Akira perlahan menghampiri Alvaro yang berdiri tegak di samping nakas. Lelaki itu nampak sibuk membuka kantung plastik yang baru saja dibawnya tadi. Ada dua sterofoam berisikan bubur ayam kesukaan Akira. “Wah! Beli bubur di mana, Kak?” tanya Akira sambil mendudukan diri di ranjang. Alvaro menoleh sekilas, lalu menyerahkan salah satu bubur ayam yang siap santap. “Kebetulan tadi ada yang lewat.” Akira menerima bubur tersebut dengan suka cita, lalu menghirup aromanya sebentar. Wangi khas daun bawang serta ayam yang jelas membuat siapapun akan keroncongan. Perlahan perempuan mungil itu mulai menyuapkan buburnya ke dalam mulut dengan sesekali bergumam senang. Setelah beberapa lama ia tidak menyantap bubur akibat kedua orang tuanya yang sama sekali tidak mengizinkan dirinya untuk

