"Kenapa takut begitu?" tanya Rayhan mencemooh.
Sengaja pria itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Kinara. Dia ingin lihat, seberapa beraninya wanita di hadapannya ini.
"S-saya enggak takut!" jawab Kinara sengit meski dengan sedikit terbata.
Rayhan tergelak dalam hati melihat balasan tersebut. Bisa-bisanya Kinara masih meninggikan suara. Padahal, siapa pun, yang melihatnya juga pasti tahu kalau wanita itu tengah merasa sangat ketakutan saat ini.
'Menarik,' batin Rayhan.
"Baguslah kalau memang kamu tidak takut. Berarti kita bisa lanjutkan pembuktian yang kamu butuhkan. Bagaimana? Kamu mau kita melakukannya di sini atau di hotel? Kalau hanya sekedar pemanasan, saya rasa tempat ini cukup aman, tapi kalau kamu mau yang lebih, kita bisa pergi ke hotel terdek--" Belum sempat Rayhan menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja Kinara memukul dadanya dengan cukup keras.
"b******k!" hardik wanita itu dengan wajah merah padam. "Jangan samakan saya dengan wanita-wanita yang sudah Bapak tiduri!" lanjutnya penuh penekanan.
Kinara benar-benar tak tahan lagi. Sikap Rayhan yang seperti ini membuatnya menyesal bukan main karena pernah tergila-gila pada pria itu.
'Bodoh! Dia benar-benar bodoh!' Kinara menggerutu di dalam hati. Bisa-bisanya dia menyukai pria gila ini.
"Benar, kamu memang tidak sama dengan wanita-wanita itu. Setidaknya, mereka tidak semunafik kamu," bisik Rayhan tepat di depan telinga Kinara.
Mendengar hal itu membuat amarah Kinara semakin naik. Dia tersinggung. Lebih daripada itu, dia benar-benar kecewa.
"Minggir!" titah Kinara beberapa saat kemudian. "Saya enggak mau berdebat lagi dengan Bapak!"
Kalau menurutkan hati, sebenarnya dia ingin membalas hinaan demi hinaan yang Rayhan lontarkan padanya seperti beberapa waktu lalu.
Namun, dia sadar, jika hal itu dirinya lakukan, perdebatan ini pasti tak akan pernah selesai.
"Tarik dulu kata-katamu tadi, baru saya akan minggir." Rayhan menatap Kinara lamat-lamat.
Dari setiap aksi yang dia lakukan, inilah tujuan utama Rayhan. Dia ingin Kinara menyesal dan menarik perkataan buruk tentangnya
beberapa waktu lalu.
"Kenapa saya harus menarik kata-kata saya, padahal itu fakta?"
"Jadi, kamu masih kukuh rupanya," desis Rayhan yang mulai kesal. "Baiklah. Jangan salahkan saya kalau sampai benar-benar melakukan hal yang tidak kamu inginkan," lanjutnya mengancam.
Rayhan pikir, kata-katanya ini sudah cukup untuk menakuti-nakuti Kinara. Tak tahunya, bukannya takut, wanita itu justru terlihat semakin berani. Kecemasan yang sempat tergambar di wajahnya pun, seolah menghilang. Tergantikan dengan raut penuh percaya diri.
"Coba lakukan!" serunya menantang. "Dengan begitu, saya bisa melaporkan Bapak ke polisi atas tuduhan pelecehan dan perbuatan tidak menyenangkan!" sambungnya kemudian.
Rayhan terdiam sejenak. Dia tidak takut dengan ancaman ini. Namun, sorot mata Kinara yang menyiratkan sesuatu menarik perhatiannya.
"Bisa-bisanya kamu mengancam saya di saat kamu sendiri sedang ketakutan begitu," sindir Rayhan sambil mengusap sebelah pipi Kinara yang cukup basah. Entah karena keringat atau justru air mata.
"Saya enggak takut!" sahut Kinara sembari menggertakkan gigi.
"Yakin?" tanya Rayhan meyakinkan. Semakin bertambahnya waktu, dia semakin mendekatkan wajah mereka. Bersiap melakukan sesuatu yang sebenarnya tak pernah ingin ia lakukan pada wanita di depannya.
"Apa begini juga cara Bapak supaya bisa meniduri wanita-wanita di luar sana?" tanya Kinara tepat saat bibirnya dan bibir Rayhan akan bersentuhan.
Bersamaan dengan hal itu, seseorang datang dengan sedikit terburu-buru. Dia menarik lengan Rayhan cukup kuat, hingga membuat tubuh pria itu sedikit terdorong ke belakang.
Kinara tak bergeming. Dia masih setia berdiri di tempatnya dengan tatapan kosong.
"Apa-apaan kamu, Ray!" protes orang itu. Dia menatap kesal ke arah Rayhan.
"Mama enggak pernah didik kamu untuk jadi lelaki seperti ini!"
Benar, yang datang adalah Safia - ibu Rayhan. Usai memarahi putranya, dia menatap prihatin ke arah Kinara. "Saya minta maaf atas nama anak saya. Kamu enggak apa-apa, 'kan?" tanyanya khawatir.
Namun, bukan jawaban, yang dirinya dapatkan justru sebuah kata-kata pedas dari Kinara. "Sejak anak ibu menghancurkan hidup kakak saya, saya enggak pernah baik-baik saja, Bu."
"Saya tahu anak saya bersalah. Saya minta maaf untuk itu."
"Maaf?" Kinara tertawa sumbang.
Bisa-bisanya wanita paruh baya itu meminta maaf dengan seenteng ini. Kinara tergelak dalam hati. Ingin menangis, sebenarnya.
"Apa permintaan maaf Ibu bisa membuat kakak saya hidup kembali?" tanya Kinara sarkas.
Saat tak mendapat jawaban setelah beberapa detik, wanita itu kembali melanjutkan perkataannya. "Enggak, 'kan? Lebih baik, Ibu simpan permintaan maaf Ibu."
"Saya tahu anak saya sudah merugikan kamu dan keluargamu. Saya sangat menyesali itu. Tapi kamu tenang saja, saya pastikan kami akan bertanggung jawab."
"Ibu bisa mengembalikan kakak saya?" tanya Kinara tepat setelah Safia menyelesaikan perkataannya.
"Mana bisa saya menghidupkan orang yang sudah meninggal."
"Kalau begitu, jangan bilang ibu akan bertanggung jawab!" Lagi. Kinara kembali menyerang Safia dengan kata-kata pedasnya.
Rayhan yang mendengar hal itu berniat membalas perkataan Kinara. Menurutnya, menghadapi Kinara dan sifat kekanakannya tidaklah bisa dengan cara baik-baik.
Namun, belum sempat ia membuka suara, sang mama telah lebih dulu menyentuh tangannya. Mengisyaratkan agar ia tak perlu berbicara.
"Kalau memang Ibu menyesal, cukup pergi dan jangan ganggu keluarga kami lagi. Jangan pernah datang dan berniat menemui Alif! Toh, kehadirannya dulu juga enggak pernah kalian harapkan," tutup Kinara sebelum beranjak dari tempat tersebut.
Beberapa detik setelahnya, wanita itu pergi. Dia berjalan cepat. Sangat cepat, hingga nyaris berlari. Bukan tanpa alasan, pasalnya ia tak ingin peristiwa seperti beberapa waktu lalu terulang kembali. Rayhan berhasil mengejar dan mengurungnya.
***
Singkatnya, setelah kejadian pagi itu, baik Rayhan maupun Safia tak pernah terlihat lagi di rumah sakit.
Kinara pikir, ibu dan anak itu telah benar-benar pergi dan tak lagi berniat menemui keponakannya. Dia juga berpikir kalau inilah wajah asli mereka. Sikap prihatin yang mereka tunjukkan beberapa hari lalu hanyalah sebuah sandiwara. Mereka tak bersungguh-sungguh!
"Bodoh! Memangnya kamu mengharapkan apa?" tanya Kinara pada dirinya sendiri.
Sambil mengaduk-aduk mi instan cup yang ia beli di kantin rumah sakit, wanita itu menggeleng-gelengkan kepala. Merasa prihatin dengan kebodohannya.
"Berhenti makan mi terus, Nak. Kasihan perutmu."
Perhatian Kinara teralihkan seketika saat mendapat interupsi dari seseorang.
"Eh, Mama. Kapan datang?" Alih-alih mengiyakan, wanita itu justru terkekeh pelan sembari menanyakan kedatangan mamanya.
"Barusan," jawab Ema sembari mengambil cup mi instan yang berada di tangan putrinya. "Jangan makan ini. Makan nasi aja, ya. Mama sudah bawakan makanan buat kamu," lanjutnya.
Kinara mengangguk patuh. "Iya," sahutnya mengiyakan.
Diambilnya tas bekal yang Ema bawa. Kemudian dibuka dan diciumnya aroma makanan tersebut. "Ah, Nara jadi laper," katanya.
"Tapi Mama kok bisa-bisanya masak makanan seenak ini, padahal lagi kurang fit," protes wanita itu kemudian. "Harusnya Mama istirahat aja. Nara bisa kok, beli makanan di kantin."
"Mi Instan lagi? Enggak! Mama enggak mau kamu makan, makanan itu terus. Itu enggak sehat, Kinara," debat Ema dengan nada tak suka.
"Toh, Mama enggak capek, kok. Lagian, makanan ini bukan Mama yang masak."
"Bukan Mama?" Kinara mengulangi perkataan Ema dengan kedua alis bertaut. "Maksud Mama? Makanan ini Mama beli?" tanyanya penasaran.
"Enggak. Ini dibuatin Neneknya Alif."
"Mama ngelawak, ya?" Kinara kembali terkekeh. "Neneknya Alif 'kan Mama," lanjutnya.
"Neneknya Alif bukan hanya Mama." Ema mengoreksi.
"M-maksud M-mama--"
"Kinara ...."
Merasa dipanggil, Kinara menolehkan wajahnya ke sumber suara. Tempat di mana seseorang berdiri sambil tersenyum ramah ke arahnya.
"Mama apa-apaan, sih?!" protes Kinara pada sang mama.
"Mama ngapain ajak orang itu ke sini?" tanya Kinara kemudian.
Bersamaan dengan hal itu, Kinara meletakkan kotak bekal yang ada di tangannya ke atas kursi tunggu. "Nara enggak sudi makan, makanan ini!"
"Kinara, jangan seperti itu, Nak. Enggak sopan," tegur Ema cepat.
"Nara enggak harus sopan sama orang-orang seperti mereka, Ma! Lagian Mama kenapa, sih? Mama lupa sama apa yang sudah mereka buat selama ini? Mereka yang sudah buat Kak Arini meninggal, Ma! Mereka yang buat hidup kita menderita!" cecar Kinara tanpa henti.
Selain amarah, ada kesedihan dan kekecewaan yang terpancar jelas di sorot matanya. Ema sadar itu, begitupun dengan Safia. Dia tahu betul betapa hancurnya gadis di depannya itu.
"Dan Ibu! Buat apa Ibu ke sini? Bukannya sudah saya bilang, jangan ganggu keluarga kami lagi?" Kinara beralih pada Safia yang perlahan berjalan mendekat ke arahnya.
"Saya ingin meluruskan sesuatu di antara kita, Kinara. Ada sesuatu yang harus kamu tahu tentang Arini dan juga Rayhan."
Kinara menggeleng keras. Dia tak ingin mendengar apa pun, lagi, dari orang-orang itu. Baginya, apa yang ia lihat dan ia alami selama ini sudah sudah cukup untuk menjelaskan keadaan.
"Enggak ada yang perlu dibicarakan lagi!" tukas Kinara sebelum bersiap pergi dari tempat tersebut.
"Kehamilan Arini bukan sepenuhnya salah Rayhan."
-Bersambung-