Yumi mengembalikan tas bekal ke penjaga sekolah. "Mungkin salah, ini bukan punya saya."
Penjaga sekolah menyerahkan tas bekal ke Yumi. "Satu-satunya guru bernama Yumi di sini, Anda."
Yumi memegang erat tas bekal di tangannya. "Di sini ada murid bernama Ayumi, mungkin saja..."
"Anda menuduh saya tuli?"
Yumi tidak berani menjawab, tidak menyangka malah menyinggung penjaga sekolah. "Tidak, maksud saya..."
"Makan saja, kalau tidak diserahkan... saya yang akan dipecat, ucap penjaga sekolah yang menatap Yumi dari atas ke bawah dengan tatapan menusuk. "Jangan merepotkan orang lain lagi, saya hanya menyampaikan pesan."
"Maaf." Yumi merasa bersalah. "Terima kasih sudah membawanya."
Setelah puas menerima ucapan Yumi, penjaga sekolah jalan keluar dari ruang gury, sementara para guru yang masih di dalam ruangan, menatap tajamYumi.
Nadine hendak mengucapkan sesuatu yang menusuk, namun ditahannya ketika para guru sudah berjalan keluar tanpa mengatakan apa pun.
Yumi ditinggalkan sendiri di dalam ruang guru, dia membuka kotak bekal dan melihat isinya. "Sushi? Efan buat sushi? Ada angin apa dia buat sushi untukku?"
"Sepertinya enak."
Yumi menjerit kecil. "Astaga, kenapa kau di sini?"
Ayumi menarik kursi guru di samping Yumi. "Makan siang, tapi sepertinya tidak berguna sama sekali."
Yumi melihat Ayumi meletakkan camilan kantin sekolah. "Kenapa kau tidak makan nasi atau bakso di kantin? Masih ada makanan sehat lain."
"Kue pasar ini juga sehat dan dijual sekolah," sahut Ayumi. "Bolehkah saya ikut makan siang di sini?"
Yumi mengangguk kecil. "Ya."
Ayumi mengedarkan pandangan di ruang guru. "Sepertinya Ibu dikucilkan."
Yumi tertawa masam. "Tidak perlu ikut campur, aku bisa menanganinya."
Ayumi tersenyum lalu mengambil satu kue. "Bu guru seperti saya, dikucilkan."
"Teman sekelas mengucilkan kau?" tanya Yumi dengan khawatir. "Tapi, tadi mereka terlihat baik pada kau."
"Teman sekelas sih baik, tidak keluarga saya. Mereka tidak mau menerima anak aneh seperti saya."
"Padahal kau terlihat cantik."
"Ibu juga cantik, meski saya lebih muda."
Yumi terpana lalu tertawa kecil. "Kau memang tidak menyaring ucapan sama sekali?"
"Untuk apa?"
"Takutnya orang lain tersinggung."
"Oh." Ayumi menghabiskan kue di tangannya. "Mereka tersinggung ya."
Yumi menjadi bingung dengan sikap Ayumi yang terlihat misterius. "Ayumi, kau bisa bicara pada ibu kalau ada masalah."
Ayumi menggelengkan kepala. "Tidak apa, saya bisa menyelesaikannya sendiri."
Yumi menepuk kepala Ayumi dengan lembut. "Anak pintar."
Ayumi terkejut lalu menatap gurunya, sementara yang ditatap mulai melahap sushi.
Yumi yang merasa dapat tatapan, menoleh lalu tersenyum. "Mau?" tanyanya sambil menawarkan bekal yang dibuat Efan.
"Bekal itu dibuat penuh cinta untuk bu guru, bagaimana bisa saya memakannya?"
Senyum Yumi memudar, digantikan dengan raut waja tersipu. "Tidak, kau salah paham. Aku tidak tahu kenapa dia bisa membuat bekal ini, tapi... kalau tidak dihabiskan bisa jadi mubadzir."
Ayumi tersenyum, lalu tidak lama senyumnya memudar. "Ibu pasti dicintai sekali ya."
"Hah?"
"Banyak manusia memang yang suka bertindak seenaknya, tapi tidak semua orang yang mendapatkan banyak panah bisa memberikan cinta untuk makhluk lain."
"Makhluk..." Yumi bergidik lalu melihat kanan kiri. "Kau bicara apa?"
Ayumi tertawa. "Maksud saya kucing, ibu sangat peduli pada kucing. Meskipun semua orang tidak bisa melihat kebaikan ibu, terima kasih banyak."
Yumi merasa terenyuh, baru pertama kali ada orang lain yang mengucapkan terima kasih dengan kalimat tulus selain kakek Efan dan adiknya, tentu saja.
Tidak lama, Ayumi dan Yumi makan dengan tenang sambil menonton film di laptop Yumi.
Sementara itu, di rumah kakek Efan. Efan jalan menuju tempat kakeknya di taman, dia terkejut melihat adiknya sudah ada di sana.
"Kau di Indionesia? Kapan pulang? Bukankah udara di sini masih belum bagus untukm?" tanya Efan sambil jalan menghampiri adiknya dengan raut wajah khawatir.
Refan yang melihat kakaknya terburu-buru, mengerutkan kening. "Kakak tidak mungkin datang ke sini untuk menanyakan itu kan?"
Efan teringat dengan masalah utama, lalu menatap kakeknya yang minum teh dengan tenang. "Kakek, di mana sushiku?"
"Sushi apa?"
"Aku buat sushi tadi pagi dan taruh di kulkas, maksudku mau dimakan."
"Kau tidak kerja hari ini?"
"Meliburkan diri," jawab Efan dengan tenang. "Aku tinggal sebentar, sudah hilang. Kakek yang makan? atau..." dia melirik adiknya yang cemberut.
Refan menatap kakaknya dengan cemberut. "Buat apa aku mengambil sushi kakak? Aku bisa beli sendiri, ngomong-ngomong tumben kakak masak."
Efan berkacak pinggang. "Aku memang suka masak kalau tidak ada pekerjaan."
"Suka masak? Kenapa aku baru tahu?" tanya Refan sambil mengalihkan tatapannya ke kakek. "Kakek tahu ini?"
Kakek tidak menjawab dan hanya menyesap teh dengan tenang. "Urusan dia, bukan urusanku."
"Kakek, aku lihat cctv kalau kakek memindahkan semua sushiku ke bekal, bahkan itu kotak bekal yang belum aku pakai sama sekali."
Kakek mengerutkan kening, tidak suka dengan tuduhan cucu pertamanya. "Ini rumahku, kulkas juga punyaku, aku bebas melakukan apa pun. Hilang tinggal buat lagi, sejak kapan kau meributkan hal kecil ini?"
"Sejak sushiku hilang hari ini." Tekan Efan. "Aku hanya ingin bersantai dan makan sushi."
"Hah!" Kakek mendengus. "Kalau hilang, tinggal beli. Mudah! Apa? Uangmu habis?"
Efan menatap curiga kakeknya. "Kakek kirim ke mana sushinya?"
Refan tidak suka dengan tindakan kakaknya. "Kak, berapa harga sushi buatan kakak? Biar aku yang bayar."
Efan menghela napas kasar. "Apa di rumah ini tidak bisa menghargai kerja keras orang lain?"
"Oh, akhirnya kau sadar." Kakek tertawa sinis. "Di rumah ini, memang ada manusia yang tidak bisa menghargai kerja keras orang lain."
Efan menatap tidak percaya kakeknya. "Kapan aku melakukan itu?"
Refan menghela napas panjang. "Kakek, sudah hentikan. Masa lalu, tidak perlu diingat lagi, toh mereka sudah berpisah."
Efan menatap curiga Refan. "Apa? Memang apa yang sudah aku lakukan sehingga menyinggung orang lain?" tanyanya yang masih tidak sadar siapa yang dimaksud sang kakek. "Beritahu aku, siapa yang sudah aku singgung sampai berhasil menghilangkan sushi buatanku?"
Refan menatap kakaknya dengan tatapan tidak percaya. "Kakak sudah kehilangan akal?"
Kakek gebrak meja. "Cucu kurang ajar! Berani menantang kakek?"
Refan menarik napas panjang sambil memegang dadanya. "Ka... kek..."
Kakek terkejut dan panik begitu melihat cucu bungsunya memegang d**a. "Refan, ada apa? Sakit?"
Refan menggeleng pelan. "Hanya terkejut, nanti berhenti sendiri."
Efan ikut cemas. "Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil menepuk punggung adiknya dengan lembut. "Aku panggil Dokter ya."
Refan menepis tangan kakaknya. "Aku baik-baik saja, kakak bisa tenang? Aku baru pulang, jangan bertengkar dengan kakek di depanku."
Efan merasa bersalah. "Refan, kakak tidak bermaksud..."
"Abaikan saja kakakmu." Dengus kakek lalu berikan perintah ke kepala pelayan. "Panggil Dokter sekarang."
Kepala pelayan yang sedari tadi berdiri di belakang kursi kakek Efan dan Refan, membungkuk hormat dan pergi.