35. Shock

2521 Kata
“Selamat atas pencapaianmu, Marquess!” “Ini kali pertamanya kita bertemu. Ternyata benar apa yang dikatakan rumor. Kau tertutup dan tidak banyak bicara.” “Marquess Robinson, tidak baik membawa rumor ke istana. Bagaimanapun, ini adalah penyambutan Marquess Carnold ke dalam parlemen. Kita tidak bisa merayakannya lima tahun lalu karena sang marquess menghilang secara misterius bukan?” “Apa yang kau katakan Count Parcey? Bukannya kalian berasal dari duchy yang sama? Kau tahu betul sang marquess pergi di pagi buta. Dia ke Andasia bukan untuk bermain, tapi mendistrisibusikan bantuan Gouvern.” “Sebaiknya, kita lupakan sejenak permasalahan ini. Kita akan membahasnya pada rapat parlemen besok. Sekarang, mari kita nikmati pestanya!” “Ah, Marquess Carnold, apa kau mau menambah minum? Ada wiski, brendi, dan anggur di mana-mana. Silahkan pilih salah satu.” “Tidak, terima kasih. Saya tidak minum malam ini.” “Kau sama sekali tidak seru, Marquess Kecil.” Lucian melemparkan senyum tipis ke arah Duke Ollardio yang membantunya keluar dari situasi menyesakkan ini. Lucian telah memperhitungkan hal ini sebelumnya. Ansel sedang pergi mendisiplinkan Ruford Barten—entah ke mana, Evangeline ditarik ke ruang musik bersama Putri Melissa, dan ia berkumpul bersama anggota parlemen lain di meja jamuan. Meja sepanjang dua puluh meter diletakkan di lantai dansa. Ratusan pelayan hilir-mudik menghidangkan berbagai sajian dan minuman beralkohol. Sementara itu, para duke—selain Ansel dan Ruford—duduk di ujung meja, mendampingi Yang Mulia Raja yang tertawa mendengar lelucon Duke Magnolia. Sang raja duduk di kursi terbesar dan termewah dari kursi-kursi lain. Lucian dapat merasakan lirikan Raja yang pasti sedang mencari kesempatan berbincang dengannya. Mereka belum bertatap muka secara pribadi semenjak ia pulang dan datang ke pesta ini. Tinggal menunggu waktu sampai Yang Mulia Raja membuat alasan untuk pergi dan menyeretnya bersamanya. Sepertinya, kesepakatan mereka lima tahun lalu berjalan mulus. Yang Mulia Raja melakukan bagiannya dengan baik. Terdengar suara tapak kaki bersahutan dari arah tangga. Lucian pun memutar kepala, begitu pula anggota parlemen lain. Tampak Putri Melissa berlari melewati mereka diikuti rombongan kesatria dan pelayan. Jika Putri Melissa ada di sini, itu artinya Evangeline sendirian di ruang musik. Lucian hendak bangkit dan menjemput gadis itu, berniat menyuruhnya pulang terlebih dulu. Perkenalan konyol dengan membawa Evangeline ke mari bukanlah ide yang bagus. Lucian tidak memperkirakan Putri Melisa akan meninggalkan Evangeline seorang diri. Bukankah Yang Mulia Raja telah berjanji akan mengutus salah satu putri mendampingi tunangannya? Lucian salah karena terlalu memercayai Raja. Begitu Lucian hampir meninggalkan kursi, suara datar sang raja otomatis menghentikan pergerakannya. Kali ini semua mata sontak tertuju pada Yang Mulia Raja. Kening Lucian berkerut dalam. Apa lagi rencana Raja? “Maafkan ketidaksopanan Putri Ketiga. Seharusnya dia menyapa kalian dengan benar,” ucap Raja, secara terang-terangan menatap Marquess kebanggaannya. “Aku melihat pelayan Putri Pertama di sana. Mungkin Putri Pertama mengutus pelayannya untuk menjemput Putri Ketiga. Jadi, tolong maklumi Putri Ketiga yang sedang terburu-buru.” Selanjutnya, Putri Helthiya yang tidak ada sangkut-pautnya dengan pesta pun menggeser Lucian sebagai topik utama. Putri Pertama yang hanya sekali tampil di depan publik itu memang sering menjadi bahan gunjingan warga kalangan atas. Banyak desas-desus tak berdasar yang beredar tentang Putri Helthiya. Tiada satupun orang luar istana yang pernah bertemu dengan sang putri sejak perayaan kedewasaannya. Sungguh ironis di saat Raja seharusnya melindungi privasi Putri Pertama, beliau justru memanfaatkan putrinya sebagai pengalih isu. Di masa depan, Lucian akan lebih berhati-hati dengan permainan kotor Yang Mulia Raja. Lucian pun kembali duduk. Yang Mulia Raja mengangkat gelas anggur ke atas, mengajak para anggota parlemen bersulang. “Untuk kepulangan dan keberhasilan Marquess Carnold. Mari kita bersulang! Cheersa!” “Cheersa!” seru mereka bersamaan, kecuali Lucian yang dengan murung menyesap tehnya dalam diam. Sial, batinnya kesal. --- Yang Lucian butuhkan saat ini adalah sedikit angin malam untuk menyegarkan pikirannya. Orang-orang di dalam sana telah larut dalam kabut fantasi karena pengaruh alkohol. Aroma menyengat, obrolan melantur, dan wajah-wajah memerah memenuhi pandangan Lucian yang menjadi satu-satunya orang dalam kesadaran total. Ansel dan Ruford Barten belum kembali. Lucian ingin menyusul mereka dan mendatangi Evangeline di ruang musik seandainya Yang Mulia Raja tidak terus memasang mata. Lucian merasa seperti seorang tawanan perang. Setiap gerak-geriknya dibatasi oleh pengawasan Yang Mulia Raja. Dan sebab itulah Lucian memutuskan pergi ke serambi hall. Sambil menunggu Yang Mulia Raja menyusulnya ke mari, ia akan menikmati pemandangan jembatan yang melengkung indah di atas Sungai Eden. Ia telah melewati serangkaian percakapan melelahkan mengenai petualangan di Andasia, hingga bagaimana kisah di balik pertunangannya dengan Lady Evangeline. Sayang sekali Lucian harus memanipulasi fakta dengan kebohongan. Sejak kapan ia ahli membohongi orang lain? “Mengagumi permainan piano Lady Hernsberg? Itu adalah alasan yang klise, Marquess Carnold.” Lucian berbalik. Yang Mulia Raja muncul di belakangnya dengan senyuman mengejek. Ia menundukkan kepala menyambut kedatangan sang penguasa negeri. “His Majesty.” “Bagaimana pemandangannya, Marquess?” Yang Mulia Raja tertawa cekikan. Pria paruh baya itu mengacungkan gelas anggur di tangannya kemudian menyesapnya perlahan . “Kau memilih tepat yang tepat. Sungai Eden terlihat indah dipandang dari sudut ini.” Lucian memandang sungai Eden yang berkilauan di bawah lampu-lampu jalan lalu memulai percakapan serius. “Jadi, hanya ini yang ingin Anda katakan, Your Majesty?” “Tentu saja tidak, Marquess. Seperti perjanjian yang telah kita sepakati. Tidak ada rahasia yang menghalangi kesepakatan di antara kita.” Rahasia. Tetapi, Lucian memiliki rahasia tentang penyelidikan lanjutan di kediaman Hernsberg. Ia tidak bisa menyampaikan sesuatu yang belum jelas kebenarannya kepada Raja. “Kenapa kau bertunangan dengan Lady Hernsberg? Kau mencurigai Count, bukan?” Lucian menyesal menuliskan kecurigaannya dalam surat. Sudah berapa kali kira-kira orang menanyakan pertanyaan yang sama? “Karena saya tinggal bersama keluarga Hernsberg selama bertugas di Greenpald.” “Hmm hmm, itu bukan alasan utamanya, Marquess Carnold.” “Kalau begitu, demi kebutuhan penyelidikan. Jika saya bertunangan dengan Lady Evangeline, maka akses penyelidikan di Greenpald dan kediaman Hernsberg jauh lebih mudah. Saya mendapatkan lebih banyak kepercayaan Count berkat pertunangan ini.” “Tapi, kau mencurigai keterlibatan Count pada akhir tahun lalu dan kau pun tidak menemukan jejak persebaran alkohol terlarang di Greenpald. Jujurlah padaku, wahai Marquess. Kalian bertunangan jauh sebelum kau melayangkan kecurigaan itu pada ayah tunanganmu.” Kali ini Lucian bungkam. Dia tidak mungkin menjelaskan seluruh kronologi hubungannya dengan Evangeline. Walaupun kenyataannya Evangeline mengaku menyukainya dan membujuk Count supaya mereka bisa bertunangan, Lucian tidak ingin Evangeline dicap buruk oleh orang-orang Gouvern. Yang terpenting, kini mereka sudah bertunangan. Alasan di balik pertunangannya bukanlah sesuatu yang patut dicampuri orang lain. “Anda datang ke mari bukan untuk memberi selamat atas pertunangan kami,” sinis Lucian. Ia memasukkan kedua tangan ke saku mantel. “Your Majesty, lebih baik kita tidak menghilang dari pesta terlalu lama. Akan menimbulkan kecurigaan seandainya seseorang menyadari ketiadaan kita di meja jamuan.” “Kau benar. Kita tidak boleh membuang-buang waktu, Marquess.” “Ya, Your Majesty.” Yang Mulia Raja pun meneguk habis anggurnya. Ia mendirikan gelas kosong di atas tembok pembatas serambi. “Sahabat-sahabatmu, Duke Laundrell dan Putra Mahkota Elyas berulang kali menargetkan dokumen kesepakatan kita. Elyas bahkan nekat menerobos penjagaan ketat kamarku dan berakhir pingsan di tangan kesatria.” Itu bukan hal baru lagi. Ansel dan Elyas akan melakukan segala cara demi memuaskan ambisi mereka. “Saya minta maaf untuk itu, Your Majesty.” Yang Mulia Raja terbahak. Untuk apa Marquess Carnold meminta maaf? “Astaga, Putraku bahkan berani melawanku. Kalian anak-anak muda memang menyeramkan.” “His Grace Duke Laundrell yang paling menyeramkan di antara kami bertiga.” “Nah, itu sudah menjadi rahasia umum. Aku tidak akan kaget seandainya Elyas mengaku sang duke-lah yang menyuruhnya.” Sejak di akademi, Elyas pun sudah tidak ada harganya di mata Ansel. Lucian menyimpan kalimat itu di dalam hati. Ia tidak mau menyinggung perasaan Yang Mulia Raja dan menghina keluarga kerajaan di depan sang raja sendiri. “Marquess Carnold.” Kali ini Lucian menoleh, menatap Raja yang balik menatapnya skeptis. “Ya, Your Majesty.” “Bagaimana pendapatmu ketika kembali ke Gouvern? Bukankah masalah di malam debutan kubereskan dengan rapi?” Bibir Lucian menarik senyum samar. Oh, sangat-sangat rapi tentunya. “Saya membaca surat dari Philips. Lady Ionna menjadi korban di antara pertengkaran ketiga lady?” “Ya, dan akulah yang memutarbalikkan suasana. Kau tahu, semacam ancaman kecil pada Lady Diana Thesav.” Telunjuk Raja mengusap-ngusap dagu. Mengingat momen di balkon Putri Rea. “Keluarga Francaiss adalah pendukungnya. Dia tidak akan berkutik jika aku mengancam keberlangsungan keluarga mereka. Itu satu-satunya cara untuk memberi para lady itu pelajaran. Mereka tidak akan mengulanginya lagi di masa depan.” “Saya bersyukur Anda menutupinya tanpa celah.” “Dan kenapa kau mengorbankan dirimu, Marquess? Apakah ini tentang kesetiaanmu pada Duke Laundrell atau kepedulianmu pada Lady Laundrell yang malang?” “Saya memilih menjawab dua-duanya,” sahut Lucian cepat. Bisa dibilang juga, ia melakukannya karena terikat janji pada sang ibu. “His Grace telah banyak membantu saya dan Her Ladyship adalah adik perempuan His Grace yang berharga. Saya tidak bisa membiarkan keluarga Laundrell hancur karena omong kosong, Your Majesty.” Raja menaikkan kedua alis. Ia berhasil mencuri secuil kesetiaan Marquess Carnold terhadap keluarga Laundrell. “Berkatmu, Lady Laundrell hidup dengan baik.” “Saya senang mendengarnya.” “Tapi, Marquess. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Apa kau tidak bertanya-tanya mengapa sampai sekarang Lady Laundrell tidak kunjung menikah? Dia menolak semua cinta yang datang kepadanya.” Lucian merasa dirinya sedang diuji sekarang. “Saya tidak ingin berkomentar, Your Majesty.” “Apa menurutmu sang lady sedang menunggu seseorang?” Manik hijau Lucian langsung tak fokus ketika menyoroti Sungai Eden. Ia diam tak menjawab sementara Yang Mulia Raja memandangnya dengan keingintahuan yang tinggi. Lucian cukup peka seseorang yang Raja maksud adalah dirinya. “Kabar pertunanganmu akan tersebar luas cepat atau lambat, Marquess,” ujar Raja dalam usahanya memancing emosi Lucian. “Kau akan kembali ke Celeton dan Lady Laundrell bisa saja telah mengetahui kabar itu saat kalian bertemu. Aku bisa membayangkan betapa hancur hati sang lady nanti. Antonio Laundrell tidak akan menyangka putrinya yang cantik mengalami kemalangan dalam percintaan.” Tangan Lucian mengepal kuat. Ia menggeretakkan gigi, garis wajahnya berubah kaku. Ia sudah berusaha keras mengalihkan Ionna dari otaknya, namun orang-orang selalu mengingatkannya pada gadis berambut merah itu. “Saya tidak ada hubungannya dengan penantian sang lady, Your Majesty,” jawab Lucian ketus. “Oh, kita lihat saja nanti.” Raja terkekeh sambil menepuk-nepuk pundak Lucian yang menegang. “Omong-omong, kutunggu laporan lengkapmu di rapat parlemen. Temuanmu memengaruhi bantuan dan persahabatan antar kerajaan selama ini. Kita lanjutkan perbincangan ini besok, Marquess Carnold.” --- Evangeline nyaris jatuh. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat Duke Laundrell menyudutkan seorang pria bernama Barten dengan sebelah tangan menyumpal mulut pria itu. Kepala Evangeline mendadak pusing mencerna situasi yang tengah ia hadapi. Kesan pertama tentang malaikat malam dengan senyum menawan itu pun hilang. Apa yang ia lihat saat ini sama sekali berbeda dengan pria yang memberinya sapaan lembut kemarin malam. Apakah ini hanya ilusi ataukah memang begini watak asli Duke Laundrell? Evangeline mundur selangkah. Sepasang permata biru keunguan sang duke meredup, menatapnya dengan seringai kecil di wajah rupawannya. “Apa kau tersesat, My Lady?” Suaranya menembus udara malam, menghujam jantung Evangeline layaknya sebilah pedang. “Maaf, aku harus menunjukkan pemandangan tidak mengenakkan ini kepadamu.” Sang duke mendorong telapak tangannya masuk lebih dalam ke mulut Barten. Erangan putus asa karena siksaan pria itu menusuk-nusuk telinga Evangeline. “Jangan khawatir. Aku tidak selalu melakukan ini setiap saat. My Lady, bisakah kau berbalik dan meninggalkan kami? Tunanganmu pasti mencarimu di ruang musik.” “Heugh! Le-lepaskk—heugh!” Evangeline berpegangan pada kusen jendela. Ia membola saat kedua tangan Barten menggapai-gapai tak berdaya di udara, mengemis bantuannya. “Yo-your Grace.” Oksigen di sekitarnya seakan menipis detik demi detik. “A-apa yang Anda lakukan?” Tubuh Ruford Barten setengah menggantung di birai balkon. Pria itu pasti sudah jatuh seandainya ia tidak mencengkeram lengan kiri Ansel sekuat tenaga. Apa Duke Laundrell sama sekali tidak merasa sakit atau nyeri di lengannya? Ansel mengedikkan bahu santai. Sarung tangan kirinya basah terkena liur Ruford yang tidak berhenti menetes. Sedikit menjijikkan, namun itu tak masalah. Ia sedang menghukum seorang Duke yang tak tahu malu dan Lady ini tiba-tiba muncul di saat yang tidak tepat. “Sejak dulu aku sangat ingin menyiksanya seperti ini. Dia pantas mendapatkannya,” ungkap Ansel, menyentakkan tangan kiri hingga Ruford meronta-ronta di atas birai. Pria itu ketakutan setengah mati akan dijatuhkan dari balkon setinggi lima puluh meter. “My Lady, Lucian tidak akan memaafkanku kalau kau sampai pingsan. Jadi dengan berat hati, bisakah kau pergi dan lupakan kejadian ini?” “Ba-bagaimana bisa saya melupakannya, My Lord?” Ansel tersenyum miring. Sejujurnya, ia tidak suka dipandang dengan sorot ketakutan oleh seorang lady. “Baiklah, baiklah. Aku menyerah.” Akhirnya, ia menurunkan Ruford Barten yang hampir kencing di celana. Dilepaskannya sarung tangan kiri yang basah, melemparkan kain putih itu ke kepala Ruford, lalu menyemprot tangannya yang lengket dengan parfum. “Selamat. Kau menjadi orang pertama yang berhasil menghentikanku dalam lima tahun terakhir. Biasanya Lucian yang berperan sebagai rem kendaliku. Malam ini, aku menemukan orang lain dan itu adalah seorang lady. Lucu sekali.” Evangeline mencengkeram kusen jendela, menahan bobot tubuhnya yang serasa lumpuh. Kenapa Lucian bisa bersahabat dengan monster ini? “My Lady, kau sangat pucat dan syok. Kau baik-baik saja?” Ada orang lain di belakangnya yang lebih pucat dan syok dan pria ini benar-benar mengabaikannya! Ya Tuhan, kenapa dia sama sekali tidak terlihat bersalah dan malah bersikap biasa-biasa saja? Evangeline memandang melewati pundak sang duke. Ruford Barten lemas bersandar di tembok pembatas balkon, terbatuk-batuk dan memuntahkan air liur ke lantai. Gadis itu menelan ludah saat Duke Laundrell melangkah mendekatinya. “Saya mohon, Your Grace. Jangan mendekat.” “Aku tidak pernah melukai seorang lady. Jangan takut, Lady Evangeline. Kau tunangan sahabatku. Aku tidak mungkin menyakitimu.” Tanpa sadar, Evangeline menahan napas ketika Ansel meraih sejumput rambutnya dan menciumnya lama. Kewaspadaan yang sedetik lalu membayangi benaknya berangsur-angsur menguap bak uap panas. Bulu mata lentik sang duke bergerak turun, matanya yang meredup perlahan kembali menunjukkan sinarnya. “Kurasa kau menjadi lebih tenang sekarang.” Ansel menegakkan punggung lalu tersenyum manis. “Ini adalah mimpi buruk, My Lady. Sungguh. Maafkan aku.” Evangeline menghirup napas dalam-dalam, mencari kepingan ketenangan yang berhamburan entah ke mana. Jauh dalam lubuk hatinya, ketakutan masih menggerayangi dirinya. Evangeline hanya merasa keberadaan Ansel tidak lagi membahayakan. Ia percaya pada ikatan persahabatan sang duke dan tunangannya. Pertunangannya dengan Lucian menjamin keselamatannya. “Saya yang meminta maaf.” Evangeline bernapas lega saat menemukan suaranya. Ia membungkuk memberi hormat, tidak melupakan sopan-santun. “Saya akan pergi, Your Grace. Saya akan menganggap tidak pernah melihat kejadian malam ini.” “Kau bisa mengadukanku pada Lucian, My Lady,” seloroh Ansel, tertawa puas. Manik indigonya menatap Evangeline lembut. “Tapi, tidak. Urusanku di sini sudah selesai. Aku akan mengantarmu kembali ke ruang musik.” Jeda sejenak, ia menawarkan tangannya kepada Evangeline. “Ataukah kau ingin segera mengadukanku kepada tunanganmu, Lady Evangeline Hernsberg?” To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN