"Kau menembak gedung tanpa memikirkan sekitar, apa yang sudah kau pikirkan?"
Setelah mengeluarkan dua peluru di tangan dan kaki oleh tim medis, Efan segera menemui atasannya yang murka.
"Kau tahu, masyarakat marah, mereka menganggap kita sudah keterlaluan."
"Kita menangkap tersangka, sekelompok tersangka, saya kira masyarakat sudah paham."
Atasan Efan memukul meja dengan keras.
Efan tidak terkejut, dia selalu menghadapi kebiasaan ini di rumah. Namun, tidak untuk empat bawahan Efan yang berdiri di belakang kursi rodanya.
"Kita sudah rugi senjata."
"Masalah senjata, Anda bisa tinggal buat berapa kerugiannya, saya yang tanggung."
Atasan Efan tidak bisa berkata-kata. "Kadang aku bingung, kau tampan dan juga kaya, bagaimana bisa menjadi polisi yang gajinya tidak seberapa?"
Efan menaikkan sudut bibir. "Yang kaya kakek saya, kita juga tidak tahu masa depan. Setidaknya, saya ada uang pensiun untuk masa tua."
"Efan." Atasan Efan menghela napas panjang. "Tolong jangan buat masalah, lalu segera buat laporan. Bagaimana dengan para tersangka? Ada yang hidup?"
"Tidak ada."
"Kau yakin? Bukankah ada yang bisa diselamatkan sebelumnya?"
"Mereka bunuh diri."
Atasan Efan mengangguk paham. "Pergilah, lalu istirahatkan kaki dan tangan."
Joko mendorong kursi roda Efan, keluar dari ruangan. Hanya lima orang yang diizinkan masuk, termasuk Efan, empat orang kepercayaan Efan, tiga orang pelatih anjing, satu orang junior yang baru masuk.
"Bawa aku pulang."
Joko mengangguk paham, mendorong kursi roda ke sebuah mobil mewah yang dijaga seorang sopir berseragam.
"Tuan muda!" jerit sopir yang terkejut. "Bagaimana bisa Anda seperti ini?"
Efan memutar bola mata. "Jangan berlebihan."
"Tadinya saya terkejut, Anda tiba-tiba minta saya datang ke kantor, ternyata Anda kena tembak."
"Sudah biasa," Efan menjawab dengan santai. "Hanya luka kecil."
"Tuan muda..." Sopir mendecak kesal.
Keempat anak buah Efan sudah terbiasa melihat pemandangan tidak lazim di kantor, setidaknya kalau ada yang kaya di sekitar mereka, tidak ada yang berani menyebut tuan muda atau tuan besar.
Sopir menatap tajam Joko. "Joko, kau tidak bisa menjaga tuan muda dengan baik. Bagaimana bisa kau menjadi polisi?"
Efan menegur sopir. "Joko polisi, melindungi masyarakat, bukan aku."
Joko hanya bisa tersenyum canggung. "Kejadiannya terlalu cepat."
Sopir menghela napas panjang, menatap sedih Efan yang duduk di kursi roda. "Tuan muda, tuan besar pasti khawatir. Teman-teman Anda juga akan datang, lebih baik dibatalkan saja dan Anda istirahat."
"Tidak perlu." Efan memjat kening. "Kau bisa beritahu kakek sesuka hati, tapi aku butuh istirahat, biarkan teman-temanku datang, mereka hanya ingin bersenang-senang, aku tidak ingin mengganggu kesenangan mereka. Bantu aku buka pintu sialan ini"
Sopir segera buka pintu belakang, lalu melirik Joko yang bantu Efan naik mobil bmw. "Kau juga ikut?"
Joko menggeleng. "Tidak, aku nanti bawa pulang mobil tuan muda selain itu, harus buat laporan bersama lainnya."
Sopir mengangguk pelan. "Jangan pulang malam, ayah kau bisa jantungan."
Joko meringis, bisa membayangkan perilaku sang ayah. "Iya, aku pastikan tidak pulang malam."
Ketiga anak buah Efan saling bertukar tatapan dalam diam.
Efan menurunkan jendela mobil, bicara pada Joko dan lainnya. "Mungkin aku istirahat seminggu, setelah buat laporan, serahkan padaku, aku mau lihat, yang lain juga buat laporan."
Joko dan lainnya mengangguk.
"Besok orang bank datang, pastikan jumlah kerugian peluru lalu... masalah gedung, serahkan padaku."
"Gedung itu pasti akan angker, mengingat banyak orang mati di sana."
Efan tertawa suram. "Orang jahat memang tidak pilih tempat." Setelah berkomentar, dia menutup jendela dan sopir menjalankan mobil.
Sopir mengintip kondisi penumpang belakang lewat kaca. "Tuan muda."
"Hm?" Efan mengirim pesan ke teman.
"Bukankah rekening Anda dibekukan tuan besar?"
Jari Efan berhenti mengetik, dia lupa masalah itu. "Sial!"
"Bagaimana kalau Anda minta tolong pada nona?"
"Nona?"
"Tunangan Anda... maksud saya mantan tunangan."
"Yumi?"
"Tuan besar sangat menyayangi nona."
"Tidak, aku bicara sendiri pada kakek."
"Yah, dalam keadaan terluka?"
Efan memejamkan mata. "Menyebalkan, aku sudah terlanjur bicara."
"Minta tolong pada nona, jauh lebih baik."
"Bangunkan aku kalau sudah sampai."
***
Satu jam kemudian, Yumi yang tadinya ingin tidur nyenyak, dibangunkan panggilan kepala pelayan.
"Tuan muda terluka, sulit dibangunkan. Sudah menjadi kebiasaan jika terluka atau lelah, sulit dibangunkan."
"Kalian bisa pakai penjaga, gendong dia."
"Tuan muda terluka."
"Terluka?"
"Sepertinya surga sudah membuat garis takdir untuk Anda dan tuan muda, saya sudah menyiapkan dokter dan obat di paviliun."
Mulut Yumi menganga, meskipun kedua matanya mengantuk, mendengar ucapan kepala pelayan yang membuat ramalan kacau. "Aku hanya bicara sembarangan, apa surga akan mendengar ucapan orang melantur?"
"Nona.."
"Di mana dia?"
"Masih di dalam mobil."
Akhirnya, Yumi berdiri di samping mobil yang pintunya sudah dibuka. Kepala pelayan, dokter dan penjaga, berjaga di belakang Yumi.
Yumi melihat bagian dalam mobil yang gelap. "Efan?"
Tidak ada tanggapan.
"Nona, mungkin tuan muda tidak dengar."
Yumi memutar bola mata begitu mendengar ucapan kepala pelayan. "Maksudnya aku harus masuk ke dalam? Aku dan dia belum sah secara negara dan agama, bagaimana bisa berduaan di dalam mobil?"
Sopir mengerutkan kening. "Bukankah beberapa hari lalu, Anda diantar pulang tuan muda?"
Yumi melirik kesal sopir. "Itu kan waktu terang, ini gelap. Baiklah, aku masuk ke dalam dan jangan mengomeliku." Dia terpaksa masuk ke dalam mobil, memanggil playboy kampung. "Efan?"
Yumi bisa mencium bau darah, tangan kanan Efan memegang bagian bawah lengan kiri yang diperban. Dia menghela napas panjang dan menyisir rambut pria tampan itu ke belakang. Di masa lalu, hatinya pasti berdebar jika berhasil menyentuh salah satu anggota tubuh mantan tunangannya. "Hei."
Efan bergerak gelisah.
Yumi terkejut begitu merasakan panas di punggung tangan. "Kepala pelayan."
"Ada apa nona?"
"Efan demam."
"Bisakah Anda bangunkan tuan muda? Beliau kena tembakan di lengan dan kaki, kami tidak berani menggerakkannya."
Yumi mengerutkan kening, menepuk pipi Efan dengan lembut. "Efan?"
Efan bergerak gelisah, kedua matanya masih menutup rapat.
"Efan, tolong bangun. Aku juga ngantuk, tidak hanya kau." Yumi semakin kesal dengan tingkah Efan.
Kepala pelayan bertanya dengan nada cemas. "Masih belum bangun?"
"Susah banget." Yumi berusaha menahan kekesalanya. "Efan, tolong bangun. Semua orang khawatir padamu."
"Nona, bagaimana kalau Anda menemani sementara tuan muda? Kami berjaga di luar mobil." Dokter berikan saran.
"Hah?" Yumi panik. "Aku jaga dia? Tidakkah satu orang bisa menjaganya?"
"Nona, tolong."
Yumi mengalah, hanya bisa pasrah. "Berapa lama?"
"Satu jam, setelah itu bangunkan tuan muda."
Yumi pasrah. "Tutup pintunya, aku juga ingin tidur sebentar."
Dokter menatap cemas sopir.
Sopir menutup pintu dan menenangkan dokter. "Saya juga berjaga di dalam mobil, nyalakan ac mobil, tidak apa dokter."
Dokter jadi tenang.