Tanpa mereka sadari, Alvaro tersenyum miris melihat senyuman lemah milik Akira. Sebenarnya, sudah sejak tadi ia berdiri bagaikan patung di sana. Melihat keadaan tanpa mau masuk ke dalam. Jujur saja, setelah mendapat klarifikasi pagi tadi, Alvaro bertekad untuk tidak mengganggu Akira. Biarlah perasaannya ini tumbuh tanpa terbalas. “Mas Alva kalau suka sama Akira toh dikejar. Jangan melihat dari kejauhan kalau semuanya hanya semu,” celetuk suster hijab yang baru saja mengantarkan makanan untuk Akira. Alvaro tersenyum kecut. “Percuma saya kejar kalau dia saja berlari.” “Enggak apa-apa, Mas. Saya yakin setelah Mas Alva mengantarkan Akira ke sini, pasti akan ada seseorang yang memberitahunya,” ucap suster hijab itu yakin. Alvaro menatap suster itu sejenak, lalu tersenyum kecil.

