“Kita harus menikah!”
“Apa?” Kinara tersedak ludahnya sendiri usai mendengar perkataan Rayhan.
‘Gila! Pria itu pasti sudah gila!’ Tak henti-hentinya Kinara merutuk di dalam hati. ‘Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu dengan sangat enteng,’ gerutunya diam-diam.
‘Menikah? Yang benar saja?! Ah!’
“Saya enggak punya waktu untuk bercanda sama Bapak!” tegas Kinara sesaat sebelum memundurkan langkah. Dia berniat pergi dari sana.
Setidaknya, itu yang direncanakan Kinara beberapa detik lalu. Sebelum jalannya kembali diblokade oleh Rayhan. Persis seperti yang pria itu lakukan kemarin.
Menyadari hal itu membuat Kinara menghela napas jengah. Kesabarannya yang setipis kulit bawang ini kembali diuji oleh pria yang sekarang teramat-sangat ia benci.
“Mau Bapak apa, sih?” protes Kinara sambil menatap nyalang kearah Rayhan. Dia tampak benar-benar kesal pada pria itu.
“Saya tidak sedang bercanda, Kinara. Saya serius tentang apa yang saya katakan barusan,” jawab Rayhan. Alih-alih meladeni protesan Kinara.
“Saya mau kita menikah!” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Kinara tertegun. Berbeda dari sebelumnya, kali ini dia tak langsung menolak ataupun menghardik Rayhan. Hingga beberapa detik berikutnya, wanita itu hanya mengunci mulut dengan rapat. Otaknya berpikir keras.
Jika saja dulu pria itu mengajaknya menikah, tentu Kinara tak akan berpikir dua kali. Kalau bisa, detik di mana dia dilamar, mungkin di detik itu juga dirinya meminta dinikahi. Itu dulu, kalau sekarang ….
Ah, Kinara tak pernah terpikir lagi untuk menikah. Apalagi dengan Rayhan, orang yang selama ini ia yakini sebagai penyebab di balik penderitaan kakaknya.
“Jangan gila, Pak! Sampai kapan pun, saya enggak akan pernah mau menikah dengan Bapak!” tegas Kinara beberapa saat kemudian.
“Tapi hanya ini jalan satu-satunya, supaya kita bisa merawat bayi itu bersama-sama, Kinara.” Rayhan berusaha memberi pengertian.
“Siapa bilang saya mau merawat bayi itu bersama-sama dengan Bapak?” balas Kinara cepat dan tanpa berpikir panjang.
“Maksud kamu, kamu tidak mau memenuhi amanah Arini? Kamu tidak mau merawat anak kami?” tanya Rayhan dengan raut wajah yang tampak sangat terkejut.
Meski tahu kalau usia Kinara terbilang masih sangat muda dan kemungkinan untuk wanita itu menjaga anak sangatlah kecil, tapi dia tak pernah menyangka kalau kata-kata seperti ini akan keluar dari mulutnya.
Maksud Rayhan, bukankah selama ini Kinara sangat menyayangi kakaknya? Dia pikir, wanita itu juga merupakan orang yang paling kehilangan atas kepergian Arini. Jadi, bagaimana bisa dia tidak mau merawat keponakannya sendiri? Ah, Rayhan benar-benar tak habis pikir dibuatnya.
“Baiklah, tidak apa-apa kalau kamu tidak mau merawat bayi itu. Saya bisa merawatnya sendiri. Karena walau bagaimanapun juga, dia adalah anak kandung saya,” ujar Rayhan akhirnya. Hingga beberapa detik kemudian, dia masih berpikir kalau Kinara tak mau merawat anaknya, padahal ….
“Dasar orang gila!” hardik Kinara sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Bukan hanya jadi lebih mudah tersulut emosi, kefrustrasiannya akhir-akhir ini membuat Kinara jadi lebih sering berbicara kasar. Hal yang paling jarang ia lakukan dahulu. Saat berada di bawah pengawasan ketat ibu dan kakaknya.
“Apa kamu bilang?” Rayhan menyipitkan mata. Merasa kesal dengan perkataan mahasiswinya yang entah kenapa kasar sekali.
“Saya bilang Bapak gila!” ulang Kinara sekali lagi. Dia tak peduli akan konsekuensi yang mungkin saja dirinya dapatkan setelah ini.
“Kamu—"
“Dengar ya, Pak. Bayi itu milik saya! Bapak sama sekali enggak punya hak atas bayi itu. Jadi, jangan pernah berpikir untuk merawatnya!” ujar Kinara menegaskan.
Usai mengatakan hal itu, Kinara lantas mendorong pelan tubuh Rayhan agar tak menghalangi jalannya.
Namun, bukan Rayhan namanya kalau bisa disingkirkan begitu saja. Alih-alih pasrah dan membiarkan Kinara pergi, pria itu justru melangkah maju. Membuat Kinara mau tak mau memundurkan langkah.
“Minggir!” tukas Kinara dengan raut wajah kesal.
“Pembicaraan kita belum selesai,” balas Rayhan tentang. Pria itu tampak tak terganggu sedikit pun, dengan ketidaksenangan yang coba Kinara tunjukkan. “Bagaimana mungkin saya akan membiarkan kamu pergi?”
“Apa-apaan sih, Pak? Minggir!” titah Kinara dengan sedikit terbata.
Meski yakin kalau Rayhan tak mungkin berbuat sesuatu yang buruk padanya, tapi entah kenapa ia merasa terancam saat ini.
“Tadi kamu bilang apa? Saya tidak punya hak?” tanya Rayhan di sela-sela aksinya yang berniat memojokkan Kinara.
“M-memang iya, kan?” tanya Kinara balik. “Bapak enggak punya hak! Bayi itu anak Kakak saya! Bukan anak Bapak!” lanjutnya.
“Lucu sekali kamu. Bagaimana bisa kamu membuat statement seperti itu? Padahal, kamu tahu jelas kalau saya ayah biologisnya.”
“Benar, Bapak memang ayah biologisnya, tapi anak itu bukan berasal dari pernikahan yang sah. Jadi, Bapak enggak punya hak atas dia!” Kinara kembali tersulut emosi.
Rasa takut yang sempat ia rasakan beberapa waktu lalu, tenggelam. Tergantikan dengan rasa kesal yang timbul akibat pernyataan Rayhan yang penuh dengan percaya diri. Pria itu berbicara seolah dia lah, yang paling berhak atas anak kakaknya.
“Saya punya hak atas anak saya, Kinara! Lebih dari pada kamu dan keluargamu!” Rayhan menegaskan.
“Tapi kakak saya yang mengandungnya, Pak! Bapak hanya tahu membuat, tapi enggak tahu bertanggung jawab!” balas Kinara tak mau kalah.
Wanita itu mengingat-ingat kembali apa yang terjadi di masa lalu. Saat di mana kakaknya begitu terpuruk Ketika mengetahui kehamilannya. Juga saat keluarga mereka dihujat habis-habisan oleh para warga karena kehamilan kakaknya.
Kinara ingat semuanya! Setiap detik yang mereka lalui di masa-masa terberat itu, ia ingat.
“Jangan sok tahu! Kalau saya tidak bertanggung jawab, saya tidak akan merencanakan pernikahan dengan Arini!”
“Pernikahan, ya?” Kinara tersenyum miring sebelum punggungnya menyentuh tembok. Dia sudah terpojok, tapi entah kenapa semangat dirinya untuk mengata-ngatai Rayhan justru semakin berkobar.
“Bapak pikir saya enggak tahu kalau pernikahan itu baru direncanakan akhir-akhir ini?” tanya Kinara setengah berbisik. “Bapak juga baru mau bertanggung jawab setelah usia kehamilan kakak saya enam bulan, ‘kan?” lanjutnya menyudutkan.
Rayhan terdiam. Hingga beberapa detik berikutnya, pria itu hanya menatap Kinara dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
“Kenapa diam, Pak? Bingung? Enggak ketemu alasan yang pas?” tanya Kinara bertubi-tubi. “Sudahlah, akui saja kalau memang Bapak itu lelaki enggak bertanggung jawab!” sambungnya mencemooh.
Usai mengatakan hal itu, Kinara mendekatkan wajahnya ke telinga Rayhan. Dia membisikkan sesuatu. “Ternyata gosip di kampus itu benar, ya?”
“Saya harap pihak kampus bisa lebih menyeleksi lagi tenaga pengajar mereka.” Kinara langsung menggeser tubuhnya usai mengatakan hal ini.
Sekarang dia puas! Sangat puas karena berhasil membalas setiap perkataan pedas, hinaan, dan cacian yang pernah Rayhan lontarkan padanya.
“Ah, satu lagi,” ujar Kinara sebelum pergi dari tempat tersebut. “Tolong bawa Ibunya Bapak pergi dari sini! Saya enggak mau Alif terganggu karena keributan yang dia buat!”
Rayhan masih tak bergeming. Hingga beberapa detik berikutnya, pria itu hanya menatap punggung Kinara yang perlahan menjauh dari pandangannya.
“Jadi, menurut kamu saya orang yang seperti itu?” gumamnya pelan. Namun, masih mampu didengar oleh Kinara.
Awalnya, Kinara tak ingin menggubris lagi perkataan Rayhan. Dia bahkan sedikit mempercepat langkah, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Namun, sayangnya, dia kalah cepat.
Dalam waktu sepersekian detik, Rayhan yang tadi masih berdiri di ujung lorong, kini sudah berada tepat di hadapannya. Pria itu bahkan berhasil mengembalikan keadaan seperti sebelumnya. Kinara dipojokkan ke dinding. Dia dikurung.
“Bapak apa-apaan, sih! Lepasin saya!” protes Kinara dengan mata melotot.
“Setelah apa yang kamu katakan barusan, kamu masih berpikir kalau saya akan melepaskan kamu?” tanya Rayhan sambil tersenyum miring.
“Memangnya kenapa dengan kata-kata saya? Saya cuma bicara fakta!” balas Kinara sengit. Dia tak terima diperlakukan seperti ini.
“Fakta, ya?” Kembali Rayhan menyunggingkan senyum miringnya. “Baiklah, daripada jadi fitnah, lebih baik saya lakukan seperti yang kamu katakana.”
“P-pak R-ray! B-bapak m-mau apa?” tanya Kinara panik. Keringat dingin mulai bercucuran di keningnya.
-Bersambung-