Tak lama kemudian, beberapa pengunjung pun mulai bubar satu per satu, membuat Teh Echa dan Akira kompak menghela napas lelah. Keduanya tidak menyangka akan seramai ini. Jika biasanya saja tidak akan menghabiskan loyangan roti yang siap di oven beberapa hari kemudian. Namun, karena banyaknya pengunjung keduanya harus merelakan adonan yang belum mengembang itu dan harus segera memasukkannya ke dalam oven. “Sana, Ra. Samperin dulu orangnya, mumpung toko udah sepi,” titah Teh Echa membuat Akira mengangguk singkat, lalu beranjang dari tempat duduknya sambil melepaskan celemek dan menggantungnya di gantungan dekat pintu. Dalam benak Akira timbul banyak sekali pertanyaan mengenai kehadiran Dzaky yang terkesan tiba-tiba. Namun, ia buru-buru mengusir persepsi yang menurutnya tidak masuk akal. Kar

