Efan baru menyadari, Yumi yang dulu terlihat menatap dirinya dengan tatapan memuja, berubah menjadi kebencian. "Kau membenciku?"
Yumi tertawa sinis.
"Yumi, aku berusaha menyelesaikan masalah yang kau perbuat."
"Jad, selama ini kau menganggap aku sebagai pembuat masalah?" tanya Yumi dengan kesal. "Aku selalu berusaha menjelaskan pada kalian semua, dan yang kalian lakukan selalu kalimat yang sama. Tidak ada tempat untukku menjelaskan semuanya, kalian hanya percaya pada orang lain."
"Kakek sangat menyayangi kau."
"Oh, ya. Kakek menyayangi dan selalu mendengarku, itu sebabnya aku bertahan di tempat ini.Namun, sepertinya ada yang tidak suka keberadaanku di sini."
"Yumi." Efan terkejut dengan ucapan Yumi. Bagaimana bisa dia berpikiran seperti itu? Padahal selama ini dia berusaha melindungi Yumi.
Yumi balik badan, berjalan menuju ruang kerja kakek Efan.
Efan hanya menatap punggung Yumi yang berjalan menjauh, terlalu lelah untuk berdebat lagi. Tanpa sadar kedua tangan menggenggam di kedua sisi.
Yumi menghela napas lega begitu masuk ke ruang kerja kakek, bersandar di pintu yang sudah dia tutup, tersenyum begitu melihat pria tua itu menatap dirinya. "Kakek."
Di masa lalu, dia selalu merasakan beban begitu masuk ke ruang kerja ini. Takut, masalah apa lagi yang akan dibahas, bagaimana pun dirinya tidak ingin melibatkan kakek.
"Kau masih belum tidur? Terima kasih sudah merangkai bunga untukku."
"Sama-sama." Yumi merasa canggung.
"Besok kau kembali kerja, aku ingin kau satu mobil dengan cucuku."
Yumi terbelalak. "Sa.. satu mobil? Jalan kaki saja sudah cukup."
"Aku tidak butuh penolakan, Yumi. Aku hanya ingin melindungi kau dari kejaran penjahat, mereka bisa keluar dari penjara berkat uang."
Yumi teringa dengan Jake. "Kakek, kenapa orang itu tidak mau melepasku? Padahal dia yang menyiksaku."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi selama kau bertemu dengan Jake, tapi orang-orangku bilang kau keluar dari ruangannya dalam kondisi kacau."
Yumi gelisah. "Maaf, sudah mengacaukan segalanya."
Estefan menghela napas. "Yumi, jangan pernah minta maaf untuk hal yang tidak pernah kau lakukan. Aku tahu kau butuh uang banyak untuk bayar semua hutang. Boleh kakek beri satu masukan?"
"Ya?"
"Jual rumah kau yang sekarang."
Yumi menggenggam erat rok. "Kalau rumah itu dijual..."
"Kau pertimbangkan kenangan yang ada di dalamnya, tapi kakek rasa kenangan buruk lebih banyak daripada yang baik."
Yumi menimbang ucapan Estefan, memang benar ucapan Estefan. "Lalu di mana aku tinggal?"
"Rumah ini..."
Yumi menggeleng. "Kakek, aku tidak bisa selamanya tinggal di rumah ini. Suatu hari Efan menikah dan tidak mungkin selamanya mereka tinggal di paviliun, aku hanya orang luar."
"Kakek selalu menekankan, kau tidak perlu menjadi orang luar, Yumi."
"Efan pewaris kakek."
"Kenapa dengan dia?"
"Kakek..."
Kepala pelayan angkat bicara. "Nona, tolong hargai perasaan tuan besar. Beliau hanya menghawatirkan kondisi Anda, masalah lainnya tidak perlu dibahas."
Yumi hendak mengatakan sesuatu, lalu terdiam begitu memikirkan ucapan kepala pelayan. Secara perasaan, dia memang khawatir tentang Efan, Namun, jika dipikirkan secara logika, kakek memang peduli padanya, sementara Efan bisa menjaga diri di luar rumah, biar bagaimanapun rumah ini masih di bawah kekuasaan kakek.
Dia membungkuk untuk minta maaf. "Maaf, aku tadi tidak bisa mencerna ucapan kakek."
Estefan lega mendengarnya dan menerima ucapan Yumi. "Lihat kakek."
Yumi menegakkan tubuh, menatap lurus Estefan. Melihat sang kakek menerima ucapan minta maaf, dia menyadari kesalahannya. "Ya."
"Kakek sayang kau, terlepas kau bukan cucuku dan hanya cucu sahabat baikku. Kakek hanya ingin kau hidup aman dan nyaman, masalah masa depan, bisa dipikirkan nanti, kakek juga akan mencarikan jodoh terbaik untuk kau, jika kau belum mendapatkan kekasih sendiri."
Yumi tersipu malu.
"Untuk mobil dan perlindungan lainnya, tolong pahami posisi kakek. Nenek kau bisa marah jika tidak bisa menjaga cucunya dengan baik."
Kali ini Yumi tidak berani membantah. "Baik, terima kasih."
"Kembalilah ke kamar, kau harus istirahat, lalu... terima kasih bunganya, kalau ada waktu senggang... kau bisa bantu mereka merangkai bunga."
Yumi tersenyum malu lalu mengangguk pelan. "Terima kasih kakek, ah... malam minggu, aku mau menginap di rumah salah satu teman."
"Kakek mengenalnya?"
Yumi tersenyum canggung. "Tidak, kami hanya berteman secara online sebelumnya."
Estefan mengerutkan kening tidak setuju. "Di luar masih bahaya, tidak mungkin kau menginap di luar, bawa saja teman kau ke sini."
Yumi menggigit bibir bawah, menginap di rumah teman hanyalah alasan, dia ingin bebas sementara. "Aku coba tanya dulu, dia setuju atau tidak."
"Selama masih ada masalah di luar, kau harus tetap di rumah atau keluar dalam pengawasan."
"Iya."
Setelah memberikan nasihat sekilas, Estefan menyuruh Yumi kembali ke kamarnya, wanita itu lega dan cepat-cepat masuk ke dalam kamar sebelum bertemu hal yang tidak diinginkan.
Sebelum masuk ke kamar, Yumi mendengar percakapan sekilas dua pelayan yang berdiri tidak jauh dari kamarnya.
"Malam minggu, teman-teman tuan muda datang, mereka akan ke paviliun?"
"Ya."
"Kepala pelayan belum perintahkan?"
"Belum."
Yumi masuk ke dalam kamar dan mulai memikirkan sebuah rencana.
***
"Pajama party?"
Yumi kembali beraktifitas seperti biasa, bedanya dia makan siang di taman sekolah bersama Ayumi dan Refan sambil menikmati bekal buatan Efan.
Refan memamerkan bekal buatan sang kakak ke Ayumi. "Kau bisa masak? Lihat, kakakku buat steak."
Ayumi memutar bola mata begitu melihat daging steak yang sudah dipotong. "Baru kali ini aku lihat bekal steak, ini ayam 'kan?"
"Iya, kakak bilang daging sapi mahal untukku."
Ayumi melirik bekal Yumi yang sama. "Sepertinya bukan hanya kau saja."
Refan tersenyum kecil. "Daging mahal."
"Kalian kaya, bagaimana bisa daging jadi mahal?"
Refan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Justru karena kita berhemat makanya bisa kaya kan?"
Ayumi tidak bisa membalas, memang masuk akal argumen kakak kelasnya ini. "Sudahlah."
"Kau bisa mencicipinya."
"Aku alergi daging ayam."
"Kok bisa?"
Ayumi membuka tiga kancing kemeja, lalu menunjukkan benjolan oval horizontal di tengah d**a. "Lihat."
Refan dan Yumi sontak panik dan teriak bersamaan. "APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Refan melempar jaket di pangkuannya ke Ayumi.
Ayumi mengembalikan jaket ke pangkuan Refan dan mengancingkannya kembali. "Dulu aku terlalu sering makan ayam, setiap minggu ayahku beli daging ayam untuk adik-adikku, setiap ada bagian yang tidak disukai, diberikan padaku."
"Laki-laki?" tanya Yumi.
Ayumi mengangguk tanpa berpikir. "Orang tuaku sudah menunggu lama keberadaan mereka."
Refan merasa bersalah. "Jadi karena itu kau..."
Ayumi terbelalak lalu menutup mulut Refan. "Diam, aku hanya kacau waktu itu."
Refan tertawa geli meski mulut ditutup tangan mungil Ayumi.
Yumi menatap curiga Refan dan Ayumi.