Apa bawaanku terlalu banyak?
Evangeline menatap tumpukan koper dan kotak yang menggunung di samping kasur. Mereka akan melakukan perjalanan laut selama tiga hari, menuju Ibukota untuk menyelesaikan urusan laporan dan parlemen, lalu naik kereta ke Celeton, di mana kediaman utama Carnold berada. Jika dihitung-hitung, perjalanannya saja akan memakan waktu enam hari. Urusan Lucian menyelesaikan t***k-bengek laporan—dan pastinya—pesta penyambutan parlemen jelas membutuhkan waktu setidaknya empat atau lima hari. Intinya, Evangeline harus ekstra bersabar sebelum bisa melihat kampung halaman Lucian. Selain itu, kediaman Carnold yang tentunya lebih besar dari kediaman sederhananya ini—
“Kuyakin ada banyak kamar luas dan barang-barang mewah di kediaman Carnold,” gumam Evangeline sambil melepas kancing kerah gaunnya yang menyiksa. Udara semakin panas dari hari ke hari, suhu semakin meningkat, dan kegiatan berkemas Evangeline yang menyita waktu berjam-jam membuat gadis itu merasa dipanggang. Evangeline kemudian menyuruh salah satu pelayan kamar untuk membuka daun jendela lebar-lebar, membiarkan embusan angin musim panas sedikit mengusir rasa gerah di dalam kamar. Ia pun berjalan menuju kursi di dekat jendela dan meminum limun segar yang dituangkan pelayan. Tanpa sengaja, kedua manik violetnya menangkap sosok Lucian dan Ayah yang terlihat kecil berbincang di halaman depan. Kereta kuda menunggu mereka di luar pagar. Alis Evangeline bertaut penasaran. Ke mana mereka akan pergi di hari sepanas ini?
Malam-malam sebelumnya, Lucian telah berhasil membujuk Count dengan bantuan Countess Hernsberg. Walau tiba-tiba, sang countess mendukung penuh kepulangan Lucian dan kepergian putri semata wayangnya ke kerajaan seberang. Ibunya yang beberapa hari lalu mendesak Lucian akan kejelasan pertunangan mereka itu menyelipkan pesan terselubung tentang pernikahan. Countess mendatangi kamar Evangeline pagi harinya, memeluk sang putri, dan menangis bahagia. Countess bilang Evangeline pasti sanggup bertahan dalam lingkungan kelas atas Gouvern. Suka atau tidak, merekalah yang seharusnya menerima Evangeline sebagai marchioness baru keluarga Carnold.
Evangeline tidak bisa memastikan hal itu. Dia belum menghadapi realitanya sendiri dan tidak berani mengucapkan kata-kata penenang untuk sang ibu. Bangsawan Gouvern sangat ketat terhadap sistem kasta dalam pergaulan sosial mereka. Tidak mudah bagi Evangeline menembus sirkel hanya dengan berbekal titel tunangan marquess dan putri count dari kerajaan kecil Andasia. Bagaimanapun, Evangeline harus membangun kekuatannya sendiri. Memperbanyak relasi, menciptakan imej yang baik, dan menunjukkan lebih banyak kemampuan di depan orang-orang itu. Evangeline percaya dirinya lebih dari sekadar mampu untuk melakukan hal itu. Mengingat keahlian dan sifatnya yang mudah berbaur, Evangeline percaya ia akan menaklukan hati semua orang di Andasia.
Suara ah segar mengudara saat gelas pertama limunnya habis. Evangeline tersenyum mendapati tunangan dan Ayahnya memasuki kereta kuda. Mungkin mereka akan pergi ke istana, melapor perkembangan bantuan Gouvern sekaligus berpamitan kepada Yang Mulia Raja. Di Andasia, seorang lady yang belum menikah dilarang menginjak istana kecuali pada acara-acara tertentu. Itulah mengapa Evangeline tetap diam di rumah sementara sang ayah yang mendampingi Lucian.
Baiklah. Mari kita selesaikan sisanya dan menghadiri pesta teh di kediaman Baron Eclise nanti sore.
“Hati-hati di jalan, Lucian, Ayah.”
---
“Calon marchioness kita,” puji Leanora Eclise dengan mata berbinar cerah.
Dua lady lain yang mengisi kursi meja bundar tampak takjub mendengar berita tersebut. Evangeline menyukai perhatian yang ia dapatkan.
“Kami akan pergi dalam waktu dekat. Saya akan mengirim surat begitu sampai.”
“Nah, Anda tidak boleh melupakan kami, My Lady,” sahut Matilda Forest, putri Duke Forest yang baru kembali dari bulan madunya. Ia adalah lady paling beruntung karena mendapatkan pinangan dari Pangeran Ketiga Andasia. Matilda Forest tidak pernah menyombongkan dirinya dengan status barunya sebagai putri Kerajaan Andasia. Dia bahkan rela menyempatkan waktu dan datang jauh-jauh ke Greenpald untuk memenuhi undangan sahabatnya.
Evangline menutup bibirnya yang tertawa dengan kipas. Sama halnya dengan Matilda, dia tidak akan melupakan teman-teman yang selalu menemaninya di saat suka maupun duka. “Mana mungkin saya bisa melupakan kalian semua, Your Highness. Mari kita terus saling bertukar surat. Saya menyesal tidak akan bisa memenuhi undangan kalian setelah ini.”
“Saya harap Anda memiliki kehidupan yang bahagia di Gouvern, My Lady,” timpal Erica Thiade, putri sulung Count Thiade yang bulan depan akan melangsungkan pernikahannya. Dalam kelompok pertemanan mereka, tinggal Lady Leanora dan Evangeline yang masih berstatus tunangan. Tiada obrolan mengenai pernikahan dalam waktu dekat.
Leanora Eclise bertunangan dengan pemilik pabrik parfum terbesar di Andasia. Kekayaannya yang melimpah digadang-gadang setara dengan kekayaan seorang marquess di Shire. Itulah sebabnya Baron dan Baroness Eclise mengizinkan putrinya menikahi pria itu. Lagipula, mereka tidak punya penerus dan seluruh harta akan diserahkan pada sepupu Leanora yang tak lain dan tak bukan adalah tunangan Erica, Franklin Eclise. Yah, Erica dan Leanora akan menjadi saudara sebesanan bulan depan.
“Saya akan mengirim hadiah untuk pernikahan Anda sebagai ganti ketidakhadiran saya, Lady Erica.” Evangeline menatap Erica yang tersenyum malu diingatkan pernikahannya. Bulan depan dia akan memegang gelar Baroness Eclise setelah pernikahannya dengan Franklin. Erica Thiade mendongak mendengar Evangeline melanjutkan, “Hadiah apa yang Anda inginkan untuk pernikahan Anda? Saya akan mencarinya sekalipun sesulit memetik bintang di langit.”
“Saya senang apapun bentuk hadiahnya, My Lady.”
“Benar-benar terdengar seperti Anda.” Evangeline terkekeh pelan. “Sederhana dan tidak muluk-muluk.”
“Tetapi, My Lady.” Leanora memutus rantai percakapan mereka dengan sebuah tatapan tanya. “Dansa kalian di pesta Duke Rosenhood sungguh mengagumkan. Kalian memiliki kemistri yang luar biasa. Apa Marquess Carnold memang orang yang seperti itu?”
“Seperti itu?” Sebelah alis Evangeline mencuat naik.
“Iya, seperti itu.”
“Aduh, tolong, jangan membuat kami kebingungan, Lady Eclise. Bisakah Anda mengatakannya dengan jelas?” keluh Matilda
Leanora tergelak ketika ketiga lady tidak menangkap maksud ucapannya. “Maksud saya, jentelmen sejati, Your Higness. Tatapan beliau saat berdansa dengan Lady Eva lembut sekali. Beliau memperlakukan tunangannya selayak istana pasir yang bisa hancur bila disentuh. Ditambah, wajah tampan dan setelan modis yang beliau pakai saat itu, ah, mendadak saya merasa iri. Bukankah beliau adalah wujud nyata pangeran berkuda putih, My Lady?”
Erica dan Matilda mengangguk-angguk tanda setuju. Evangeline merasakan rona merah perlahan menggerayangi pipinya. “Anda terlalu berlebihan. Sa-saya—ekhm, saya akui beliau memang tampan, tetapi, pujian Anda terlalu berlebihan, Lady Leanore.”
“Tidak, Lady Leanore benar, Lady Eva.”
“Ya Tuhan, His Highness Pangeran Ketiga adalah yang tertampan di antara kelima pangeran, Your Highness. Kenapa Anda tidak memuji ketampanan suami Anda sendiri?”
Matilda menyesap tehnya yang sudah dingin. Fakta bahwa ia dinikahi Pangeran paling tampan di Andasia sudah menjadi rahasia umum. “Terkadang, saya melihat Marquess Carnold berbincang dengan Ayah Mertua di istana. Sejujurnya, suami saya pun merajuk dan bertanya siapakah yang paling tampan di antara mereka beruda.”
“Lalu, jawabannya?” Mata Erica berkilat-kilat penasaran.
Matilda berdeham canggung. “Tentu saja Pangeran Ketiga. Mana bisa saya menyebut seseorang yang bukan suami saya orang yang tertampan? Pangeran Ketiga akan merajuk semalam suntuk bila saya mempermainkannya.”
“Ah, cara menyelesaikan masalah antar suami istri itu berbeda. Saya jadi malu sendiri menanyakan hal itu.”
Erica mengipasi wajahnya yang memanas dengan kedua tangan. Ketiga lady lain tertawa sambil menyantap kudapa manis di piring. Yah, dia akan menjadi istri seseorang bulan depan dan malam pengantin bukanlah sesuatu yang bisa dihindari.
“Jadi, kapan Anda akan resmi menjadi Marchioness, Lady Eva?”
Pertanyaan Leanora memecah keheningan yang sempat tercipta. Rasa hambar tiba-tiba menguasai lidah Evangeline. Biskuit gandum yang ia makan tidak terasa manis lagi.
“Secepatnya.” Ia tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan mengingat kebutuhan praktis dan luka di mata Lucian.
“Dan kapankah itu terjadi?”
“Sesungguhnya, kami belum membahasnya secara detail. Kami sepakat tidak buru-buru menikah karena saya ingin beradaptasi dengan lingkungan dan budaya Gouvern.”
“Manis sekali.”
“Tentu saja. Beliau orang yang pengertian.”
Selanjutnya, obrolan mereka hanya diisi dengan guyonan ringan sebelum Erica dan Matilda berpamitan pulang ke kediaman masing-masing. Leanora meminta Evangeline tinggal lebih lama untuk menemaninya berjalan-jalan di taman hydrangea. Tak banyak hydrangea yang tumbuh di musim panas. Evangeline memetik satu yang terindah kemudian menyelipkannya di sanggul. Gaun biru tua dan hydrangea berkelopak biru menyatu dengan rambut hitam Evangeline yang segelap angkasa malam.
“Kenapa Anda memilih hydrangea biru, My Lady?” Leanora memperhatikan Evangeline yang sibuk menata bunga bundar berkelopak banyak itu di tatanan sanggul. Mereka berhenti sesaat. Leanora berinisiatif membantu Evangeline dengan tangan yang tidak memegang payung.
Evangeline tersenyum berterima kasih. “Warnanya cantik sekali. Sayang sekali saya tidak memakai gaun merah muda. Padahal hydrangea merah muda mendominasi taman bunga ini.”
“Apa Anda tahu arti hydrangea biru, Lady Eva?”
Evangeline menggeleng, menatap Leanora yang berjalan selangkah di depan membimbingnya mengitari taman.
“Penolakan.”
“Ya?”
“Hydrangea biru memiliki arti yang menyedihkan. Jika Anda tidak ingin menjadi orang menyedihkan maka,” Mereka kembali mengerem langkah. Leanore berbalik, tersenyum, lalu menanggalkan hydrangea biru tadi dari rambut legam Evangeline. “Maka jangan memakainya sebagai aksesori. Saya sarankan Anda memetik hydrangea merah muda atau ungu. Itu akan membawa keberuntungan bagi hubungan percintaan kalian.”
Evangeline mencegah sahabatnya memetikkan hydrangea merah muda untuknya. Ia sudah tidak berminat lagi membahas makna-makna bunga berdasarkan warnanya. Dari dulu, Leanora sangat menggilai bunga seperti Baroness Eclise.
“Saya tidak ingin menjadi orang yang menyedihkan ataupun orang yang berbahagia,” ujarnya kemudian. Ia memutar-mutar payung di genggamannya sembari menerawang hamparan hydrangea di sekitar mereka. “Saya hanya ingin hidup dengan jalan yang saya pilih sendiri. Bahagia atau tidak, saya tidak akan menyesal karena itu pilihan saya.”
“Anda orang yang tangguh. Apakah daya tarik ini yang memikat Marquess Carnold, My Lady?”
“Saya tidak berpikir demikian. Bukankah berlebihan memuji saya tangguh?”
“Tidak. Dari dulu sampai sekarang, Anda tidak sedikitpun berubah. Anda memiliki prinsip berani yang tidak dimiliki kebanyakan lady.”
Evangeline dapat menangkap kesungguhan dalam ucapan Leanora. Ia mensejajarkan langkah dengan Leanora dan berjalan bedampingan menyusuri lautan hydrangea. Angin musim panas memunculkan bintik-bintik keringat di kening Evangeline. Lengan gaun pendek dan rok setumit yang Evangeline kenakan tak mampu menangkal gerah maupun membuat tubuhnya lebih sejuk. Evangeline dan Leanora berlindung di bawah naungan payung berhias pita dan bunga imitasi. Leanora adalah sahabat terdekatnya. Evangeline tahu akan sulit bagi gadis itu berpisah darinya. Mereka telah melalui kesulitan bersama sejak kecil. Mereka tidak akan bisa hidup tanpa satu-sama lain.
“Menjadi bunga itu menyedihkan. Saya rasa bukan hydrangea biru saja yang menyedihkan, Lady Leanore,” ungkap Evangeline, mengutarakan pendapatnya. Leanore meliriknya melalui sudut mata, membiarkan sang sahabat melanjutkan, “Semua bunga itu indah, cantik, dan memesona. Mereka punya keharuman dan kecantikan yang bervariasi. Namun, menjadi cantik dan harum tidak cukup bila hanya hidup di atas tangkai. Bunga-bunga itu akan bebas jika seseorang memetiknya, atau parahnya, ketika ia layu.”
“Anda selalu menggunakan ungkapan yang cerdas untuk mengandaikan sesuatu,” puji Leanora untuk yang ke-entah berapa kalinya. “Jadi, karena itu Anda ingin menjalani kehidupan sesuai kehendak sendiri?”
“Kurang lebih begitu.”
Ada jeda yang cukup panjang menyusup ke dalam kedamaian yang mereka rasakan. Rambut keemasan Leanora yang dikuncir rapi berayun-ayun ditiup angin musim panas. Evangeline mengamati benang-benang emas itu, warnanya mengingatkannya pada helaian Marquess Carnold.
“Saya pernah membaca kumpulan naskah dan syair dari Gouvern ketika mengunjungi perpustakaan istana. Ada sebuah pertunjukan teater tentang seorang gadis bernama Elijah. Gadis yang melambangkan kesedihan dan penderitaan,” ucap Evangeline kemudian.
Leanora menyanyikan syair Elijah yang dipelajarinya di kelas sastra. Ia bisa merasakan sentakan Evangeline di sampingnya. Cerita dan syair Elijah begitu terkenal di kalangan pujangga dan penikmat seni. “Wanita yang malang. Cintanya selama ini bertepuk sebelah tangan, namun dia tetap mencintai pria itu sampai ajal menjemput. Saya tidak mengerti kenapa dia masih mengharapkan cinta yang semu. Bukankah itu konyol, My Lady?”
“Mungkin dia tidak bisa menemukan kebahagiaan yang sama pada pria-pria yang ia temui. Bagaimana jika pria itu adalah satu-satunya bagi Elijah?”
Leanora tampak berpikir keras. Ia tidak pernah mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Ia dan tunangannya sama-sama beruntung karena saling mengasihi.
“Elijah hidup untuk menyakiti dirinya sendiri.”
“Wanita yang bodoh,” gumam Evangeline. Mereka berputar di penghujung taman. Evangeline mengulurkan tangan, menyentuh daun-daun dan helaian kelopak hydrangea yang menggelitik jemarinya. “Saya tidak mau menjadi seperti Elijah. Maksud saya, saya tidak ingin menjadi wanita menyedihkan sepertinya. Untuk apa mengejar cinta yang tidak bisa digapai? Saya bisa mendapatkannya dari pria lain yang saya pilih.”
“Kita tidak akan menjadi wanita yang menyedihkan, My Lady,” sahut Leanora yang memandang lurus ke depan. “Kita beruntung kita bukanlah Elijah. Sir Erphan dan Marquess Carnold sangat mencintai kita berdua.”
Bibir Evangeline berkedut mendengar penuturan sang sahabat. Tampaknya, Evangeline sudah tidak mampu melontarkan lebih banyak kebohongan lagi. Ia orang yang munafik, yang menaburkan bumbu kebohongan pada perkataannya sendiri. Ia tidak ingin dipandang lemah dan menyedihkan. Ia setuju bahwa Elijah adalah wanita yang bodoh, begitu pula dengan dirinya. Status calon marchioness yang melekat pada dirinya merupakan sebuah keajaiban dan keberuntungan sekali seumur hidup. Sekalipun diam-diam Evangeline harus menjadi Elijah demi mendapatkan apa yang ia inginkan, Evangeline tidak peduli. Dia akan berjalan di jalannya sendiri dan menghadapi risiko yang menanti di depan.
Asalkan Lucian bersamanya, Evangeline tidak peduli.
“Dan satu lagi, Lady Evangeline. Tidak banyak orang yang tahu tentang ini. Menurut guru sastra saya, hydrangea biru merupakan bunga favorit Elijah. Elijah suka memetik hydrangea biru untuk disematkan di rambutnya. Oleh sebab itu, saya melepas hydrangea tadi dari rambut Anda. Karena Anda bukan Elijah di kehidupan nyata.”
To be continued