33. The Hill

2258 Kata
Ruang kerja Ansel adalah ruangan dengan tiga lemari besar dan rak-rak dinding berisi dokumen penting. Ada sebuah ceruk melingkar berisi botol-botol anggur dan minuman sejenisnya yang hanya boleh disentuh Philips dan sang duke sendiri. Aroma tinta, alkohol, buku, dan perkamen bercampur menjadi satu di udara yang lembab. Ionna mencelupkan ujung pena bulu ke botol tinta sambil membaca proposal anggaran peralatan latih kesatria. Beginilah nasibnya bila sang kakak bertugas di ibu kota membawa Philips, sementara sang Ibu menjamu para duchess di rumah kaca. Laporan yang tidak sabar menunggu ini harus segera ditangani sebelum laporan lain menumpuk di atas meja. Ionna mengernyit saat tangan kanannya mulai kesemutan. Ia pun menanggalkan pena bulu dari sela-sela jari lalu mengibas-ibaskan tangannya yang mati rasa. Ia telah menulis salinan laporan untuk arsip selama berjam-jam. Terhitung sejak selesai sarapan pukul delapan tadi hingga matahari sudah di atas kepala. Oh, sungguh. Apakah ini yang setiap hari Kakaknya kerjakan di ruang kerja? Belum lagi laporan keuangan bulanan, laporan pengawasan aset dan properti, laporan untuk parlemen, dan seambrek dokumen lain yang tidak pernah absen memenuhi meja ini. Ionna merasa persendian jarinya putus saat membayangkan rentetan huruf yang Kakaknya tulis. Ternyata pria itu sungguh-sungguh dalam melaksanakan tugasnya. “Kapan musim panas akan berakhir?” gerutu Ionna, menempelkan dagu dan merentangkan kedua tangan ke meja. “Musim panas masih menginjak minggu ketiga, My Lady.” Raphael yang tumben-tumbennya mau angkat bicara mengulung senyum. Ionna mendengus. “Jangan memperjelas kenyataan, Sir Raphael.” “Saya hanya menjawab pertanyaan Anda.” “Huft.” Ionna menatap jengkel Raphael yang berdiri di samping kursi kerja, mengipasinya menggunakan kipas raksasa dari Kerajaan Sahra. Ionna mendapatkan hadiah itu ketika Khalid, pangeran kedua Sahra, melakukan kunjungan politik ke Gouvern tiga tahun lalu. Pangeran Khalid memang terkenal flamboyan. Dia akan memberikan hadiah-hadiah mewah kepada wanita tercantik di suatu kerajaan dan menuliskan syair-syair indah dalam bahasanya. Ionna sangat berterima kasih pada semua pemberian pangeran itu. Ia mendapatkan pakaian dan kain mahal khas Sahra, sepasang sepatu runcing emas, topi bulu merak yang indah, seperangkat aksesori berukir ular dan singa, dan tentunya, kipas raksasa yang dipegang Raphael. Siapa sangka setiap musim panas tiba kipas itu membantu Ionna meminimalisir hawa panas. Ionna pun menyuruh Raphael berhenti mengipasinya. Rambutnya sudah sangat berantakan berkat kipas raksasa dan kekuatan kibasan Raphael. “Tidak, My Lady. Saya akan bekerja keras,” tolak Raphael keras kepala. “Aku menghargai usahamu, Sir Rapahel.” Ionna memandang kesatria pribadinya heran. “Lagipula aku sedang beristirahat. Ada baiknya kau dan Annie beristirahat juga.” “Tapi—” “Annie, tuangkan limun untuk Sir Raphael,” sela Ionna tak sabaran. Ia melihat Annie bangkit, menarik Raphael bersamanya, lalu mendudukkannya di kursi panjang. Campuran lemon, minuman bersoda, mint, dan es yang menggiurkan menggoda tenggorokan haus Raphael. Pria itu yang langsung menghabiskan segelas limun buatan Annie dan melemparkan tatapan lega. “Terima kasih, Miss Jam.” Raphael mengacungkan gelas kosong ke udara. Annie tersenyum manis. Pipinya bersemu kemerahan. “Aye, Sir.” “Cih, tampaknya mereka jadi semakin dekat setelah berkencan,” gumam Ionna, merutuki bagaimana pasangan kasmaran itu menguarkan aura merah muda menyebalkan. Jendela besar di ruang kerja Duke Laundrell terentang lebar, menyuguhkan pemandangan musim panas dan terik matahari yang membakar kulit. Ionna menghapus butiran keringat di dahi kemudian meneguk limun dingin yang disodorkan Annie. Rasanya ia ingin menceburkan diri ke kolam dan meninggalkan semua dokumen sialan ini. “Omong-omong Annie, apa aku sudah memberitahumu jika Mama dan para tetua ingin menjodohkanku dengan Duke Barten?” tanya Ionna tiba-tiba. Terdengar suara sedak dan batuk Annie yang meminum limun. Annie hampir menumpahkan cairan limun ke belasan surat yang ia tulis dengan segenap jiwa raga. “Uhuk, Ya Tuhan! Apa saya tidak salah dengar, My Lady?” Ionna menggeleng lemah. “Tidak. Apa yang kaudengar seratus persen benar dan telingamu masih berfungsi dengan baik jika kau bereaksi seperti itu.” Annie menerima uluran sapu tangan Raphael lantas menyeka bibir dan dagunya yang basah. “Bagaimana bisa? Bukankah para tetua kemarin datang untuk mengatur pernikahan His Grace?” “Mereka mungkin bosan diabaikan. Jadi, mereka mencari cara baru untuk mengusik Kakakku.” Ionna menggigit bibir, sejenak merasa ragu. “Pernikahan Duke Barten dan Lady Diana dibatalkan.” “Maaf?” Annie tidak yakin dirinya bisa lebih terkejut dari ini. Ia menatap sang lady cemas, menyadari bibir gadis itu bergetar menyebutkan nama Diana. “Banyak hal yang terjadi. Intinya, Lady Diana telah menikah dengan Young Lord Francaiss sebagai calon marchioness yang baru.” “Bagaimana itu bisa terjadi?” “Semuanya bisa saja terjadi, Annie Sayangku. Termasuk rencana perjodohanku dengan Duke Barten.” Ionna tersenyum kecut. “Mereka menunggu persetujuan Kakak dan Ibu akan menyampaikan keputusannya pada kunjungan rutin bulan depan.” “My Lady.” Tangan Annie meremas gaun merah jambu yang ia kenakan. Ia tahu Nonanya tidak ingin menikah karena sedang menungu seseorang. Ancaman Duchess tentang calon yang akan ditetapkan akhir tahun ini saja sudah buruk, apalagi perjodohan dengan Duke Barten? Apakah para tetua berusaha mendesak sang duke dengan menjadikan Ionna sebagai umpan? Dengan menjodohkan Ionna dengan Duke Barten, secara otomatis Duke Laundrell harus menikah terlebih dulu sebelum pernikahan sang lady bisa digelar. “His Grace tidak akan membiarkan Anda menikah dengan Duke Barten, My Lady,” ucap Annie menenangkan. Entah mengapa, ia memiliki seribu persen keyakinan terhadap Tuannya. “Beliau pasti langsung menolak mentah-mentah rencana itu. Selama ini, beliau selalu mendengarkan Anda, bukan?” “Tetapi, Kakak tidak bisa mendebat Mama,” sanggah Ionna. “Aku tidak akan merasa segelisah ini seandainya aku benar-benar memercayai Kakak.” “Kalau begitu, mari kita tulis surat untuk sang duke dan mengirimkannya secara diam-diam.” “Mata Mama ada di mana-mana. Surat itu tidak akan sampai ke tangan Kakak.” “My Lady.” “Lupakan saja, Annie. Sir Raphael, bisakah kau pergi ke istal? Suruh pengurus istal memasang perlengkapan berkudanya. Aku akan ke sana setengah jam lagi.” Raphael yang sejak tadi menyimak obrolan, sontak bangkit dan pamit undur diri. Ionna menguncir asal surai merahnya yang acak-acakan, melirik pemandangan luar yang meminta untuk dijelajahi. Ia akan membawa laporan yang tersisa dan mengerjakannya di tempat itu. “Annie, aku akan memetik bunga untuk Marquess Carnold. Seperti biasa, titipkan bunga itu pada temanmu. Aku akan keluar sebentar dan jangan biarkan orang lain mengikutiku, mengerti?” Annie menekuk wajah, mengangguk muram. Kali ini ia tidak bisa berkata-kata lagi. “Baik, My Lady.” --- Chelsea meringkik. Aroma musim panas yang harum dan kering membuat kuda itu melangkah riang menaiki jalanan terjal. Struktur tubuhnya yang tidak terlalu besar memudahkannya melewati jalanan berbatu sembari memanggul sang nona di punggung. Ionna membiarkan Chelsea berjalan lambat dan menikmati suasana musim panas sesuka hatinya. Rerumputan di kaki bukit tumbuh subur. Hijau membentang dengan bebatuan besar berlumut di mana-mana. Bunga-bunga liar bergoyang-goyang, diterpa semilir angin sepoi-sepoi yang sejuk. Ternyata meskipun matahari bersinar terik, suhu di luar ruangan tidak sepanas yang Ionna kira. Ionna menarik topi jerami ke belakang lantas mengelus rambut panjang Chelsea penuh sayang. Masih ada pemandangan luar biasa yang menunggu mereka di puncak bukit. Berbagai jenis bunga, dari tulip hingga aster tumbuh tanpa mengenal musim. Selain itu, Chelsea menyukai apel yang Ionna petikkan untuknya sebagai hadiah. Kuda itu akan berlarian ke sana-ke mari, mengejar kupu-kupu sampai sang pemilik mengajaknya pulang. Ionna tak perlu mengikat Chelsea di pohon dan khawatir kuda itu akan hilang. Chelsea adalah kuda gipsi yang telah dilatih untuk mengenal suara dan aroma pemiliknya. Kuda itu akan menemukan Ionna sejauh apapun mereka terpisah dengan mudah. “Kau adalah pemberian Papa yang paling berharga, Chelsea,” ucap Ionna kemudian membungkuk dan mencium puncak kepala kuda itu. “Tanpamu, aku tidak akan bisa pergi ke manapun. Terima kasih telah membawaku ke bukitselama tujuh tahun.” Ya. Chelsea merupakan pemberian terakhir mendiang Duke Laundrell di ulang tahunnya yang ketiga belas belas. Sang duke membeli Chelsea jauh-jauh dari Kerajaan Shire—kerajaan penghasil kuda tunggangan terbaik—dan memberinya nama sesuai dengan warna manik biru Ionna. Ayahnya sering memanggil Chelsea dengan nama pendeknya, Sea. Sebelum beliau tiada, sang ayah selalu mengajak Ionna berkeliling bersama Chelsea ke pedesaan. Betapa Ionna rindu kenangan-kenangan manis itu. Tanpa kehadiran Ayahnya, Ionna merasa sebagian dunianya runtuh. Ketika mereka sampai di puncak bukit, Ionna pun turun, menginjak sanggurdi, dan memastikan kakinya berpijak dengan baik di atas tanah. Walau Chelsea tidak terlalu tinggi untuknya, ia sering ceroboh saat turun dari kuda. Ionna seperti orang yang baru saja berlatih menunggang kuda. Ketrampilan berkudanya akan dinilai nol jika mengikuti kontes berkuda profesional. Ionna pun melempar tas selempang kulit ke permukaan batu yang datar, tempat dirinya biasa duduk. Ia menggulung lengan blus hingga sebatas siku, melepas sarung tangannya yang basah, lalu mengikat kedua sisi rok berkuda supaya tidak terlalu mengembang. Ia akan menyelesaikan salinan laporannya di sini. Tak peduli Duchess Laundrell akan mencarinya hingga malam, Ionna hanya ingin menyendiri di tempat ini dan melupakan kegelisahannya barang sejenak. “Akan lebih baik bila ada seseorang yang menemukan kita. Betul ‘kan, Chelsea?” tanya Ionna pada Chelsea yang menggosok-gosokkan moncong ke pipinya. Anak ini pasti lapar dan sedang menuntut penghargaan atas upayanya membawa Ionna ke bukit. “Baiklah, Sayang. Ini gula-gula untukmu.” --- Hall of Sun. Tempat ini luar biasa megah. Evangeline harus bersusah-payah mengatupkan mulut, mencegah kekaguman berlebihnya meluber. Ia melangkah memasuki pintu masuk bersama Lucian yang tampak terbiasa dengan kemegahan ini. Dalam hati, Evangeline bertanya-tanya. Apakah hanya dirinya yang selama ini hidup dalam kesederhanaan ataukah bangsawan Gouvern yang memang hidup dikelilingi benda berkilauan? Mata Evangeline menyipit saking menyilaukannya penampakan dalam hall raksasa ini. Ia mendengar namanya dan Lucian disebut begitu mereka masuk. Lucian adalah bintang utamanya malam ini. Belasan mata anggota parlemen yang sebelumnya asyik mengobrol sambil minum anggur sontak tertuju ke arah mereka. Evangeline melangkah dengan kepercayaan diri yang minim melewati pandangan itu. Punggungnya terasa terbakar, namun bibirnya dipaksa menyunggingkan seulas senyum. Sementara itu, Lucian di sebelahnya terlihat sedikit terganggu dengan perhatian yang ia dapatkan. Jelas sekali pria itu tidak menyukai fakta bahwa pesta ini diadakan untuknya. Evangeline yang berusaha tampil sebaik mungkin di depan lingukungan baru, dan Lucian yang justru menunjukkan ketidaktertarikan di lingkungannya sendiri. Sungguh dua hal yang saling bertolak belakang. Lucian membungkuk hormat di depan Yang Mulia Raja, diikuti Evangeline yang menekuk lutut sambil merentangkan gaun lilacnya. Yang Mulia Raja tersenyum di balik jemarinya yang menutupi mulut. Agaknya pria itu memperhatikan hiasan bunga lavender yang tersemat di helaian hitam Evangeline. “Selamat kembali dari tugas, Marquess Carnold,” sapa Yang Mulia Raja dengan kedua alis terangkat tinggi. Ini adalah kali keduanya ia melihat Lucian dari tempat dan sudut yang sama. Bukankah ini seperti bernostalgia dengan masa lalu? Di pesta debutan, Marquess Carnold menggandeng Lady Ionna Laundrell sebagai pendamping lalu berakhir berlayar ke Andasia sebagai penyelamat keluarga Laundrell. Yah, mereka akan punya banyak keempatan berbincang sebentar lagi. Lalu, gadis di sebelahnya ini— “Salam bagi matahari Kerajaan Gouvern, Your Majesty Raja Cederic.” Sepertinya bangsawan Andasia memiliki kebiasaan memanggil nama Raja mereka bersama sapaan kehormatan. Yang Mulia Raja menurunkan tangan dan melebarkan senyum menatap gadis anggun itu. Jadi, dia tunangan Marquess Carnold, huh? Sayang sekali tidak ada seorangpun lady yang akan menemaninya di sini. Gosip akan menyebar lebih lambat dari perkiraan. Raja penasaran bagaimana reaksi Lady Ionna saat mendengar berita pertunangan Marquess Carnold. Apa gadis itu akan baik-baik saja? “Young Lady Hernsberg.” Yang Mulia Raja berjalan menuruni undakan singasana, dengan cepat menghapus bayangan ekspresi Lady Ionna Laundrell dari otaknya. “Selamat datang di Kerajaan Gouvern. Secepatnya kau akan menjadi bagian dari kami. Bukankah begitu, Marquess Carnold?” Sang marquess hanya mengangguk tanpa bersuara. Yang Mulia Raja mendecih dalam hati. Dasar anak ini. Dia pasif seperti dulu. “Terima kasih atas sambutannya, Your Majesty.” “Dan kemarilah Putriku Melissa.” Seorang putri dengan tiara dan aksesori penuh permata berjalan mendekat menghampiri mereka bertiga. Putri itu memiliki mata abu-abu jernih dan surai cokelat yang tergerai lurus. Evangeline terpana akan kecantikan Putri Melissa yang menyambutnya dengan senyuman. “Aku menyesal karena tidak ada seseorang yang bisa menemanimu di sini, My Lady,” ucap sang raja, merangkul pundak Putri Melissa. “Oleh sebab itu, aku meminta Putri Ketiga menemanimu di sepanjang acara. Apa kau tidak keberatan, Lady Hernsberg?” Merupakan suatu kehormatan tersendiri ditemani oleh seorang anggota keluarga kerajaan di debut pertamanya. Apakah ekspektasi Evangeline tentang lingkungan kelas atas Gouvern yang ketat terlalu tinggi? Bukankah ini adalah kesempatan emas? Evangeline mengangguk. Bagaimana mungkin ia merasa keberatan? “Your Highness Putri Melissa, saya sungguh berterima kasih atas kesediaan Anda. Bagaimana cara saya membalas kebaikan Anda ini, Your Highness?” “Putri Ketiga memiliki suara yang merdu, My Lady,” sahut sang raja membanggakan kemampuan Putri Melissa. “Dia juga pemain biola yang berbakat. Kau bisa mendengarkan permainannya jika kau mau.” “Ayahanda, tolong, jangan melebih-lebihkan.” Putri Melissa menunduk malu. Surai yang tersembunyi di belakang telinga jatuh menutupi sebagian paras ayunya. Yang Mulia Raja terbahak melihat putrinya salah tingkah. “Astaga, anakku memang pemalu. Kumohon maklumi dia, Lady Hernsberg.” Detik berikutnya, Putri Melissa mengulurkan tangan kepada Evangeline, ingin menjabat dan membawa Evangeline ke ruang musik. Pesta ini diadakan untuk merayakan keberhasilan tugas tunangannya di Andasia. Evangeline bisa memahami alasan Lucian menyeretnya ke mari dan memperkenalkannya kepada Raja. Setidaknya, sebagai calon marchioness yang datang dari kerajaan seberang, Evangeline harus memberi salam pada penguasa kerajaan tempatnya kini tinggal. Ia akan melakukan segala cara agar lingkungan ini menerimanya dengan senang hati. “Mari, Lady Hernsberg. Mari kita buat pesta yang sepuluh kali lebih meriah dari pesta ini,” ajak Putri Melissa dengan suara lembut yang mustahil Evangeline tolak. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN