Ionna. Ionna tidak ingin berharap lebih. Ionna tidak ingin apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan hanyalah mimpi. Kehadiran Lucian membuatnya takut bila ini semua hanyalah ilusi. Bagaimana cara pria itu memanggilnya, pastilah tak lebih dari sekadar angan-angan belaka. Tetapi, kehangatan yang perlahan mengusir dingin di tubuhnya menyadarkan Ionna bahwa pria yang merengkuhnya itu benar-benar Lucian. “My Lady.” Lalu semuanya kembali seperti semula. Momen singkat itu hanya berlangsung beberapa saat sebelum pelukan Lucian mengendur, dan Ionna menurunkan tangannya dari punggung pria itu. Ionna mengedipkan mata untuk memfokuskan pandangannya. Pengelihatannya dipenuhi kunang-kunang, persis seperti lentera terbang di angkasa gelap. Keringat dingin berjatuhan dari pelipisnya, sementara rungunya

