JEBAKAN II

1008 Kata
Anjing yang diperintah Efan bergegas lari keluar gedung di tengah kepungan tembakan, pendengaran ditajamkan untuk menghindar, namun dia sempat lengah, tembakan hampir mengenai dirinya. Dia berlari menuju pelatih melalui penciuman yang tajam, senyumnya mengembang begitu hampir sampai. DOR! Pelatih yang mendengar tembakan itu, bergegas mengarahkan senjatanya ke polisi yang menembak anjingnya. "ARGH!" Polisi lain di dekat korban, jadi bingung dan menghentikan tembakan. "TANGKAP DIA!" Pelatih menunjuk seorang polisi yang tangannya terluka karena tembakan, setelah itu memeriksa anjingnya yang sudah di dekat kaki pelatih dengan keadaan terluka. "Bagian mana dia tembak?" tanyanya dengan hati-hati. Anjing itu menjerit kesakitan begitu pelatih menemukan luka tembak di kaki, dia menarik tangan dan menunjuk saku rompi dengan moncongnya. Pelatih yang sigap, paham dan mengambil kertas di dalam saku rompi. Setelah baca, dia segera berikan arahan. "Arahkan tembakan ke atas, bawa tim medis ke lantai satu!" Semua polisi bergegas melaksanakan tugasnya. Pelatih menepuk kepala anjingnya dengan bangga. "Kerja bagus, ayo masuk." Anjing itu melompat bahagia dengan satu kaki. Sementara di tempat Efan. "Lantai satu aman, tidak ada oran di sini, sepertinya mereka semua naik ke lantai atas dan meninggalkan yag terluka." Efan yang jongkok di samping salah satu tubuh penjahat yang pingsan, mendengar laporan sekaligus berpikir keras. "Mereka melarikan diri di gedung kosong...." "Gedung ini sudah terbengkalai lama." Efan bangkit lalu menepuk pundak bawahannya. "Tidakkah kau memikirkan sesuatu?" "Apa?" "Setiap rencana kita selalu bisa diketahui, tidak... kadang kala mereka pasti lolos." "Keberuntungan?" Efan memegang erat anak buahnya, kali ini mereka berdiri berhadapan. "Satu kali lolos, kita anggap beruntung, lebih dari itu apa bisa disebut beruntung?" "Ada mata-mata di tim kita?" "Aku tidak bilang begitu." "Ketua." Efan menepuk pundak bawahannya. "Perhatikan dengan seksama." Anak buah Efan terkejut begitu mendengar suara tembakan dari belakang. "Ke... ketua?" "Ada satu." Efan mengembalikan pistol ke anak buahnya. "Pergilah ke belakang, Jok." Joko mengangguk cepat dan memeluk pistol yang diambil Efan dari pinggang, dia balik badan dan melihat sebuah mayat dengan darah mengalir dari kepala. Letak mayat sangat jauh dari tempatnya berdiri. "Ketua memang hebat, menembak dari jarak jauh." Efan naik ke lantai atas begitu mendengar langkah kaki tim medis. "Beritahu tim medis, setelah itu segera menyusul." *** "Nona." Kepala pelayan menyambut Yumi yang baru masuk. Yumi bertanya pada kepala pelayan setelah melihat beberapa pelayan keluar masuk. "Kenapa pada sibuk?" "Teman-tema Tuan muda datang berkunjung di akhir pekan, para pelayan mulai mengisi stok makan di paviliun, beliau juga mengerjakan chef pribadi." Yumi menggigil begitu mendengar kata chef. "Uang keluarga ini pasti sangat banyak, aku jadi takut." Kepala pelayan tersenyum kecil. "Saya dengar ada beberapa orang datang ke rumah Anda, tidakkah Anda jual saja?" "Jika aku jual.. kasihan pembelinya, aku ingin menyelesaikan semua masalah dulu." "Baik." "Ah, jangan lupa taruh peralatan obat dan dokter?" "Untuk apa?" "Kita tidak tahu pesta apa yang akan mereka lakukan nanti, hanya untuk jaga-jaga." "Anda sangat peduli pada tuan muda, terima kasih." Yumi mengangkat bahu dengan santai dan bergegas naik ke lantai dua. Begitu di kamar dan duduk di sofa, dia mulai merenung, mengingat ucapan kepala pelayan. "Antara penagih hutang atau Jake, aku tidak bisa kabur begitu saja. Tapi aku juga tidak bisa sembunyi terus-terusan... ah, sial... aku hanya guru, bagaimana bisa terlibat hal tidak menyenangkan seperti ini?" Yumi merebahkan tubuhnya di sofa, menatap langit kamar yang mewah. "Calon kakak ipar." Yumi terkejut begitu melihat wajah yang tiba-tiba muncul di atasnya. "Refan, kau hampir membunuhku!" "Memang kau punya riwayat sakit jantung sepertiku?" Yumi mendecak kesal. "Kau masuk kamar orang tanpa mengetuk, ada apa?" Refan menaikkan salah satu alis, melihat Yumi tidak bergerak sedikitpun dari sofa yang empuk. "Malam minggu dia menginap di kamar ini?" "Dia?" "Ayumi." "Ada apa dengan dia?" "Tidak ada." Yumi menatap curiga Refan. "Ada apa? Tingkahmu mencurigakan." Kedua tangan Refan bersandar pada lengan sofa. "Dia hanya junior." "Kau menyukainya?" "Entah." "Harga dirimu terlalu tinggi untuk mengakuinya?" "Tubuhku lemah, aku bisa meninggal mendadak." Yumi teringat penyakit Refan yang diderita sejak kecil. "Ada apa? Kau ingin apa?" "Bisakah kalian tidak memakai pakaian terbuka." "Hah?" Yumi bangkit dari rebahan, menatap lurus Refan. "Memangnya kau pikir kami akan mengadakan pesta bugil?" "Tidak." Refan menggeleng. "Aku hanya antisipasi, kalian tidak melakukan hal aneh." Yumi menatap curiga Refan. "Ada apa? Kau tahu sesuatu tentangnya?" "Aku..." Refan terdiam, mencari kalimat yang pas untuk menjelaskan. Yumi menaikkan tangan. "Kalau kau tidak ingin cerita, lebih baik jangan. Aku juga tidak akan ikut campur masalah kalian." Refan mengangguk. "Terima kasih." "Pergilah ke kamar, tidak perlu khawair. Aku akan menjaga Ayumi dengan baik, teman-temanku juga bisa diandalkan." "Oke." Refan jalan meninggalkan kamar Yumi. Yumi menatap punggung Refan dalam diam. Aneh sekali melihat anak laki-laki yang biasanya pendiam, terlihat peduli pada orang lain, terutama anak perempuan. Yumi menepis pikiran kotor. "Tidak, jangan berpikiran buruk." Dia segera mandi dan istirahat. Di saat adik dan mantan tunangan hidup damai di dalam rumah mewah, Efan berhasil meringkus para penjahat yang menyerah. "Mereka takut dan naik lantai tiga, menembak sembarang arah, untung saja tidak ada yang terluka." Efan mengangguk begitu sampai ke lantai tiga dan melihat pemandangan tidak terduga, para penjahat duduk di lantai dengan tangan di atas, bahkan ketua mereka teriak memohon ampun. "AKU HANYA DIPERINTAH, AKU TIDAK TAHU APA PUN!" Kedua mata Efan menyipit. "Mereka menyerah begitu saja?" "Ya, kami juga lihat mereka melempar senjata, tidak ada isi." Efan merasa aneh. "Mereka naik ke lantai tiga, ketakutan dan menyerah?" "Ketua, ada apa?" "Mereka sulit diburu selama ini dan menyerah begitu saja?" Entah kenapa Efan merasa aneh. "Yang penting kita sudah dapat mereka." DOR!" Suara tembakan mengenai lengan Efan, pria itu melihat tangannya yang terluka. "TEMBAK!" "LINDUNGI PARA ANJING, BAWA KELUAR!" teriak Efan sambil memegang lengan kirinya yang kena tembak. Tembakan lain muncul, mengenai rompi peluru Efan. Efan dan anak buahnya mundur. "HAH! KAU PIKIR KAMI AKAN MENYERAH? DASAR POLISI TIDAK PERNAH PUAS. KAMI SUDAH BAYAR KA-" DOR! Efan terkejut, melihat salah satu dari kumpulan penjahat menembak bos. "LINDUNGI MEREKA!" Sayangnya, terlambat. Bos dan anak buahnya ditembak membabi buta oleh satu orang asing dan orang itu menembak diri sendiri. "Ketua." Efan tidak mengira ada kejadian seperti itu. "Cari yang masih bisa diselamatkan." Pada akhirnya misi Efan gagal lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN