38. Comeback Home

1391 Kata
Celeton. Pusat kekuasaan duchy Laundrell. Evangeline hampir menempelkan wajahnya ke jendela mengagumi hiruk-pikuk kota ini. Violetnya berbinar takjub saat berbagai kereta mewah melintasi kereta kuda mereka yang bergerak sedang. Para wanita mengenakan gaun berwarna-warni dan para pria berjalan dalam setelan modis yang tak pernah Evangeline lihat di Andasia. Bibirnya berulang kali terbuka mendecakkan kekaguman. Ia tidak banyak berkeliling saat di ibu kota karena kesibukan Lucian selama dua minggu terakhir. Selain itu, Evangeline tidak boleh menampakkan diri di publik sebagai tunangan sang marquess tanpa pendampingnya. Sementara itu, Lucian di sampingnya hanya diam, fokus membaca koran yang menampilkan berita harian Celeton. Di kolom gosip, ternyata kehadiran seorang lady dari kerajaan seberang telah menarik perhatian bangsawan lokal. Lucian menahan diri agar otaknya tidak memikirkan Ionna. Kemungkinan besar gadis itu telah mengetahui gosip ini. “Lucian. Lucian. Lucian!” Pria itu terkesiap. Evangeline mencubit lengannya dengan wajah tertekuk sebal. “Ada apa, Eva?” tanyanya sambil menutup koran. Senyum kembali tersampir di bibir Evangeline saat gadis itu menunjuk sebuah bangunan besar di kejauhan. “Apa bangunan itu yang dinamakan salon? Ini kali pertama aku melihatnya, Lucian!” Lucian mengarahkan pandang pada salon yang mereka lewati. Ia mengangguk sekali, meletakkan koran di pangkuan. “Itu salon milik Madame Gracia, yang terbesar di Gouvern.” “Bisakah kita berkunjung ke sana? Aku ingin tahu bagaimana suasana salon.” Sayang sekali antusasme tunangannya tidak bisa diwujudkan. Evangeline harus bisa menerobos pergaulan kelas atas Gouvern sebelum bisa menjadi bagian dari salon. Ia tidak akan diakui dan hanya dianggap angin lewat jika memaksa masuk. “Aku tidak pernah mengunjungi salon itu,” jawab Lucian datar. Evangeline memiringkan kepala. “Kenapa? Apa ada salon lain di duchy Laundrell?” “Tidak ada.” Lucian bersidekap. “Dan lagi, kau tidak bisa sekenanya masuk tanpa undangan dari pemiliknya. Salon itu tempat bersarangnya gosip dan rumor, Evangeline.” Bahu Evangeline merosot lesu. “Kau benar. Perjalananku untuk merebut hati bangsawan Gouvern masih sangat panjang. Terima kasih telah mengingatkanku, Luce.” Lucian tidak menjawab. Kekecewaan Eva bisa dimaklumi. Bangsawan Andasia tidak mengenal salon. Mereka menghabiskan kesenangan dengan mendatangi pesta-pesta yang diadakan bangsawan setempat dan berkumpul menjamu kenalan dari rumah ke rumah. Tempat-tempat mewah seperti hotel bintang lima, restoran kelas atas, bahkan salon tidak ada dalam kamus bangsawan Andasia. Kerugian perang sudah cukup menghabiskan banyak biaya dan jika Lucian menyinggung tentang gelar serta status kebangsawanan di Andasia, semua itu tak lebih dari sekadar formalitas belaka. Sama seperti yang Evangeline singgung dulu, tiada sekat yang membatasi kehidupan bangsawan dan rakyat biasa selain rumah besar dan lahan mereka. Bangsawan Andasia terbiasa hidup berdampingan dengan rakyat kecil dan terkadang, mereka menerima perlakuan tak pantas alih-alih kehormatan. Embusan napas berat Evangeline mengakhiri kekagumannya terhadap pemandangan luar. Kereta mulai memasuki perumahan elit dengan barisan estat dan lahan-lahan luas. “Luce, apa kau bisa mengenalkan staf kediaman Carnold lebih awal?” tanyanya basa-basi. “Aku tidak mengenal siapapun di sana selain Robert.” Lucian berusaha mengingat daftar pekerja dalam surat Jacob setengah tahun yang lalu. Kediaman Laundrell mengalami perombakan besar-besaran setelah pengurus rumah ketahuan mencuri perhiasan mendiang Marchioness. “Jacob adalah asisten pribadiku. Dia yang menangani seluruh urusan properti, rumah tangga, dan menjadi wakil selagi aku tiada,” jawabnya. Evangeline memutar mata. Ayolah, siapa yang tidak hapal dengan orang yang hampir setiap minggu mengirim surat dan laporan kepada tunangannya? Tanpa menunggu respons Evangeline, Lucian menambahkan, “Komandan Trops adalah pemimpin pasukan kesatria Carnold. Kau akan bertemu dengannya saat mengunjungi markas.” Evangeline mengangguk-angguk paham. “Ah ya, aku harus berkeliling rumah seperti aku berkeliling townhouse Carnold di ibu kota. Lalu, siapa lagi, Luce?” “Mrs. Molly merupakan pengurus rumah yang baru. Mr. Traner kepala pelayan yang merangkap menjadi kepala koki. Dan Mr. Gorton yang mengurus kebun dan halaman rumah.” “Kalian memiliki banyak sekali staf. Apa kediaman Carnold memang sebesar itu?” “Ada sekitar seribu pelayan di kediaman utama,” sambung Lucian tanpa ekspresi. Evangeline bertanya-tanya apakah Lucian tengah memamerkan kekayaannya ataukah pria itu tidak memiliki rasa kepedulian terhadap pekerjanya. Lucian berkata seolah dirinya sedang menghitung domba di peternakan. “Kau sombong sekali, huh?” sindir Evangeline seraya menyikut lengan Lucian. Lucian mendesah. Kenapa setiap saat gadis ini selalu meributkan hal-hal kecil? “Kau yang memintaku mengenalkan staf di kediaman utama, Eva. Ingat itu baik-baik.” “Apa kau tidak memiliki selera humor, Lucian? Kenapa kau menanggapi segala sesuatu dengan serius?” “Aku bukan pria yang terbiasa melontarkan candaan seperti Ansel.” “Cih, dasar pria kaku.” Berlawanan dengan ejekannya barusan, seulas senyum perlahan menghiasi wajah cantik Evangeline. Walaupun Lucian tidak seekspresif pria-pria yang pernah ia temui, tetapi Evangeline rasa, justru di sanalah letak daya tarik Lucian. Evangeline tidak perlu mengkhawatirkan Lucian akan melirik wanita lain saat mereka menikah nanti. Jangankan pada wanita lain, pada dirinya saja Lucian belum tentu menyimpan perasaan spesial. Lucian yang baik hati memperlakukannya seperti seorang teman ketimbang pasangan. Setidaknya Evangeline harus merasa puas dengan perlakuan Lucian sejauh ini. Tapi di sisi lain, tetap ada satu-dua hal yang mengganjal hati Evangeline selama tiga tahun pertunangan mereka. Sebenarnya, diam-diam Evangeline talah mencari tahu segala hal yang berhubungan dengan Lucian saat mereka masih di Andasia. Rahasia di balik kematian mendadak Marchioness Carnold maupun semua rumor yang melibatkan nama Lucian tiada satupun yang tidak Evangeline ketahui. Salah satunya adalah rumor kencan Marquess Carnold dan Lady Ionna Laundrell lima tahun silam. Evangeline telah menanyakan kebenaran rumor yang langsung Lucian bantah di awal pertunangan mereka. Karena Duke Laundrell mengundang mereka makan malam di kediamannya, haruskah Evangeline mengantisipasi pertemuan Lucian dengan Lady yang nyaris menyeretnya ke dalam skandal? Lagipula aku juga penasaran seperti apa paras ayu Lady Ionna yang diagung-agungkan itu, pikirnya dalam hati. --- “Beristirahatlah,” kata Lucian saat mengantar Evangeline ke kamar untuk beristirahat. Evangeline melempar tatapan bertanya, namun, rasa lelah mendorong gadis itu untuk segera merebahkan diri dan menutup mata di atas kasur. “Ya, terima kasih, My Lord.” Selanjutnya, Lucian mengambil langkah lebar dengan Jacob mengekor di belakangnya. Lucian tidak punya waktu untuk sekadar berkeliling atau memeriksa laporan properti di ruang kerja. Ia juga meminta Jacob untuk menunda penyambutan sekaligus perkenalan Evangeline pada staf rumah esok hari. Pria itu sudah terlalu lama berada di negeri orang dan sama sekali tidak melihat makam ibunya selama lima tahun. Ia bisa mengerjakan hal lain nanti, namun tidak dengan tugasnya sebagai putra yang berbakti. “My Lord.” Lucian berhenti ketika suara Jacob menginterupsi langkahnya. Benar juga. Mereka belum berbicara sepantasnya sejak Lucian kembali. Apa ada sesuatu yang ingin Jacob sampaikan? “My Lord, tolong lihat kamar Anda.” Menuruti ucapan Jacob, Lucian baru tersadar bahwa ternyata mereka berhenti tepat di depan pintu kamarnya yang terbuka. Dua pelayan pria tampak sibuk menyusun bawaan Lucian di dalam kamar, sementara lima pelayan wanita menata barang-barang ke tempat semestinya. Lucian tersenyum mengawasi para pelayan dari luar kamar. Ia hendak melangkah masuk dan mengucapkan terima kasih manakala manik hijaunya menangkap beberapa tangkai bunga segar berdiri manis di vas samping kasur. Napas Lucian tercekat tanpa sadar. Apakah itu bunga-bunga yang dikirimkan Ionna? Bukankah Lucian telah menyuruh Jacob berhenti menerima bunga dari sang lady? “Ini kesalahan saya, My Lord,” kata Jacob menyesal. Lucian berbalik menghadap si asisten pribadi. Ia mengembuskan napas berat, merilekskan tekanan di d**a. “Ini bukan salahmu, Jacob.” Ia tersenyum tipis berusaha menyingkirkan perasaan bersalah Jacob. “Ini salahku yang merahasiakan pertunanganku darimu. Seharusnya aku memberitahumu sejak awal.” “Saya yakin Anda memiliki alasan. Ke depannya, saya akan,” Jacob ragu sejenak. Ia menatap sayang bunga-bunga yang diganti tadi pagi. Dengan berat hati, ia pun berujar, “Ke depannya saya akan menemui Miss Jam secara langsung. Saya akan menegur beliau supaya tidak lagi mengirimkan bunga ke kediaman Carnold—” “Itu akan menyakiti perasaan Lady Ionna, Jacob,” sela Lucian. Jacob menunduk dalam, menanti lanjutan kalimat tuannya. “Biar aku sendiri yang mengatakannya pada Lady Ionna. Aku akan berbicara secara pribadi dengannya nanti malam.” “Maaf?” Jacob setengah terkejut. Lucian menoleh ke arah kamarnya sekali lagi. Cahaya matahari seakan menyoroti rangkaian bunga marigold dan mawar di dalam vas. Jadi, beginikah pemandangan kamarnya yang membosankan jika dihiasi warna-warni bunga? Membuang muka, akhirnya Lucian melanjutkan perjalanannya menuju istal untuk mengambil kuda dan mengunjungi makam sang ibu. Suka atau tidak, malam ini dia akan kembali bertemu dengan Lady Ionna Laundrell setelah sekian lama. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN