Setelah telepon terputus, Akira pun melempar ponsel ber-case hitam itu ke arah nakas. Terbentur pelan tidak membuat perempuan berpiyama biru langit itu menoleh. Matanya asyik memandangi langit dengan gemerlap bintang yang menghiasi. Malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya. Ketika Akira merasa kesepian dan tidak mempunyai teman untuk bersandar. Meskipun ia memiliki dua sahabat yang sangat memperhatikannya, tetapi tidak membuat Akira meresa nyaman. Karena walau bagaimanapun juga Devin dan Ken adalah dua laki-laki yang tidak akan mengerti masalah perempuan. Tanpa sadar bel rumah pun berbunyi, membuat Akira menundukkan kepalanya bingung. Alis tebalnya menukik bingung saat mendapati siluet punggung mungil dengan koper putih yang berasa di samping kanannya. Sepintas Akira merasa bahwa

