NIGHT CLUB IV

1008 Kata
Yumi keluar dari night club dengan bantuan dua anak buah Efan. Vera dan Vio yang melihat itu, bergegas menghampirinya sambil terisak. "Yumi, aku minta maaf. Aku tidak sengaja meninggalkan kau, begitu aku mencari, kau sudah tidak ada. Aku cemas." Isak Vera setelah melihat penampilan Yumi yang berantakan. "Maaf, aku tidak tahu kau sampai begini, kau baik-baik saja? Mereka menyakitimu?" Yumi menggeleng. "Mereka tidak akan bisa menyakitiku." Lalu dia menatap Vio yang juga menangis. "Kenapa kau menangis?" "Aku yang ajak kau ke sini, bagaimana bisa tidak menangis? Kenapa pakaianmu robek begini?" Adelio yang berdiri tidak jauh dari para wanita, bergegas menyampirkan mantel Efan ke Yumi. Yumi menoleh dan menatap Adelio dengan tatapan bertanya. Adelio tersenyum kecil. "Jangan jatuh cinta padaku, aku tidak bisa menanggungnya. Ini matel Efan, dia bergegas ke ruangan kau begitu mendengar kabar dari para bawahannya." Yumi menyerahkan kucing ke Vio. "Ini, bisa kau bawa ke pemiliknya." Vio menerima kucingnya. "Yumi, sebaiknya kau istirahat. Besok pasti kerja kan?" Yumi mengangguk kecil. "Ya." Vera melihat raut wajah sedih Yumi. "Yumi, setelah pulang... kau harus menghubungi kami." Yumi tersenyum. "Ya, terima kasih." Bagus menghela napas panjang dan berdiri. "Pak Efan masih di luar. Dia ingin bicara denganmu sebelum kami melepaskanmu." "Tenang saja, begitu dapat uang... aku segera transfer." Vio menyakinkan Yumi. "Terima kasih, aku semangat lagi." Melihat kedua temannya berusaha memberikan semangat, Yumi terharu. "Sudah malam, aku akan mengantar kamu ke penjara." Adelio menawarkan diri. "Efan pasti sibuk di dalam." "Aku belum tes urine," sahut Yumi. "Yumi masuk penjara?" tanya Vio tidak percaya. "Dia bukan penjahat, hanya magang dan..." Vera berusaha menyakinkan Adelio. "Mereka hanya cari kucing, bukan masalah. Tidak bisakah Yumi dikecualikan? Dia juga harus kerja besok." "Tenanglah, tidak apa. Polisi yang akan bertanggung jawab, mereka menangkapku, mereka juga yang bebaskan aku nanti." Yumi menghibur kedua temannya. "Tapi, tes urine..." Vio masih tidak percaya. "Aku masuk ke dalam TKP, wajar polisi curiga, sebagai warga negara baik... aku harus menurutinya." Yumi menjelaskan dengan nada sedih. "Aku sendiri yang terlalu bodoh, mau saja masuk ke sana." "Jangan salahkan dirimu, mereka yang salah... melibatkan warga sipil." Vera menatap tajam dua polisi yang menjaga Yumi. "Jangan sampai aku melihat luka di tubuh Yumi." "Ada luka," sahut salah satu polisi. "Apa? Kau terluka? Di mana?" tanya Vera dengan cemas. "Hanya cakaran kucing," jawab Yumi sambil menguap. "Sebaiknya kalian berdua pulang lebih dulu, biar Yumi aku antar ke penjara bersama dua polisi ini." Vera dan Vio terlihat enggan meninggalkan Yumi, namun mereka tidak punya pilihan. Yumi juga terlihat lelah. "Aku bicara ke teman kerjaku dulu, baru pulang," kata Vera. "Kalau gitu, aku pulang dulu. Besok baru bisa ke rumah pemiliknya." Vio yang masih menggendong si kucing, menepuk punggungnya dengan lembut. "Bocah ini juga pasti ketakutan." Yumi bertanya pada salah satu polisi. "Ini sudah malam dan tidak mungkin aku naik taksi sendiri, adakah mobil yang bisa aku tempati untuk istirahat?" "Lebih baik kalian bertiga ke penjara, daripada di sini, jauh lebih aman begitu." Adelio mengambil keputusan cepat. "Kalau Efan protes, suruh dia telepon aku." Kedua polisi berikan hormat dengan tulus ke Adelio sementara Yumi tidak bisa membantah. *** "Masuk penjara lagi?" Yumi buka mata perlahan, dia tertidur di dalam penjara, kali ini tidur di kasur yang sudah disediakan, masih baru pula. Meski hanya kasur kapuk lantai, bisa menghangatkan tubuhnya yang kedinginan semalam. "Jam berapa ini?" tanyanya dengan suara serak. "Kami tidak sita handphone kau, jadi bisa lihat jam sendiri." Yumi mengambil handphone dari dalam tas. "Jam delapan pagi." Selesai melihat jam, dia kembalikan ke dalam tas. "Menyebalkan sekali hidupku sekarang, berusaha cari uang malah ditangkap lagi." "Tertangkap pesugihan lagi?" tanya polisi ke Yumi, cerita konyol Yumi yang mengganggu kinerja polisi, terkenal di kantor. "Cari yang halal saja, kau tidak kapok? Masa kucing kau dikasih makan makanan haram? Yumi yang mengenali polisi itu, membaca nama yang tertera di seragam. "Hallo,, Pak Bagus." "Ganti baju dulu, katanya baju kau rusak. Ini." Bagus menyerahkan tas ke Yumi lewat sel. "Pasti melelahkan sekali, begitu sampai penjara langsung tidur begitu sja." Yumi mengambil tas kertas yang diberika Bagus. "Terima kasih, Pak." "Jangan terima kasih ke saya, bilang ke Pak Efan. Begitu ke sini, yang dicarinya kau." Yumi mencibir. "Dia pasti tidak ingin kehilangan saksi." "Jangan bilang seperti itu, Pak Efan baik kok... meskpun otaknya agak bermasalah." "Oh, kalian juga mendapat masalah darinya?" tanya Yumi yang tertarik. "Dia hanya tegas saja, tidak ada hal yang aneh." Yumi kecewa mendengarnya. "Jadi, pesugihan mana? Ada rumah kosong lain yang kau masuki?" tanya Bagus sambil duduk bersila di lantai depan sel. "Siapa tahu saya bisa ikut." Yumi terkekeh sambil mengeluarkan pakaian dari tas, celana jins polos dan hoodie merah muda."Kau tidak akan bertahan lama di sana, mereka ganas dan tidak bisa dikendalikan." Bagus menatap tidak percaya Yumi. "Saya polisi dan menghadapi berbagai macam kasus, bagaimana bisa takut? Jadi, di mana letaknya?" Yumi menghela napas panjang lalu menjawab dengan santai. "Tempat itu... ramai, kadang-kadang tapi juga bisa sepi di waktu tertentu. Seperti ada kehidupan tapi sebenarnya tidak ada? Atau sebaliknya?" Bagus mengangkat alis. "Hidup? Seperti tikus atau hantu?" "Bukan tikus." Yumi mendongak, matanya berbayang, senyumnya lenyap. "Bukan hantu juga." Bagus mengerutkan kening. "Kau tidak serius membagikan informasi." "Apa pun itu," sela Yumi, "dia tahu aku datang dan menilaiku tanpa aku bicara, bahkan aku belum sempat membuat gambar, baru merapalkan sebuah mantra, satu gelas menyerangku karena mereka takut." Bagus menggelengkan kepala. "Kau mulai terdengar seperti salah satu saluran konspirasi di YouTube." "Aku mulai hidup seperti itu," gumam Yumi, berjalan menuju jeruji. "Kau pikir aku senang bangun di sel tahanan? Melarikan diri dari hal-hal yang tak terlihat orang lain?" Bagus menghela napas panjang dan berdiri. "Pak Efan masih di luar. Dia ingin bicara denganmu sebelum kami melepaskanmu." "Lepaskan aku? Kukira aku jadi tersangka dalam semalam." "Tidak. Tidak ada bukti ritual apa pun, hanya kau masuk tanpa izin lagi. Dan secara teknis..." ia tersenyum tipis, "kau tidak merusak apa pun kali ini." "Aku merusak?" Yumi menatap tidak percaya Bagas. "Aku tidak menyentuh apa pun di rumah kosong itu." "Yah, itu sudah berlalu.." "Aku tidak mau bertemu Efan." "Kau ingin di penjara lama?" "Jauh lebih baik daripada bertemu dia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN