Sejak mendapatkan pesan singkat misterius dari Akira, raut wajah Ken berubah menjadi sedikit cemas. Pikirannya melayang pada hari di mana Akira menemui ayahnya. Ia tahu bahwa itu bukanlah pertemuan biasa. Namun, ia juga tidak berhak untuk melarang Akira. Akan tetapi, kalau sudah seperti ini pun ia tak sanggup harus berbuat apa. Sebab, Akira bukanlah seorang perempuan yang mudah ditebak, apalagi dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dalam kegundahannya, tiba-tiba Devin datang dengan sekantung cemilan. Lelaki besar nan gagah itu tersenyum lebar kala melihat Ken yang berdiri tepat menghadap dirinya. “Gue mau numpang di rumah lo,” ucap Devin sambil meletakkan kantung putih tersebut di atas nakas. Ken buru-buru menghampiri Devin. “Akira kabur, Vin!” ucapnya dengan wajah panik. Devin mena

