30. First Voyage

2076 Kata
Hari keberangkatan. Lucian mengawasi satu-persatu barang yang diangkut ke dalam kapal. Para staf Viscount Corton menyambutnya setelah lima tahun silam mereka mengantarnya ke Andasia. Seperti biasa, Lucian harus berterima kasih kepada sang viscount yang menjemput mereka secara pribadi. Ia pun meninggalkan pria berkumis tebal itu lalu mendekati keluarga tunangannya yang melepaskan kepergian sang putri. “My Lord, tolong jaga Evangeline,” pinta Count Hernsberg yang paling merasa berat ditinggalkan Evangeline. Lucian mengangguk. “Sudah kewajiban saya, Count.” Dipandangnya Evangeline dan Countess Hernsberg di depannya, mereka saling berpelukan dalam tangis. “Jangan sampai lupa makan, Eva,” kata Countess sambil mengusap punggung putrinya. “Kau biasa melewatkan jam makan siang bila tidak diingatkan. Jangan lupa tulis surat untuk kami sesampainya di Gouvern. Sesulit apapun situasimu di sana, Ibu harap kau tidak menutupi masalahmu dari kami.” “Apa yang Ibu katakan? Saya tidak akan melupakan Ayah dan Ibu. Malah, setiap hari saya akan merindukan kalian.” “Putriku sudah besar. Padahal masih kemarin rasanya aku mengandung dan melahirkanmu. Menggendongmu dalam dekapanku. Tapi, hari ini aku mengantar kepergianmu dan tidak akan melihatmu dalam waktu yang lama.” “Ibu, jangan menangis.” “Aku seorang Ibu, Evangeline. Bagaimana bisa aku tidak menangis?” Count Hernsberg pun bergabung memeluk istri dan putrinya. Evangeline terisak, pemandangan yang amat langka diperlihatkan gadis dua puluh satu tahun itu. Dulu Lucian terbiasa melihat seorang gadis menangis di hadapannya. Gadis itu selalu menunjukkan tangisnya bila Lucian ada di sana, mendengarkan tangis pilunya, dan tersenyum seperti sedia kala saat ia puas menumpahkan tangisnya. Gadis itu akan menunjukkan ketegaran yang luar biasa di depan banyak orang. Dia tidak akan menangis walau dia ingin. Keadaanlah yang melarangnya melakukan hal selemah itu. Lucian memejamkan mata mengenyahkan sepasang aquamarine basah dalam benaknya. Ia pun memanggil Robert, menyuruhnya mengangkat koper pribadi Evangeline dan meletakkannya di kamar yang telah disediakan. Tak lama kemudian, adegan mengharukan itu berakhir. Lucian mengencangkan ikatan tali topi di bawah dagu Evangeline saat mereka telah naik dan melambaikan tangan di atas kapal. Kapal perlahan bergerak menjauhi dermaga. Sosok Count dan Countess kian mengecil dan menghilang dari pandangan. Evangeline membersitkan ingus dan menyeka air mata dengan sapu tangan yang disodorkan Lucian. Akhirnya, ia benar-benar meninggalkan Andasia. Semuanya terasa seperti mimpi. “Kau baik-baik saja?” tanya Lucian tanpa menoleh. Kedua manik pria itu fokus memandang daratan Andasia dan lautan yang mengelilinginya. “Aku menangis di depanmu, Lucian. Kenapa kau masih saja bertanya?” “Kau bisa mengunjungi Andasia kapanpun kau mau. Namun, sangat mustahil bagi Count dan Countess mengunjungimu ke Gouvern.” “Kenapa?” tanya Evangeline nyaris berseru. “Apa ada aturan yang melarang mereka pergi ke Andasia?” “Tidak.” Kali ini Lucian menatapnya. “Ayahmu memberitahuku bahwa dia tidak bisa meninggalkan Greenpald. Dan tanpa Ayahmu, Ibumu tidak akan pergi ke mana-mana.” “Ibuku menanyakan soal pernikahan sebelum kita berangkat.” “Ya, aku dengar.” “Bagaimana? Seandainya suatu saat kita menikah, apakah mereka bisa menghadiri pernikahan kita?” “Orang tua akan melakukan segalanya di hari penting putrinya, Evangeline.” “Tapi, kita tidak akan menikah.” Kata-kata ini lagi. Lucian hampir muak mendengar kalimat itu tiap kali mereka membahas pernikahan. Ia membuang muka, enggan memberikan tanggapan maupun komentar. Evangeline suka sekali memulai perdebatan. “Yah, setidaknya untuk saat ini.” Evangeline tersenyum miris. Ia melingkarkan tangan ke lengan Lucian, menyandarkan kepala pada lengan kokoh itu. Ini adalah pelayaran pertamanya. Langit biru musim panas dan kilauan di permukaan laut merupakan kombinasi yang sempurna. Aroma garam yang kental mendominasi udara di sekitar mereka. Evangeline menghirup napas dalam-dalam, mengisi paru-paru dengan kesegaran lautan. Ia tertawa saat dua-tiga ekor burung melintas gesit di depan mereka. Ikan-ikan juga melompat-lompat dari dalam air seolah mengucapkan selamat atas pelayaran pertama Evangeline. Evangeline tidak menyangka ia akan disambut dengan manis oleh hewan-hewan menggemaskan itu. Pelayaran pertamanya ternyata tidak seburuk yang ia duga sampai— “Ugh.” Tiba-tiba Evangeline merasa perutnya dililit dengan sangat kuat. Sensasi mual berputar-putar dalam dirinya hingga ia merasakan desakan untuk memuntahkan sarapan paginya. Evangeline mulai limbung, pening menghantam kepalanya. Tangannya yang gemetar mencengkeram pagar besi hingga Lucian menyadari keanehannya. “Eva.” Pria itu memutar badan Evangeline yang pucat pasi menghadapnya. “Kau mabuk laut.” “Aku mabuk ap—hmmph!” Segera Evangeline membekap mulutnya. Gadis itu kemudian mengempaskan tangan Lucian dan mendekat ke pagar besi. Dimuntahkannya seluruh makanan yang terasa asam di lidah. Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi padanya? “Ini pelayaran pertamamu dan kau mabuk laut, Eva.” Lucian berkata di belakangnya sambil menekan-nekan tengkuknya lembut. “Kau baik-baik saja?” “Jangan menanyakan hal yang sama ketika kau melihat aku—ugh!” Lagi. Evangeline memuntahkan isi perutnya lagi. Ia tidak tahu kapan serangan muntah ini akan berakhir sementara perutnya sudah kosong-melompong. “Lucian, aku pusing,” keluhnya. Detik berikutnya, Evangeline merasakan kedua tangan Lucian menyusuri punggung dan lipatan gaun, mengangkatnya semudah mengangkat karung bulu. Lucian menggumamkan sesuatu yang mendorong Evangeline memejamkan mata dan bersandar di d**a bidang pria itu. “Oh, tidak. My Lord, My Lady, apa yang terjadi?” Viscount Corton berlari tergopoh-gopoh menghadang langkah sang marquess. Ia telah memperhatikan dua penumpang privatnya itu sejak mereka menaiki tangga kapal. Namun, kondisi Lady Hernsberg yang tiba-tiba memburuk seketika membuat kedua tungkainya berayun tanpa sadar. “Viscount, tunjukkan jalan menuju kamar Lady Evangeline dan suruh pelayan menyiapkan obat anti mabuk.” “Ya, ya? Rupanya sang lady mabuk laut.” Dengan suara keras, Viscount Corton memerintahkan para pelayan melaksankan perintah Lucian. “My Lord, mari saya tunjukkan jalannya.” Evangeline merasa ia dibawa menuruni tangga dan mendengar derit pintu kayu menggelitik telinga. Kegelapan menyelubungi pandangannya. Ia tidak membuka kelopak matanya sampai Lucian merebahkannya di atas gumpalan kapuk. Suara-suara bersahutan di sekitarnya. Ia pun menggapai-gapai di udara untuk mencari jemari Lucian lalu meremasnya kuat-kuat. “My Lady, jika Anda bisa duduk, minumlah obatnya.” Itu bukan suara Lucian. Itu adalah suara seorang pelayan wanita. Evangeline merentangkan kelopak matanya dan memeriksa keadaan sekitar. Kamar yang ia tempati sangat luas dan mewah. Di sana, ia tidak menemukan keberadaan Lucian maupun sang viscount. Ia hanya mendapati dua pelayan berdiri di samping kasur tengah menatapnya khawatir. “Di mana Marquess Carnold?” tanyanya serak. Ia menerima dua butir pil dan segelas air dari salah satu pelayan kemudian meminumnya dengan susah-payah. “Beliau keluar bersama Viscount Corton, My Lady.” “Bisakah kalian memanggilnya?” pinta Evangeline setelah menelan dua pil tadi sekaligus. Ia tidak suka minum obat. Obat adalah musuh terbesarnya. Pelayan lain yang mennyelimutinya dengan selimut tipis menyahut, “His Lordship menyuruh kami memastikan supaya Anda beristirahat dengan tenang.” “Baiklah. Tinggalkan aku sendiri.” “Aye, My Lady. Kami permisi.” Evangeline menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Menyebalkan sekali harus mengalami mabuk laut saat ia dan Lucian berduaan menikmati pemandangan di dek kapal. Evangeline meralat pernyataannya tadi. Pelayaran pertamanya tidak semenyenangkan yang ia duga. --- Viscount Corton tersenyum riang memandang pria gagah di seberang meja. Marquess Carnold tidak banyak berubah sepanjang ingatannya. Ia masihlah pria yang sama seperti lima tahun yang lalu. Sedikit perubahan pada fisiknya tidak memberi perbedaan yang berarti. Sang marquess tetaplah orang yang tenang, hati-hati, dan cerdas. Kebijaksanaan terpatri dalam wajah tampannya yang digandrungi banyak gadis. Sebuah kekehan kecil menyembur dari mulut Viscount Corton. Ironis sekali. Lima tahun yang lalu Lucian Carnold menolak putrinya Eclotte di kapal ini, dan sekarang dia membawa seorang lady dari negeri seberang sebagai tunangnnya di kapal yang sama. Menuang brendi ke gelas kristal, sang viscount langsung menenggaknya sampai tandas. Lucian memperhatikan wajah Viscount Corton yang mulai memerah karena mabuk. “Jadi, Lady Hernsberg adalah tunangan Anda?” tanya Viscount dengan suara mengambang. “Sayang sekali pelayaran pertamanya tidak berjalan mulus.” Lucian mengisap pipa, menyilangkan kaki santai. “Terima kasih. Lagi-lagi Anda menyiapkan kapal secara privat. Kali ini, apa tujuan Anda?” “Ho ho ho, apakah saya semencurigakan itu di mata Anda, My Lord?” “Tidak ada yang gratis di dunia ini. Sama seperti lima tahun yang lalu, Anda menanyakan kesediaan saya bertunangan dengan Lady Eclotte sebagai ganti biaya sewa kapal.” “Tetapi, Anda menolaknya.” “Haruskah saya membayar semua fasilitas lima tahun lalu dan sekarang? Beri saya notanya.” “Ah, Anda keterlaluan. Sudah saya bilang, melayani Marquess Carnold adalah impian saya. Lamaran lima tahun lalu hanyalah candaan, My Lord. Eclotte telah menikah dan memiliki seorang putra dari Count Swenpard.” “Saya lega mendengarnya.” Tampaknya, Daniel Swenpard tidak lagi mengejar Lady Ionna. Senyum yang Lucian tampilkan jelas tidak menunjukkan sebuah ketertarikan. Viscount Corton tergelak sambil meletakkan gelas brendi, mengambil sebutir anggur hijau, lalu melemparnya ke dalam mulut. “Para bangsawan akan sama terkejutnya seperti saya ketika Anda memperkenalkan Lady Hernsberg ke publik.” Lucian telah memperkirakan reaksi heboh dan desas-desus yang akan menyerang dirinya dan Evangeline. “Kami tidak bisa menghindarinya, Viscount. Anda lebih tahu seperti apa lingkungan sosial kita.” “Benar. Anda tidak bisa menghindarinya. Anda adalah seorang anggota parlemen. Anda tidak bisa bersembunyi dari mata para bangsawan.” “Lalu, bagaimana dengan bayarannya?” Lucian membelokkan percakapan basa-basi itu ke topik utama. “Saya tidak bisa menerima kebaikan ini secara cuma-cuma, bukan?” Gelak tawa menyembur dari mulut Viscount Corton. Pria tua itu memegangi perut buncitnya yang bergetar sambil mencondongkan tubuh memukul-mukul lengan sofa. Sekeras apapun usahanya menyamarkan tujuan pelayanan ekstra ini, Marquess Carnold tetap menemukan maksud terselebungnya. Pria dua puluh enam tahun itu selalu bersikap hati-hati dan waspada. Sebagai orang yang menjalankan bisnis perkapalan, Viscount merasa kalah bernegosiasi dengan pemuda ingusan ini. Ia pikir dirinya lebih berpengalaman, namun Lucian Carnold benar-benar orang yang teliti. Tatapan skeptisnya sedari tadi menusuk mata Viscount Corton. Sedikit menakutkan, tetapi setidaknya Viscount bisa mengatasi perasaan ini jauh lebih baik ketika ia berhadapan dengan sahabat sang marquess yang mengerikan. Oh, kepala Viscount hampir copot saat menawarkan pelayaran gratis dan berkata ingin meminta sponsor untuk bisnis barunya sepuluh tahun yang lalu. Saat itu Duke Laundrell masihlah bocah enam belas tahun yang baru menduduki posisi duke. Bahkan Duke terdahulu saja tidak semenyeramkan pria bermata indigo itu. Duke Laundrell yang sekarang adalah seorang psikopat. Lucian mendapati ekspresi ketakutan menempeli wajah Viscount Corton. Apa hal yang merasuki pria lima puluh tahunan itu? “Viscount.” Panggilannya membuat pria itu tersentak. “Ya? Oh, maafkan saya.” “Ada sesuatu yang mengganggu Anda?” “Tidak. Tidak ada, My Lord.” “Anda belum menjawab pertanyaan saya.” Viscount Corton menggeleng keras berusaha menghapus mata tanzanite Duke Laundrell dari pikirannya. Ia pun berdeham, memfokuskan kembali atensinya pada Marquess Carnold. “Saya dengar, Yang Mulia Raja mengutus Anda menyelidiki alkohol terlarang di Andasia.” Sudut bibir Lucian berkedut. Apa seseorang dari parlemen membocorkan rahasia mereka? Alih-alih menjawab, ia memilih diam dan membiarkan sang viscount melanjutkan, “Duke Barten memiliki kebiasaan yang buruk ketika mabuk.” Viscount menyuruh pelayan yang berdiri di belakangnya keluar dari ruang duduk. Ia memakan satu butir anggur lagi kemudian menyandarkan punggung ke bantalan sofa. “Satu bulan yang lalu, secara kebetulan kami bertemu dan minum-minum bersama di klub milik Marquess Robinson. Beliau mengutarakan sebagian besar hasil penyelidikan Anda selama ini kepada saya dan sahabatnya, Young Lord Robinson. Untungnya His Grace dan Young Lord sama-sama tidak sadarkan diri. Saya bisa memastikan bahwa yang mendengar ocehan beliau hanyalah saya seorang.” “Sejauh mana yang Anda dengar, Viscount?” tanya Lucian tenang. Kendati demikian, dari suaranya yang memberat, Viscount dapat merasakan kegelisahan yang samar-samar teredam dalam bariton itu. “Tidak banyak.” Viscount mengedikkan bahu. “Hanya sampai kecurigaan Anda pada Count Hernsberg, ayah tunangan Anda. Apakah Anda bertunangan dengan Her Ladyship demi memudahkan penyelidikan Anda, My Lord?” Lucian tersenyum miring. “Menurut Anda?” “Sayangnya, saya tidak bisa menjamin rahasia ini. Anda tahu betul bagaimana etika berbisnis, bukan?” Lucian menggeretakkan gigi. Cengkeraman tangan pada pipa dan lengan kursi menguat. “Apa yang Anda inginkan?” Sorak-sorai dan lonceng kemenangan berdenting dari langit ketujuh. Viscount Corton akan mendapatkan banyak keuntungan dari pertukaran ini. “Saya akan memproduksi dua kapal baru tahun ini. Jika Anda berkenan, bisakah Anda mensponsori biaya pembuatannya? Setengahnya saja. Setelah itu, saya bersumpah akan menutup mulut seumur hidup.” Embusan napas berat mengiringi anggukan paksa Lucian. Dia tentunya tidak punya pilihan lain. “Baiklah. Siapkan surat kesepakatan dan total biaya produksinya. Saya akan menandatanganinya hari ini juga.” Tampaknya memang Lucian tidak bisa lepas dari sesuatu yang dinamakan kesepakatan. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN