“Gue dengar ada kedai es krim baru di sana, Ra.” Ken membuka percakapan seiring berjalannya saat ini. Devin yang awalnya tengah asyik dengan pemandangan sekitar pun menoleh sekilas, lalu menunggu repon yang Akira sampaikan. “Masa sih? Kemarin gue baru lewat sana tapi nggak ada,” balas Akira sambil mengerutkan dahinya bingung. “Sekarang udah buka. Ayo!” ajak Ken meraih kedua lengan sahabatnya. Dengan tertatih-tatih akibat langkah Ken yang terlalu lebar, Akira pun memenangi lututnya sambil mengatur napas. Tatapan tajam itu mengarah pada wajah Ken yang tersenyum polos, berbeda dengan Devin yang acuh tak acuh. Bahkan lelaki itu sedari tadi menatap sebuah spanduk yang terpampang tepat di depan kedai. “Lumayan ramai, Ra. Lo mau pesan apa?” tanya Devin memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ak

