JEBAKAN I

1039 Kata
"Aku tidak tahu bisa atau tidak, kau tahu sendiri kan kalau tanggal merah tidak libur kecuali hari minggu." "Vera, kau kerja di mana sih?" tanya Vio. "Keluar saja dari sana." Yumi, Vio dan Vera berdiskusi di panggilan grup. Perhatian Yumi kembali ke teman-temannya. "Pas bukan? Hari sabtu kau bisa ke rumah." "Aku tidak bisa tidur di rumah orang kaya," sahut Vio. "Apalagi rumah bangsawan, Yumi... jangan lepaskan pria itu deh, daripada kau bingung cari uang, lebih baik merayu mantan tunangan." "Vio, jangan gila ya. Kau tahu sendiri ulah mantan tunangannya itu." "Kita semua memang tahu, tidak perlu Yumi beritahu, kita lihat sendiri kelakuan mereka." "Yumi, aku bisa menginap di tempatmu tapi harus antar jemput aku." "Oho, princess treatment ceritanya?" "Bukan itu, aku sendiri juga sedang kabur dari pria brengsek." "Kabur sehari doang." "kalau bisa kabur, aku kabur sekarang. Lawannya orang kaya, mana bisa aku kabur begitu saja." Yumi melirik Ayumi dan terkejut melihat anak perempuan itu membuka kemeja sekolah, spontan dia teriak. "Ada apa?" "Kenapa?" Yumi menegur Ayumi. "Apa yang kau lakukan?" Ayumi menghela napas panjang. "Refan tidak akan percaya jika aku tidak menunjukkannya." "Aku percaya, sekarang aku percaya. Tidak perlu buka pakaian!" Refan menggertakkan gigi. "Jangan diulang." Ayumi menjulurkan lidah dan mulai makan camilannya dengan lahap. Yumi menatap dalam Ayumi lalu bertanya. "Ayumi, hari sabtu malam dan minggu, kau ada acara?" Ayumi menggeleng tegas. "Aku tidak pernah ada acara, tidak punya teman dekat." Refan menatap Yumi. "Ada apa?" Yumi tersenyum lega. "Kau mau ikut pajama party bersama teman-temanku? Ada Hasan juga." Ayumi mengangguk antusias. "Boleh, aku berangkat dari sekolah ya." Refan menatap curiga Ayumi. "Malam minggu, teman-teman kakak datang." Yumi kembali bicara dengan teman-temannya di telepon. "Ada salah satu murid yang mau aku ajak, aku akan persiapkan semua dan..." Refan menghela napas dan fokus makan, tidak mau mengganggu Yumi. *** DOR! DOR! Suara tembakan berulang kali muncul dari dalam gedung yang terbengkalai, Efan dan timnya kesulitan mendekat ke gedung yang sudah dikepung, warga yang tadinya di sekitar gedung mendadak berhamburan pergi begitu mendengar tembakan. Mobil polisi mengelilingi gedung, harusnya tidak ada yang bisa kabur kecuali mereka loncat ke sungai di kiri gedung. "Mereka tidak mungkin kabur ke arah sungai, arus deras dan mereka tidak bodoh." "Bagaimana kalau mereka nekat?" Efan coba bertaruh. "Jika salah satu dari mereka bodoh, aku tidak akan terkejut." Para anak buah di sekitar Efan menjadi bingung. Efan menghela napas. "Kita bahkan tidak bisa mendekat, harus ada yang bisa mendekat." "Kita turunkan anjing." "Tidak." Efan menolak tegas. "Musuh punya senjata, mereka bisa melukai anjing dengan mudah." "Lalu bagaimana? Kita biarkan saja?" Efan menatap gedung yang terbengkalai, lalu sungai. Tidak ada yang tahu jumlah penjahat di dalam gedung, jika polisi dan anjing diturunkan, tidak ada jaminan mereka kembali hidup. "Tembak membabi buta." Para anak buah yang mendengar dari handy talky, terkejut. Tembakan sembarang arah beresiko tinggi. Jumlah penjahat saja tidak tahu, apalagi jika mereka punya sandera. "Seharusnya aku tadi tidak biarkan mereka lolos." Efan menyesal biarkan mobil para penjahat masuk ke dalam gedung. Sayangnya, alat pengintai Indonesia tidak secanggih luar negeri, para pejabat hanya menyuruh para petugas mengandalkan penciuman anjing. "Tembak saja," perintahnya. "Tapi kalau ada komplain..." "Aku yang bertanggnng jawab, arahkan gedung dan jangan sampai melukai pihak kita. SHOOT!" Anak buah Efan menembak gedung, dari balik perisai dan pintu mobil yag dibuka untuk melindungi mereka. Efan balik badan dan jalan menuju tim k9 yang sudah siap. "Seharusnya Anda menunggu regu tembak datang." Efan menaikkan salah satu alis, mendengar ucapan salah satu anak buah membuatnya sakit kepala. "Benar, kita butuh regu tembak, tapi kita juga butuh para penjahat itu hidup, jangan sampai melukai diri sendiri." "Apa yang Anda pikirkan?" "Tim kita yang ahli menembak ada berapa?" "Lima termasuk Anda." "Oke, lepaskan para anjing." Sepuluh anjing yang sedari tadi menunggu arahan, bergegas masuk ke dalam gedung begitu leash dilepaskan. "Lima ahli tembak, segera ikut aku. Buntuti anjing itu, yang lain tetap menembak." "Anda bisa kena tembakan." "Jika aku sampai kena, kalian aku tuntut. Jika aku sampai mati, keluarga kalian akan dibunuh." Para anak buah yang berdiri tidak jauh dan mendengar ancaman Efan, bergidik ngeri. Efan mengambil senjata kesayangan dari mobil patroli, memastikan semua perlengkapan pelindung sudah dipasang dengan baik, lalu berjalan masuk ke dalam gedung bersama empat orang dengan langkah hati-hati. Sementara itu di dalam gedung, para penjahat menjadi panik. "Bos, mereka menembak gedung." "Naik ke atas! Gedung tiga lantai, mereka tidak mungkin menembak ke atas." "Bos, dua orang terluka!" "Tinggalkan, mereka bisa ganggu pergerakan kita, atau suruh mereka sembunyi." "Bos! Lift tidak berfungsi!" "NAIK TANGGA! CEPAT!" Beberapa orang bergegas naik tangga bersama bos mereka, dua orang yang terluka menjadi ketakutan. Keduanya tertembak di kaki dan tidak bisa menggerakkan kaki. "Tunggu, jangan tinggalkan aku." "Teman-teman, aku juga ikut!" Salah satu pria yang kakinya terluka, memeluk erat salah satu kaki rekannya yang hendak naik. "LEPASKAN!" Pria yang terluka mendapat tendangan di wajah dan meringis kesakitan, kedua tangannya memegang wajah yang terluka. "Su... suara apa itu?" "ANJING! ITU ANJING! KAWANAN ANJING!" Para penjahat yang tidak terluka, ketakutan dan bergegas naik ke atas. Dua orang yang terluka, tidak memegang senjata, mereka panik dan pingsan. Sepuluh anjing berhenti dan melihat dua pria pingsan di dekat tangga. Efan dan keempat anak buahnya datang tidak lama. "Oh, ada yang terluka. Dia mati?" "Aku rasa hanya pingsan." Efan jongkok, memeriksa kondisi dua orang. "Tiga anjing tetap di sini dan menyisir lantai ini, kalian bertiga ke atas sambil berikan arahan ke rekan lain untuk berhenti menembak lantai satu, arahkan lantai dua." "Peluru..." "Aku sudah menyediakan banyak peluru, kalian masuk timku, tidak perlu memikirkan hal lain, cukup kerja dan ikuti arahanku." "SIAP!" balas keempat anak buah bersamaan dengan suara rendah. Tiga orang bergegas memandu 7 anjing lainnya ke atas. Efan memastikan ketiga anak buah naik ke atas semua lalu berikan perintah ke satu anak buah yang masih tetap jongkok di sampingnya. "Periksa tempat ini bersama dua anjing, satu anjing tetap menjagaku di belakang." "Ya." Anak buah Efan segera melaksanakan perintah atasannya. Efan menepuk kepala anjing yang masih menetap di sampingnya, dia masukkan sebuah kertas yang sudah ditulis, sebelum masuk ke dalam gedung dari kantong celana, dimasukan ke bagian dalam rompi anti peluru. "Berikan ini pada pelatih kau, di luar masih ada tembakan, jangan sampai kena dan tetap menunduk." Anjing itu paham dan segera melaksanakan perintah Efan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN