39. At the Funeral

2076 Kata
Tuhan memang selalu punya rencana lain. Lucian tidak perlu menunggu sampai malam untuk bertemu—tidak, melainkan melihat Lady Ionna Laundrell. Pria itu baru saja turun dari Ian yang merindukan belaiannya ketika mendapati kuda lain di depan pintu makam keluarga Carnold. Lucian pun mengikat Ian di pagar besi, menghampiri kuda gipsi bercorak hitam-putih dengan rambut lebat di kepala dan kaki, dan mengenali bahwa kuda itu adalah Chelsea, kuda milik Ionna. Agaknya Chelsea langsung mengenali Lucian karena ketika Lucian berada lima meter dari tempatnya berdiri, kuda itu langsung meringkik dan menggerak-gerakkan telinganya kegirangan. Sejenak Lucian mengedarkan pandang ke sekitar, memeriksa apakah sang pemilik ada di dekat sini. “Jadi, Jacob benar. Chelsea, apa Lady Ionna selalu membawamu ke mari?” tanya Lucian sembari mengelus rambut panjang Chelsea yang dikepang rapi. Ekor Chelsea langsung mengibas senang merasakan sentuhan Lucian. Sayup-sayup Lucian dapat mendengar rengekan cemburu Ian yang mengawasi mereka dari kejauhan. Ia melambaikan tangan pada kuda putihnya itu. “Kau masih mengenaliku ternyata, Kawan. Senang bertemu denganmu, tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku harus pergi. Sampai jumpa, Chelsea.” Kemudian Lucian mengayunkan kakinya memasuki area pemakaman. Batu-batu nisan besar bertuliskan nama anggota keluarga Carnold dari berbagai generasi tertancap di atas tanah berumput. Pepohonan besar menaungi nisan-nisan itu, melindungi mereka dari matahari yang bersinar terik. Lucian ingat saat ia mengantarkan Ibu ke tempat peristirahatan terakhir delapan tahun silam. Minggu kedua bulan ke delapan, di mana rintik hujan yang jarang terjadi di musim panas mengguyur Celeton sederas-derasnya. Ia berdiri dengan tatapan kosong di depan makam sang ibu yang masih basah. Orang-orang berpakaian hitam, payung hitam, dan tangis beradu dengan suara hujan dan petir. Satu-persatu orang meninggalkan makam kecuali Lucian dan Ansel yang senantiasa menemani sahabatnya. Bahkan di saat itupun, Marquess terdahulu, sang ayahnya justru pergi berkelana dan melepas setumpuk masalah pada putranya. Di mana sebenarnya letak hati nurani pria itu? Satu-satunya hal yang membuat Lucian heran adalah rasa cinta sang ibu yang tidak pernah goyah untuk suaminya. Lucian mendesah pelan sembari kakinya berjalan menyusuri jalan setapak menuju makam mendiang Marchioness Carnold. Selain itu, fakta bahwa Lady Ionna juga menghirup udara di tempat yang sama dengannya menimbulkan kerisauan dalam diri Lucian. Ada perasaan canggung, asing, dan aneh yang perlahan menyusup dalam hatinya. Lucian telah meninggalkan Ionna tanpa kata tanpa kejelasan. Apa yang seharusnya Lucian katakan ketika mereka sudah berhadapan nanti? Apakah pantas ia menanyakan kabar dan berkata sudah lama tidak berjumpa? Seolah tiada apapun di antara mereka? Ratusan kali Ionna mengakui perasaannya di depan Lucian. Dan Lucian berhasil menjadi pria paling jahat di dunia dengan mengabaikan perasaan gadis itu selama bertahun-tahun. Lucian pikir Ionna akan menemukan tambatan hatinya, melupakan Lucian sebagai pria yang ia kagumi. Namun walau Lucian menyingkir dari hidup gadis itu dalam waktu yang lama, perasaan Ionna kepadanya sama sekali tidak berubah. Lucian tidak bisa mencintai atau dicintai. Lantas, bagaimana bisa ia meyakinkan gadis itu seperti pria yang tak tahu malu?  “Bibi.” Suara lembut itu berangsur-angsur mengaburkan lamunan sang marquess. Seakan ada rantai imajiner yang menahan langkahnya, Lucian berhenti di balik pohon ek yang tumbuh tak jauh dari makam sang ibu. Di depan batu nisan bertuliskan nama Isabelle Carnold, seorang gadis berbalut gaun lengan pendek dan sarung tangan brokat hitam duduk bersimpuh sambil memegang payung. Sebelah tangan gadis itu mengelus puncak nisan dengan lembut. Rambut merah menyalanya disanggul di balik hiasan jaring, sementara Lucian hanya bisa melihat punggung gadis itu dari balik pohon. Manik hijaunya terpaku pada sosok itu. Dibanding Ansel, Lucian-lah pecundang yang sesungguhnya. Kenapa dia harus bersembunyi alih-alih langsung menghadapi sang gadis? Mendadak Lucian tidak memiliki keberanian untuk menghampiri makam sang ibu. Ia berusaha menguatkan diri, namun gagal saat tangan gadis itu bergerak mengusap pipinya. Lucian memperhatikan gadis itu dari kejauhan sembari termenung, memutar kembali momen tatkala sang ibu membuatnya berjanji untuk menjaga gadis itu. Aku tidak bisa memenuhi janjiku, Ibu, gumam Lucian. Jemarinya mengerut, mencakar batang pohon melampiaskan kekesalannya. Lady Ionna selalu bergantung padaku. Tapi, aku tidak bisa menjaganya setiap waktu. Seandainya sang lady tidak dapat membuka hatinya untuk orang lain, lantas sampai kapan aku harus menjaganya? Pertanyaan itu terus membayangi benak Lucian yang sampai sekarang belum menemukan jawabannya. Lucian tidak pernah menduga kepergiannya ke Andasia akan menumbuhkan perasaan sang lady, semakin besar dan besar bersama dengan kerinduan yang semakin membuncah. Angin musim panas yang kejam menerpa gendang telinga Lucian dengan isakan dan ucapan samar gadis itu. Haruskah Lucian berdiam diri dan menunggu gadis itu pergi ataukah bergabung bersamanya menyapa sang ibu? Lucian tidak berhak memilih di antara dua pilihan. Jadi, ia pun memutuskan pergi, melenggang keluar area makam, dan mencegah kepalanya menoleh ke belakang lagi. Lucian perlu mencari ketenangan terlebih dulu sebelum benar-benar menampakkan wajah di depan sang lady nanti malam. “Ada apa denganku?” tanyanya, dibuat bingung dengan perasaan dan dirinya sendiri. Ia mengumpat dalam hati. “Dasar pengecut.” --- “Kabarnya His Lordship pulang hari ini, Bibi,” kata Ionna sambil menyeka air mata. Ia menunduk menatap nisan bertuliskan nama Marchioness Carnold, beserta tanggal lahir dan tanggal wafat. Hari itu Ionna dijadwalkan dikirim ke Sanspearl, namun keberangkatannya ditunda sehari karena berita kematian Marchioness Carnold. Kendati demikian, ia dilarang menghadiri upacara pemakaman lantaran sang ibu tahu Ionna akan sangat terpukul dengan kepergian Ibu asuhnya itu. “Saya telah menyiapkan gaun terbaik saya untuk makan malam. Ah, Kakak mengundang beliau untuk makan malam di rumah kami, Bibi,” lanjutnya. Kelopak-kelopak krisan putih yang ia bawa melambai lembut ditiup angin. “Saya senang akan kepulangan beliau, saya ingin menyambut beliau dengan layak. Akan tetapi, Bibi, bisakah Bibi memberi saya kekuatan? Sesungguhnya, saya sedikit takut berhadapan dengan beliau setelah sekian lama.” Ionna pun duduk bersimpuh di depan nisan, tak peduli pada gaun hitamnya yang kotor menyapu tanah. Ia meletakkan payung di samping tubuh, menyatukan jari, lantas melayangkan doa demi ketenangan mendiang Marchioness Carnold. Selesai berdoa, Ionna punmelanjutkan curahan hatinya. “Bibi, sebetulnya sudah lama saya merasakan kejanggalan dari kepergian beliau dan kejadian malam debutan. Saya merasa bahwa sayalah penyebab His Lordship masuk parlemen dan pergi ke Andasia. Kita sama-sama tahu His Lordship tidak begitu menyukai pergaulan kelas atas, lantas kenapa beliau tiba-tiba bergabung? Itulah yang mengganggu saya sejak lima tahun yang lalu. Jika benar saya penyebabnya, saya tidak akan pernah memaafkan diri saya sendiri, Bibi.” Biarlah orang mengatainya gila berbicara di depan makam orang yang telah meninggal. Marchioness Carnold mungkin tidak bisa membalas kata-katanya, tidak bisa membelai rambut, dan memeluk menenangkannya. Tapi, Ionna yakin, di suatu tempat tak jauh dari sini, Marchioness Carnold pasti mengawasinya, menjaganya, mengasihinya. Ionna tersenyum ketika seembus angin seakan ingin membisikkan sesuatu kepadanya. Ia pun memutar kepala k belakang, merasakan sepasang mata mengamatinya dari kejauhan—tunggu, kenapa perasaan diawasi ini terasa nyata? Sepasang cermin biru Ionna kemudian berguling ke kanan dan kiri, secara perlahan, menelisik setiap sudut jangkauan pandangannya. Pemakaman sesepi biasanya. Lantas, kenapa Ionna merasa seseorang seakan bersembunyi dan diam-diam memperhatikannya? Mengenyahkan prasangka konyol itu, Ionna pun kembali memusatkan fokus pada pusara Marchioness Carnold. “Maaf, atensi saya terganggu karena angin tadi.” Ionna menyunggingkan senyum meminta maaf. “Bibi, apa Anda mengizinkan saya untuk mencintai Marquess Carnold? Setiap hari saya bertahan demi perasaan ini. His Lordship mungkin tidak dapat membalas perasaan saya, namun saya berjanji akan berusaha untuk mendapatkan hati beliau, membuka pintu hati beliau yang tertutup, sebelum, sebelum akhir tahun ini. Bibi, jika saya gagal, maka saya akan menikah dengan pria yang tidak saya cintai. Sa-saya akan menikah dengan orang lain—hiks.” Ionna merutuki dirinya yang cengeng. Lagi-lagi ia menangis. Lagi-lagi ia menunjukkan kelemahan. Sampai kapan ia menjadi gadis lemah yang terus bergantung pada Lucian? Ionna merasa dirinya menjadi parasit, hama dalam kehidupan pria itu. Tetapi, mau bagaimana lagi? Lucian adalah satu-satunya hadiah—orang yang ia cintai. Bagaimana bisa Ionna melepaskan pria itu begitu saja? Memaksakan diri menikah dengan pria lain demi memuaskan ambisi Ibunya tidak akan membuatnya bahagia. Ionna ingin bahagia. Setidaknya sekali seumur hidup. Dan kebahagiaan Ionna hanya terletak pada Lucian. Lucian Carnold. Ionna memanglah gadis egois. Meskipun sadar sang marquess tidak menyukainya, kenapa dia masih bersikeras? Darimana kepercayaan suatu hari Lucian akan melihatnya? Berbalik ke arahnya? Berjalan dan mendekap dirinya? Ionna meremas gaun, memejamkan mata membiarkan pipinya menganak sungai dengan air mata. Ionna adalah yang terburuk. “Saya sangat egois, Bibi. Maafkan saya.” Ionna tidak menghitung berapa kali dirinya menangis selama satu jam ini. Bulir-bulir air mata jatuh dari dagu, menetes ke gaun, meresap dan membasahi gaunnya yang mengembang di atas rerumputan. Ionna mencoba menghentikan tangisnya, namun ia tidak bisa. Cintanya untuk Lucian sangatlah besar hingga rasanya sudah tak terbendung lagi. Penantiannya akan berakhir hari ini, malam nanti. Kali ini Ionna tidak boleh membuang-buang waktu dan menyia-nyiakan kesempatan yang tersisa. Ionna hendak berucap manakala sebersit kalimat melesat dalam otak kecilnya. Bagaimana jika Lucian terpaksa dan tidak bahagia dengan tindakannya ini? Ionna pun mengembuskan napas dalam-dalam, mengisi dadanya yang sesak dengan oksigen sekitar. Kedua alisnya bertaut penuh keyakinan. “Bibi,” gumam Ionna dengan suara serak. Ia pun bangkit, menepuk-nepuk bagian belakang gaun, lantas mengepalkan tangan kuat. “Di depan Bibi, saya ingin mengucapkan sebuah sumpah. Sebuah sumpah yang akan menyadarkan diri saya bahwa ada waktunya bagi saya untuk menyerah dan melepaskan Marquess Carnold.” Ia pun memejamkan mata rapat-rapat. “Seandainya—seandainya suatu saat Marquess Carnold menyuruh saya berhenti mengejarnya, maka detik itu juga saya akan berhenti, Bibi. Sebenarnya, saya tidak tahu apa yang benar-benar saya inginkan. Saya memang ingin terus berada di samping Marquess Carnold, namun saya tidak pernah memikirkan pernikahan maupun kemungkinan perasaan saya akan berbalas. Saya hanya ingin membuat beliau bahagia, Bibi. Karena sejak Bibi tiada, Marquess Carnold kehilangan senyumannya. Beliau telah melalui banyak kesulitan karena kepergian Bibi dan Paman Marquess. Oleh sebab itu, Bibi, tolong beri saya satu kesempatan melihat senyuman beliau sebelum saya benar-benar memutuskan untuk menyerah.” --- “Gaun yang cantik, My Lady,” ucap Raphael yang baru saja datang untuk mengawal Ionna ke pintu depan. Pukul tujuh tepat kereta sang marquess akan tiba. Ionna menyemprotkan prafum beraroma lavender kemudian memasang anting dan kalung mutiara dengan cekatan. Malam ini Ionna mengenakan gaun hijau lumut sederhana dengan sepatu kaca pemberian Marquess Carnold. Sepatu itu selalu serasi dipadupadankan dengan wana gaun manapun. Ionna hanya menggunakannya sesekali ketika datang ke acara formal. Dan karena malam ini adalah malam yang istimewa, Ionna ingin menunjukkan bahwa ia telah menjaga barang pemberian itu baik-baik. Annie yang selesai menjepit rambut Ionna dengan hiasan kupu-kupu tersenyum lebar. Ia melompat-lompat kecil sambil sesekali menatap Raphael yang geleng-geleng kepala akan tingkahnya. Nona Muda mereka menjadi seratus kali lebih cantik dan bersinar dari biasanya. Apa ini karena kedatangan Marquess Carnold? Tampaknya, sang lady memiliki suasana hati yang bagus malam ini. “Ada pepatah yang mengatakan, senyuman akan memancarkan aura dan daya tarik seseorang. Banyak-banyaklah tersenyum malam ini, My Lady,” celetuk Annie yang gembira dan berputar-putar bersama Nonanya mengelilingi kamar. Dari ambang pintu, Raphael berseru mengingatkan.  “Malam ini akan menjadi malam yang panjang, Annie. Bahkan bintang-bintang berpendar indah di langit malam. Apa mereka sedang mendukungku, huh?” “Oh, tentu saja! Malaikat Laundrell dicintai oleh semua makhluk hidup dan benda alam di semesta. Siapa yang bisa menampik kecantikan Nona saya. Betul ‘kan, Sir Raphael?” “My Lady, Miss Jam, tolong lebih berhati-hati!” “Haha jangan khawatir, Sir Raphael. Kami akan baik-baik saja,” sahut Ionna, menertawakan ekspresi Raphael yang ketar-ketir ia dan Annie akan jatuh. Agar tidak membuat kesatria pribadinya itu jntungan, akhirnya Ionna pun mengerem kaki dan menarik Annie supaya berhenti. Keduanya tertawa habis-habisan saat Raphael mendesah lega karena ulah mereka. Terkadang, Ionna penasaran seperti apa Raphael ketika ia dikirim ke medan perang. Semenjak ditugaskan mengawal dirinya, Raphael tidak lagi mendampingi sang kakak berperang. Dengar-dengar, Raphael diangkat menjadi kesatria setelah memenangkan hati Ansel ketia ia masih berstatus prajurit biasa. Di medan perang, Raphael berhasil membawa Ansel menembus pertahanan musuh. Menjepit sehelai rambut yang meluncur dari sanggul, Ionna pun berdeham dan melemparkan tatapan meminta maaf. “Apa Mama dan Kakak sudah berkumpul di depan, Sir? Aku akan turun jika semuanya siap.” “Her Grace menunggu di ruang makan, My Lady,” jawab Raphael sembari berjalan menghampiri Ionna. Ia menawarkan tangan dan Ionna pun menerimanya dengan setarik senyum lebar. “Sementara His Grace menanti Anda di ruang depan. Itulah sebabnya saya ke mari untuk menjemput Anda. His Grace meminta Anda segera bergegas.” “Kalau begitu, tunggu apalagi? Kita berangkat, Sir Rapael!” Raphael tersenyum. Ia melirik Annie yang mengeling nakal ke arahnya. “Aye, My Lady.” To be continued  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN