbuh semakin besar.
Jika ia dan Ionna menikah, tiada jaminan Lucian tidak akan menyakiti gadis itu. Rasa cinta yang berlebihan akan membuat Ionna lemah. Ionna pun bukan tipikal gadis semacam Evangeline yang berani mengutarakan pendapatnya secara gamlang. Ionna akan diam seandainya Lucian melukainya. Dan sebagai sahabat dan putra yang telah berjanji akan melindungi Ionna, bukankah akan ironis jika Lucian mendaratkan tangannya pada kulit gadis itu?
Lucian tidak mau hal itu terjadi.Ia akan menghentikan perannya sebagai pelindung bayangan Ionna dan mengempaskan gadis itu sejauh yang ia bisa.
Ionna layak mendapatkan pria yang lebih baik dari Lucian.
---
Beberapa hari ini Evangeline sedang sibuk mempersiapkan peringatan kematian Marchioness Carnold minggu depan. Lucian mengizinkannya mengurus segala kebutuhan yang dapat menjembatani dirinya semakin dikenal di lingkungan sosial.
Gosip kian merebak. Banyak bangsawan mengirimkan undangan ke kediaman Carnold hanya untuk memuaskan rasa penasaran mereka. Lucian tidak punya pilihan lain selain memenuhi undangan itu.
Semenjak menjadi anggota parlemen, pekerjaannya tidak di lingkung internal saja. Kini Lucian tidak bisa menghindari masyarakat atas dan berdiam diri seperti dulu. Undangan, kegiatan sosial, dan bertemu dengan para penjilat dari satu tempat ke tempat lain sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Lucian heran bagaimana cara Ansel menikmati kegiatannya. Ansel selalu senang dikelilingi banyak orang, terutama para gadis.
“My Lord, ada surat datang.”
Lucian mengangkat wajah pada Robert yang masuk tanpa mengetuk pintu. Pria kecil itu melongokkan kepala keluar ruangan sejenak, celingukan untuk memastikan keamanan. Saat ia sepenuhnya masuk ke dalam, matanya melebar mendapati Robert berdiri di samping Lucian. Gelagapan Robert mencari-cari alasan kedatangannya. Lucian pun menggerakkan jari menyuruh pemuda itu mendekat.
“Jangan khawatir. Aku telah memberitahu semuanya pada Jacob.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Omong-omong, bocah Frindel, di mana sopan-santunmu? Kenapa kau tidak mengetuk pintu dan menunggu sahutan His Lordship?”
“Jacob, kau ini terlalu kolot. Aku sudah terbiasa melakukan ini di Andasia. Toh, His Lordship tidak keberatan. Benar ‘kan, My Lord?”
“Apa kau ingin ditendang dari rumah ini?”
“Kalian berdua, tenanglah.” Lucian melerai perdebatan rival abadi itu. Robert sering menggoda Jacob yang mudah tersinggung dengan ambisinya menjadi pengganti asisten pribadi marquess. “Jacob, Robert tidak akan mengetuk pintu jika ia mendapatkan informasi tentang penyelidikan. Sejenis kode dan isyarat.”
Robert membusungkan d**a sambil memasang tampang mengejek. “Nah, kau dengar? Jangan lupa aku ini juga orang kepercayaan Marquess Carnold.”
“Jaga bicaramu, Bocah Frindel.”
“Baik, baik. Robert, serahkan surat itu.”
“Aye.”
Secarik kertas yang digulung dengan pita merah yang menandakan kerahasiaan pun berpindah ke tangan Lucian. Surat itu dikirimkan dari Andasia dan sampai di Gouvern pada tengah malam. Robert yang bertugas untuk menerima dan menyampaikan surat-surat dari mata-mata di kediaman Hernsberg.
“Jadi, bagaimana temuannya, My Lord? Apa ada bukti atau petunjuk?” tanya Robert ingin tahu.
Dahi Lucian berkerut dalam. “Louis menemukan surat sewa lahan atas nama pengurus rumah di ruang kerja Count.”
“Kenapa pengurus rumah menyewa lahan? Dia sudah bekerja di kediaman Count.”
Lucian tersenyum miring lalu melipat surat itu. “Pengalaman mengajarkan bahwa seorang penguasa dapat memanipulasi dokumen menggunakan nama orang lain.”
Jacob dan Robert saling bertukar pandang. Mereka tahu maksud ucapan sang marquess.
“Dan lagi, pengurus rumah menyewa lahan sejak masa peperangan. Kuyakin lahan itu berada di tempat terpencil untuk menyembunyikan sesuatu.”
“Seperti tempat penyimpanan alkohol terlarang?” celutuk Robert.
Lucian memandang utusannya ragu. “Bisa, ya, bisa tidak. Coba kaupikir, kenapa surat sewa lahan bisa ada di ruang kerja Count? Count memiliki ruangan arsip yang terpisah, kenapa harus disimpan di sana?”
“My Lord, saya pusing. Saya belum sarapan. Saya tidak bisa berpikir.”
Jacob mendengus mendengar keluhan Robert. “Bocah Frindel! Jaga sikapmu!”
“Dasar menyebalkan.” Robert pun kembali memusatkan perhatiannya dan mengabaikan perutnya yang keroncongan. “My Lord, bagaimana jika kita menyuruh Louis memeriksa tempat itu? Dia telah melihat surat sewanya, bukan? Pasti Louis mengetahui alamat lahan yang disewa itu.”
“Akan sulit keluar dari kediaman Hernsberg tanpa alasan yang jelas, Robert. Mereka butuh banyak tenaga untuk melakukan pekerjaan rumah.”
“Lantas?”
“Kau yang pergi.”
“Ya?”
Jacob tersenyum puas mendapati perubahan air muka Robert. Nyawa seolah meninggalkan raga pria itu.
“Tapi, saya akan menikah bulan depan!”
“Aku akan membiayai pernikahanmu. Jadi, pergilah.”
Robert tidak merasa dirinya senang akan bujukan itu. “Saya bahkan baru dua kali berkencan dengan kekasih saya.”
“Aku akan memberimu bonus. Liburan bulan madu selama sebulan penuh. Dengan syarat, kita telah menyelediki kasusnya sampai tuntas. Bagaimana?”
Wajah Robert sontak berseri-seri. “Anda serius? Anda tidak akan menarik kata-kata Anda?”
“Apa aku pernah membohongimu?”
“Ya, ya, ya. Kapan saya bisa berangkat?”
“Besok, dengan pelayaran umum. Kau tidak bisa naik kapal pribadi dan menimbulkan kecurigaan orang lain.”
“Aye. Siap laksanakan!”
Robert pun berlari kegirangan keluar dari ruang kerja. Lucian menatap kepergian pria kecil berambut cokelat itu. Ia pun membaca surat itu sekali lagi, menyerahkannya pada Jacob, meminta sang asisten menggantikan pekerjaan Robert dalam surat-menyurat antar kerajaan.
“Dan jangan kendorkan pengawasanmu terhadap Lady Evangeline, Jacob. Aku mengandalkanmu.”
---
“Lucian, bolehkah aku masuk?”
“Ya, Eva.”
Evangeline muncul di ambang pintu sepeninggal Robert dua jam yang lalu. Lucian sedang mengecek laporan pengawasan tambang ketika gadis itu mendorong troli makan ke mejanya.
“Nah, ini untukmu.”
Lucian menatap deretan makanan manis dan teh di atas troli. “Aku sedang tidak ingin makan apapun.”
“Bagaimana dengan teh?”
“Aku baru saja minum dan merokok, Evangeline.”
“Kau minum sambil bekerja? Tidak boleh.”
Dengan keras kepala, Evangeline menghidangkan teh untuk tunangannya. Ia menyingkirkan kertas-kertas di meja lalu meletakkan secangkir teh dan sepiring brownie di depan Lucian. “Kau sudah bekerja keras sejak sarapan. Kepala koki bilang kau tidak memiliki kebiasaan buruk saat bekerja. Sedikit makan kudapan manis tidak akan menghambat pekerjaanmu, bukan?”
“Evangeline—”
Evangeline menyuapkan sepotong brownie secara paksa ke mulut Lucian. Lucian menjauhkan garpu dan memakannya sendiri. “Terima kasih,” ujarnya lelah.
Senyum terukir di kedua sudut bibir Evangeline. “Karena kau sedang santai, bisakah kita berbincang sebentar, Luce?”
Perbincangan antara dirinya dan Eva bukanlah perbincangan romantis yang biasa dilakukan sepasang kekasih. Lucian telah kehilangan selera makannya sejak Evangeline duduk di seberang meja dan bertopang dagu. Lembayung gadis itu menyiratkan sesuatu yang membuat Lucian enggan memakan brownienya lagi.
“Ada apa, Eva?”
“Ini ada hubungannya dengan—”
Gadis itu sengaja menggantungkan kalimatnya.
“Lady Ionna Laudrell.”
Otot-otot wajah Lucian langsung menegang ketika nama Ionna disebut. Evangeline memiringkan kepala menangkap ekspresi menarik tunangannya. Ia terus menunda pertanyaan itu karena kesibukan menyiapkan peringatan kematian ibu mertuanya.
“Berhenti mengelak, Lucian. Saat makan malam di kediaman Duke Laundrell, gelagat sang lady menjawab semua pertanyaanku. Sekarang, tinggal dirimu. Mengenai rumor kencan kalian lima tahun lalu, apa itu benar? Apa kalian pernah berkencan sebelumnya?”
Lucian memijit tengkuk kemudian menghela napas panjang. “Aku tidak akan menjawab pertanyaan yang sama berulang kali.”
“Hmm, benarkah?” Gadis itu tiba-tiba bangit, berjalan memutari Lucian, lalu memeluk pria itu dari belakang. “Kalau begitu, bagaimana dengan ini? Apa kau memiliki perasaan spesial terhadap Lady Ionna, Lucian sayangku?”
Kepala Lucian spontan menoleh ke samping. Manik hijau pria itu menghujam violet Evangeline dengan tatapan tajam. Ada kebencian dalam sorot mata Lucian saat Eva menggunakan Ionna untuk mempermainkannya.
“Leluconmu sama sekali tidak lucu.”
“Kapan kau akan tertawa karena lelucon seseorang?” sindir Evangeline lantas menumpukan berat tubuhnya di punggung Lucian. “Pembawaanmu selalu serius. Kau tidak bisa menjadi pria humoris. Tapi, kau merasa kesal saat aku membawa-bawa nama Lady Ionna Laundrell? Kenapa, Lucian? Bisakah kau menjelaskannya?”
Lucian melepas lengan kurus Evangeline yang melilit lehernya dan meminggirkan teh serta brownie tadi. “Aku akan melanjutkan pekerjaanku.”
“Apa itu artinya ya? Tampaknya kau mencintai Lady Ionna, huh?”
“Jangan asal mengambil kesimpulan, Eva!”
“Lalu, apa kau mencintaiku, Lucian? Kau tidak mencintai Lady Ionna, jadi apa kau mencintaiku?”
Selama ini Lucian cukup sabar menghadapi sifat keras kepala tunangannya, namun ini sudah keterlaluan. Ia menatap sosok mungil Evangeline dari pantulan lemari kaca. Ia merasa gadis itu suka sekali menguji kesabarannya.
“Kau tahu jawabannya dan jangan coba-coba menghalangi pekerjaanku.”
Rasa sesak perlahan menyusup dalam benak Evangeline. Walau ia merasa terbiasa dengan penolakan Lucian, tetap saja perasaan itu tak bosan mengusiknya. Evangeline pun berputar dan merentangkan daun jendela lebar-lebar. Lama-kelamaan, udara dan oksigen di dalam ruangan beraroma buku dan tinta ini semakin menipis.
“Apa kau takut menjadi seperti ayahmu, Luce?”
Lucian menghela napas. Ia menyibakkan halaman lapoan dengan gerakan kasar. Seketika ia tidak bisa memusatkan atensi pada deretan huruf pada lembaran di tangannya.
“Pergi sekarang, Evangeline.”
“Apa sebab itu kau menolak mengakui bahwa kau memiliki perasaan terhadap Lady Ionna?”
“Diamlah, Eva.”
“Kau takut menyakitinya? Melukainya?”
“Hentikan.”
“Jadi, itu alasanmu bertunangan denganku? Karena kau tidak khawatir aku akan bungkam seandainya monster dalam dirimu bangkit?”
BRAK
“Diamlah, Sialan!”
Evangeline tersentak. Suara gebrakan meja dan u*****n Lucian mengejutkannya. Ia berbalik dan mendapati Lucian berdiri memunggunginya. Telinga dan kulit leher pria itu merah padam. Baru kali ini Evangeline melihat Lucian semarah itu. Rahang pria itu mengeras, keringat dingin bercucuran, menetes-netes dari pangkal dagunya. Lucian pantas marah karena omong-kosong yang ia lontarkan. Tapi bukannya takut, Evangeline justru melampirkan senyum kemenangan. Ia bangga pada dirinya yang berhasil memancing amarah Lucian Carnold. Ketenangan yang menjadi pegangan pria itu luruh dalam sekejap saat Evangeline mengkaitkan kematian Duchess Laundrell dengan Lady Ionna.
Sudah ia duga.
Lady Ionna Laundrell mengingatkan Lucian pada mendiang ibunya.
Evangeline memegang kelemahan Lucian yang lain dan akan menyimpan itu sebagai kartu AS-nya yang berharga. Ia akan menggunakan kartu itu nanti, berjaga-jaga jika Lucian berniat berpaling darinya.
“Mengesankan,” gumam Evangeline. Ia menepuk pundak Lucian yang gemetaran lalu pergi bersama troli makan yang ia bawa.
Luar biasa sekali.
To be continued