Efan buka mata perlahan begitu merasakan guncangan kecil di kaki.
"Tuan muda."
Efan melihat sopir menatapnya dari kaca tengah mobil. "Sudah sampai, kenapa tidak dibangunkan?" gumamnya.
"Kami sudah berusaha bangunkan Anda, tapi tidak bangun... malah Anda bangun karena nona gerak."
"Gerak?" Efan jadi bingung dan berusaha mencerna maksud sopir.
Sopir melirik Yumi yang sudah berbaring di paha Efan. "Kami bermaksud biarkan Anda istirahat satu jam lagi, ternyata nona juga ketiduran."
"Kenapa dia ada di sini? Ini.. juga bukan paviliun."
"Tuan besar menyuruh saya bawa Anda ke rumah utama untuk sementara, lalu nona... kami minta tolong bangunkan Anda."
Efan membelai rambut Yumi yang halus. "Jadi, bagaimana caranya aku bangunkan dia?"
"Mengguncangnya? Kepala pelayan dan dokter menunggu Anda di luar."
Efan menghela napas panjang, lalu mengguncang pelan tubuh Yumi. "Yumi," panggilnya dengan lembut.
Yumi buka mata, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah pria tampan dengan hidung yang bisa dibanggakan dan pastinya memperbaiki keturunan. "Pria tampan."
"Aku memang tampan."
Yumi masih berusaha mencerna situasi setelah bangun tidur. "Efan?"
"Ya?"
Setelah menyadari siapa yang bicara, Yumi segera bangun dengan panik. "Maaf, aku tidak bermaksud tidur di sana."
"Nyaman bukan?"
"Hah?" Yumi menatap Efan dengan tatapan bingung.
"Pahaku bisa membuat kau tidur nyenyak."
Tatapan Yumi berubah menjadi kesal. "Aku hanya ketiduran dan tidak sengaja."
Efan tertawa kecil lalu meringis, lupa punya luka di kaki dan tangan.
Yumi melirik paha Efan yang sempat dijadikan bantal. "Aku minta maaf, kena luka kau?"
"Tidak, untung kau tidak tidur di sisi satunya."
Yumi merasa bersalah. "Maaf."
"Tidak perlu minta maaf, kembalilah ke kamar."
"Efan."
"Hm?" Efan membuka pintu mobil, sopir bergegas keluar, dokter mendorong kursi roda di dekat pintu.
Yumi hendak mengatakan sesuatu, lalu terdiam dan menggeleng. "Tidak, semoga cepat sembuh."
Efan melihat Yumi buka pintu mobil di sisi lain, kepala pelayan terlihat mendekati mantan tunangannya.
***
"Malam mingguuuu... akhirnya aku bisa tenang dan tidur di rumah orang kaya, aku benar-benar tidak percaya dan selama ini tidak berani bermimpi tidur di rumah orang kaya." Vera menggenggam erat kedua tangannya, melihat kamar Yumi yang besar. "Ah, kapan aku punya kamar seluas ini?"
Vio menghela napas panjang. "Berhenti mengganggu orang masuk, nanti jodoh kau terhalang."
Vera menyingkir, biarkan Vio dan Ayumi lewat. "Uwaa.. apa ini adik kecil murid kau? Cantik sekali."
Ayumi menunduk malu. "Jangan bicara omong kosong, disantet dukun nanti."
Vera menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. "Kenapa jadi santet? Aku bicara salah?"
Yumi tertawa. "Dia malu."
"Oh." Vera mengangguk paham. "Adik kecil, kita akan bersenang-senang malam ini."
Ayumi mengangguk kecil. "Ya, aku juga akan menikmatinya."
Sebelum masuk dan menutup pintu, Yumi melihat Refan berdiri tidak jauh, tidak berniat menyapa atau mendekat. Aneh sekali. Batinnya.
"Ada apa?" tanya Vio yang melihat Yumi menutup pintu sambil mengerutkan kening.
Yumi menggeleng dan tersenyum. "Tidak."
"Di luar sepertinya sibuk, tidak masalahkah ibu di sini bersama kami?" tanya Ayumi.
"Paviliun kedatangan banyak tamu, kita tidak bisa ganggu mereka," jawab Yumi dengan santai. "Malam ini kita bersenang-senang."
"Yah, banyak orang sombong di sana, aku tidak tertarik menyapa mereka."
Yumi mengerutkan kening. "Mereka menyentuh kalian?"
"Tidak berani sepertinya, kami bersama kepala pelayan, sepertinya mereka menghargai kepala pelayan. Yah, meskipun kita bisa mendengar ucapan pedas dan lirikan sinis." Vera mengangkat kedua bahu dengan santai.
Yumi tetap tidak suka tamu Efan mengganggu tamunya, meskipun ada kepala pelayan. "Kalian tamuku, mereka tidak boleh bersikap tidak sopan."
"Ya, ya kami paham." Vera melambaikan tangan dengan santai. "Ngomong-ngomong, ceritakan pada kami kenapa kau bisa kembali pada mantan tunangan?"
Ayumi terkikik. "Beritanya sempat heboh di sekolah, belum genap satu bulan sudah kembali dan terlihat jemput bu guru di sekolah."
Wajah Yumi memerah. "Kebetulan kami bertemu, selain itu dia juga menarik aku masuk ke dalam mobil, kalau aku berontak, bisa jadi gosip tidak menyenangkan."
"Buat apa memikirkan orang lain kalau kalian yang jalani, mereka hanya iri pada kau yang bisa mendekati anak kepala yayasan, selain itu Rylee juga bangsawan eropa yang diakui, meski menetap di Indonesia," ujar Vio sambil melipat kedua tangan di d**a. "Mana lagi ada kesempatan seperti itu?"
TOK TOK TOK
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Yumi buka pintu dan melihat kepala pelayan berdiri dengan wajah cemas.
"Nona."
"Ada apa kepala pelayan?"
"Ah, Anda tahu teman-teman tuan sudah datang?"
Yumi mengangguk kecil.
"Tuan muda sedang istirahat dan merasa tidurnya terganggu, beliau ingin tidur tapi juga tidak mau mengganggu teman-temannya."
Yumi menghela napas panjang. "Kenapa dia jadi menyusahkan diri sendiri?"
"Rencana menginap dan pesta sudah direncanakan jauh hari, tuan hanya tidak ingin mengacau."
"Lalu?"
"Bisakah Anda ke paviliun sekarang?" Kepala pelayan melirik teman-teman Yumi yang sedang duduk di lantai sambil menggerakkan tangan di dalam tas mereka, sepertinya juga menguping percakapan mereka.
"Kepala pelayan, aku bukan tunangan Efan lagi. Apa pun yang dia lakukan sekarang, sudah bukan urusanku lagi."
"Maslahnya, banyak wanita yang ingin tidur dengan tuan muda. Beliau sekarang tidak ingin diganggu."
"Efan sendiri yang minta?"
Kepala pelayan terlihat ragu. "Tidak, ini inisiatif saya."
"Kalau begitu, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Yumi hendak menutup pintu.
Kepala pelayan menahan dengan satu kaki. "Tuan muda sedang sakit, tidak ada yang mengurus beliau."
"Ada dokter."
"Harus ada yang bisa mendampingi beliau selama pesta berlangsung."
"Kau bisa cari pelayan lain."
Kepala pelayan tidak kehabisan akal. "Nona, Anda tahu alasan tuan terluka hari ini?"
"Dia polisi, pekerjaan yang punya banyak resiko, wajar terluka. Bukan tanggung jawabku juga," balas Yumi.
"Beliau mengejar Jake dan kawanannya demi Anda."
Yumi berhenti menutup pintu, menatap kepala pelayan dengan bingung. "Kenapa dia ikut campur masalahku?"
"Nona, tuan bukannya tidak peduli pada Anda. Beliau hanya terlalu sibuk pada pekerjaan, selain itu... beliau juga selalu peduli pada Anda meskipun ucapannya selalu pedas dan kadang tidak peduli."
"Tidak perlu bicarakan perilakunya, mendengar saja buat aku kesal."
"Nona, tuan muda memang mengejar Jake demi melindungi Anda. Tidak bisakah Anda bantu sedikit saja?"
"Dia bantu tanpa sepengetahuanku, dan sekarang mengejarku untuk balas budi?"
Vio dan Vera jalan mendekati Yumi.
"Kepala pelayan, Yumi jaga Efan sampai kapan?" tanya Vera.
"Sampai pesta selesai hari ini, malamnya Anda bisa kembali."
"Tidak ad.."
Vera menghentikan ucapan Vio. "Kita tidak perlu ikut campur masalah Yumi, tapi sebaiknya memang Yumi jaga Efan sementara."
Yumi balik badan, menatap tidak percaya Vio. "Aku sudah tidak punya hubungan apa pun dengannya."