28. Tanzanite

2039 Kata
“Lusa para tetua Laundrell akan berkunjung dan kau, Ansel—” Ionna tidak bisa mencermati perkataan Ibunya di ruang duduk. Pikirannya melalang-buana menyusuri dunia antah berantah. Ia menatap kosong langit biru di luar sana. Musim panas adalah waktu yang tepat menikmati terik matahari sambil membenamkan jari-jari di pasir pantai. Biasanya, Keluarga Laundrell akan berlibur ke duchy Magnolia setiap musim panas. Namun, Kakaknya adalah pria yang sibuk. Pria itu juga sering keluar-masuk medan perang sebagai senjata rahasia. Semua kenangan indah keluarga Laundrell berakhir di hari kematian Duke terdahulu. “Papa.” Gumaman itu lolos dan berhasil menolehkan kepala Ansel beserta Ibu yang membahas kunjungan rutin tetua Laundrell. “Kau mengatakan sesuatu, Ionna? Bukankah sudah kubilang jangan menginterupsi perbincangan kami!” “Tidak, sepertinya Ionna menggumamkan Papa? Apa kau ingin mengunjungi makam Ayah? Aku bisa menemanimu.” Lamunan Ionna masih belum terpecah. Detik berikutnya, tanpa sadar ia menggumamkan kata, “Bibi.” “Hei! Kau baik-baik saja?” Dan kali ini pertanyaan itu sukses meluruhkan seluruh lamunan Ionna. Gadis itu memutar kepala, menatap linglung dua manusia lain di ruangan itu. “Oh, maafkan saya.” Ia menunduk. “Silahkandilanjutkan.” Duchess Laundrell memegangi kening sambil geleng-geleng kepala. Ia menyerahkan laporan pengeluaran rumah tangga pada Ansel untuk kunjungan para tetua. “Intinya, para tetua menuntut pernikahan darimu. Jika kau tidak segera menikah, mereka akan menjodohkanmu dengan lady pilihan mereka.” “Terdengar seperti ancaman yang sama. Benar ‘kan, Ionna?” Ionna melirik ke arah lain, tidak mau ikut-ikut menyulut api Ibunya. “Sebenarnya, Ionna tidak boleh menikah lebih dulu darimu, Ansel,” ujar Duchess lalu menyesap teh, “para tetua akan marah jika mereka tahu aku sedang mempersiapkan calon untuk putriku akhir tahun ini.” “Ayolah, siapa duluan yang menikah itu tidak penting bukan, Ibu? Jangan terlalu berkutat pada aturan lama.” “Para tetua ada untuk aturan lama.” “Mereka bahkan tidak berkontribusi banyak untuk keluarga utama selain mengatur pernikahan.” Kebenaran ini diucapkan secara telak dan tepat sasaran. Untuk sesaat, Ionna memandang panah imajiner yang menancap di dahi sang ibu. Wanita itu langsung kehilangan kemampuan bicaranya dalam sekejap. “Apa aku perlu meniadakan sistem para tetua? Aku dukenya, Ibu. Bukan mereka. Kenapa Ibu mau-mau saja diatur kawanan anjing yang mencoba memburu harta kita?” “Jaga bicaramu, Ansel!” “Yeah, sayang sekali, begitulah kenyataannya. Mereka cuma sekumpulan anjing kelaparan berkedok tetua. Mereka bertindak sebagai hakim karena takut penerus Laundrell balik menyerang mereka. Kau setuju ‘kan, Ionna?” Jangan terus melempar pertanyaan maut padaku, Bodoh! Ansel terbahak menangkap makna di balik pancaran aquamarine Ionna. “Kuserahkan kunjungan mereka pada Ibu dan Ionna. Aku akan pergi sebelum mereka tiba.” “Kali ini jangan coba-coba kabur, Ansel!” sergah sang duchess memperingatkan. Manik cokelatnya menjadi setajam mata pedang. Ansel tertawa geli kemudian membaca laporan pengeluaran rumah tangga yang ditulis sang ibu. “Hanya jika mereka mengizinkanku menikah sesuai kehendakku, aku akan menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka.” “Apa kau tidak memikirkan masa depan adikmu? Dia sudah dua puluh dua tahun, Ansel. Masa depannya bisa suram—” “Ibu membiarkan Ionna menunda pernikahan karena mengincar pewaris Duke Magnolia, bukan?” Ionna ingin bertepuk tangan karena rekor baru yang Ansel ciptakan; rekor membungkam mulut egois Duchess Laundrell. “Ibu juga tidak mengkhawatikan popularitas Ionna. Jadi, jangan sangkut-pautkan masa depan Ionna dengan pernikahanku. Ibu bisa tenang. Aku pun tidak ingin melajang seumur hidup, tapi sekarang bukan waktunya.” Seketika Duchess Laundrell mengatupkan bibir. Ionna memperhatikan sang ibu yang tumben-tumbennya kalah berargumen melawan putranya. Biasanya pun dua manusia keras kepala itu akan berhenti ketika Duchess Laundrell yang memenangkannya. Tampaknya, Ansel memikirkan kata-kata Ionna dengan sangat baik, sementara sang ibu mulai lelah memaksakan ego pada kedua anaknya yang bebal. Haruskah Ionna bersyukur? Dan sebetulnya, peran apa yang Ionna mainkan di sini? Keberadaannya sama sekali tidak membantu selain menjadi pendengar adu debat Ibu dan Kakak laki-lakinya. “Nah, kita selesai membahas ini dan sekarang aku ingin mengumumkan sesuatu.” Ansel menurunkan laporan kemudian menggapai cangkir teh. Disesapnya teh beraroma buah-buahan kering sambil memusatkan atensi pada sosok sang adik. Adiknya yang cantik dan dewasa duduk di samping sang ibu dengan gaun musim panasnya yang ringan. Bandana putih terselip di antara rambut merah menyala gadis itu. “Pagi ini utusan Yang Mulia Raja menemuiku,” ungkap Ansel, meletakkan cangkir di tatakan. Senyum puas bertengger di bibirnya saat menerima tatapan penasaran Ionna. “Minggu depan parlemen akan mengadakan pesta penyambutan untuk seseorang. Yang Mulia Raja dan anggota parlemen tidak sempat menyiapkan pesta penyambutan lima tahun lalu. Jadi, kami berniat mengadakan pesta kecil-kecilan begitu orang itu kembali.” Sudah jelas siapa orang itu. Ionna berusaha keras mempertahankan wajah datarnya. Hal yang paling sulit dari yang tersulit adalah menahan diri untuk tidak bertanya sementara Ansel terus menarik-ulur perkataannya. Ionna akan menganggap dirinya sedang mendengar ancaman sang ibu tentang pernikahan dan melupakannya dalam hitungan menit. Namun, tentu saja itu adalah hal yang berbeda. Kepulangan Lucian akan menjadi berita besar di pelosok negeri dan Ionna tidak yakin apakah ia bisa mengontrol ekspresinya lebih lama lagi. Ia menggigit daging pipi sekuat tenaga hingga nyeri menjalari otot-otot wajahnya. Senyuman menyebalkan Ansel membuat Ionna ingin menghapus keangkuhan dari wajah pria itu. Dia menang sekarang. “Yang Mulia Raja telah menurunkan surat perintah resmi dan mengirimnya ke Andasia.” Lagi-lagi Ansel menggantungkan kalimatnya, mempermainkan kesabaran Ionna. “Penyaluran bantuan Gouvern ke Andasia sukses besar berkat Lucian—” Akhirnya, Kakaknya yang bodoh itu menyebut nama Lucian juga. “—dia akan kembali menggunakan kapal Viscount Corton minggu depan.” “Dan kau akan menghadiri pesta itu?” tanya Duchess yang dijawab anggukan bersemangat Ansel. “Tentu saja, Bu. Sahabatku kembali setelah sekian tahun dan aku harus menjadi orang pertama yang menyambutnya. Aku akan pergi ke ibu kota lusa bersama Philips. Ionna, kau bantu Ibu mengerjakan tugas ganda selagi aku tidak ada. Jawab tidak pada semua undangan pesta, kau mengerti?” “Ya, Kakak.” “Bagus.” Ansel bangkit sambil menepuk-nepuk rompinya yang sedikit kusut. Melakukan peregangan sejenak, ia mengedipkan sebelah mata kemudian menunjuk ke arah jendela. “Cuacanya sangat cerah. Kudengar kau tidak memiliki kegiatan pagi ini. Nah, apa kau minum teh bersamaku di gazebo, Adikku?” --- Bila diperhatikan lebih dekat, wajar saja Ansel digilai kaum wanita. Para lady debutan, janda, para wanita simpanan di klub, hingga gadis-gadis rakyat biasa, tiada yang sanggup memalingkan wajah saat Duke Laundrell lewat di depan mereka. Ionna mengamati Kakaknya lekat-lekat. Mengingat sejak kapan Kakaknya menjadi setampan dan sejantan ini. Ah, sejak dulu Ansel memang sudah terkenal karena ketampanannya. Tidak seperti Lucian yang memiliki ketampanan tegas dan tajam, Kakaknya lebih terkesan indah. Ansel memiliki ketampanan yang lembut, ciri khas seorang Laundrell. Lima tahun lalu, Kakaknya lebih ramping dari Lucian yang kekar, namun kini Kakaknya bahkan terlihat dua tiga kali lebih maskulin. Kelembutan itu terpancar dari kulit putihnya yang bersih, sisi rahang yang lurus, dagu mungil, hidung mancung, bibir tipis, dan mata bulatnya yang memesona. Jika saja rambutnya tidak sehitam arang dan warna matanya tidak memancarkan hasat membunuh setiap saat, orang-orang pasti akan mengatainya cantik. Tapi, Ionna tahu Ansel akan membenci panggilan itu. “Kakak.” Ansel tersenyum mendengar suara adiknya memanggil. Senyuman itulah yang memikat dan mematikan para wanita. Pria ganas di padang pasir ini sangat cocok dengan atmosfer musim panas. “Jujurlah padaku.” Ionna menelan potongan cheesecake yang ia kunyah dengan mata menyipit. “Kenapa kau tidak menikah selama ini.” Ia menemukan pupil Kakaknya yang terperanjat membesar. “Apa kau menyembunyikan seorang mistress? Kau menjalani affair dengan seseorang?” Ansel terbatuk-batuk dan segera menyambar air putih yang disodorkan pelayan. “Hah, menyembunyikan seorang mistress? Menajalani affair?” Sejenak Ansel lupa adiknya bukan lagi anak kecil berusia lima tahun yang suka memanjat pohon. Ia terkejut menyadari seberapa matang adiknya tumbuh. Seperti baru kemarin rasanya Ansel membacakan dongeng pengantar tidur dan menjawab pertanyaan Ionna tentang pernikahan. Ansel tidak menyangka suatu saat Ionna akan menanyakan hal semacam ini kepadanya, secara blak-blakkan dan dengan tampang sedatar tembok. Ke mana perginya adik perempuannya yang imut itu? “Ekhm.” Berdeham sekali, jari Ansel bergerak menyuruh para pelayan pergi. “Ionna, lain kali jangan membicarakan topik ini dengan orang lain, terutama dengan para jentelmen. Kau akan kehilangan kehormatanmu sebagai putri Laundrell.” “Aku bertanya padamu karena kau Kakakku.” Ansel merasakan kehangatan perlahan merayapi relung hatinya. Apa Ionna baru saja mengakui sesuatu yang jarang ia akui? Benar. Semenjak Ayah mereka meninggal, Ionna tidak pernah lagi berlarian meneriakkan nama Ansel dengan sebutan kakak. Bahkan sebutan itu semakin jarang terdengar sejak Ionna lulus dari Sanspearl. Gadis itu selalu memanggilnya dengan kata kau kau dan kau di setiap percakapan mereka. Ansel menghela napas panjang, mengiris brownie almond dalam potongan kecil. “Aku belum bisa melupakan seseorang,” akunya jujur. Ia bisa melihat keraguan adiknya yang berhenti memakan kue keju. “Kami bertemu delapan tahun lalu dan tidak berhubungan lagi sejak saat itu. Dia meninggalkan kesan membekas yang sulit dilupakan.” “Kalian cuma bertemu sekali?” tanya Ionna tidak percaya. “Dalam pertemuan sesingkat itu, apa yang kalian lakukan sampai-sampai kau tidak bisa melupakannya?” “Kami berdansa.” Ansel mengulum senyum. Namun entah mengapa, senyum itu terlihat menyedihkan. “Kami berdansa dan langsung berpisah setelahnya. Bagimu ini mungkin terdengar konyol, tapi kurasa aku memahami arti cinta pertama dan cinta pada pandangan pertama. Aku merasakannya di saat yang bersamaan, Ionna.” Ionna memandang Ansel dari balik bibir cangkir yang menutup separuh sosoknya di seberang meja. Ia pun merasakan hal yang sama saat melihat Lucian untuk kali pertamanya. Ia tidak akan menertawakan perasaan kakaknya. Ia tidak akan mengatai kakaknya bodoh, i***t, atau apalah. Karena jika Ionna melakukannya, itu berarti ia sedang menertawakan dirinya sendiri. “Lalu, di mana dia? Kau bisa melamarnya dan menikahinya. Kenapa diam saja dan bersikap seperti seorang pengecut?” “Aku tidak bisa, Ionna. Sekalipun aku ingin, aku tidak bisa.” Jawaban yang rancu. Ionna menuntut kejelasan Kakaknya, benar-benar tidak habis pikir kenapa sang kakak tidak memanfaatkan ketampanan dan kekuasaan miliknya untuk merayu wanita itu. Bukankah lebih mudah menikah dengan orang yang ia cintai? Ansel jadi tidak perlu terus-menerus kabur dari para tetua dan menolak setiap rekomendasi calon istri. Apa yang sesungguhnya pria itu inginkan? Dan detik itu. Untuk kali pertamanya, Ionna mendapati sinar dalam tanzanite Ansel meredup. Ionna menelan ludah, bertanya-tanya ke mana hilangnya cahaya keunguan yang biasa menghiasi biru gelap sang kakak. Mata Ansel tidak meredup seolah mereka sudah mati. Mereka hanya meredupkan kilat mengerikan, menggantinya dengan sepasang iris biru gelap yang utuh. Ionna merasa sedang berhadapan dengan sisi lain Kakaknya yang lebih lembut, tulus, dan— apa itu? Luka? Ansel pun terluka karena cinta? Ionna berkedip cepat untuk memastikan kebenaran pengelihatannya, sebelum sinar keunguan yang samar kembali hinggap, dan menguarkan sisi gelap Ansel yang biasa Ionna lihat. Ba-bagaimana itu bisa terjadi? Apakah ini yang dinamakan keajaiban mata terkutuk? Lalu, kenapa sekilas sinar keunguan tadi meninggalkan manik biru Kakaknya? Terlalu banyak pertanyaan yang berkelebat dalam benak Ionna selagi ia mencari jawaban di antara ribuan pertanyaan. Ansel memiringkan kepala menatap adiknya yang tampak resah. Ia memukul cangkir dengan garpu sehingga dentingannya merenggut perhatian sang adik. “Ada apa, Ionna? Kau baik-baik saja? “Oh, ah, ya.” Ionna menyelipkan rambut yang menjuntai di belakang telinga. Mendadak suasana berubah canggung. “O-omong-omong, Marquess Carnold, apa beliau—” Ia menahan napas ketika membawa Lucian dalam pengalihan topik. “A-apa beliau mengirim surat padamu bulan ini? Ba-bagaimana keadaannya?” “Kupikir kau akan bertanya lebih jauh tentang gadis yang sudah meninggal.” Ionna tersedak teh yang ia minum. Apa? Apa cinta pertama Ansel sudah meninggal? Kata meninggal diucapkan seolah itu bukan apa-apa. Apa Ansel tidak masalah hidup dalam bayang-bayang seseorang yang telah tiada? Ansel tergelak kemudian mencondongkan tubuh untuk menghapus krim yang belepotan di sudut bibir Ionna. “Lucian baik-baik saja. Aku menerima suratnya kemarin. Dia hanya menanyakan kabar kita dan melaporkan penyelidikan di Andasia.” “Penyelidikan?” “Ma-maksudku—” Sialan. Inilah kebiasaan buruk Ansel, selalu tak sengaja melanturkan rahasia di depan Ionna. Apa Ionna adalah kelemahannya? Beruntung adiknya itu tidak mau memperpanjang perbincangan mereka. Karena saat Annie Jam muncul, Ionna pun bangkit lalu mengucapkan selamat tinggal pada Ansel. Ya Tuhan. Sepertinya Ansel harus ekstra menjaga mulut ketika berhadapan dengan adik perempuannya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN