31. The Elders

2127 Kata
Jari-jari lentik itu melompat-lompat kecil di atas tuts-tuts piano, menghasilkan melodi indah yang menghipnotis manusia di ruang tamu. Ionna memejamkan mata meresapi alunan pianonya. Kedua bibirnya tertarik membentuk senyum tipis saat ia mencapai k*****s lagu. Jemarinya semakin gesit bergerak mempercepat irama, sementara kakinya mengetuk-ngetuk permukaan lantai sesuai tempo. Duchess Laundrell dengan bangga memperhatikan permainan si bungsu dari kejauhan. Diliriknya dua orang tetua yang hari ini datang memenuhi kunjungan bulanan. Dua pria berambut perak bermata biru itu tampak puas dengan alunan musik berjudul The Unbending yang ia mainkan. Yah, inilah kali pertamanya mereka mendengar permainan piano Ionna secara langsung. Pada pesta dansa yang diadakan Duke Laundrell tahun lalu, mereka hanya sempat mendengar bagian penutup karena terlambat. Lady Ionna Laundrell, selain kecantikannya yang melegenda, permainan pianonya yang menakjubkan ini disebut-sebut bagaikan nyanyian siren. Lima tahun gadis ini telah membawa kebanggaan tersendiri untuk keluarga Laundrell. Dia dapat mematahkan stereotip publik mengenai Nona Muda Laundrell yang hanya cantik, namun tidak berbakat. Dengan keahlian tersembunyinya ini, tahun lalu bahkan jumlah pelamar dikabarkan meningkat. Sayang sekali sang lady belum tertarik mengikat dirinya dengan pernikahan. Sebagai tetua Laundrell yang telah mengamati garis keturunan dari generasi ke generasi, mereka harus menyiapkan seorang peminang yang cocok sebelum sang lady menginjak usia dua puluh tiga tahun. Menurut kepercayaan keluarga Laundrell, seorang gadis dilarang melajang sampai usia dua puluh tiga tahun atau dia akan membawa bencana bagi dirinya sendiri dan garis keturunan Laundrell. Hari ini kedua tetua itu tidak datang untuk membahas pernikahan sang duke, melainkan pernikahan Lady Ionna Laundrell. Tepuk tangan bersahutan saat Ionna menyelesaikan permainannya. Gadis itu pun bangkit lalu memutar tubuh, menekuk lutut kemudian melangkah penuh percaya diri dan duduk di samping Ibunya. Ia menuangkan teh untuk kedua tetua yang melampirkan senyum terima kasih. “Aku tidak menyangka kau memiliki bakat seperti ini. Ke mana saja kami selama dua puluh dua tahun, My Lady?” tanya Gilbert Laundrell, tetua dengan mata runcing dan hidung bengkok. Pria ini adalah adik bungsu kakek Ionna dan Ansel. Dia ditunjuk sebagai tetua karena merupakan satu-satunya yang tertua dari keluarga cabang. Ionna tersipu malu. Ia menyesap teh sambil mengerling ke arah Ibunya yang duduk berpangku tangan. Yah, dia berhasil memuaskan hasrat sang ibu. Wanita itu sangat menggebu-gebu ingin menunjukkan hasil didikannya di depan para tetua Laundrell. “Sebuah kehormatan bagi saya dapat menyenangkan hati Anda, Kakek. Lain kali saya akan menunjukkan lebih banyak lagu kepada kalian.” “Baru kali ini kau menyambut kami dengan lantunan pianomu,” timpal Constantine Laundrell, paman Ionna. Putra sulung Gilbert Laundrell ini yang memegang bisnis keluarga cabang di Grimfon. “Sudah kuduga, His Grace akan pergi. Meski begitu, kunjungan kami tidak akan berhenti di tengah jalan. Ini adalah tradisi keluarga Laundrell. Jika bukan kami, siapa lagi yang akan melestarikannya?” “Terima kasih atas perhatian kalian, Paman, Sir Constantine,” sahut Ibunya. Ionna mengernyit, dalam hati, kenapa Ibunya justru tunduk pada pria-pria menyebalkan ini? Bahkan mereka tidak menggunakan bahasa formal kepada seorang duchess! Yang benar saja! Selanjutnya, Ionna tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kunjungan bulanan tetua Laundrell dimulai saat Ansel menginjak usia dua puluh tahun. Mereka terus mendesak kakaknya dengan berbagai bujukan pernikahan. Posisi duchess harus segera diganti dan mereka membutuhkan seorang ahli waris. Para tetua tidak bisa menyerahkan gelar kepada keturunan keluarga cabang yang bukan pewaris murni—putra sulung keluarga utama. Ionna tidak bisa membayangkan betapa banyaknya silsilah keluarga Laundrell sejak Duke pertama masih hidup. Ia juga tidak mengerti mengapa Ibunya sangat menghormati para tetua. Kakaknya pasti sudah menghapus sistem kuno ini bila sang ibu tidak melarang dan bersikeras mempertahankan tradisi sampai generasi-generasi berikutnya. Benar-benar menyebalkan. Ionna mengarahkan pandangnya kepada Constantine. Ia merasa pria itu terus memandanginya sejak tadi. “Ada apa, Paman?” tanya Ionna yang sontak mengundang tatapan Gilbert dan Duchess Laundrell. Constantine tersenyum menanggapinya. “Kami akan memastikan His Grace akan menikah tahun ini, Lady Ionna.” Ionna mengangguk. Dalam hati, membatin coba saja kalau bisa. “Saya juga berharap demikian, Paman.” “Setelah His Grace menikah dan sebelum kau berusia dua puluh tiga tahun musim semi tahun depan—” Ionna tidak akan terkejut dengan kelanjutan kalimat pria itu. Sudah jelas Ionna harus menikah dengan dua pilihan, calon yang dipilihkan Ibunya atau calon pilihan para tetua. “—kami merencanakan perjodohan dengan Duke Barten. Tentunya, dengan seizin His Grace dan sang duchess.” Napas Ionna terhenti. Mendadak ia kehilangan kemampuan meraup oksigen. Manik biru Ionna membola dan rona cerah di wajahnya menghilang. Jantungnya seolah direnggut dari dalam dadanya. “Bagaimana pendapatmu, Madame? Apakah kau akan mempertimbangkan saran kami?” Katakan tidak, Mama. “Sebenarnya, saya ingin menikahkan Ionna dengan pewaris Duke Magnolia, Sir Constantine,” jawab Duchess Laundrell. Ia ingat dirinya dulu amat berambisi mendekatkan Ionna dengan Duke Barten saat debutan. “Tetapi, bukankah Duke Barten telah menikah dengan Lady Thesav?” “Pernikahan mereka batal, Madame. Lady Diana Thesav pada akhirnya harus menikahi sepupunya sendiri, putra sulung Marquess Francaiss.” “Oh, tiba-tiba sekali?” “Pernikahan digelar secara tertutup satu minggu yang lalu. Hanya kerabat dan beberapa kenalan yang hadir.” Dada Ionna semakin sesak ketika nama Diana disebut. Ia pikir ia tidak akan mendengar nama gadis itu lagi setelah kejadian malam debutan. Seakan kejutan perjodohan dengan Duke Barten belum cukup, jantungnya kembali dientak-entakkan dengan sebuah nama yang sama sekali tidak ingin ia dengar. Constantine menatap keponakannya yang tidak berkutik. Ionna memang selalu bersikap sopan dan menuruti semua perintah Ibunya tanpa mengeluh. Apa dia juga setuju dengan perjodohan ini? “Duke Barten merasa dikhianati. Beliau percaya Lady Diana sengaja menerima lamaran pertunangannya dan membatalkan pernikahan mereka di tengah jalan.” Lanjutan kalimat Constantine sontak mendongakkan kepala Ionna. Kenapa kunjungan ini tiba-tiba berubah menjadi sesi berbagi gosip? Diam-diam Ionna mengerutkan kening, bertanya-tanya mengapa Diana yang dulu membangga-banggakan Duke Barten berbalik menusuk pria itu dengan menikahi sepupunya sendiri. “Pernikahan antar kerabat jauh bukan hal yang baru bagi keluarga Francaiss.” Gilbert Laundrell meletakkan cangkir teh ketika ia angkat bicara. “Pertunangan antara Lady Diana dan Duke Barten dimaksudkan untuk memperluas kekayaan properti Marquess Francaiss. Begitu sang marquess mendapatkan apa yang ia inginkan, beliau menarik kembali keponakannya dan menikahkannya dengan Young Lord Francaiss.” “Dan itu tidak bisa dikatakan sebagai penipuan.” Constantine menyeringai kecil. “Pertunangan mereka tidak terikat hukum . Duke Barten mengizinkan pembangunan beberapa estat Marquess Francaiss di duchynya. Seandainya beliau menuntut Marquess atas tuduhan penipuan berencana, Duke Barten akan kehilangan seperempat kekayaannya karena surat izin yang dimiliki Marquess Francaiss.” Persetan dengan properti, estat, kekayaan atau apalah, jadi, mereka sungguh-sungguh berniat menikahkannya dengan Ruford Barten? Salah satu pria pengirim surat itu? Ionna meremas gaun marunnya, berdoa dalam diam semoga sang ibu tidak termakan omongan para tetua. “Dengan kata lain, kalian memanfaatkan putriku untuk mengambil hati Duke Barten yang terluka?” sinis Duchess Laundrell. Ionna memiliki sedikit keyakinan terhadap Ibunya. Constantine tersenyum penuh arti. “Kami hanya memberimu pilihan, Madame.” Duchess Laundrell tampak berpikir, menimang-nimang manakah yang lebih baik, menjadi mertua putra calon Duke Magnolia atau mertua Duke Barten. Keduanya sama-sama muda dan segar, bergelar duke, dan memiliki kekayaan yang berlimpah-ruah. Ionna memang ditakdirkan untuk menjadi seorang duchess di rumah keluarga lain. Lantas, manakah yang terbaik? “Aku akan membicarakannya dengan His Grace ketika beliau kembali. Kalian akan mendapatkan jawabannya pada kunjungan bulan depan.” Tidak mungkin. Kenapa Ionna tidak diberikan hak untuk menolak? Ia akan menunggu dalam ketidakpastian sampai sang kakak pulang. Kakak mengetahui perangai asli Duke Barten. Kakak pasti akan menolongku, batin Ionna dalam hati. --- Evangeline terperangah. Seolah Pelabuhan Magnolia dan bangunan-bangunan yang ia lihat di sepanjang perjalanan bukan apa-apa, kini ia disuguhkan oleh penampakan townhouse Carnold yang lima kali lipat lebih besar dari kediaman Hernsberg. Evangeline keluar dari kereta, menyerahkan tangan pada Lucian yang sudah menanti di luar. Para pelayan berseragam hitam putih berjajar di sepanjang jalan menyambut kedatangan tuan mereka. Mereka memasang tampang takjub sekaligus penasaran akan siapa lady yang tuannya bawa dari Andasia. Lucian pun meminta Evangeline meletakkan tangan di lengannya. Mereka berjalan menyusuri halaman depan yang luas, melewati air mancur berbentuk kelopak teratai mekar. Di kolam air mancur, belasan teratai putih tumbuh mengambang di permukaan air yang tenang. Evangeline ingat. Teratai putih adalah lambang keluarga Carnold. Evangeline menatap sekilas bunga sebesar dua telapak tangan manusia itu, sebelum mendengar Lucian berbicara pada tiga orang di depan pintu masuk. “Dia Lady Evangeline Hernsberg,” ucap Lucian sambil mengarahkan tangannya kepada Evangeline. Jeda sesaat, pria itu menambahkan, “Tunanganku.” Evangeline tersenyum ramah pada dua oang wanita dan seorang pria yang membungkuk hormat di hadapan mereka. Satu-persatu dari mereka pun maju memperkenalkan diri. “Perkenalkan, My Lady. Saya Roxy Cane, pengurus rumah townhouse Carnold,” ujar si pengurus rumah memperkenalkan diri. Berikutnya giliran wanita ramping berwajah kotak yang berdiri di tengah barisan tiga orang itu. Wanita itu menyebut dirinya sebagai Ema Fiere, si kepala pelayan, dan meminta Evangeline memanggilnya setiap saat membutuhkan sesuatu. Pria jangkung bertubuh kurus kemudian membungkuk memperkenalkan diri dengan senyum kelewat lebar. “Masakan dibuat dengan cinta, dibumbui dengan kasih sayang, sehingga orang yang memakannya akan merasakannya denganhati. Saya August Fiere, My Lady. Kepala koki townhouse Carnold. Selama Anda di sini, jangan sungkan meminta makanan yang Anda inginkan. Selamat datang di Gouvern, Lady Evangeline Hernsberg.” Evangeline menutup bibirnya lantas terkekeh pelan. Ia sudah bisa membayangkan hidangan apa saja yang akan disajikan kepala koki ini nantinya. Yang jelas mewah, berkelas, dan lezat. Namun, keningnya berkerut dalam menyadari sesuatu. Nama keluarga si kepala pelayan dan kepala koki sama-sama Fiere. Apakah mereka— “Mereka sepasang suami-istri, My Lady,” jawab Lucian yang seolah dapat menangkap kebingungannya. Evangeline terperanjat kaget. “Oh, benarkah? Maafkan aku, Mr, Mrs. Fiere. Seharusnya aku bisa menduganya sejak awal.” “Kami telah melayani His Lordship sejak beliau masih bayi,” sahut Ema, menampilkan senyum keibuannya. “Kami sangat senang mendengar beliau kabar kepulangan beliau bersama Anda. Saya harap Anda betah tinggal di Gouvern. Kami akan melayani kalian dengan sepenuh hati. ” “Terima kasih, Mrs. Fiere.” Evangeline pun dituntun memasuki pintu depan touwnhouse. Bangunan ini merupakan bangunan dua tingkat dengan pilar-pilar besar berdiri kokoh di aula lantai pertama. Lembayung Evangeline berguling mengamati satu-persatu obyek yang didominasi potret lukisan para marquess terdahulu. Dinding-dinding dilapisi cat putih bersih dengan motif-motif rumit bewarna emas. Lukisan-lukisan itu dibingkai dalam pigura kayu raksasa dan dijajar rapi di setiap sisi permukaan dinding. Evangeline merasa dirinya sedang berkeliling dalam sebuah museum pahlawan. Sepasang tangga menuju lantai dua mengapit tembok dengan sebuah lukisan setinggi tiga meter. Lukisan itu menghadap langsung ke halaman depan, memungkinkan siapa saja yang masuk dapat melihatnya dari pintu. Evangeline menarik lengan Lucian mendekati lukisan itu. Ia memperhatikan lukisan seorang pria dan wanita, dimana sang pria berdiri dengan jubah berlambangkan teratai putih dan si wanita duduk berpangku tangan di kursi berlapis emas. Sang pria memiliki rambut pirang beriris hijau pucat, sementara sang wanita berambut hitam legam dengan iris sehijau milik pria di sebelahnya. Mata Evangelin memicing tajam, membaca kemiripan antara pasangan dalam lukisan dengan tunngannya. Apakah mereka Marquess Carnold terdahulu dan istrinya, mendiang Marchioness? Itu artinya, mereka adalah Ayah dan Ibu Lucian? Evangeline refleks mendongak dan menoleh ke arah Lucian. Tunangannya itu sama sekali tidak berekspresi. Lucian hanya menatap datar potret kedua orang tuanya seolah bosan melihatnya setiap hari. “Sayang sekali kami bertemu dengan cara seperti ini,” gumam Evangeline, meruntuhkan tembok keheningan yang tercipta di antara mereka. Lucian meliriknya melalui sudut mata. “Anda bisa mengunjungi makam Marchioness setibanya di Celeton.” “Apakah kalian memiliki pemakaman keluarga sendiri, My Lord?” “Semua bangsawan di Gouvern memiliki pemakaman keluarga pribadi, My Lady.” “Ah, benar-benar berbeda dengan Andasia.” Telunjuk Evangeline menyentuh permukaan lukisan yang dilapisi kaca. Surai hitam Marchioness Carnold sangat pekat, bahkan lebih pekat dari helai hitam Evangeline. “Mendiang Marchioness sangat cantik. Anda lebih banyak memiliki kesamaan dengan Ibu Anda.” “Itu yang selalu dikatakan orang-orang.” “Karena begitulah kenyataannya, My Lord.” Suasana kembali hening. Manik hijau Lucian terangkat membalas tatapan sang ayah dalam lukisan. Syukurlah ia hanya mewarisi hidung dan warna rambut pria itu. Dia tidak berharap orang-orang menyamakannya dengan seorang pria yang tidak sedikitpun mencintai putranya. Memejamkan mata sejenak, Lucian pun menggoyangkan lengan, memberi Evangeline kode untuk segera pergi dari sini. Mereka telah berlayar selama tiga hari dari utara ke selatan, menempuh perjalanan setengah hari dari duchy Magnolia ke ibu kota, dan Lucian ingin Evangeline segera beristirahat karena kesehatannya selepas perjalanan jauh. “Sebaiknya kita beristirahat, My Lady.” Evangeline melempar tatapan memprotes tatkala Lucian menyeretnya menaiki undakan tangga. Ia mendesah pasrah, berjalan mengikuti langkah tegas Lucian di sampingnya. Ketiga orang tadi senantiasa mengekor di belakang mereka. Sementara itu, sebuah pertanyaan tiba-tiba melintas dalam benak Evangeline. Benar juga. Kenapa dia tidak melihat lukisan Lucian di antara lukisan para marquess terdahulu? To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN