32. Visit

2535 Kata
Malam harinya, townhouse Carnold dikejutkan oleh kedatangan Duke Laundrell yang berkunjung tanpa kabar. Lucian menghela napas saat mereka harus memotong acara makan malam dan menyambut sahabatnya di pintu depan. Sebelumnya, Evangeline telah mendengar berbagai gosip tentang Duke Laundrell dari para pelayan. Pertama, Duke Laundrell dijuluki pria ganas di padang pasir. Sang duke sering keluar-masuk medan perang tiap kali pasukan Gouvern dipojokkan. Mereka bilang, pria itu tak kenal ampun jika sudah memegang pedang. Bahkan dalam sidang Pengadilan Tinggi Istana lima tahun lalu, seorang rakyat duchynya diekskusi karena kasus penyebaran rumor dan pencemaran nama baik Paman Lucian, Baron Rosette. Duke Laundrell tanpa rasa malu justru mengajukan diri sebagai eksekutornya. Beruntung Yang Mulia Raja tidak mengizinkannya. Berkat itu, sang duke pun merasa kesal dan mengabaikan panggilan Yang Mulia Raja selama sebulan penuh. Kedua, dia adalah sahabat Lucian sejak kecil sekaligus sahabat Elyas, Putra Mahkota Gouvern. Ketiganya dikenal dekat saat menempuh pendidikan di akademi yang sama. Ketiga, selain fakta bahwa ia merupakan kakak laki-laki Lady Ionna Laundrell, sama seperti adiknya, sang duke memiliki paras yang menawan. Para gadis selalu memuja ketampanannya. Ia mempunyai daftar panjang riwayat kencan dengan sebagian besar lady di Gouvern. Ketampanannya bahkan mampu memikat hati ketiga putri kerajaan ini. Sayangnya, sang duke tampak enggan meminang seorang lady sebagai duchessnya. Keluarga Laundrell memiliki para tetua yang mengatur pernikahan dengan aturan kuno mereka. Namun, secara ajaib Duke Laundrell dapat lolos dari desakan pernikahan selama enam tahun terakhir. Ia menikmati hidup dengan pujian para lady dan berkeliaran di pergaulan kelas atas sebagai pusat perhatian. Benar-benar orang yang berjiwa bebas. Keempat dan yang terakhir merupakan rahasia umum Kerajaan Gouvern. Ansel Laundrell menjadi duke muda di usia enam belas tahun. Ia bergabung ke dalam parlemen setelah berhasil menarik kepercayaan Yang Mulia Raja. Oleh sebab itu, Yang Mulia Raja tidak pernah membiarkan Duke Laundrell jauh darinya selain mengirim pria itu ke medan perang. Duke Laundrell adalah permata Kerajaan Gouvern. Alis Evangeline bertaut, berusaha mengingat gosip tambahan ketika ia dan Lucian mengerem langkah di ambang pintu. Di bawah temaram sinar rembulan dan lampu-lampu taman yang menyala bak kerlipan bintang, seorang pria bermantel hitam berdiri memunggungi mereka. Evangeline memiringkan kepala memfokuskan pandangannya. Rambut hitam pria itu berkibar ditiup angin malam yang lembut. Lucian pun bergerak mendekati pria itu, menyentuh pundaknya, mengabaikan tata krama yang seharusnya menjadi batasan di antara mereka. “Sahabatku, Lucian!” seru pria itu, sang duke, begitu ia berbalik dan memeluk Lucian akrab. Lucian tersenyum tipis, menepuk punggung-punggung Ansel yang kini setinggi dirinya. “Bagaimana kabarmu?” “Oh, aku merindukanmu, Kawan.” Ansel Laundrell melepas pelukan mereka lalu menjabat tangan sahabatnya. “Wah, apa ini? Kau terlihat seribu kali baik-baik saja dari yang kautulis di dalam surat. Kau sama sekali tidak berubah, Kawanku.” “Dan kau tetap konyol seperti dulu.” Tawa keras mengudara di halaman depan townhouse. Evangeline mengamati sosok pria dalam balutan setelan abu-abu gelap itu. Duke Laundrell berkulit seputih salju dengan wajah yang—Evangeline akui—terpahat sempurna. Daya tarik utama pria itu terletak pada sepasang bola tanzanite yang tampak menyatu dengan suasana malam. Oh, bisakah Evangeline menyebutnya malaikat malam? Ia dengar, Lady Ionna Laundrell dijuluki malaikat senja karena rambut merahnya yang memukau. Kedua bola tanzanite itu berkilat-kilat geli saat bercengkerama dengan Lucian. Detik berikutnya, tanzanite itu mengarah pada Evangeline yang langsung menekuk lutut memberinya salam. “Siapa dia?” bisik Ansel dengan sebelah alis naik. Lucian menoleh ke belakang lantas berjalan menghampiri tunangannya. “Dia Lady Evangeline Hernsberg, tunanganku.” Ansel memandangi gadis di depannya kemudian mengangguk sekali. “Dia putri Count Hernsberg dari Greenpald. My Lady, ini adalah Duke Laundrell. Sahabat saya.” “Salam bagi Anda, Your Grace,” sapa Evangeline sesantun mungkin. “Salam untukmu, My Lady.” Ansel tersenyum tipis. “Omong-omong, kenapa kau tidak memberitahuku jika sudah bertunangan?” “Apa yang akan kaulakukan seandainya aku memberitahumu?” “Mengirimkan hadiah? Rasanya tidak sopan menyambut tunangan sahabatku dengan tangan kosong. Benar ‘kan, My Lady?” “Ah, tidak, My Lord.” “Apa Lucian merepotkanmu? Aku bisa menghajarnya jika dia bersikap tidak pantas kepada lady secantik dirimu.” “Terima kasih atas perhatiannya, My Lord.” Evangeline mengulum senyum. Ia ingat sekarang. Pelayan-pelayan itu berkata Duke Laundrell adalah orang yang menakutkan. Tetapi, di mana sisi menakutkannya? Sungguh. Ganas di medan perang bukan berarti ganas di lingkungan sosial, bukan? Atensi Evangeline kemudian turun ke bawah. Di pinggang kanan sang duke, tersembunyilah sebilah pedang perak di balik jubah. Apa dia orang yang sangat berhati-hati saat berkunjung ke kediaman sahabatnya? “Luce, apa kau tidak membiarkanku masuk? Kau akan menahanku di tempat begini?” protes Ansel setelah lama menunggu ajakan Lucian. Sahabatnya itu mendesah kecil. “My Lady, Anda bisa melanjutkan makan malam tanpa saya. Saya akan menjamu His Grace di ruang duduk. Apakah Anda keberatan kembali tanpa saya?” Evangeline menggeleng. “Tentu saja tidak, My Lord.” “Kalau begitu, baiklah.” “Selamat malam, Lady Evangeline.” “Selamat malam, Your Grace” Evangeline menatap kepergian kedua karib itu ke ruang duduk. Ia mendengar bisik-bisik pelayan yang merinding ketakutan di belakangnya. Ada apa dengan orang-orang di sini? --- “Jadi, dia calon marchioness-mu?” tanya Ansel yang duduk menyilangkan kaki ke atas meja. Ia memutar-mutar gelas anggur di tangannya, menyandarkan punggung dan merebahkan leher yang lelah ke sandaran kursi. “Dia cantik. Aku tidak menyangka seleramu lebih baik dari yang kuperkirakan.” “Kudengar setiap hari kau mengunjungi townhouseku tiap kali bertugas di ibu kota. Terima kasih.” Ansel menyeringai menyadari Lucian tengah mengalihkan topik. Tapi, ya sudahlah jika itu maunya.Toh, Ansel juga lelah mengurusi t***k-bengek di parlemen. Ia sedang tidak ingin mencari keributan dengan Lucian. “Sesuai permintaanmu. Aku membantu Jacob mengawasi properti.” Ansel mengikuti gerakan Lucian yang mengambil pipa lalu menyalakan pemantik. Pria itu merokok di jendela ruang kerjanya yang terbuka lebar. “Orang-orangku berkata setengah tahun lalu mereka melihat Ayahmu di pertambangan emas. Paman Marcus tidak melakukan apapun yang patut dicurigai. Mungkin dia sedang memeriksa hasil kerja putranya saat kebetulan lewat di sana.” “Apa dia sering muncul di sekitar properti Carnold?” “Tidak. Kau tenang saja. Ayahmu tahu aku menyuruh bawahanku berjaga di propertimu. Dia tidak akan berani.” “Terima kasih.” “Nah, kau harus bertema kasih. Kau beruntung bersahabat dengan duke yang paling ditakuti di Gouvern.” “Terserah kau, Teman Sialan.” Mereka saling melempar senyum. Ansel menyesap anggurnya perlahan, menghilangkan penat yang menjalari seluruh tubuhnya. Kepalanya terasa pusing dibebani segunung dokumen dari Yang Mulia Raja dan surat keluhan para penyewa lahan. Ia harus menyuruh Philips mengunjungi para penyewa lahan dan mendengarkan keluhan mereka. Jika Philips tidak bisa menanganinya, dia sendiri yang akan turun tangan. “Luce,” panggil Ansel ketika mengingat siapa Lady Evangeline Hernsberg sesungguhnya. “Kenapa kau bertunangan dengan putri orang yang kaucurigai?” Entah sudah berapa kali Lucian mendengar pertanyaan itu. Rasanya, ia hampir mati bosan. “Tidak ada alasan.” “Apa Lady Evangeline orang yang polos?” “Aku sudah memastikannya.” “Sungguh? Murni polos?” Ansel menegakkan punggung, menghabiskan sisa anggur dalam sekali tegukan. “Kau bukan orang sembrono yang bertindak tanpa alasan. Lima tahun yang lalu pun, kau bergabung dalam parlemen demi keluargaku, bukan?” “Berhenti membahas hal itu,” jawab Lucian kesal. Ia menerawang jendela yang memaparkan pemandangan langit malam. Bulan purnama bersinar terang dan terasa dekat untuk digapai. “Aku memang mencurigai, Count Hernsberg. Tetapi, tidak ada bukti yang menguatkan kecurigaanku. Alasanku bertunangan dengan Evangeline persis seperti yang kaupikirkan, untuk mempermudah penyelidikanku di Greenpald, khususnya di kediaman Hernsberg. Dan gadis itu, dia tidak tahu apa-apa.” “Tapi, apa yang kaudapatkan di sana?” Dengusan Ansel membuat tumit Lucian berputar menghadapnya. “Banyak orang yang dirugikan karena alkohol itu. Duke Ollardio memang berhasil menghentikan pengedarannya di Gouvern. Namun bulan lalu, kami kembali menemukan satu tempat di duchy Vergan menjual alkohol terlarang. Orang-orang itu bahkan dengan berani memanipulasi merek kerajaan. Apa saja yang kaulakukan lima tahun ini?” “Kau pikir mudah bagiku menyelesaikan semuanya sementara aku harus bergerak diam-diam?” Mulut Ansel terkatup rapat, merasa terlalu terbawa emosi. Rasa lelah dan mabuk perlahan menyingkirkan akal sehatnya. Ia pun meletakkan gelas, bermaksud berhenti minum. Sebuah gulungan perkamen kemudian mendarat di pangkuannya. Dengan setengah kesadaran yang tersisa, Ansel membuka perkamen yang ternyata peta Kerajaan Andasia itu. “Ini?” Sepasang manik indigonya menyusuri gambar-gambar bertanda silang dan lingkaran merah. Lucian meniup pipa lantas berujar, “Penyebaran alkohol terlarang di Andasia. Aku menandai tempat yang terbukti sebagai wilayah peredarannya dengan bulatan merah.” Ansel mengerutkan kening mendapati sebagian besar wilayah ditandai dengan bulatan merah. Semuanya terbukti kecuali ibu kota, wilayah yang terjangkit wabah, dan Greenpald. “Aku belum menyampaikannya secara terperinci kepada Yang Mulia Raja. Surat yang dikirim melalui merpati pos atau pengiriman antar negara tidak dapat menjamin kerahasiaannya. Seseorang dari Andasia bisa memata-mataiku dan menukar suratku dengan surat palsu.” “Aku tahu. Yang Mulia Raja selalu mengumumkan hasil penyelidikanmu di depan semua anggota parlemen.” “Dan ini hipotesisku.” Lagi. Ansel memberengut saat Lucian melempar segulung perkamen lagi. Kali ini gulungan itu mengenai wajahnya telak. “Denah kediaman Hernsberg dan sketsa struktur bangunan?” Ansel memperhatikan perkamen tersebut sebelum membentangkan di atas meja. “Apa maksudnya?” Lucian pun menjelaskan temuan Robert di kediaman Hernsberg. “Count sengaja memindah gudang penyimpanan anggur di tempat itu. Kunci gudang penyimpanan hanya dipegang Count, kepala pelayan, dan Lady Hernsberg. Count memindah gudang penyimpanan setelah seorang pelayan tertangkap menyelundupkan alkohol terlarang di gudang yang lama.” “Lalu?” “Itu menguatkan hipotesisku bahwa Greenpald tidak bisa dieliminasi dari daftar dugaan.” “Lanjutkan.” “Bukankah tempatnya cukup strategis untuk memproduksi minuman sejenis itu?” Ansel mengangguk sambil mengusap dagu. “Alkohol terlarang awalnya dibuat untuk kebutuhan medis. Namun, oknum-oknum tertentu menjualnya ke pasar gelap dan berakhir pada perdagangan antar kerajaan.” Segaris senyum terkembang di bibir Lucian saat Ansel mulai menghubungkannya dengan informasi-informasi terdahulu. “Pada masa perang, alkohol terlarang sangat dibutuhkan untuk anestesi prajurit yang terluka parah. Greenpald adalah wilayah yang paling berdampak karena berdekatan dengan medan perang. Aku yakin orang-orang di sana mengetahui sesuatu dan memilih tutup mulut.” “Dan kesimpulannya, penyilidikanmu selama ini sia-sia.” Ansel menekan-nekan keningnya yang berat. Astaga. Ia pikir dirinya akan bersantai di kediaman Lucian, tetapi ia justru memaksa otaknya bekerja dua kali lebih keras di malam hari. Lucian menuangkan anggur ke gelas kosong. Ia pun duduk di hadapan pria itu. “Tidak. Aku berhasil membuka satu mulut di kediaman Count. Dialah yang memberi kami informasi penting tadi,” ungkap Lucian akhirnya. “Lima tahun ini penyelidikanku tidak terfokus pada Greenpald. Aku ingin semuanya beres sebelum aku pergi.” Ia memandang Ansel yang melepas jubah, mantel, cravat, hingga pedangnya. Yah, dia akan membiarkan pria itu bermalam di townhousenya malam ini. “Kenyataannya, kau meninggalkan kecurigaanmu pada Count Hernsberg dan kembali dengan tangan kosong. Apa yang akan kaulakukan jika keluarga tunanganmu benar-benar terlibat dalam produksi alkohol terlarang?” “Aku masih memikirkannya.” “Ragu?” Ansel menatap Lucian yang balik menatapnya dengan wajah masam. “Untuk sementara ini, bisakah kau merahasiakan temuan kami dari Yang Mulia Raja?” “Kenapa?” “Sudah kubilang aku belum punya bukti yang kuat, Bodoh. Pelayan di kediaman Hernsberg itu berada di pihakku. Dia yang akan mengumpulkan bukti-buktinya selagi aku tidak ada.” “Kau memercayainya begitu saja?” “Aku telah menjanjikannya sejumlah besar uang dan rumah di Gouvern. Aku tidak punya pilihan lain.” Ho. Tiba-tiba Ansel teringat pada ucapan Pak Tua Ollardio lima tahun lalu. Ansel menyerah. Pak Tua sok tahu itu memang tidak salah. Tidak selamanya Lucian akan berada di jalan kebenaran. Pada akhirnya, situasi mendorong pria itu melakukan trik-trik kotor seperti yang dilakukan para anggota parlemen lain. “Selamat datang di neraka,” gumamnya seraya mengusak surai hitamnya hingga berantakan. Ya Tuhan. Demi apa sofa di ruang kerja Lucian terasa empuk dan nyaman sekali? Bisa-bisa Ansel tertidur di sini. Lucian kembali menggulung perkamen-perkamen itu, melihat sahabatnya menselonjorkan kaki dan merebahkan diri di sofa panjang berlengannya. Ia tersenyum mafhum. Apa yang dia harapkan? Sambutan bersahabat? Konyol sekali. Ansel pasti sudah kelelahan dengan pekerjaannya. Terlebih, lima tahun ini pria itu juga membantu Komandan Hailey dan Jacob mengawasi properti Carnold. Meski orang-orang mengatainya menyeramkan, namun Lucian yang paling tahu dan mengenal Ansel lebih dari siapapun. Pria itu tidak akan melepas kesetiaannya pada hubungan hubungan persahabatan. Terdengar suara lenguhan Ansel yang mulai terlelap. Sambil memejamkan mata, Ansel bertanya setengah berbisik, “Hei, apa kau telah menyiapkan kamar untukku?” “Ansel.” Decakan Ansel membuat Lucian tertawa geli. “Apa lagi, Luce?” tanyanya sebal. “Ini tentang Ruford Barten.” Ekspresi Lucian berubah serius. “Dia bisa mengacaukan rahasia parlemen.” Ansel sontak bangkit dan menatapnya gelisah. Apalagi yang mengusik pikiran Lucian, huh? Belum semenit ia memejamkan mata dan pria itu telah menariknya dari alam mimpi. Dasar keterlaluan. “Apa maksudmu?” “Viscount Corton mengetahui penyelidikanku di Andasia.” Lucian melanjutkan aktivitasnya menggulung perkamen. Di sisi lain, Ansel menganga lebar. Apa otaknya disuruh berpikir ribuan kali malam ini? “Sang viscount mendengarnya dari mulut Ruford Barten saat mereka bertemu di Robinz, klub milik Marquess Robinson. Dalam masalah ini, hanya kau yang bisa menangani anak itu, Kawanku.” --- Kakak, kuharap Kakak menolongku. Ionna menuliskan kata-kata itu dalam secarik kertas yang disobek memanjang. Tuhan, kapan Kakak akan pulang? Ia menulis lalu melipat sobekan kertas tadi. Aku tidak ingin egois. Aku hanya tidak ingin menikah dengan Ruford Barten. Dan ia memasukkan lipatan-lipatan mungil kertas ke dalam sebuah toples. Ionna menyembunyikan toples bening itu di sudut terdalam lemari, menyatukan kesepuluh jari, merapalkan doa sebelum menutup pintunya. Ia menggigit kuku jempol sambil mondar-mandir di depan lemari. Seharusnya, hari ini Lucian sudah datang. Seharusnya, besok adalah pesta penyambutan sang marquess di istana. Dan seharusnya, sang kakak akan tiba tiga hari berikutnya jika tidak ada masalah di ibu kota. Ionna pun melompat ke atas kasur. Tubuhnya memantul-mantul lembut di atas kasur kapuk itu. Ia nyaris tidak bisa tidur selama tiga hari dan terus menunggu dalam kegelisahan. Ia berulang kali membaca novel anak-anak yang sering Ansel bacakan ketika masih kecil. Dalam novel itu, jika Ionna berdoa pada Tuhan dan menuliskan harapannya pada kertas yang disimpan di dalam toples, maka para peri akan membantunya menyampaikan permintaan kepada Tuhan. Kekanakan memang. Tetapi, Ionna tidak peduli asalkan hal itu bisa membuatnya sedikit lebih tenang. Ionna ingin segera melihat Ansel dan Lucian. Ia ingin Kakaknya menghentikan Ibu dan para tetua. Ia ingin menumpahkan seluruh keluh-kesahnya pada Lucian lima tahun ini. Ionna yakin Lucian akan mendengarkannya seperti dulu. Ionna yakin Lucian mempunyai cara untuk menenangkannya. Lucian yakin Lucian akan— “Akan apa?” Setetes air mata meluncur menuruni kedua sisi wajahnya. Ionna pun beranjak duduk, tidak tahan lagi menahan rasa sesak di dadanya. Ia pun membuka laci nakas dan meraih sebuah jarum, menggoreskan garis melintang di pergelangan tangan kirinya. Bulir-bulir darah timbul dari goresan itu. Bersamaan dengan darah yang menetes m*****i gaun tidur, Ionna menekuk lutut, menangis dalam diam. Darimana ia mendapatkan keyakinan bahwa Lucian tidak akan berubah? Dan apa yang sebenarnya ia inginkan dari penantiannya selama ini? Mungkin Ionna adalah gadis paling bodoh di dunia. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN