KETAKUTAN

1031 Kata
"Kau betah di penjara?" Yumi dan Bagas menoleh ke sumber suara, Efan berdiri tidak jauh dari sel. Bagas bergegas meninggalkan ruangan, memberikan ruang untuk sepasang mantan kekasih bicara dari hati ke hati. "Aku belum tes urine." "Tidak masalah." "Bebaskan aku." "Nanti." Yumi dan Efan saling menatap dalam diam. "Kau marah?" tanya Efan yang penasaran dengan sikap Yumi. "Tidak, aku sudah berjanji tidak akan marah padamu atau siapa pun yang dekat denganmu." "Yumi." Efan memijat kening. "Aku terpaksa memasukan kau ke dalam sel, semua hanya formalitas. Aku tahu, kau di sana hanya korban bukan pelaku." "Oh, bagus. Syukurlah, kalau begitu keluarkan aku dari penjara ini." "Yumi, aku tidak paham. Apa yang membuat kau kesal? Semalam aku menyelamatkanmu." "Menyelamatkanku? Kau ingin menjadi pahlawan? Oke, aku bisa melakukan itu." "Yumi, jangan buat aku kesal." Efan menghela napas, jalan mendekati jeruji. Suaranya merendah, lelah. "Ini bukan soal menang atau kalah, Yumi." "Benarkah?" balas Yumi. "Aku duduk di lantai berusaha pertahankan harga diri, dan coba siapa yang datang? Kau... kau datang seperti pahlawan. Jujur saja aku sangat benci ketidak berdayaan melawan orang kaya macam kalian." Efan tersentak. "Aku berusaha menyelamatkan kau." "Anggap saja aku wanita tidak tahu terima kasih," sela Yumi. "Kau tak mengerti situasi di sana." "Berhentilah bertingkah seolah aku tidak tahu apa-apa!" bentak Yumi. "Aku tahu persis apa yang kulakukan. Aku hanya tak menyangka ada sedikit kesialan yang muncul." Efan menatap dingin Yumi. "Siapa sebenarnya kau?" Yumi mendongak, menatap mata cokelat Efan. "Apa?" "Yumi yang aku kenal sangat penurut, tidak pernah membantah ataupun mengeluh." Yumi tersentak, menatap tidak percaya Efan lalu tertawa. "Dua tahun kita bertunangan, memang tidak pernah saling mengenal. Sekarang, aku tanya, apa dulu kita pernah seperti ini? Bicara panjang lebar." Efan baru menyadarinya sekarang. Setiap sarapan dan makan malam, bahkan pertemuan biasa, Yumi tidak pernah inisiatif bicara terlebih dahulu. "Aku lelah, keluarkan aku dari sini." Yumi berjalan menjauh dari jeruji lalu duduk memunggungi Efan. "Tidak ada yang bisa kita bahas sekarang." Efan menatap punggung Yumi. ------ Dua jam kemudian, Yumi dibebaskan dan pulang ke rumah. Hal yang paling utama adalah istirahat bersama Hasan, untung saja sebelum pulang, Vio mengirim tiga setengah juta ke rekeningnya. Yumi baca pesan Vio mengenai pembagian bersama Vera, dia tidak keberatan. Setelah puas membaca, dia melempar handphone ke samping tempat tidur dan mulai terlelap tanpa mandi atau pun ganti baju. Sementara itu, di rumah Efan. Estefan, kakek Efan. Sudah menunggu di ruang tamu dengan aura marah. Efan yang baru masuk ke dalam rumah, berhenti jalan dan menyapa kakek. "Baru pulang?" "Kakek pergi sebentar, kau sudah menyebabkan banyak masalah/" Estefan memukul lantai dengan ujung tongkat bawahnya. "Adikmu bahkan lebih dewasa, menyuruh kakek pulang untuk menyelesaikan semuanya." Efan menghela napas. "Kakek, Yumi sendiri yang sudah memutuskan. Aku tidak bisa ikut campur." "Kau hanya menghindar." Efan tidak menjawab. "Yumi anak baik, dia bantu kakek selama ini. Bagaimana dengan teman-teman wanita kau yang terlihat tkut begitu kakek muncul?" "Mereka hanya teman, bukan pasangan hidup." "MAKANYA BAWA YUMI PULANG" bentak Estefan. "Jangan sampai kau menyesal di masa depan." "Tidak akan, aku tidak pernah menyesali semua keputusan yang sudah diambil. Kakek tidak perlu khawair, Aku mau istirahat." Efan bangkit dari sofa dan jalan meninggalkan kakeknya, Estefan semakin kesal melihat tingkah cucunya. Dia kembali memukul tongkatnya, kali ini lebih keras, gemanya memantul di lantai marmer. "Lari, Efan! Seperti yang dulu dilakukan ayahmu. Kau pikir bersembunyi di balik harga diri bisa membuatmu kuat?" Efan berhenti di kaki tangga. Rahang terkatup rapat, punggungnya membelakangi sang kakek. "Yumi tetap di sisi kita saat kau bahkan tak berani pulang!" bentak Estefan. "Dia membereskan kekacauanmu, dia mendengarkan saat aku butuh teman bicara, dia bahkan membersihkan kamar lama ibumu. Dan apa balasanmu? Kau masukkan dia ke sel seperti penjahat." "Itu bagian dari protokol," gumam Efan, masih tak menatap kakek. "Aku tak punya pilihan." "Kau selalu punya pilihan!" Estefan berdiri, bersandar pada tongkat. Suara merendah, tetapi beban di dalam tetap terasa. "Kau terlalu takut mengakui kesalahan. Sama seperti ayahmu." Perkataan itu sangat menusuk Efan, dan ia berbalik perlahan. Matanya dingin, tetapi sesuatu di baliknya retak. "Aku bukan dia." "Kalau begitu buktikan." Estefan menatap tajam ke matanya. "Sebelum kau kehilangan anak itu." Efan tidak berkata apa-apa lagi. Ia menaiki tangga tanpa sepatah kata pun. Estefan kembali terduduk di sofa, tangannya gemetar. Hatinya sakit karena amarah dan frustrasi, tetapi lebih dari itu—ketakutan. Ketakutan bahwa cucunya akan menapaki jalan terkutuk, sama seperti ayahnya dulu. Sombong, buta, dan benar-benar sendirian. "Tuan besar." Estefan menoleh. "Oh, kau." Tian, kepala pelayan menyapa atasannya. "Tuan, sebaiknya Anda istirahat . Tidak baik menanggung kemarahan seperti itu." "Tian, kadang kala jika aku melihat Efan... aku selalu melupakan umur yang sudah tua." "Saya akan mengantar Anda di kamar, masalah hubungan Tuan dan Nona muda, bisa dilanjutkan nanti." "Ah, hanya kau dan Yumi yang paham perasaanku." Estefan menggeleng sedih. ----- Yumi meregangkan tubuhnya, setelah istirahat panjang yang melelahkan. Hasan setia menemani babunya di samping tempat tidur. Dia terharu dengan perilaku istimewa kucingnya. "Terima kasih suda menemaniku." Hasan hanya mengibaskan ekor. Yumi turun dari tempat tidur dan mulai mandi. Air hangat yang mengalir di punggung Yumi membantu menghilangkan rasa kaku di sekujur tubuh, tetapi tak mampu membilas kegelisahan yang masih mengganjal di d**a. Ia memejamkan mata di bawah aliran air, membiarkan air membasahi wajahnya. Setelah dua puluh menit, Yumi melangkah keluar, handuk melilit erat di sekujur tubuhnya, dan berjalan menuju kamarnya. Hasan telah beranjak ke ambang jendela, Saat Yumi mengeringkan rambut, ponsel berdering di meja nakas. Ternyata pesan dari Vera: "Kau baik-baik saja?" Yumi mengetik balasan singkat. "Aku baik-baik saja. Hanya lelah. Kita bicara lagi nanti." Vera tetap mengirim pesan. "Kau janji, begitu di rumah segera mengirim kabar. Kenapa tidak mengirimnya? Aku malah tahu kondisi kau dar Vio." Handphone Yumi bergetar lagi, dia baca pesan Vera dan tersenyum, rasanya senang diperhatikan seperti ini. "Maaf, aku terlalu lelah dan butuh istirahat banyak. Aku lupa." Pesan Vera masuk lagi, Yumi segera membacanya. "Jangan terlalu banyak mengeluarkan tenaga, secukupnya saja. Baiklah, silahkan istirahat."  Yumi meletakkan handphone. Rasanya sangat lucu sekali, keluarga yang tadinya diharapkan bisa melindungi, malah menghancurkannya dengan mudah, sementara orang lain... mereka bisa berikan kehangatan. Tiba-tiba dia teringat dengan kakek yang selalu membantunya. Air mata menggenang di pelupuk mata Yumi saat kenangan tentang kakeknya menerpanya bagai lagu pengantar tidur yang terlupakan. "Menyebalkan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN