34. The Duke

1111 Kata
Nyanyian, permainan biola, dan permainan piano Putri Melissa bagaikan melodi surgawi. Evangeline merasa tegang tiap kali jemarinya bersinggungan dengan jemari sang putri saat berduet piano. Para pelayan yang menunggu di sudut ruangan memperhatikan Evangeline dengan rasa ingin tahu. Ia sangat asing di sini, di tempat ini. Pasti mereka telah menghapal wajah para lady yang sering keluar-masuk Hall of Sun. Namun, ini kali pertamanya Evangeline dipandang dengan begitu lekat. Di townhouse Carnold, para staf rumah tidak memperlakukannya seperti orang asing. Sedikit hal yang Evangeline ketahui dari pelayan yang membantunya secara pribadi, Lucian telah memperingatkan mereka supaya bersikap hati-hati. Tunangannya itu tidak mau sampai ada keluhan tidak nyaman dari mulutnya. Tampaknya, Lucian telah mewanti-wanti perlakuan asing yang bisa saja Evangeline terima. Seperti yang diharapkan dari Marquess Carnold. Jentelmen sejati yang menjaga kata-kata dan janji dengan baik. Tak lama kemudian, duet piano mereka pun berakhir. Sang putri bertepuk tangan, disusul para pelayan yang memasang tampang takjub mendengar permainan mereka. Para pelayan itu terlihat seperti kumpulan jemaah yang diberkahi keagungan Tuhan di gereja. “Penampilan saya tidak akan sesempurna ini tanpa dirimu, Lady Hernsberg,” kata sang putri merendah. Evangeline merona saking malunya. “Your Higness, sudah jelas permainan siapa yang paling indah di sini. Saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Anda.” “Saya bersungguh-sungguh dengan perkataan saya. Andasia adalah kerajaan dengan musisi-musisi hebat yang mendunia. Saya memelajarinya di kelas seni. Banyak musisi hebat yang terlahir dari Andasia, salah satunya Anda.” “Rasanya berlebihan menerima sanjungan ini dari seorang putri. Namun, saya sangat berterima kasih.” Tidak ada yang lebih membanggakan selain menghabiskan waktu bersama putri Gouvern di debut pertamanya. Putri Melissa adalah gadis lembut dengan tutur kata yang santun. Suaranya halus dan kecil. Ia bahkan menyanyi dengan ketulusan hati. Sentuhannya pada setiap instrumen seakan menyihir benda-benda itumenjadi makhluk yang bernyanyi sendiri. Evangeline tersenyum saat lagi-lagi tangan sang putri menuntunnya menuju kursi di tengah ruang musik. Di sana, berbagai kudapan dan buah-buahan tersedia di atas piring susun. Sebuah cokelat fountain berdiri manis di tengah sebagai pelengkap. Teh hitam beraroma campuran jeruk dan mawar dituangkan ke cangkir perak berpegangan melingkar. “Ayahanda memberitahu kami mengenai tamu spesial yang datang dari Andasia.” Kami? Kerutan samar menghiasi kening Evangeline saat dirinya menikmati teh beraroma semerbak di tangannya. Apa Yang Mulia Raja memberitahu semua putri mengenai kehadirannya di pesta penyambutan Lucian? Membayangkannya saja, Evangeline jadi malu. “Beliau menunjuk saya untuk mendampingi tamu tersebut,” sambung sang putri. Menusuk sebuah stroberi dengan tusukan logam kemudian menghujaninya dengan cokelat fountain. “Betapa terkejutnya saya ketika kali pertama melihat Anda, My Lady. Saya belum pernah bertemu dengan seseorang dari Andasia sebelumnya. Dengan kemajuan Kerajaan Andasia dan hubungan erat antar kerajaan,saya ingin memiliki beberapa kenalan dari Andasia. Anda adalah kenalan pertama saya.” “Your Higness, ini adalah sebuah kehormatan. Saya akan berusaha keras menjadi seseorang yang diterima lingkungan peraulan atas Gouvern.” “Terkadang terlalu memaksakan diri itu tidak baik, My Lady.” Evangeline tersenyum menangkap kecemasan dalam ucapan sang putri. Baru dua hari ia menginjakkan kaki di tanah Gouvern, limpahan keajaiban telah menyambangi dirinya tanpa kenal lelah. “Saya harap Anda tidak melupakan jati Anda diri sendiri. Gouvern memang tempat tinggal Anda sekarang, tetapi Andasia adalah tanah kelahiran Anda.” “Saya tidak akan melupakannya. Saya akan selalu mengingat kekhawatiran Anda, Your Highness. Terima kasih banyak.” Tiba-tiba seorang pelayan datang menginterupsi perbincangan mereka. Pelayan itu menyebut nama Putri Helthiya dengan wajah pucat dan napas tersengal-sengal. Evangeline ingat pelayan itu tidak bersama mereka sejak tadi. Apakah pelayan itu merupakan pelayan Putri Helthiya dan ke mari untuk mencari Putri Melissa? “Oh, Kakak.” Seketika ekspresi Putri Melissa berubah panik. “Bagaimana ini bisa terjadi? Apa kau tidak lihat aku sedang menemani Lady Hernsberg? Ke mana kepala dayang Kakak?” Pelayan itu membungkuk dalam. Tubuhnya menggigil parah. “Maafkan kami, Your Higness. Putri Pertama memanggil Anda setelah membuka mata. Ada yang ingin beliau sampaikan kepada Anda.” “Aku mengerti. Kau bisa pergi sekarang.” “Baik, Your Highness. Saya permisi.” Sepeninggal pelayan malang itu, Putri Melissa menyuruh seluruh pelayan di ruangan merahasiakan kejadian yang mereka dengar. Evangeline terdiam menyembunyikan ratusan pertanyaan di kepalanya. Ia tidak boleh ikut campur dalam urusan keluarga kerajaan. Itu bukan urusannya. Putri Melissa pun berpaling menatapnya. Mata sayu gadis itu tenggelam dalam kebigungan. Dilema besar melanda dirinya. “Kakak kami sudah sakit-sakitan sejak kecil,” ungkap Putri Melissa sedih. “Dulu kami sangat dekat, namun seiring berjalannya waktu, Kakak Pertama menarik diri dari orang-orang yang mendekatinya. Tidak ada yang tahu mengapa Kakak melakukan hal itu.” Dan Evangeline tidak tahu apakah ia pantas mendengar hal semacam ini. “Your Highness, sebaiknya Anda datang menemui Her Higness Putri Pertama. Mungkin beliau sedang membutuhkan Anda.” “Lantas, bagaimana dengan Lady Hernsberg?” “Saya akan menunggu Anda di sini.” Evangeline mengulas senyum, meyakinkan sang putri. “Saya baik-baik saja, Your Highness.” “Terima kasih atas kebaikan hatimu, My Lady.” Putri Melissa pun bangkit. Empat orang pelayan langsung membukakan pintu, menampakkan dua orang kesatria yang berdiri tegap di luar ruangan. Mereka tampak siap mengawal sang putri. “Kalau begitu, saya pergi. Selamat malam, Lady Hernsberg.” “Selamat malam, Your Hihgness.” Selesai menyampaikan salam, Evangeline duduk termenung di tempatnya. Bagus. Sekarang ia sendirian. Dua pelayan yang tersisa bergosip sesuatu di belakang sana. Evangeline pun memutuskan melenggang keluar, berkata kepada kedua pelayan bahwa ia akan mencari udara segar di balkon, dan meminta mereka supaya tidak membuntutinya. Sebenarnya, berjalan tanpa pendamping di tempat sepi bukanlah sebuah tindakan yang bijak. Tak sepantasnya Evangeline meninggalkan ruang musik dan berkeliling tanpa tujuan menyusuri setiap koridor. Ia abaikan tatapan bertanya-tanya pelayan yang berlalu-lalang di sekitarnya. Semakin Evangeline berbelok dan berjalan ke arah timur, lorong-lorong yang ia lewati semakin sepi. Pencahayaan semakin meredup dan hanya ada barisan lilin kecil yang menerangi koridor gelap. Evangeline menelan ludah. Kenapa ada tempat seperti ini di Hall of Sun? Di tempat yang dipenuhi cahaya terang dan berkilauan? Apa ia salah masuk ke dimensi lain dan tersesat di gua berhantu? Sebuah suara dan embusan angin yang menerpa tengkuk Evangeline membuat gadis itu bergidik ngeri. Ia harus segera berbalik dan kembali ke ruang musik sebelum pelayan-pelayan itu mencarinya. “Barten.” Tapi, tunggu. Niat Evangeline mendadak surut. Ia mengenali suara mengintimidasi itu. Evangeline pun meneruskan langkah maju, mendekati sumber suara—balkon ketiga dari selatan. Ia dapat mendengar suara familier dari balik tirai merah dan pintu kaca yang separuh terbuka. Jika Evangeline tidak salah dengar, bukankah itu suara Duke Laundrell? Sedang apa pria itu di sini? “Sekarang biarkan aku mengajarimu sesuatu yang berharga, Barten.” To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN