Sejak mereka meninggalkan istana dan turun dari kereta, Evangeline sama sekali tidak bersuara. Lucian sudah berusaha membuka obrolan di antara mereka, namun Evangeline tampak tidak senang dengan kunjungan mereka malam ini. Apa dia diperlakukan secara tidak pantas?
“Luce, kenapa kau berteman dengan His Grace Duke Laundrell?”
Ternyata ini ada hubungannya dengan Ansel.
Lucian bersilang d**a saat memandangi Evangeline yang sibuk melepas perhiasan di depan cermin. Ansel memang membawa tunangannya turun dari lantai dua tadi.
“Kenapa kau menanyakan hal ini, Eva?”
“Aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat, Luce.”
“Dan apakah itu?”
Evangeline berbalik. Manik violetnya menangkap Lucian yang bersandar di tembok. Pintu kamar sedikit terbuka di samping pria itu.
“Aku mendengar gosip bahwa sang duke adalah orang yang—”
“Menakutkan,” sela Lucian enteng. Ia berjalan melintasi ruangan, menuangkan teh di meja kaca, kemudian memberikannya pada Evangeline. “Dia orang gila. Kau tak perlu memikirkannya. Lagipula, dia tidak akan melukaimu. Kau bisa tenang.”
“Tapi, bukan itu masalahnya.” Evangeline menolak tawaran teh Lucian. Kedua bola ungunya bergetar ketakutan. “Luce, dengar. Kau harus menjahui His Grace. Dia sangat berbahaya. Aku ,mendapati His Grace hampir membunuh seorang bangsawan di balkon lantai dua. Orang itu akan mati di tangan sang duke!”
“Jika yang kaumaksud adalah pria dengan bros rubi dan kalung emas di leher, jangan khawatir. Aku tahu Ansel akan menghukum orang itu.”
“A-apa yang kaukatakan, Lucian Carnold!” Jantung Eva nyaris melompat keluar saking kagetnya. “Aku tidak sedang bercanda, Luce! Nyawa manusia taruhannya!”
“Dia berjanji tidak akan membunuhnya. Dia selalu memegang kata-katanya, Eva.”
“Lucian!”
“Orang itu adalah Duke Barten.”
Evangeline ternganga. Seorang duke menyerang duke lainnya? Apa Gouvern memaklumi tindakan kriminal antar bangsawan sederajat? Kenapa Kerajaan ini aneh sekali?
“Hilangkan spekulasi konyolmu, Evangeline. Ini tidak seperti yang kaupikirkan.”
“Aku tidak mengerti.”
Lucian menghela napas panjang. Ia memijit kening. Sebetulnya Lucian sendiri yang meminta Ansel memberi Ruford Barten pelajaran. Ia membiarkan Ansel menghajar pria itu hingga babak belur. Asalkan tidak ada yang sampai kehilangan nyawa, menurut Lucian itu tidak akan menjadi masalah. Ansel telah berjanji dan Lucian percaya sahabatnya akan menepati janjinya. Walaupun kemarahan Ansel terhadap surat yang adiknya terima bertahun-tahun silam belum hilang, tampaknya keberuntungan berpihak lagi pada Ruford malam ini. Lucian tidak mendapati sedikitpun organ yang hilang dari tubuh Ruford selain penampilannya yang acak-acakkan.
Kehadiran Evangeline di sana pasti menghentikan aksi Ansel.
“Ini masalah dalam parlemen,” kata Lucian menjelaskan. “Duke Barten sudah lama berulah dan menimbulkan masalah. Selagi dia masih hidup, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Evangeline menelan ludah. “Aku takut pada His Grace.”
Senyum miring tersampir di bibir Lucian. Yah, siapa yang tidak takut dengan sisi gelap Ansel?
---
Sepanjang rapat, Ansel terus memperhatikan Duke Barten di seberang meja. Ruford Barten terlihat seperti kelinci ketakutan di hutan belantra. Ansel sudah bersiap memangsa, menghukumnya lagi, namun Lucian berkata ia telah melakukan lebih dari yang seharusnya. Ansel tampak tidak puas karena semalam Evangeline memotong adegan berbahayanya di balkon.
“Awal mulanya, alkohol terlarang dibuat untuk menganestesi prajurit dengan cidera berat di medan perang. Tetapi karena dosisnya terlalu tinggi, para tenaga medis di Andasia menghentikan produksi maupun penggunaan alkohol itu sejak tujuh tahun yang lalu,” jelas Lucian membacakan hasil penyelidikannya. Ia menurunkan kertas di tangan, menatap satu-persatu manusia yang mendengarkannya. “Saya telah memasukkan nama-nama pengedarnya sebagai kriminal internasional Gouvern. Kalian dapat melihat wilayah persebarannya pada peta di depan sana. Saya tidak bisa sembarangan bertindak dan hanya bisa mencatat nama mereka ke dalam daftar.”
Para anggota parlemen pun meniti daftar nama kriminal dan peta persebaran alkohol terlarang di Andasia. Terdapat beberapa nama bangsawan yang terlibat, dan sisanya merupakan rakyat biasa yang terjerat faktor ekonomi. Lucian memberi mereka waktu untuk mencerna sebelum menambahkan, “Berkat penjualan alkohol terlarang, sepuluh nama terbawah mendapatkan kekayaan berlimpah secara ilegal dan tujuh lainnya ditangkap dan diekskusi Andasia sendiri.”
“Apa penyebabnya murni faktor finansial, Marquess?” tanya Duke Ollardio.
Lucian menggeleng. Ia maju ke depan, menunjuk wilayah wabah di bagian terbawah. “Tidak. Ada yang percaya alkohol terlarang merupakan obat untuk wabah di wilayah selatan. Sebagian besar lagi menggunakannya untuk mengakhiri hidup.”
“Orang-orang Andasia terlalu ekstrem,” komentar Viscount Ludric dari duchy Ollardio.
Baron Hoston mengiyakan. “Benar. Bagaimana bisa mereka menggunakan kebutuhan medis untuk memuaskan diri? Apa mereka sudah gila?”
Suasana rapat yang mulai ricuh mendrong Ansel untuk berdeham dan mengetuk-ngetukkan telunjuk ke permukaan meja. Rapat seketika kembali kondusif. Sekarang, Lucian tahu mengapa Yang Mulia Raja menyebut Ansel sebagai stabilitator parlemen. Rupanya, begini perannya selama rapat.
“Apa kalian memiliki mulut seperti wanita? Bahkan para lady di luar sana pun lebih mengenal tata krama daripada kalian para pria sampah.”
Oh, baiklah. Ini sudah keterlaluan. Mungkin Ansel kesal lantaran Viscount Ludric dan Baron Hoston menyinggung orang Andasia yang notabennya adalah tunangan sahabatnya.
Demi kenyamanan rapat, Lucian pun melanjutkan, “Selama lima tahun terakhir, Kerajaan Andasia memusatkan seluruh urusan pada pemulihan dampak perang sebagai fokus utama mereka. Akibatnya, pengawasan terhadap perdagangan antar negara, pasar gelap, dan sejauh mana pengedar Andasia telah menyebarkan alkohol itu mengalami kelonggaran. Para delegasi yang datang dari kerajaan lain juga melakukan penyelidikan secara bergeriliya. Saya bertemu dengan Grand Duke Russel dari Bellasta saat menyelidiki Kota Ashton. Kami saling bertukar informasi dalam pertemuan singkat itu.”
“Aku tidak menyangka alkohol terlarang juga sampai ke Bellasta. Padahal kerajan itu sangat jauh dari Andasia,” sahut Duke Magnolia yang tiba-tiba buka suara. “Marquess, informasi apa yang kaudapatkan dari pertukaran itu?”
Lucian menjawab, “Kandungan alkohol terlarang.” lalu menyebutkan campuran bahan-bahan adiktif yang ditemukan Grand Duke Russel. “His Grace memiliki usaha dalam bidang farmasi sejak generasi pertama. Saya menemukan dua bahan yang salah dikenali peneliti kita.”
“Lantas, ini.” Duke Vergan, mertua Putra Mahkota Elyas mengangkat daftar kriminal internasional Gouvern dan menunjuk sebuah nama.
Count Hernsberg.
“Dia ayah tunanganmu, Marquess. Kalian tinggal bersama selama lebih dari lima tahun dan kau memutuskan menghentikan penyelidikanmu di tengah jalan? Apa kau ingin menjaga perasaan tunanganmu?”
Lucian melirik Ansel yang menatapnya penuh makna. Senyum jahil pria itu dibarengi dengan acungan kedua jempol. Bagus. Ansel bisa diajak kerja sama tentang ini.
“Greenpald bersih. Meskipun Greenpald merupakan wilayah terdekat dengan medan perang, saya tidak menemukan jejak peredarannya.” Jeda sesaat, Lucian merasakan tatapan curiga menghujaminya. “Selain fakta bahwa Greenpald memiliki jalur tersendiri untuk menyalurkan alkohol terlarang dari ibu kota kerajaan ke markas prajurit, hasil penyelidikan saya nihil.”
“Itu artinya, Count Hernsberg tidak terlibat apapun?” tukas Duke Vergan sambil memicingkan mata.
“Ya.” Dengan terpaksa Lucian menyilang wilayah Greenpald di depan semua orang. “Saya juga akan menghapus nama Count Hernsberg dari daftar kriminal internasional. Dengan ini, penyelidikan saya berakhir. Terima kasih atas perhatiannya.”
Tepuk tangan mengakhiri sesi presentasi Lucian dalam rapat perdananya. Para anggota memuji hasil kerja sang marquess yang terkenal teliti dalam menyelidiki sesuatu. Kecuali Ansel yang tentunya menyimpan rahasia terkait penyelidikan di kediaman Hernsberg. Sekarang, waktunya mereka memutuskan bagaimana akhir dari penyelidikan panjang ini.
---
“Yang kita lakukan hanyalah mengirimkan nama-nama itu ke Andasia dan menuntut kesetian mereka atas nama persahabatan antar kerajaan,” gerutu Ansel ketika ia dan Lucian keluar dari ruang rapat.
Lucian menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Duke Barten berhasil mengusulkan opsi yang disetujui Raja. “Itu adalah pilihan terbaik. Kali ini kau harus mengakui Duke Barten layak menjadi bagian dari parlemen.”
“Terlepas dari kemampuannya atau tidak, bagiku sekali sampah tetaplah sampah,” geram Ansel kesal, “aku ingin menghancurkan tulang-tulangnya seandainya tunanganmu tidak memergoki kami.”
“Apa yang kaulakukan sehingga Lady Evangeline takut kepadamu?”
Pertanyaan itu refleks membuat Ansel mengerem langkah. Ia memasang tampang seperti pria yang dicampakkan seorang wanita. “Lady Evangeline? Takut padaku? Eum, yah, itu bisa dimengerti. Tapi, bagaimana bisa—”
“Kau tidak terbiasa menerima penolakan.” Lucian memukul punggung Ansel supaya ia kembali berjalan. “Sudahlah lupakan. Yang penting, kau telah menghukum Ruford Barten sesuai keinginanmu.”
“Kalau diingat-ingat lagi, kejadian semalam sangat memalukan,” keluh Ansel, mengusap-usap wajahnya yang kusut. “Ah, aku tidak suka ini. Beri tunanganmu pencerahan tentang tindakanku.”
“Apa yang kauharapkan dari seorang gadis yang syok, Ansel. Biarkan Lady Evangeline menenangkan diri untuk sementara waktu.”
“Humph, menyebalkan. Rasanya niaiku di mata wanita turun gara-gara ini.”
Duke Laundrell yang telah berkencan dengan puluhan wanita di Gouvern untuk kali pertamanya merasa putus asa. Lucu sekali membayangkan imej yang dilihat Evangeline dan sisinya yang berbeda ini. Sejak hari itu, Ansel tidak pernah bersungguh-sungguh dalam asmara dan hanya menjalin hubungan berdasarkan prinsip sama-sama untung. Banyak wanita yang mengemis-ngemis cinta Ansel setelah kesepakatan di antara mereka berakhir. Sayangnya, sang duke belum bisa melupakan cinta pertamanya yang meninggal delapan tahun silam.
Lucian sendiri sudah menyerah meminta sahabatnya berhenti bermain-main dengan wanita. Ansel sangat keras kepala memanfaatkan popularitasnya dan bergaul dengan wanita dari berbagai kalangan.
Mereka pun menyusuri taman tulip Istana Biru, tempat semua urusan kenegaraan dilaksanakan. Sungai Eden membentang di sepanjang istana ini, melewati halaman perpustakaan istana, mengalir ke arah Hall of Sun, Istana Bintang—istana putra Mahkota Elyas—hingga ke Istana Lazan yang paling tersembunyi. Lucian mengamati punggung Ansel yang berjalan dua langkah di depannya. Apa yang sebenarnya Ansel inginkan dengan menunda-nunda pernikahan? Setiap bulan tetua Laundrell tak bosan menyambangi kediaman utama Laundrell, mendesak Ansel agar memilih salah satu calon, dan berujung pada kunjungan sia-sia tanpa sambutan sang duke.
Yah, Ansel selalu mencari-cari alasan demi menghindari pertemuan dengan para tetua. Padahal berkat ulahnya ini, Lady Ionna tidak akan bisa menikah karena—
“Ionna akan menikah akhir tahun ini. Baik aku menikah lebih dulu ataupun tidak, dia harus menikah sebelum usianya dua puluh tiga tahun.”
Pernyataan mendadak Ansel diam-diam membuat Lucian termenung. Tentu saja Lady Ionna akan menikah suatu hari nanti. Apa itu artinya hati sang lady telah berlabuh kepada pria lain?
Ucapan Raja semalam tidak ada gunanya. Ionna tidak akan menunggu seseorang dalam waktu yang lama. Dan lagi, Lucian pun tidak berharap sang lady terus hidup melajang. Apa dengan ini, tugas Lucian sebagai penjaga bayangan gadis itu telah selesai?
Lucian ingin menanyakan siapa gerangan calon suami sang lady ketika Ansel menginjak pijakan kereta kuda dan menyuruhnya masuk.
“Ibuku ingin menjodohkannya dengan pewaris Duke Magnolia,” kata Ansel sambil menyandarkan punggung ke kursi penumpang. Kereta kuda mulai bergerak dan berderak halus.
“Young Lord Sebastian Magnolia?”
Ansel mengagguk lemah. “Sebastian memang calon terbaik untuk Ionna sejauh ini. Aku akan menyetujuinya jika pernikahan di antara mereka benar-benar terjadi.”
Bibir Lucian mengatup rapat. Ia merasa tidak berhak mendengar apalagi ikut campur dalam urusan pernikahan adik perempuan Duke Laundrell.
“Bagaimanapun, Lucian Kawanku, sama halnya denganku, Ionna tidak ingin menikah saat ini. Dia terus-menerus menolak lamaran yang datang dan beralasan tidak ingin cepat-cepat menikah. Aku ingin mendukungnya, namun dia sudah dua puluh dua tahun.”
Haruskah Lucian menarik kata-katanya tadi? Ucapan Yang Mulia Raja bukannya tidak berguna, namun seratus persen benar. Ionna tidak bisa melupakan Lucian. Dan inilah kenyataannya.
Lucian membuang muka, mengernyitkan kening ketika perasaan tidak nyaman menggerogoti hatinya. Jika Ionna sampai terluka setelah mendengar kabar pertunangannya, maka orang yang patut disalahkan adalah Lucian. Ia tidak pernah memberi gadis itu kepastian dan justru kembali menggandeng lady lain sebagai tunangannya. Bayang-bayang air mata dan kesedihan Ionna begitu membekas dalam benak Lucian. Demi Tuhan, Lucian adalah terburuk dari yang terburuk.
“Ternyata aku tidak bisa kehilangan adikku. Sebagai Kakak, apa yang sebaiknya kulakukan untuk mendukungnya, Sahabatku?”
To be continued