Lady Ionna Laundrell secantik senja dan seindah lautan lepas.
Evangeline dapat merasakan aura yang berbeda dari gadis berbalut gaun hijau lumut itu. Seluruh gerakan, ekspresi, dan ucapannya sangat berkelas. Dia adalah gadis bangsawan bernilai tinggi di mata para jentelmen. Tak heran banyak pelamar menagerkannya sebagai calon istri. Terlahir dari keluarga terhormat, memiliki kecantikan yang tak tertandingi, dan sejumlah besar mahar yang ditawarkan pastilah menggoda pria-pria kelas atas di luar sana. Sayangnya, mendapatkan Lady Ionna Laundrell dalam perburuan istri justru menjadi ajang penyingkiran moral.
Evangeline mendengar berbagai cerita simpang-siur semenjak ia menginjakkan kaki di Gouvern. Bahwa kecantikan gadis itu diagungkan di mana-mana hingga upaya keras para pelamar yang rela melakukan segala cara demi mendapatkan adik perempuan Duke Laundrell.
Awalnya, Evangeline memaklumi alasan Lady Ionna menunda pernikahan. Tidak banyak pria dengan kepribadian baik di zaman sekarang. Mengingat status dan derajat yang ia punya, Evangeline yakin Ionna sangat berhati-hati dalam memilih calon suami. Duchess Laundrell adalah orang yang menunjung tinggi nama baik keluarga sedangkan memiliki seorang Kakak yang dengan mudah membunuh orang lain jelas-jelas membuatnya kesulitan.
Tetapi, apa yang Evangeline lihat malam ini merupakan suatu kebenaran yang tak bisa disangkal.
Lucian boleh membantah rumor kencannya dengan sang lady lima tahun lalu. Lantas, bagaimana pria itu menjelaskan ekspresi kosong Ionna saat mengetahui drinya telah bertunangan?
Dari sejak mereka di teras sampai menyantap hidangan bersama di ruang makan, Lady Ionna tampak seperti mayat hidup. Gadis itu kehilangan selera makannya dan terus menyendok kuah sup tanpa minat. Sesekali gadis itu memaksakan seulas senyum untuk menutupi awan mendung di wajahnya. Dari sana, Evangeline dapat menarik kesimpulan bahwa telah terjadi sesuatu di antara tunangannya dan Lady Ionna Laundrell di masa lalu. Entah mengapa Lucian memilih menyembunyikan hal itu darinya, Evangeline rasa, ia telah menemukan jawaban di balik penundaan pernikahan sang lady.
Anehnya, tiada satupun orang di ruangan ini yang menyadari hubungan tak kasat mata tersebut.
Tiba-tiba kursi kayu berderit nyaring, menginterupsi suasana makan malam yang khidmat. Evangeline dan tiga orang lain di meja makan itu sontak menoleh ke arah sumber suara. Lady Ionna Laundrell bangkit dari kursi dan menanggalkan seluruh peralatan makannya.
“Mama, Kakak, bolehkah saya pergi?”
“Kali ini apalagi, Ionna?” Pertanyaan itu langsung disambut balasan sinis Duchess Laundrell. “Apa kau mengalami gangguan pencernaanlagi?”
“Ibu!”
“Tidak, Ansel. Sudah cukup. Ini adalah makan malam untuk merayakan kepulangan Marquess Carnold dan menyambut Lady Hernsberg. Aku tidak akan membiarkan Ionna bertindak seenaknya lagi.”
Evangeline telah menduga bahwa sang duchess merupakan orang yang kaku, tetapi bagaimana bisa wanita itu memperlakukan putrinya tanpa perasaan?
Sementara itu, wajah Ionna sudah pucat pasi. Ia tidak berbohong ketika ingin berkata bahwa gangguan pencernaannya kambuh. Ia serasa ingin muntah. Sup wortel yang dihidangkan kepala koki semakin menambah sensasi mualnya. Perbincangan tentang perjalanan Lucian di Andasia hingga cerita pertunangan pria itu dengan Lady Evangeline Hernsberg tak hanya memperburuk suasana hatinya, namun juga memperburuk gangguan pencernaannya. Ia sudah merasa pusing sejak ditampar oleh kenyataan menyedihkan itu. Ia ingin menangis dan menumpahkan kesedihannya di pelukan Annie. Berada di ruangan yang sama dengan Lucian akan menghancurkan benteng pertahanan yang susah-payah ia bangun.
Ionna mencengkeram pinggiran meja sampai tangannya gemetaran. Di seberang meja, Lucian menatapnya datar. Penantiannya selama lima tahun berakhir dengan cara yang menyedihkan Hatinya seakan dicabik-cabik dan dibakar dengan api luka. Air matanya hampir menetes. Ionna ingin segera pergi dari tempat menyesakkan ini.
“Mama, saya mohon.” Ia menelan ludah. Lidah dan rongga mulutnya terasa pahit. “Saya minta maaf atas sikap saya, tapi saya sungguh tidak bisa melanjutkan makan.”
“Tidak apa-apa, Ionna. Pergilah.”
“Kakak.”
“Tidak masalah. Lagipula Lucian dan Lady Hernsberg tidak terlihat keberatan. Aku lebih mementingkan kesehatanmu.”
“Sampai kapan kau akan memanjakannya, Ansel?” tukas Duchess Laundrell jengkel.
Ansel memotong daging ikan sambil mengangkat bahu. “Sampai Ibu berhenti mengekangnya dan memperlakukannya seperti peliharaan. Ionna sudah dewasa, Ibu. Dan gangguan pencernaan adikku bukanlah hal yang bisa diabaikan.”
“Kau keteraluan.”
“Nah, Ionna. Kau bisa pergi. Beristirahatlah.”
“Terima kasih, Kakak.”
Tepat saat Ansel mengakhiri perdebatan singkatnya dengan sang ibu, saat itulah aquamarine Ionna bertumbuk dengan cermin hijau Lucian. Ionna menguarkan setarik senyum lemah kemudian membungkuk memberi salam. Baik lima tahun yang lalu maupun sekarang, Lucian selalu berbuat tanpa menjelaskan apapun kepadanya.
“My Lord, My Lady, mohon maafkan saya yang tidak bisa menemani kalian hingga akhir. Tolong, izinkah saya undur diri. Saya menyesal telah menunjukkan hal memalukan ini di depan kalian.”
Evangeline menyeka bibirnya yang berminyak dengan serbet. Ia bertanya-tanya darimana datangnya ketenangan dan ketegaran hati sang lady. “My Lady, kesehatan Anda yang lebih utama. Saya berdoa untuk kesembuhan Anda.”
“Terima kasih, Lady Evangeline.” Ionna melirik Lucian sebelum meninggalkan ruangan. “Kalau begitu, selamat malam semuanya.”
“Selamat malam.”
Evangeline memperhatikan punggung lesu Ionna menghilang di balik pintu ruang makan. Violetnya mengarah pada Lucian yang sama sekali tidak mengikuti gerakan Ionna. Di sini, Lucian berperan sebagai penjahat. Ia mengahancurkan harapan gadis yang telah menunggunya dengan membawa dan memperkenalkan gadis lain sebagai tunangannya. Evangeline telah mengamati gelagat canggung Lucian dan Ionna di kereta kuda. Ia akan menanyakan rumor kencan itu sekali lagi dan memastikan Lucian tidak bisa lolos dari pertanyaannya.
“Ionna memiliki gangguuan pencernaan yang bisa kambuh kapan saja,” ucap sang duchess memecah keheningan yang tercipta. Tiada pembicaraan yang berarti semenjak Lady Ionna melenggang dari ruang makan. “Bahkan selama dua minggu ini, dia sering melewatkan makan malam. Kuharap kalian berdua bisa memakluminya.”
“Saya turut prihatin atas kesehatan beliau, Madame.”
Mata cokelat Duchess Laundrell berkilat di bawah sinar lampu. “Omong-omong, Lady Hernsberg, bisakah kita memiliki waktu berdua malam ini?”
Evangeline otomatis menegakkan punggung. “Maaf?”
“Aku ingin mengenalmu secara pribadi, My Lady. Kau merupakan tamu pertama kami yang berasal dari Andasia. Dan karena kau adalah tunangan sahabat putraku, aku harus menyambutmu dengan layak, bukan?”
“Ah, Anda tidak perlu repot-repot, Madame.”
“Apa yang kaukatakan?” Dengan gerakan anggun, Duchess Laundrell mengiris daging seakan sedang mengasihinya. Tidak seperti perlakuannya terhadap sang putri, wanita itu malah mengiris daging yang akan dicerna perutnya dengan kelembutan yang luar biasa. “Setidaknya aku ingin mengenal seseorang yang akan menjadi Marchioness Carnold lebih jauh. Jadi, bagaimana jawabanmu, My Lady?”
“Aye, dengan senang hati, Madame,” jawab Evangeline tanpa pikir panjang. Jika jamuan pribadi dengan wanita paling berpengaruh di Gouvern dapat mendongkrak popularitasnya di pergaulan kelas atas, Evangeline tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini begitu saja.
Malam ini ia akan mengarungi dua pulau sekaligus.
“Terima kasih atas undangannya.”
---
Ini buruk. Buruk sekali.
Air mata tidak mau berhenti dan baru kali ini Ionna merasakan patah hati. Rasa sakitnya bukan main, membuat Ionna sesak dan sulit bernapas. Ionna memeluk lutut di ruang baca, menyembunyikan air mata dan tangisnya di sudut tergelap rak. Ia tidak tahu bagaimana dirinya harus hidup setelah ini. Di saat satu-satunya sumber kekuatan berpaling darinya, Ionna tidak mengerti ke mana dirinya harus melangkah.
Ia sendirian di dunia ini. Tanpa Marquess Carnold, apa jadinya hidup?
Kemudian Ionna memutar memori-memori masa lalu. Ketika ia berusia lima tahun, delapan tahun, empat belas, tujuh belas, hingga dua puluh dua; Ionna mengingat setiap detail kalimat yang ia utarakan pada Lucian. Tentang betapa ia mengagumi pria itu, betapa ia menyukai pria itu, dan betapa ia mencintai pria itu. Ionna ingin menjadi gadis yang bersanding dengan Lucian, menggaetnya seperti yang dilakukan Lady Evangeline, dan memanggil namanya tanpa sapaan kehormatan. Ia ingin menjadi orang yang tersenyum dan menerima perhatian pria itu.
Dan detik ini, seluruh angan, mimpi, dan ekspektasinya luruh dalam sekejap. Lucian selalu melihat Ionna seperti cara Ansel melihatnya. Bukan sebagai wanita, melainkan sebagai adik kecil yang membutuhkan sosok kakak lain untuk menenangkannya. Selama ini Ionna pun sadar bahwa Lucian tidak sedikitpun memiliki perasaan terhadap dirinya. Ia terus membohongi diri sendiri, bergantung pada harapan karena Lucian tidak sekalipun menepis perasaannya.
Kini, haruskah Ionna mundur? Baru tadi pagi Ionna bersumpah di depan makam Marchioness Carnold, lalu semuanya berakhir secepat ini?
Sebuah isakan keluar dari mulutnya. Ionna menekan dadanya yang serasa dihimpit oleh dua tembok raksasa. Ia tidak memiliki tempat untuk bernapas di rumah ini selain ruang baca.
“My Lady.”
Kenapa suara Lucian masih saja terngiang-ngiang di telinganya?
Ionna mengeratkan pelukannya, membenamkan wajah di lutut. Tubuh dan pundaknya bergetar hebat. Ia membenci fakta bahwa omong-kosong yang ia tulis dalam kertas-kertas itu tidak terkabul. Apa ini karena Ionna tidak melanjutkan harapannya yang berhenti pada lipatan kedelapan ratus?
Tidak.
Ionna hanya orang yang tidak beruntung. Dia tidak punya secuil pun keberuntungan dalam hidupnya. Entah Tuhan atau dongeng The Paper Cranes Wish, tidak ada yang bisa mengabulkan permintaannya. Ia terlalu egois dan congkak untuk menerima kenyataannya. Karena semakin Ionna berharap dan meminta, ia semakin membenci dirinya sendiri.
“My Lady.”
Suara itu lagi.
“Enyahlah!”
Ionna hendak melempar buku dari rak ketika sebuah tangan yang lebih besar menahan tangannya di udara. Ionna terkesiap. Napasnya tersekat di tenggorokan. Ia dapat merasakan kehadiran orang lain di dekatnya. Wangi maskulin yang kental menguar dari tubuh sosok di depannya. Ionna menggigit daging pipinya, mencegah kepalanya mendongak. Ia tidak akan sanggup menatap manik hijau pria itu untuk sementara waktu. Ia akan terlihat semakin menyedihkan di mata Lucian Carnold.
“Lady Ionna, apa yang Anda lakukan di sini?”
“Bukankah seharusnya itu menjadi pertanyaan saya, My Lord? Apa yang sedang Anda lakukan di sini?”
Kenapa kau selalu mencari dan menemukanku?
Genggaman Lucian di pergelangan tangannya mengerat. Pria itu berjongkok di hadapannya, tepat di depannya. “Saya rasa Anda membutuhkan penjelasan saya.”
“Penjelasan yang terlambat.”
“Anda berhak marah. Saya pantas mendapatkannya.”
Ionna menyentakkan tangan pria itu kasar. “Bila Anda tidak punya hal lain untuk dikatakan. Saya mohon, tinggalkan saya sendiri.”
“Saya akan melakukannya, My Lady. Setidaknya setelah Anda bersedia mendengarkan penjelasan saya.”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Saya tidak butuh penjelasan Anda.”
Ini adalah kali pertamanya Ionna bersikap sedingin bongkahan es di kutub. Lucian juga tidak tahu mengapa dirinya keluar dari ruang makan dan melangkah ke perpustakaan demi gadis itu. Demi Tuhan, Lucian bukannya mengkhawatirkan Ionna. Ia hanya ingin mencari penyebab kegelisahannya dan mengakhiri segalanya malam ini. Ionna tidak boleh mempertahankan perasaannya lebih dari ini, sementara Lucian tidak mungkin menjaga gadis itu selamanya.
“Lucian.”
Lucian menegang. Ia membelalak. Aquamarine itu akhirnya menatapnya. Di bawah keremangan perpustakaan, Lucian mendengar Ionna memanggil namanya. Lucian tidak dapat melihat ekspresi Ionna secara jelas karena keremangan yang mengitari mereka.
“My Lady?”
“Sejak dulu, aku ingin memanggil namamu. Melewati batas, menghapus jarak di antara kita, Lucian.”
Apa? Apa yang dia katakan? Kenapa tiba-tiba gadis itu mengabaikan formalitas? Tidak ingatkah Ionna pada statusnya? Dia adalah adik perempuan Duke Laundrell, penguasa duchy ini. Lucian merupakan seorang marquess yang menjadi bawahan kakaknya. Tidak sepantasnya gadis itu menurunkan status dan kehormatannya seperti ini.
“Aku mencintaimu.” Bibir Ionna bergetar ketika mengatakannya. Gadis itu merutuki suaranya yang serak dan basah. Ia merasa teramat-sangat kacau. “Aku mencintaimu, Lucian Carnold. Jika kau datang untuk menyuruhku menghapus perasaan ini, sebaiknya kau pergi. Jangan temui aku dan tepis niatanmu.”
Lucian mematung. Kepalanya mendadak kosong. Ia menatap gadis yang meringkuk di sudut rak itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejenak, ia melupakan tujuan kedatangannya ke mari.
“Kau menghilang selama lima tahun dan selama itu, aku menunggumu, menantikan kepastianmu. Kenapa kau tidak pernah mengempaskanku dan menjauhiku? Kau membiarkanku bermain-main di sekitarmu dan memberiku harapan palsu. Baik, katakanlah ini semua salahku. Penantianku pasti membebanimu. Keberadaanku pasti mengusikmu. Aku yang salah karena terlalu mengharapkanmu, Lucian Carnold.”
Tidak, jangan menangis.
Sengatan nyeri di dadanya membuat Lucian resah. Apakah ia benar-benar merasa bersalah? Ataukah ini merupakan kepeduliannya saja? Lucian tidak bisa memahami dirinya sendiri. Selama ini ia tidak memahami dirinya yang tidak bisa menyingkirkan gadis itu dari pikirannya. Ia tidak bisa memahami mengapa ia tidak suka tatkala bulir-bulir bening itu berjatuhan dari kedua manik Ionna. Ia ingin segera mengakhiri ini, secepatnya, sekarang juga. Namun, perasaan rumit apa ini? Sesuatu seolah mendesak keluar. Ia membenci ingatan tangisan Ionna dan kali ini gadis itu menangis karena dirinya.
Lucian menggeretakkan gigi. Sial. Perasaan tidak berdaya macam apa yang melanda dirinya?
“Tetapi, saya tidak bisa menerima cinta yang tidak ada bedanya dengan obsesi, My Lady.”
“Apa?”
Ionna merasa hatinya hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. Ia mendongak. Bola sebiru lautnya bergetar tak percaya. Obsesi pria itu bilang? Apa dia pikir selama ini Ionna terobsesi kepadanya?
Ionna tersenyum miring. Ia bersyukur karena berada di tempat seremang ini. Jika tidak, Ionna tidak akan bisa menyembunyikan ledakan emosi yang tergambar jelas di wajahnya.
“Jadi, ini penjelasan yang kaumaksud?”
“Maafkan saya.” Bahkan Lucian membuang muka darinya. Tidak. Pria itu tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ionna yakin sekali.
“My Lord, katakan yang sesungguhnya. Kenapa kau berpikir aku terobsesi padamu? Kenapa kau mengatakan itu?”
“Karena saya tidak akan pernah bisa memberikan hati saya kepada siapapun, Lady. Termasuk Anda.”
Bualan apalagi ini?
“Lalu, bagaimana dengan Lady Evangeline?” Ionna meraih kerah mantel pria itu, menariknya mendekat. “Bagaimana bisa kau menjelaskan perasaanmu kepadanya? Kalian bertunangan, bukan? Apa kau mencintainya?”
Lucian menyentuh tangan Ionna, menurunkannya dari kelepak mantel.
“Saya tidak bisa mencintai siapapun, My Lady. Selamanya, tidak akan bisa.”
To be continued