27. Elijah

2209 Kata
Di kereta, Lucian terdiam seribu bahasa. Evangeline sudah terbiasa dengan sikap diam tunangannya ini, namun ada sesuatu yang mengusik hatinya. Ya. Pernyataan tiba-tiba Lucian di penghujung dansa. Bagaimana bisa pria itu langsung memutuskan mereka akan pergi minggu depan? Bukan waktu yang singkat menyiapkan semuanya dalam sekejap dan memberi orang tuanya pengertian. Countess mungkin tidak mempermasalahkan keputusan mendadak Lucian, tetapi, bagaimana dengan sang count, ayahnya? Evangeline melirik Lucian yang sibuk menerawang pemandangan luar kereta. Mereka pulang secara terpisah dari pasangan Count dan Countess menaiki kereta yang berbeda. Evangeline ingin tahu alasan Lucian menyatakan hal yang seharusnya dirundingkan terlebih dahulu. Tunangannya ini bukanlah orang yang gegabah. “Sampai kapan kau akan memandangiku, Evangeline?” Evangeline menaikkan pandang dan bertemu dengan netra hijau milik Lucian. Pria itu kini menatapnya, dengan wajah sedatar tembok dan bibir tipis terkatup rapat. Evangeline teringat akan ciuman mereka di perpustakaan tempo hari. Dalam pengaruh alkohol, ia berhasil mencuri ciuman dari sang marquess. “Aku menunggu jawabanmu.” “Maksudmu, pertanyaan di pesta dansa?” “Betul.” Lucian mengalihkan pandang, lagi. Objek-objek di luar kereta tampaknya lebih menarik daripada gadis di sampingnya. “Aku akan menuntaskan tugasku minggu depan. Aku sudah terlalu lama meninggalkan tanggung jawab dan properti.” “Jadi, kau benar-benar akan membawaku?” “Kau sendiri yang meminta.” Evangeline merasa ditodong dengan sebuah pedang. “Ibumu butuh kejelasan, kau ingin ke Gouvern, dan gelarku memerlukan seorang Marchioness. Sepertinya aku sudah menjelaskannya padamu malam itu.” “Tentang kebutuhan praktis,” sinis Evangeline lalu menyandarkan punggung ke kursi kereta yang lembut. “Lalu, bagaimana tentang seorang tunangan dari kerajaan seberang? Lucian, Gouvern dan orang-orangmu tidak akan menerimaku. Kita belum menikah.” “Jika kau ingin menikah, aku akan menikahimu sekarang juga. Tapi, kau tidak memintaku menikahimu, Lady Hernsberg.” “Dan kau pikir aku akan senang hidup dalam kebohongan? Kau memperlakukanku seperti mainan, Lucian Carnold.” “Aku tidak mau berdebat. Aku lelah.” Evangeline memberengut. Memang dirinya yang membuat segalanya menjadi rumit. Ia meminta Lucian membawanya ke Gouvern lalu berkata bahwa orang-orang di sana tidak akan menerimanya tanpa ikatan pernikahan. Lingkungan kelas atas Gouvern sulit menerima pendatang baru seperti Eva. Tanpa pernikahan, maka hubungan pertunangan mereka dianggap rapuh. Seorang pendatang mudah dijatuhkan dengan kekuatan dan kekuasaan bangsawan setempat. Apalagi jika pendatang itu merupakan seorang lady. Bangsawan Gouvern melihat semuanya dari sudut pandang objektif, tak peduli pendatang itu merupakan tunangan seorang duke ataupun marquess. Sekali sendirian, tetaplah sendirian. Ia yang berasal dari kerajaan sekecil Andasia pasti akan dipandang remeh. Aku akan menerima risikonya, asalkan Lucian tetap bersamaku, ucap Evangeline dalam hati. Kereta kuda berderak keras saat melewati jalan bergeronjal. Evangeline berpegangan erat pada lengan Lucian yang kokoh. Ia melepaskannya begitu guncangan kereta berakhir. “Aku akan berbicara pada Ayahmu malam ini,” kata Lucian kemudian. Evangeline mengangguk tanpa menatap pria yang juga tak menatapnya. “Aku cuma penasaran kenapa kau memutuskan kembali padahal surat perintah Raja Gouvern belum diturunkan.” “Surat perintah kuterima pagi ini melalui merpati pos.” Otomatis Evangeline menegakkan punggung. Jadi, itulah mengapa Lucian terburu-buru pergi? “Masa tugasku di Andasia dan Greenpald berakhir minggu depan. Masalah akan muncul jika aku tinggal di sini lebih lama.” “Masalah? Apa ini berhubungan dengan Ayahmu?” tanya Evangeline. Lucian pernah bercerita bahwa gelar yang ia dapatkan merupakan peralihan dari Marquess terdahulu yang masih hidup. Bukan hal mustahil Marquess terdahulu kembali untuk menghancurkan jerih payah Lucian selama ini. Walau tidak bisa mengambilnya, pria itu masih bisa merebut beberapa properti dengan sisa kuasa yang ia miliki. “Ayahku tidak ada urusannya dengan masalah yang akan muncul. Dia tidak akan berani menginjakkan kaki di properti keluarga Carnold,” jawab Lucian tak acuh. Lima tahun lalu, Jacob menyuratinya dan melaporkan Marcus, sang ayah, tiba di kediaman Carnold seminggu setelah kepergiannya. Pria itu tidak melakukan apapun padahal ia bisa membakar dokumen-dokumen penting di ruang kerja putranya. Nyatanya, Marcus hanya mengambil beberapa barang dan pergi pagi-pagi sekali. Ancaman yang disampaikan Jacob dan Komandan Hailey pasti memengaruhinya. “Jika bukan itu, lalu masalahnya apa, Luce? Apa ini ada hubungannya denganku dan keluargaku?” Benar. Jika Ayahmu terbukti bersalah malam ini, maka namanya akan tercatat dalam daftar kriminal internasional Kerajaan Gouvern. Lucian ingin mengangguk dan mengatakan itu alih-alih menjawab, “Kita hampir sampai, Evangeline.” Evangeline menoleh ke jendela, kediaman Hernsberg yang sederhana terlihat dari kejauhan. Gadis itu tersenyum sembari menempelkan tangan ke permukaan kaca. Manik violetnya menerawang nun jauh di sana. “Tak terasa sudah lima tahun kau tinggal bersama kami. Tampaknya, minggu depan giliranku yang harus mengucapkan selamat tinggal pada rumah dan Ayah Ibu.” --- Di tengah malam, Lucian bangkit dari kasur dan menanggalkan lembaran laporan penyelidikan ke meja. Ia membuka pintu kamarnya yang diketuk pelan, mendapati Robert Parkins, utusannya yang gesit, berdiri dengan wajah lelah. “Bolehkah saya masuk?” Lucian mundur selangkah untuk memberi Robert akses masuk. Mereka duduk berhadapan di kursi dengan Robert merentangkan gulungan yang ia bawa di meja. “Sudah saya bilang, tiada gunanya memeriksa, My Lord,” keluh Robert sambil menjelaskan satu-persatu tempat di aula dapur yang ia kunjungi. “Ah, sebenarnya, gudang penyimpanan itu ada di bawah lantai kayu seperti yang Anda katakan. Tepatnya, di dekat ruang cuci yang terhubung dengan ruang makan para pelayan,” sambungnya lebih lanjut. Lucian mengamati peta bangunan yang Robert bawa dengan saksama. Struktur bangunan ini tiga kali lebih sederhana dari bangunan kediaman para count di Gouvern. “Jadi, apa kau masuk ke ruang bawah tanah itu?” Robert mengangguk, mengibaskan pakaiannya yang basah. “Hugh, yang menyusahkan adalah mencari kuncinya. Di rumah ini, yang memegang kunci gudang penyimpanan itu adalah sang lady, Count, dan kepala pelayan. Saya hampir mati saat menyelinap di kamar kepala pelayan. Mrs. Hamston yang menyebalkan memasang banyak perangkap di kamarnya.” “Teruskan.” “Dan huft, yang terakhir.” Robert mengetuk-ngetuk bulatan yang menandai jalan masuk ke gudang penyimpanan anggur. “Saya mendapat informasi dari pelayan pria yang saya suap, My Lord. Count sengaja memindah gudang penyimpanan anggur karena dulu seorang pelayan di kediaman ini tertangkap menyembunyikan alkohol terlarang di sana. Ruang kerja yang Anda pakai sekarang adalah tempat penyimpanan anggur sebelumnya. Count menyulap tempat itu menjadi ruang elegan bergaya Shire,” jelas Robert mengakhiri penjelasan lebarnya. Lucian mengernyit. Pantas saja di awal kedatangannya samar-samar ia mencium aroma alkohol di ruangan itu. Ia pikir ruang kerjanya sekarang adalah tempat Count minum-minum bersama para tamu. Ternyata, bekas gudang penyimpanan alkohol. “Sebenarnya Count merasa tidak enak menyediakan ruang kerja yang tidak layak untuk Anda. Rumah ini memang tidak memiliki banyak ruangan kosong yang tersisa. Begitulah kira-kira kata pelayan yang saya suap. Ada lagi yang mengganjal di pikiran Anda, My Lord?” Robert sontak berpaling dan bersiul ringan menghindari lirikan jengkel Lucian. Menaruh kecurigaan sebelum bisa membuktikannya bukanlah hal yang salah. Marquessnya ini terbiasa menyelidiki suatu kasus sampai ke akar-akarnya. Namun, melakukan pemeriksaan ulang terhadap sesuatu yang sudah jelas jawabannya merupakan sebuah kesia-siaan. “Apa ini bisa menghilangkan keraguan Anda?” tekan Robert sekali lagi. Ia bimbang melihat wajah tidak puas sang marquess. “Tidak.” Jawaban tersebut meluncur ringan dari mulut Lucian. Jawaban yang menaburkan mimpi buruk dalam angan-angan Robert. “My Lord!” sentak Robert tanpa sadar. Lucian menyilangkan kaki santai. “Kau yakin memeriksanya dengan teliti?” “Tentu saja!” “Ada yang tidak beres, Robert.” Robert mendengus. Ya Tuhan, apa lagi? Telunjuk Lucian mengetuk-ngetuk dagu, berpikir sambil mengamati peta struktur bangunan. “Kita sudah membuktikan Greenpald bersih dari alkohol terlarang. Namun, apa yang kau temukan tadi?” Robert mengerling ke kiri, mengingat-ngingat apa yang ia katakan semenit lalu. “Pelayan yang saya suap?” Ia terlonjak dan berdiri dari tempatnya. “Ah! Pelayan yang menyembunyikan alkohol terlarang!” Ia memelankan suara takut-takut seseorang mendengarnya. Tak berselang lama, wajahnya kembali dihiasi ekspresi masam. “My Lord, saya ingin menikah. Saya tidak bisa hidup tanpa kekasih saya. ” “Kita pulang minggu depan,” sahut Lucian datar. Pria itu fokus membaca peta struktur bangunan kediaman Hernsberg. “Ya?” Otak Robert agaknya butuh waktu lama memproses letupan kegembiraan di kepalanya. “Kita akan pulang minggu depan, Robert Parkins.” “Ta-tapi, bagaimana dengan penyelidikannya?” Meski merasa lega, di sisi lain Robert mencemaskan fakta baru yang ia temukan. “Kalau begitu, tinggallah di sini. Kuserahkan semua penyelidikannya kepadamu.” Lucian mendongak dan menatap utusannya yang jatuh terduduk di sofa. “Aku telah menerima surat perintah dan terlanjur menjanjikan kepulangan ini pada Lady Hernsberg. Tiada yang bisa kulakukan untuk mengulur waktu.” “Anda punya rencana lain?” tanya Robert, was-was sekaligus senang. Ia menahan desakannya untuk menulis surat pada sang kekasih dan memberitahukan kabar kepulangan mereka. Lucian menyugar rambut pirangnya ke belakang. Ia menggosok dagu, membenarkan ucapan Evangeline di tengah dansa. Sekitar seminggu ia tidak bercukur. “Suap pelayan itu dalam jumlah besar dan katakan padanya bahwa Marquess Carnold telah membelikannya rumah di Gouvern. Dia bisa lari seandainya tertangkap dan dituduh sebagai pengkhianat.” Lucian mengambil sebuah nota di laci nakas, menuliskan uang dalam jumlah besar, lalu membubuhkan tanda tangan di sana. Ia menyerahkan kertas itu pada Robert. “Buat dia berada di pihak kita dan curi semua informasi penting darinya. Aku yakin pelayan-pelayan di sini mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui. Dan caranya adalah membuka mulut pelayan itu dengan uang.” Robert mengangguk mantap. Ia melompat dari kursi dan memasang hormat kesatria. Tingkah lucunya ini membuat otot-otot bibir Lucian tertarik membentuk senyuman miring. “Aye, akan saya laksanakan, My Lord!” Sepeninggal Robert, Lucian menyalakan pipa dan menyelipkannya di celah mulut. Pada akhirnya, ia melakukan cara kotor seperti yang dilakukan para anggota parlemen lain. Menyedihkan. --- “Jadi, sejak kapan Annie?” Segera setelah selesai makan malam dan kembali ke kamarnya, Ionna menyerang Annie dengan pernyataan si nenek peramal. Annie sudah siap seandainya Ionna menghukum atau paling tidak mengomelinya. Ia dan Ionna telah berjanji untuk saling berbagi rahasia satu-sama lain. Namun, Annie terlalu malu mengakui perasaanya di depan Ionna. Terlebih, mengakui bahwa ini adalah cinta pada pandangan pertama—rasanya Annie ingin mengubur diri hidup-hidup. “Sejak Sir Raphael bergabung dalam kesatria keluarga Duke, My Lady.” Ionna membola. Seketika menghentikan acara baca dan menghitung tahun-tahun yang telah berlalu. Raphael bergabung setahun sebelum ia resmi menjadi kesatria pribadi Ionna. Itu artinya, sudah lebih dari enam tahun Annie merahasiakan hal itu darinya! Wajah Ionna merah padam karena kesal. “Selama itu? Apa sebenarnya kalian berkencan di belakangku?” Annie menggeleng panik. “Ti-tidak! Sungguh tidak!” “Lantas?” “I-itu adalah cinta pada pandangan pertama, My Lady!” seru Annie tak tahan dengan cecaran pertanyaan Ionna. Ia mengepalkan tangan meremas lipatan rok, memejamkan mata menghindari tatapan mengintimidasi sang lady. “Kau pun bisa merasakan cinta pada pandangan pertama?” Annie mengangguk patah-patah. Kali ini pipi dan kulit lehernya yang semerah kepiting rebus. “Kenapa kau menyukainya?” Pertanyaan itu hampir membuat Annie mati berdiri. “Saat kali pertama saya melihat Sir Raphael berlatih pedang, saya rasa dia sangat tampan,” jelas gadis pirang itu, memainkan roknya gugup. “Sir Raphael bersikap baik kepada semua gadis karena terbiasa dengan saudara-saudara perempuannya. Saya jadi sulit mendekatinya tiap kali pelayan wanita mengerumuninya di lapangan latih.” Ah, Ionna tahu rasa terbakar itu. Ketika Lucian menebar senyum di depan para lady debutan, ia merasa jantungnya dicabik-cabik. Tanpa ditanya, Annie pun melanjutkan, “Kami tidak memiliki kesempatan bertemu selain mendampingi Anda. Para pelayan wanita seringkali mengirim keranjang buah, makanan, dan handuk kering Sir Raphael selesai latihan. Saya tidak punya kepercayaan diri melakukan hal yang sama.” “Ambillah cuti sehari untuk besok.” Ionna menutup buku yang ia baca lalu melirik jam di atas perapian. “Aku akan mengutus Sir Raphael membeli sesuatu di pasar kota dan temani dia, Annie. Habiskan waktu bersamanya selagi bisa.” “Ta-tapi,” Annie kehilangan suara dan akal sehatnya. “Tapi, bagaimana dengan Anda? Siapa yang akan melayani Anda?” “Ini sehari, bukan setahun.” Ia menyuruh pelayan pribadinya itu menyalakan lilin aromaterapi untuk menemani tidur. “Berhenti memperlakukanku seperti Ionna Laundrell tujuh belas tahun. Aku sudah dua puluh dua tahun, sangat dewasa untuk mengurus diri sendiri dan memahami perasaan orang kasmaran. Pelayan di rumah ini juga ada ratusan.” Annie membersitkan hidung, terharu. Ia ingin memeluk Nona Mudanya, tetapi gadis itu pasti merasa lelah seharian mengelilingi pasar kota. “Terima kasih, My Lady! Sungguh terima kasih.” “Ya, pergilah.” Ionna menatap punggung Annie yang menghilang di balik pintu. Semenit dua menit, ia termenung memandang pintu sebelum beringsut ke dalam selimut. Elijah. Teater yang Ionna tonton tadi siang meninggalkan kesan menyesakkan dalam d**a. Gadis malang yang menderita karena tidak ditakdirkan hidup bersama kekasihnya. Kekasih Elijah muncul membawa gadis lain dan mengumumkan pernikahan mereka. Hanya kesedihan, air mata, dan kesengsaraan yang Ionna rasakan di sepanjang teater. Kemudian, perkataan nenek peramal tentang benang merahnya dan Lucian— Ionna mencengkeram gaun tidur, menekan dadanya yang terasa perih. Ia menggigit bibir mencegah isakan keluar. Tinggal setengah tahun lagi sebelum Ibunya memutuskan siapa pria yang akan ia nikahi. Ionna menutup matanya yang bocor dengan lengan dan terisak tanpa suara di dalam kamar. “Aku bukan Elijah. Benang merah kami tidak mungkin terputus begitu saja. My Lord, kapan Anda kembali?” To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN