40. Their Meeting

1303 Kata
Ansel mengamati adiknya dari ujung kepala hingga ujung kaki, terkesima akan kecantikan Ionna yang tidak pernah bosan membuat orang lain takjub. Ia langsung merebut adiknya dari Raphael dan menuntun gadis itu ke teras depan. Jika bisa, Ansel ingin memamerkan ke seluruh dunia bahwa sosok gadis bergaun hijau lumut ini adalah adik perempuannya. Tiada hal yang bisa membuatnya bangga selain menjadi kakak lady paling cantik di Kerajaan Gouvern. “Ternyata kau memakai gaun yang sederhana. Kupikir kau akan berdandan habis-habisan untuk kakak favoritmu.” Ionna tersenyum masam mendengar dua kata terakhir. “Kenapa? Aku menjatuhkan ekspektasimu?” “Tidak. Tentu tidak, Adikku sayang. Bagaimanapun penampilanmu, kau adalah yang tercantik di mata Kakakmu.” “Kau memang punya penilaian dan selera yang luar biasa, Your Grace.” Tak lama kemudian, bunyi tapak kaki kuda dari gerbang depan mengalihkan atensi mereka. Kedua aquamarine Ionna bergetar menangkap lampu kereta bergerak mendekat membelah jalanan gelap. Ia menggigit bibir bawah tanpa sadar. Jantungnya sudah berdentum sekeras tabuhan drum pemain orkestra yang ia tonton di pasar kota. “Aih, akhirnya mereka datang juga.” Mereka? Ionna mengernyit, menuntut penjelasan Kakaknya yang tersenyum lebar ke arah kereta putih berukir kelopak teratai. Apa ada orang lain yang Ansel undang selain Marquess Carnold? Tetapi, kenapa hanya ada satu kereta yang datang? Ionna menyimpan pertanyaan itu dalam hati. Ia akan mendapatkan jawabannya begitu pintu kereta terbuka. Kereta Marquess Carnold berhenti di depan teras kediaman Laundrell yang luas. Ionna beringsut di balik badan Ansel, mengekori sang kakak berjalan menuruni undakan teras. Dapat dilihatnya—dengan sangat jelas helai pirang Marquess melalui jendela kaca. Ionna menggelengkan kepala sekali berusaha menghilangkan suara degup di telinganya. Oh, ia gugup setengah mati. “Hei, Sobat. Jangan diam saja, cepat turun!” Seakan ada sihir dalam kata-kata Ansel, pintu kereta terbuka secara ajaib. Ionna menunduk dalam, merasa tidak sanggup bertatapan dengan pria yang sudah lima tahun tidak ia lihat. Bayang-bayang akan sosok Lucian dua puluh enam tahun terus menghantui benak Ionna selama beberapa hari terakhir. Marquess Carnold lima tahun lalu merupakan pria tinggi dengan rahang tegas dan tubuh sempurna bak hasil pahatan pengerajin profesional. Pria itu begitu indah dan memukau. Tiada yang menyadari pesona sang marquess sebelum ia menampakkan diri di pesta debutan malam itu. Para gadis yang melayangkan tatapan iri pada Ionna menggila karena didampingi Marquess paling misterius seantero Gouvern dan memiliki kakak paling rupawan di antara para jentelman yang hadir. Ionna tersenyum mengingat memori dansa pertamanya. Di masa depan, akankah Ionna berkesempatan lagi jatuh dalam pelukan pria itu saat berdansa? Tangannya pasti menjadi dua kali lebih kekar dan kokoh dibanding lima tahun lalu. Sepasang sepatu hitam berayun selangkah demi selangkah menghampiri mereka. Ionna menghitung seberapa banyak langkah yang pria itu ambil sampai mereka saling berhadapan. Ia mengumpulkan tekad, mengusir ketegangan. Ia memejamkan mata sejenak lalu mendongak memandang sang marquess yang berjalan di bawah kegelapan malam. Sosok Lucian berangsur-angsur disirami cahaya terang. Pria itu semakin memangkas jarak di antara mereka lalu menganggukkan kepala sebagai sapaan formal. Ionna menyipitkan mata, memusatkan seluruh perhatian kepada sang marquess. Ia merasa dunia dan waktu seolah berhenti berputar ketika Lucian menegakkan punggung, secara perlahan menaikkan pandang, dan mengunci Ionna dalam iris hijaunya yang menyala indah. Ionna menahan napas saat mendapati refleksinya terpantul dalam cermin hijau Lucian. Pria itu menatapnya tanpa ekspresi. Ionna menemukan dirinya nyaris terbang tak berpijak di permukaan bumi. Selain postur tubuh dan garis wajahnya yang menajam, tiada yang berubah dari sosok Lucian Carnold. Ionna rasa organ penunjang hidupnya bisa berhenti berdetak kapan saja. Eksitensi pria itu malam ini bagai racun yang mengancam nyawa. Sungguh berbahaya. “Selamat malam, My Lady.” Ionna tersentak, cairan bening seketika menggenangi kedua matanya. Sebisa mungkin ia membendung cairan itu supaya tidak meluncur turun, menekuk lutut membalas sapaan sang marquess. “Selamat malam, My Lord.” “Kenapa kau tidak menyapaku?” Ansel dengan gampangnya menyerobot suasana dramatis yang tercipta. Ionna memaksa bibirnya menarik seulas senyum. Bisakah ia menendang kakaknya jauh-jauh dari sini? Lucian berpaling menatap Ansel, memasang tampang bosan. “Setiap hari di ibukota kau mengunjungi townhouse dan berkeliaran di sekitarku seperti orang tidak ada kerjaan.” Satu lagi yang tidak berubah dari Lucian. Mulut sarkasnya yang sering menyulut api di kepala Ansel. “Berani-beraninya kau, Sialan!” “Sudah. Hentikan, Kakak!” “Ionna, dia jahat sekali!” “Kita harus mempersilakan His Lordship masuk. Jangan membuat beliau menunggu.” “Cih, dasar teman sialan. Adikku pun kaurebut dalam sekejap. Persetan dengan persahabatan, seharusnya aku tidak mengundangmu ke mari.” “Terima kasih, Your Grace,” sahut Lucian tak acuh. Ansel menyeringai kecil. “Nah, itu lebih baik.” Ya Tuhan, betapa Ionna merindukan bariton Lucian lima tahun ini. Entah itu pagi, siang, sore, atau malam, Ionna selalu merindukan setiap hal kecil tentang Lucian. Kini, kerinduan Ionna telah terbayarkan. Penantiannya telah berakhir karena Lucian kini telah berdiri di hadapannya. Tiada lagi jarak dan waktu yang bisa memisahkan mereka. Sekarang tiba saatnya bagi Ionna menunjukkan perasaannya, menunjukkan bahwa ia masih mencintai dan menunggu pria itu. Tak peduli selama apapun, sejauh apapun mereka terpisah, tiada seorangpun yang dapat menghapus rasa cinta Ionna terhadap Lucian. “Kau tahu kau tidak perlu menyambutku di sini,” kata Lucian pada Ansel yang berjinjit untuk melihat sesuatu di belakang Lucian. Ionna menyumpahi tingkah memalukan Kakaknya. Apa sih yang sebenarnya pria itu cari? “Di mana Lady Hernsberg? Apa dia tidak ikut?” tanya Ansel. Samar-samar Lucian merasakan kejutan listrik di tulang punggungya. Ionna sadar bahwa masih ada satu orang lagi di dalam kereta. Ia bertanya-tanya siapa gerangan Lady Hernsberg yang kakaknya bicarakan. Kenapa pula orang itu berbagi kereta dengan Lucian? Sebelumnya, Ionna belum pernah mendengar nama Hernsberg dalam marga bangsawan lokal. Apa salah seorang keluarga lady ini baru saja mendapatkan gelar ataukah ia tamu kehormatan dari kerajaan tetangga? Kenapa Ansel tidak memberitahunya tentang ini? Lucian meremas pundak Ansel lalu mendorong sahabatnya mundur. Sementara itu, Ionna menatapnya dengan guat-gurat kebingungan yang kentara. Apa Lady Ionna belum mengetahui gosip yang beredar di pergaulan kelas atas? Sudah dua minggu sejak Lucian kembali dari Andasia dan seharusnya gosip itu telah sampai ke telinga sang lady. Apa sesungguhnya Ionna telah mengetahuinya, namun ia pura-pura menutup mata dan telinga atas kenyataan itu? Lucian pun memutus kontak mata mereka. Tidak mungkin. Sorot mata gadis itu tidak mungkin membohonginya. Ionna jelas-jelas tidak tahu mengenai kabar pertunangannya. Gadis itu tengah menanti Lucian mengungkapkan siapa sosok Lady Hernsberg ini. Suara-suara aneh bergemuruh dalam d**a Lucian. Dadanya terasa berat tanpa alasan, begitu pula dengan kakinya yang berjalan menuju kereta. Haruskah? Haruskah Lucian melukai gadis itu? Menyakitinya? Lucian memejamkan mata sejenak, menelan ludah, dan berucap pada Evangeline yang duduk manis di dalam kereta. “My Lady, saatnya Anda turun.” Ucapannya dibalas anggukan dan jawaban bernada rendah. Lucian pun mengulurkan tangan, menggenggam sebuah tangan berbalut sarung tangan marun, lantas membantu si pemilik tangan menuruni pijakan kereta. Evangeline menggaet tangannya, sama sekali tidak merasa malu dengan berpasang-pasang mata yang tertuju pada mereka. “Terima kasih, Luce,” bisik gadis itu sambil mengulum senyum. Di sisi lain, Ionna mematung di tempat. Guratan emosi meninggalkan paras ayunya dan bola sebiru lautnya mendadak kosong. Lucian membawa tunangannya, Lady Evangeline yang secantik Dewi Malam menghadap Ionna, membiarkannya gadis itu membungkuk memberi penghormatan. “Perkenalkan, My Lady.” Lucian hampir kehilangan suaranya ketika ia memperkenalkan Evangeline. Detik itu ia bersumpah dapat melihat kehancuran di wajah Ionna yang sepucat mayat dan merasakan kehancuran lain meledak-ledak dalam dirinya. Lucian tidak mengerti kenapa ia bisa merasa bersalah. Ia menanyakan darimana asal sensasi tercekik di lehernya. Ia tidak memiliki perasaan apapun pada gadis berambut merah itu, lantas mengapa hatinya terasa perih? Lucian berdeham untuk menetralisir tenggorokannya yang kering. Setelah memantapkan hati, ia pun melanjutkan, “Perkenalkan, My Lady, dia Lady Evangeline Hernsberg, putri Count Hernsberg dari Kerajaan Andasia—” “Dan tunangan Marquess Carnold,” sela Evangeline tiba-tiba. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN