Yumi mulai melakukan rutinitas seperti biasa, bekerja. Dulu dia juga bekerja di sekolah ini meski tinggal di rumah kakek Efan, semua orang di sekolah sudah mengetahuinya.
"Bukannya kau sudah tidak bersama cucu ketua yayasan? Kenapa masih kerja di sini?"
Yumi mendongak dan melihat seorang guru muda wanita sedang menatap dirinya. "Selamat pagi Bu Nadine."
"Tidak perlu bersikap ramah, aku hanya tidak suka orang genit."
Yumi mengabaikan sarkasme Nadine dan mulai memeriksa bahan ajarnya.
"Sekolah ini elit, tidak pantas ada gosip jelek." Nadine kembali membuat masalah, para guru di dalam ruangan pura-pura tidak mendengar.
"Ada masalah, Bu Nadine?" tanya Yumi.
Nadine terkejut denga pertanyaan Yumi, biasanya dia hanya diam dan tidak melakukan apa pun, kenapa malah bertanya
"Anda punya masalah dengan saya?" tanya Yumi dengan raut wajah tidak mengerti. "Bu Nadine, jika memang ada masalah... kita bisa bicarakan dengan ketua yayasan."
Nadine semakin terkejut dengan keberanian Yumi. Ketua yayasan sangat tegas sehingga tidak ada yang berani mengatakan hal receh di hadapan beliau. "Tidak, aku tidak akan buang waktu Ketua Yayasan." Tiba-tiba muncul ide di benaknya. "Bu Yumi, apakah selama ini kau selalu mengadu pada Ketua Yayasan?"
Para guru yang mencuri dengar jadi tegang dan spontan menatap Yumi.
Yumi tidak gerntar dengan tatapan mereka, dia malah menantang tatapan Nadine yang duduk di seberangnya. "Saya hanya guru di sini, mencari uang untuk hidup. Jika saya pengadu, sudah dipastikan Anda tidak akan duduk santai di sana dan berkomentar sesuka hati."
Nadine mengerutkan kening. "Tapi pertanyaan aku benar 'kan? Untuk apa bertahan di tempat mantan? Jangan-jangan kau sudah dibuang dan masih berharap?"
Terkadang Yumi bingung, kenapa semua rekan kerja di sekolah selalu memusuhinya begitu tahu sudah bertunangan dengan salah sau cucu ketua yayasan. "Kau iri?" dia mengedarkan pandangan di ruang guru. "Kalian semua juga iri?"
Nadine bangkit dan membentak Yumi. "Apa yang kau bicarakan? Bagaimana bisa kami iri?!"
"Lalu kenapa sekarang malah dipermasalahkan? Apa kalian yang menggaji saya? Jika iya, saya akan keluar dan minta kompensasi pada kalian," ujar Yumi. "Mau saya kirim nomor rekening hari ini?"
Nadine kembali duduk sambil menatap sinis Yumi. "Kami hanya tidak suka ada manusia tidak tahu diri di sini. Tahukah kau gosip yang muncul beberapa bulan lalu?"
Yumi menaikkan salah satu alis, menatap heran Nadine. "Oh, gosip apa itu?"
"Nadine, jangan." Salah satu guru senior melarang Nadine bicara. "Gosip lama tidak penting, tidak perlu dibahas."
Nadine tertawa mengejek.
"Jadi, Anda semua bisa buat gosip... sementara saya tidak?" tanya Yumi yang tidak paham. "Lalu bagaimana saya tahu kesalahan yang Anda semua permasalahkan selama ini?"
"Yumi, kita rekan kerja. Tidak perlu sampai segitunya," tegur salah seorang guru pria.
"Katakan." Yumi tidak peduli larangan para senior.
Guru lainnya menggelengkan kepala ke Nadine.
Nadine sekarang jadi bingung.
"Katakan atau saya cari sendiri dan buat kalian menyesal karena sudah menyembunyikannya." Yumi menatap tegas Nadine. "Gosip apa?"
"Bu guru Yumi tidur dengan ketua yayasan."
Semua orang di dalam ruang guru, spontan menoleh ke sumber suara di depan pintu masuk. Seorang murid berdiri sambil membawa buku pr teman-teman sekelas. "Murid-murid juga mengetahui hal ini, karena guru bergosip cukup keras."
Yumi memiringkan kepala, menatap murid perempuan yang bicara. "Kau..."
"Ayumi, saya kelas satu. Nama kita hampir sama." Ayumi tersenyum ke Yumi. "Ayah saya penggemar komik detektif, jadi nama saya dibuat mirip dengan nama pengarang komik tersebut."
Yumi mengangguk paham. "Oh."
"Bu guru, Anda tidak masuk ke kelas?"
Yumi melihat jam di dinding ruang guru dan menjerit kecil. "Astaga, kenapa aku bisa lupa waktu?"
"Mungkin karena Ibu penasaran dengan gosip itu?"
Yumi melirik kesal ke Nadine. "Ibu tidak tahu siapa yang buat gosip itu, tapi sepertinya ada yang lebi percaya gosip murahan."
Ayumi menarik Yumi. "Ayo, Bu. Kita ke kelas."
Yumi mengambil semua peralatannya di atas meja, lalu mengikuti Ayumi. Setelah agak menjauh dari ruang guru, dia menatap lurus punggung Ayumi yang terlihat ceria. "Terima kasih, Ayumi."
Ayumi nyengir lalu balik badan, jalan mundur sambil menatap heran gurunya. "Bu guru tidak marah?"
"Apa?"
"Para guru suka bicara hal jahat pada tentang Anda."
"Kau mendengarnya?"
"Mereka suka melempar tatapan sinis pada Ibu, kenapa Ibu hanya diam saja?"
"Ini hanya masalah orang dewasa, tidak perlu khawatir."
"Kalau saya jadi Ibu... saya tidak akan kuat menghadapinya."
Langkah Yumi berhenti ketika mendengar ucapan Ayumi.
Ayumi ikut berhenti.
"Kau juga mendapat masalah di sekolah?" tanya Yumi denga nada khawatir. "Jika ada masalah... kau bisa bicara padaku."
"Bu guru, apa... tidak... jika saya cerita... semua beban akan hilang begitu saja?" tanya Ayumi dengan penasaran.
Yumi menggeleng pelan. "Tapi kau bisa lega."
Ayumi terlihat kecewa dengan jawaban Yumi. "Lupakan saja."
Yumi tambah khawatir. "Ayumi, kau bisa bicara pada guru bk."
Ayumi tertawa. "Bagaimana bisa saya cerita kalau para guru di bk saja suka bergosip buruk tentang Ibu? Siapa tahu masalah saya bukan selesai, malah bertambah parah."
"Benar juga." Yumi memegang erat buku di pelukannya. "Sepertinya kita harus kuat di sini."
Ayumi mengangguk sambil tertawa.
Yumi tersenyum melihat Ayumi yang ceria dan menjadi penyelamatnya hari ini.
Tidak lama, Yumi dan Ayumi masuk kelas bersamaan, tidak ada masalah dengan kelasnya pagi ini, Ayumi dan teman-temannya mengikuti kelas tanpa gangguan. Setelah kelas selesai, Yumi yang sudah kembali ke mejanya, hanya mendapat lirikan, tidak ada komentar pedas lain. Nadine pun terlihat hanya menatap kesal dirinya.
Yumi mengangkat kedua bahu dengan santai, sepertinya guru lain menegur Nadine.
Tidak lama, seorang guru waita setengah baya mendekati Nadine. "Kau mau makan di mana?"
Nadine mendongak. "Ah, saya tidak tahu."
"Guru-guru sepakat makan di warteg yang tidak jauh di sini, katanya murah dan enak. Kau mau ikut?"
Nadine melirik sinis Yumi yang sibuk menulis. "Oh, saya tahu tempat itu. Saya ikut," jawabnya sambil memasukan barang-barang yang dibutuhkan di dalam tas. "Sepertinya harus ada yang jaga di sini."
Yumi sudah terbiasa tidak diajak makan siang, dia mengabaikan mereka.
"Dia sibuk, kita tidak bisa mengganggunya. Ayo." Ajak guru itu.
Sebelum guru-guru di dalam ruang keluar, seorang penjaga sekolah berdiri di depan ruang guru. "Bu Yumi."
Yumi menoleh. "Ya?"
"Tadi ada pengantar makanan, katanya buat Ibu. Saya tidak berani tidak menyerahkannya."
"Oh, dari siapa?" Yumi bangkit dari kursi dan berjalan menuju penjaga sekolah. "Terima kasih."
"Katanya ini dari Pak Efan, pembantu rumah ketua yayasan yang mengantarnya langsung." Penjaga sekolah menyerahkan bungkusan kotak makan ke Yumi.
Yumi hampir menjatuhkan bekalnya, begitu mendengar nama Efan disebut.