Bab 4. Sama-sama Kehilangan

1299 Kata
“Mama akan urus pemakaman Kakak kamu. Kamu di sini jaga Alif ya, Nak.” “Iya, Ma.” “Sudah, jangan nangis lagi. Kamu harus kuat.” Sambil memeluk sang putri yang tak kunjung berhenti menangis, Ema mencoba menguatkan dirinya sendiri. Percayalah, meski ia sudah berulang kali berkata Ikhlas akan kepergian putrinya, tetapi rasa sakit itu tak akan pernah bisa hilang. Karena walau bagaimana pun juga, kehilangan seorang buah hati merupakan hal paling menyakitkan bagi setiap ibu yang ada di dunia. Ema yakin itu. “Nara kuat kok, Ma. Mama tenang aja. Nara bakal jaga Alif di sini. Jangan khawatir,” balas Nara beberapa saat kemudian. Meski siapa pun tahu bahwa dia sangat menderita saat ini, tapi Kinara tetap mencoba tegar. Dia harus kuat demi sang mama dan keponakan tercintanya. “Ya sudah, kalau begitu Mama pulang dulu ya, Nak. Kamu jaga diri baik-baik,” pamit Ema akhirnya. Setelah itu, dengan langkah berat, ia meninggalkan putri bungsunya. Bersiap mengurus pemakaman Arini yang rencananya akan dilangsungkan hari itu juga. Namun, baru beberapa langkah berjalan, Ema berhenti. Wanita itu berbalik, kemudian berlari menghampiri Kinara yang masih setia menatapnya. Dipeluknya tubuh Kinara dengan erat. Entah kenapa, dia merasa seperti tak akan bisa memeluk tubuh putrinya itu lagi di kemudian hari. “Mama sayang kamu, Nak. Jaga diri kamu, ya. Dan tolong, jaga Alif juga. Sayangi dia seperti kamu menyayangi anakmu sendiri,” pesannya. “Mama bicara apa, sih?!” Kinara mulai protes. Mendengar perkataan mamanya barusan membuatnya teringat pada pesan terakhir sang kakak. “Nara pasti jaga Alif,” balas Kinara kemudian. “Tapi sama Mama!” lanjutnya menegaskan. “Iya, Nak. Mama pasti akan temani kamu.” “Maaf, Bu. Semuanya sudah siap. Sudah waktunya berangkat.” Kinara dan Ema terpaksa melepaskan pelukan mereka saat mendapat interupsi dari seseorang yang bertugas mempersiapkan jenazah. “Mama pergi dulu ya, Nak.” Selepas kepergian Ema, Kinara menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya secara perlahan. Dia tak boleh menangis lagi. Dia harus kuat, seperti pesan mamanya! ‘Ingat, masih ada amanah yang harus kamu jaga!’ batin Kinara menguatkan. Usai merasa sedikit lebih tenang, akhirnya Kinara berjalan ke ruang NICU, tempat di mana keponakannya dirawat. Meski belum diperbolehkan masuk ke dalam, tapi ia tetap harus berjaga-jaga di luar. “Saya mau masuk! Kalian ini kenapa, sih?” "Mohon pengertiannya, Bu. Pasien belum boleh menerima kunjungan kecuali dari kedua orang tuanya." Perhatian Kinara teralihkan seketika saat melihat keributan yang terjadi tepat di depan ruang NICU. Awalnya, dia tak ingin ingin ikut campur. Namun, melihat keributan yang tak kunjung usai itu, membuat dia mau tak mau turun tangan. “Maaf, Bu, ada apa ini?” tanya Kinara pada seorang wanita paruh baya. “Kamu enggak usah ikut campur! Ini urusan saya!” balas lawan bicara Kinara dengan tidak ramah. Mendengar hal itu, membuat Kinara lantas mengerutkan kening, kemudian menghela napas berat. Dia benci situasi ini. “Ini memang bukan urusan saya, tapi masalahnya Ibu membuat keributan di sini. Ibu mengganggu kenyamanan para pasien!” balas Kinara yang mulai tersulut emosi. Duka mendalam, kelelahan, serta pikiran yang semerawut membuat emosinya gampang naik turun. Kinara akui itu. “Saya enggak peduli! Lagian saya enggak mungkin bikin ribut kalau orang-orang ini membiarkan saya masuk! Saya mau menemani cucu saya! Kasian dia. Dia baru saja ditinggalkan ibunya.” I-ini, tidak seperti apa yang dia pikirkan, ‘kan? “Cucu?” Kinara mengulangi perkataan wanita itu dengan alis terangkat sebelah. Dadanya ikut bergemuruh. “Ibunya meninggal?” tanya Kinara was-was. “Siapa nama cucu ibu?” lanjutnya. “Mana saya tahu! Saya bahkan belum sempat bertemu dengan cucu saya!” Lawan bicara Kinara masih menjawab dengan tidak ramah. Mendapatkan respons yang seperti itu membuat Kinara tak habis pikir. Bisa-bisanya dia terlibat dengan orang yang sama sekali tak bisa diajak berkomunikasi seperti ini. Buang-buang waktu saja. Dan lagi, untuk apa juga dia berpikiran yang tidak-tidak. Tak henti-hentinya Kinara merutuk di dalam hati. Tak ingin ambil pusing, akhirnya Kinara memutuskan untuk menjauh. Namun, sebelum melakukan hal itu, dia terlebih dahulu berpesan. “Saya tahu Ibu khawatir, tapi meskipun begitu, tolong pikirkan keadaan pasien yang lain juga, Bu. Yang sakit bukan hanya cucu Ibu saja, tapi ada banyak, termasuk keluarga saya. Lagipula, Cucu Ibu pasti baik-baik saja di dalam sana. Dokter enggak mungkin menelantarkan dia.” “Maaf kalau kata-kata saya enggak sopan.” Usai mengatakan hal itu, Kinara benar-benar menjauh dari wanita paruh baya tersebut dan memilih duduk pada kursi yang terdapat di ujung lorong bangsal tersebut. Kebetulan ruang NICU dan ICU berada di penghujung bangsal. Beruntung, sepertinya wanita paruh baya itu mendengarkannya. Dia tak lagi memaksa masuk seperti sebelumnya. Justru mengambil posisi tak jauh dari dirinya. “Anak kamu sakit juga?” tanya wanita paruh baya itu tiba-tiba. Namun, tak langsung dijawab oleh Kinara. Untuk beberapa saat, Kinara melirik ke sekitar, memastikan bahwa memang dirinya lah, yang diajak berbicara. “Keponakan,” jawabannya kemudian. “Sakit apa?” tanya wanita paruh baya itu lagi. “Sempat terminum air ketuban dan ada beberapa masalah kesehatan lainnya.” “Baru lahir, ya? Berarti sama dengan cucu saya. Dia juga sempat terminum air ketuban,” aku wanita paruh baya itu. Kepalanya tertunduk lemas, seolah menunjukkan betapa sedihnya ia. Kinara yang menyaksikan hal itu, entah kenapa perasaannya jadi tak enak. Apalagi jika mengingat kembali percakapan mereka beberapa waktu lalu. “Maafin Oma, Sayang. Oma telat datang. Kamu pasti sedih di dalam sana.” Wanita paruh baya itu mulai terisak pelan. “Nama anak Ibu, Rayhan Askara?” tanya Kinara hati-hati. Meski sudah berulang kali meyakinkan diri, kalau apa yang ia pikirkan ini salah, tapi Kinara benar-benar tak bisa menahan mulutnya. Dia ingin menanyakan hal ini. “Kamu tahu dari mana? Astaga—” Wanita paruh baya itu menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangan. Matanya terbelalak. Bertepatan dengan hal itu, terdengar panggilan dari seseorang yang suaranya sangat familier di telinga keduanya. “Mama!” panggil orang itu dengan sedikit terengah. “Mama ngapain ke sini? Bukannya Ray sudah bilang tunggu di rumah saja?” tanyanya kemudian. Kinara tersenyum sumbang melihat kejadian itu. GILA! Jadi, apa yang ia duga sejak tadi tidaklah salah. Wanita paruh baya itu adalah ibu dari Rayhan. Wanita yang mengaku-ngaku sebagai nenek dari keponakannya. “Gila!” Kinara bergumam pelan sembari beranjak dari kursinya. Dia tak ingin emosi lagi. Jadi, menjauh dari kedua orang ini adalah Solusi terbaik untuk saat ini. Begitu pikirnya. “Kinara,” panggil Rayhan dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya. Meski sempat tertegun, tetapi Kinara tak ingin meladeni pria itu. Tidak di saat emosinya sedang tidak stabil begini. “Mama tunggu di sini. Rayhan pergi sebentar,” ujar pria itu sebelum mengejar Kinara. “Kinara, ayo bicara sebentar! Ada hal penting yang mau saya sampaikan ke kamu.” “Saya enggak mau!” tolak Kinara cepat dan tanpa berbasa-basi. “Tapi ini tentang kakak kamu,” ujar Rayhan cepat. Berharap dengan begitu, Kinara mau berhenti dan bicara dengannya. Dan benar saja, detik di mana nama kakaknya disebut, di detik itu juga Kinara menghentikan langkah. “Cepat bilang!” “Kita cari tempat dulu.” Singkatnya, usai mengatakan hal itu, Rayhan menarik tangan Kinara dan membawanya pergi ke area belakang bangsalan rumah sakit. “Sebelumnya, saya turut berbelasungkawa atas kepergian Arini. Sama seperti kamu, saya juga merasa kehilangan,” aku Rayhan. Jika dilihat dari cara bicara, serta raut wajahnya, jelas kalau pria itu tidak sedang berbohong. Dia benar-benar terlihat seperti orang yang tengah kehilangan sekaligus merasa bersalah. Namun …. Apa gunanya itu sekarang? Kakaknya sudah telanjur pergi. “Seperti yang sudah kamu tahu, saya dan Arini sudah merencanakan pernikahan. Rencananya, segera setelah anak kami lahir, saya akan menikahinya, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.” “Sebelum meninggal Arini sempat berpesan, dia mau anak kami dirawat sama kamu. Saya sama sekali tidak keberatan, tapi ….” “Tapi apa?” -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN