37. Her Wish

2289 Kata
“Kakak!” Ionna langsung berlari keluar dari ruang kerja begitu seorang pelayan memberitahukan kedatangan Ansel. Ia turun dari tangga dengan tergesa. Bukan ingin menjadi orang pertama yang menyambut kakaknya, namun menjadi orang pertama yang menculik sang kakak. Ionna tidak akan membiarkan ibunya menyerobot antrean terlebih dulu dan memaksa Ansel menyetujui perjodohannya dengan Duke Barten. Tidak. Ionna lebih baik melajang selamanya ketimbang menghabiskan sisa hidup bersama pria kotor itu. Ansel baru turun dari kereta dan menyapa para pekerja rumah dengan ceria. Ia melambai seolah sedang berjalan di atas karpet merah. Matahari musim panas bersinar cerah siang ini. Perjalanan jauh selama tiga hari tak menyurutkan semangatnya bertemu adik dan orang-orang rumah. Hampir dua minggu berada di ibu kota dan Ansel benar-benar merasa kewalahan. Ia harus riwa-riwi istana-townhouse untuk memenuhi panggilan Raja dan ajakan berburu Elyas. Walaupun ia, Elyas, dan Lucian akhirnya bisa berkumpul setelah sekian abad, tetap saja aroma rumah adalah yang terbaik. Ketika Ansel melepas kait jubah dan menyerahkannya kepada Philips, ia merasakan sebuah tangan berbalut kain sutera memutarnya balik. Ansel tersenyum lebar menatap adik perempuannya yang muncul dengan keringat dan napas tersengal-sengal. Di belakang gadis itu, Raphael dan Annie Jam tampak kelelahan mengejarnya. Apa Ionna segitu merindukannya sampai ia buru-buru menemuinya begini? Senyum Ansel nyaris merobek kulit pipinya jika Ionna tidak mengangkat rok, memasuki kereta tanpa menginjak pijakan, dan menarik Ansel ke dalam. Sesaat gadis itu mengeluarkan kepala, menyuruh kusir membawa mereka berkeliling kota. Apa yang Ionna lakukan di depan semua orang? “Kita perlu bicara,” tegas Ionna sambil berpangku tangan. Kelopak mata Ansel mengerjap cepat. “Ya? Apa kau ingin sebuah pelukan?” “Jangan bodoh.” “Jadi?” “Aku tidak mau berbasa-basi lagi.” Ansel dapat melihat kulit leher Ionna bergerak ke bawah. Gadis itu menelan ludah, huh? “Sepertinya ini sangat serius. Kupikir kau ingin menyambutku dengan cara yang berbeda, Ionna. Apa ada masalah di rumah?” “Dengar. Aku ingin kau menolak rencana perjodohan para tetua Laundrell.” Ionna menyeka keringat dengan lengan gaun. Tak peduli pada penampilan atau etika berpakaian lagi. Aquamarinenya bergetar, panik. Dua minggu ini ia sulit berkonsentrasi dan mengalami gangguan pencernaan karena insomnia. Ia menyembunyikan kondisinya dengan meminum obat dari Lewis—dokter keluarga—yang ia hubungi secara diam-diam. Bagaimanapun, ia harus membujuk—atau bahkan merayu sang kakak agar pria itu mau membantunya. Sementara itu, Ansel menangkap gurat-gurat kegelisahan dalam ekspresi adiknya. Keningnya berkerut dalam. Kantung hitam menggelayuti bawah mata Ionna dan pipi gadis itu menjadi lebih tirus dari kali terakhir ia ingat. Tumben sekali Ionna mencemaskan perjodohan Kakaknya? “Ionna, apa mereka mengatakan sesuatu tentang pernikahanku? Kali ini siapa lady yang ingin mereka jodohkan denganku?” “Ini bukan perjodohanmu.” Ionna menggigit bibir. “Tetapi, perjodohanku.” Seakan ada ribuan panah menghujani mereka, seketika Ansel membelalak. “Apa? Kenapa tiba-tiba?” “Mereka ingin menjodohkanku dengan Duke Barten.” Ini seperti karma. Dua minggu yang lalu Ansel menghukum Ruford Barden dan kini ia mendengar para tetua ingin menjodohkan adik perempuannya dengan b*****h itu. Rahang Ansel mengeras, otot-otot timbul di wajahnya. Ia ingin melompat keluar dari kereta dan mencekik para tetua sialan itu. “Mama mulai terpengaruh dengan bujukan Kakek Gilbert dan Paman Constantine,” ucap Ionna memelas. “La-lady Diana Thesav membatalkan pertunangan mereka dan berbalik menikahi putra tertua Marquess Francaiss. Itu sebabnya Kakek dan Paman ingin mengambil kesempatan ini untuk menjodohkanku—” “Pantas saja Pak Tua Francaiss tidak datang ke rapat parlemen. Ternyata dia mengkhianati Ruford,” geram Ansel, menyadari alasan ketidakhadiran sang marquess. Ionna meraup napas dalam-dalam, menggapai pakaian kakaknya, meremasnya erat. “Kakak,” panggilnya. Hati Ansel langsung terenyuh. “Kau tahu isi surat yang orang-orang itu kirim, ‘kan? Ingatlah Duke Barten adalah salah satu pengirimnya. Kakak, aku tidak ingin menikah dengannya. Aku tidak mau bersanding dengan orang seperti itu. Apa kau mengerti maksudku, Kak? Apa kakak bisa menolaknya untukku?” “Ionna.” “Tolong, jangan bilang Kakak akan menyetujui perjodohan ini!” Pekikan Ionna menggema di antara udara sesak dalam kereta. Seluruh tubuh gadis itu bergetar, kepalanya tertunduk tak sanggup membalas tatapan Ansel. Ansel pun menyugar helai hitamnya ke belakang, menyentuh pundak adik perempuannya yang terbuka, kemudian mengusap surai kemerahan Ionna yang dikuncir rapi. “Jangan khawatir. Aku juga tidak ingin menjadi kakak ipar Ruford Barten. Dia sama sekali tidak layak untukmu, Ionna.” Suara lembut Ansel sontak mendongakkan kepala Ionna. Gadis itu menatap tanzanite sang kakak, mencari kesungguhan di sana. “Kakak—kau, kau tidak berbohong ‘kan?” “Mana mungkin aku membohongimu, Adikku.” Ansel mengulurkan lengan dan melingkarkannya ke punggung Ionna. Ini adalah pelukan pertama mereka setelah bertahun-tahun lamanya. Ionna selalu menolak ketika Ansel berniat memeluknya. “Tidak. Aku tidak peduli pada pernikahanku atau repurtasiku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik.” “Tapi, mereka bersikeras ingin menjodohkanku dengan Duke Barten. Mereka bahkan berkata bahwa pernikahanku akan digelar sesudah pernikahanmu.” “Jangan konyol. Mereka terus membual dan bicara omong kosong.” Ionna tersenyum dalam diam. Ia membalas pelukan sang kakak. Sentuhan hangat ini mengingatkannya pada rengkuhan sang ayah. Kenapa dulu ia menampik pelukan sehangat ini? Sedetik kemudian, aquamarine Ionna meredup. Senyumnya luntur dan ia membebaskan diri dari kungkungan Ansel. Ia tidak boleh goyah hanya karena kebaikan sang kakak. Sudah sepantasnya Ansel melakukan sesuatu demi mencegah pernikahan adik perempuannya. “Aku akan bicara pada Ibu malam ini,” kata Ansel yang merasa sedikit kecewa saat Ionna melepas pelukannya. Ionna mengangguk, menempelkan punggung ke sandaran kursi, menerawang pemandangan di luar jendela. “Terima kasih telah meluangkan waktu mendengarkan keluhanku. Aku berutang budi padamu, Kak.” “Tidak ada yang namanya utang budi di antara hubungan persaudaraan, Ionna.” Ansel tersenyum kecut. “Sudah kubilang, aku akan melakukan apapun untukmu. Bahkan jika itu harus mencari tangga untuk memetik bintang di langit.” --- Rasanya, sekarang Annie bisa bernapas lega. Sang lady mulai bisa menerima makanannya dan tidur siang seperti sedia kala. Ia sedih saat Ionna memaksakan diri mengerjakan tugas sang duke di kala Duchess Laundrell keluar untuk kegiatan sosial. Gangguan pencernaan sang lady semakin parah selama dua minggu terakhir. Annie meletakkan sorbet mangga di meja berukir. Sejak kedatangan Duke kemarin siang, air muka Ionna berubah drastis. Demi menjaga suasana hati Nona Mudanya ini, Annie meminta kepala koki menyiapkan segelas sorbet mangga untuk Ionna. Di hari yang panas, menikmati sorbet buah tropis dengan toping cokelat adalah ide seorang jenius. Annie tersenyum saat Ionna menyuapkan sendok demi sendok sorbet ke mulut dengan lahap. Ia bersumpah akan mengembalikan selera makan Ionna yang memburuk karena gangguan pencernaan. “Omong-omong, My Lady,” Annie mengarahkan atensipada toples bening yang berdiri di samping gelas sorbet. Ia tidak ingat Ionna memiliki barang itu. “Toples apa yang Anda bawa itu? Isinya—kertas warna-warni lipat?” “Kau tahu dongeng The Paper Cranes Wish?” “Ya, My Lady.” “Dalam dongeng itu, dikatakan jika kau menulis harapanmu pada seribu bangau kertas, maka impianmu akan terkabul. Karena aku tidak pandai membuat origami, jadi aku melipatnya asal dan menyembunyikannya di sudut lemari pakaian.” “Eh?” Alis Annie bertaut bingung. Itukah sebabnya Annie mendapati noda tinta di jari Ionna setiap pagi? “Sejak kapan Anda menulis dan melipat kertas-kertas itu, My Lady?” Ionna tersenyum, menghentikan acara tulis dan lipatnya sejenak. “Sejak dua minggu lalu, kurasa? Pokoknya setelah para tetua menyatakan keinginan menjodohkanku dengan Duke Barten, aku teringat pada dongeng itu dan langsung mencari toples selai bekas di dapur.” “Dan berapa kertas yang telah terkumpul di dalam toples sekarang?” “Sekitar lima ratus dua?” Ionna melipat lalu memasukkan sepuluh kertas yang telah dilipat ke mulut toples. “Lima ratus dua belas, tepatnya.” “Apa saja yang Anda tulis?” tanya Annie keras kepala. Kernyitan samar muncul di dahi sang lady. Kenapa Annie menjadi penasaran dengan kegiatannya? “Apa kau pikir ini kekanakan? Yah, aku memang kekanakan. Jadi, menurutku itu tak masalah.” Annie tergagap. “Ma-maksud saya bukan begitu, My Lady. Kenapa Anda tidak berdoa langsung saja kepada Tuhan?” “Apa Tuhan pernah mengabulkan permintaanku, Annie?” Napas Annie tersekat. Kenapa dia ingin sekali menangis? “Dari beribu-ribu permintaan dan doa yang kulayangkan, hanya satu yang terkabul, yaitu dansa pertamaku dengan Marquess Carnold. Sisanya, aku berusaha sendiri untuk memenuhi keinginanku. Tuhan sama sekali tidak membantu.” “Kenapa Anda berkata demikian?” “Itulah realitanya, Annie Sayangku.” Ionna mengusap permukaan toples kaca yang memantulkan sinar mentari musim panas. “The Paper Cranes Wish adalah dongeng pengantar tidur anak kecil dan aku lebih percaya pada peri-peri yang menyampaikan permintaanku pada Tuhan. Lalu, hasilnya? Kakakku kembali dan aku berhasil meyakinkannya supaya menolak rencana perjodohan para tetua Laudnrell. Masih ada banyak permintaan yang belum kutulis. Kuharap peri-peri itu tidak bosan membaca kertas-kertas ini.” Tetapi, mereka adalah makluk fiktif dan dongeng diciptakan sebagai media fantasi anak-anak, sanggah Annie dalam hati. Annie menggigit bibir bawah. Tiap kali Ionna melakukan suatu hal kekanakan, Annie selalu merasa sesak. Ia mengasihani Nona Mudanya ini. Baik lima tahun lalu maupun sekarang, tidak ada yang berubah. Di rumah ini, Ionna bagai duyung yang tinggal di laut dalam. Nyanyiannya tidak sampai ke hati orang-orang sehingga gadis itu lebih memercayai dongeng fiktif dibanding keajaiban Tuhan. Annie adalah saksi bisu betapa Ionna menderita hidup dalam kemalangan selama belasan tahun. Berjam-jam kemudian, Ionna akhirnya berhenti pada lipatan ke enam ratus. Jari-jari gadis itu sudah pegal. Ia menggeretakkan jemarinya kemudian meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Baiklah, kita kembalikan toples ini ke tempat asal dan lanjutkan acara menulisnya besok. Ia akan menghabiskan sisa sorbet ketiganya lalu bersiap-siap menghadiri pesta ulang tahun Lady Immelda nanti malam. “Satu lagi, Annie. Permintaanku yang terkabul,” ucap Ionna sambil menggigit macaroon merah muda. Senyum di wajahnya terkembang. Annie bertanya-tanya hal baik apa yang terjadi sehingga ladynya kegirangan seperti itu. “Saya senang mendengarnya, My Lady.” “Kau ‘kan belum mendengar apapun.” Ionna memberungut, menutup toples, kemudian memutar tutupnya kesal. Sorot matanya perlahan melembut saat bibir ranumnya bergerak, mengucapkan sepenggal kalimat yang ikut menyalakan api euforia dalam diri Annie, “Marquess Carnold akan tiba empat hari lagi dan Kakak berencana menjamu beliau saat makan malam!” --- Ulang tahun Lady Immelda adalah yang terbesar dari pesta-pesta ulang tahun yang pernah Ionna hadiri selama ini. Di tengah-tengah meriahnya pesta, pasangan Marquess dan Marchioness Warton juga mengumumkan pertunangan sang lady dengan cucu kedua Duke Ollardio. Tampaknya, tahun ini merupakan musim kawinnya para lady yang debut bersama Ionna lima tahun lalu. “Hei, apa kalian sudah dengar?” Ionna merasakan banyak orang memperhatikannya. Ia menunduk dan memeriksa gaun serta aksesoris yang ia pakai. Padahal Ionna telah mengenakan gaun yang tidak mencolok agar tidak menyinggung tuan rumah, jadi apa yang salah? “Kalau begitu, kasihan sekali. Dari reaksi Her Ladyship, sepertinya beliau belum mengetahui hal ini.” Lalu gosip pun menyebar secepat kilat. Ionna merasa sumpek dengan udara panas dan suara kasak-kusuk yang menggelitik telinga. Jadi, ia berjalan menuju balkon demi menjauhi penggosip-penggosip itu. Duchess Laundrell tidak akan memaafkannya seandainya ia terlibat dalam bualan kelas atas. “Ionna.” “Patricia?” Ionna terlonjak. Di balkon yang ia datangi, Lady Patricia Vergan telah menunggu dengan gaun malamnya yang sedikit terbuka. Ionna merekahkan senyum hangat sebelum berhambur ke pelukan gadis itu. Sudah lama mereka tidak bertemu dan kenapa Patricia tidak berkata akan hadir dalam pesta ulang tahun Lady Immelda? Padahal surat gadis itu baru ia terima lima hari yang lalu. “Ini kejutan untukmu.” Patricia menepuk-nepuk punggung Ionna yang keras karena korset yang terlalu ketat. “Aku menyendiri di balkon lantaran bosan dengan suasana pesta. Selain itu, aku tidak mengenal satupun bangsawan Laundrell selain dirimu. Lady Immelda mengundangku karena aku tunangan Putra Mahkota.” “Kau pasti sibuk berkeliling negara dan menghadiri setiap undangan. Calon ratu, bagaimana kabarmu?” “Terkadang aku merasa lelah dan ingin beristirahat, Ionna.” Patricia mengerucutkan bibir, enggan menghitung berapa ratus undangan yang telah ia hadiri sebagai tunangan Putra Mahkota. “Sesekali Elyas mendampingiku, namun kali ini dia mengunjungi Shire untuk mengurus pernikahan Putri Ketiga.” “Oh? Benarkah? Putri Ketiga benar-benar akan menikah dengan Pangeran Shire?” “Huum. Aku sangat kesepian tanpanya, Ionna.” “Dasar pasangan muda.” Ionna mencubit lengan Patricia yang tertawa cekikan. “Berapa lama kau tinggal di sini?” tanyanya kemudian. Kesempatan bertemu dengan calon ratu Gouvern ini seperti mencari jerami di tumpukan jarum. Susah dan mustahil. “Berhubung kau sedang di duchy Laundrell, bisakah kita memiliki waktu bersama, Sia?” Sia. Patricia tersenyum lembut mendengar nama kecilnya di panggil. Ia mengangguk dan menggenggam tangan Ionna. Kejadian di malam debutan lima tahun lalu, Patricia sungguh tidak menyangka Ionna akan menolong lady-lady itu. “Ionna, apa kau ingat janjiku ketika kita masih di Sanspearl?” Ionna memiringkan kepala. Mereka membuat banyak janji dan sebagian besar di antaranya tentang mimpi-mimpi asmara dua gadis remaja. “Janji yang mana?” desak Ionna tak sabar. Patricia melayangkan sentilan kecil di kening Ionna. Bunyi tak nyaring dan sebuah tanda kemerahan muncul di kulit putih gadis itu. “Janji untuk melindungimu. Aku akan memiliki kekuasaan setelah diangkat menjadi Ratu. Aku berjanji akan menggunakannya untuk melindungimu, Sahabatku.” “Sia—” “Sahabat tidak boleh melupakan janjinya, Ionna Sayang.” “Aku sangat berterima kasih, Sia. Akan tetapi,” Ionna berjalan melewati Patricia, menumpuk lengan di balkon, dan meneguk anggur di tangannya hingga tandas. Wajahnya yang diselimuti rona merah perlahan menyatu dengan bekas sentilan Patricia di keningnya. “Manusia dilarang serakah dalam mengharapkan sesuatu, Patricia. Sia, kau pasti memahami perasaanku, hmm? Aku hanya ingin hidup bersama orang yang kucintai. Oleh sebab itu, bisakah kau melupakan janjimu itu? Percayalah, Patricia, aku baik-baik saja dengan keadaanku yang sekarang. Penantianku akan berujung pada kebahagiaan. Aku yakin itu.” To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN