Bab 7. Meluruskan Kesalahpahaman

1366 Kata
“Jadi, maksud Ibu Kakak saya hamil karena kesalahannya sendiri?” tuding Kinara dengan nada tak senang. Kinara benar-benar tak habis pikir dengan wanita paruh baya di depannya ini. Beberapa hari yang lalu, dia bersikap seolah-olah sangat menyesali perbuatan putranya. Lalu sekarang, dia malah membela putranya yang jelas-jelas telah bersalah. Gila! "Kinara, coba dengarkan penjelasan Bu Fia, Nak. Jangan terbawa emosi dulu," tegur Ema pelan-pelan. Wanita itu mencoba memberi pengertian kepada putri bungsunya agar dapat mengendalikan emosi. "Gimana Nara enggak emosi, Ma? Mereka menyalahkan Kakak! Padahal, jelas-jelas kalau itu kesalahan anaknya!" balas Kinara tak mau tahu. Dia benar-benar telah termakan emosi karena perkataan Safia barusan. "Saya enggak menyalahkan kakak kamu, Kinara." Safia mengoreksi perkataan Kinara yang dinilainya tak benar. "Makanya kamu dengar dulu penjelasan saya. Jangan asal ambil kesimpulan sendiri," lanjutnya memperingatkan. Mendengar hal itu membuat amarah Kinara jadi semakin tak terkendali. Dia ingin membalas perkataan Safia, dia juga ingin segera pergi dari tempat tersebut, tetapi dihalangi oleh sang mama. "Nara, Sayang, tolong dengarkan Mama kali ini saja. Duduk di sini, dengarkan penjelasan Bu Safia." Begitu pinta mamanya. Akhirnya, meski dengan berat hati, Kinara memutuskan untuk kembali duduk di kursi tunggu. Bukan untuk mendengar penjelasan Safia, tetapi demi menghargai ibu kandungnya. "Huh!" Safia menghela napas pelan. Dia merasa cukup lega karena berhasil membuat Kinara duduk dan mendengarkan penjelasannya. "Jadi, begini ...." Safia menggantung kalimatnya. "Saya bingung harus menjelaskan dari mana," sambungnya sembari menarik napas dalam. "Gimana enggak bingung kalau ceritanya aja diada-adakan," sindir Kinara pedas. Wanita itu melipat kedua tangan di depan d**a. Dia juga turut menyilangkan kaki. Sengaja menunjukkan sisi buruknya di hadapan Safia. Aksinya ini tentu menuai protes dari sang mama. Namun, Kinara tak peduli. Baginya, ia tak perlu bersikap sopan di hadapan orang yang sudah menghancurkan hidup mereka. "Nara, jangan begitu, Nak. Enggak sopan," tegur Ema pelan-pelan. "Enggak apa-apa, Mbak. Biar saja," ujar Safia penuh pengertian. "Kinara, saya sudah dengar semua ceritanya dari Rayhan," jelas Safia hati-hati. Sambil menatap wajah Kinara yang sama sekali tak ingin menatapnya, dia berusaha menjelaskan satu-persatu kesalahpahaman di antara mereka. "Saya tahu kamu marah dan kecewa. Saya juga enggak berniat membela diri. Apa yang anak saya lakukan memang salah. Enggak peduli apa pun, alasannya." "Tapi, kalau boleh jujur, saya juga enggak bisa membiarkan kesalahpahaman ini terus berlanjut. Apalagi, ada seseorang yang harus kita jaga bersama-sama." Detik di mana kalimat tersebut keluar dari mulut Safia, di detik itu juga Kinara menoleh. Menatap wanita paruh baya di sampingnya dengan sengit. "Enggak ada yang harus dijaga bersama-sama! Alif milik kami! Ibu dan keluarga Ibu itu enggak berhak atas dia!" sergahnya tak terima. Usai mengatakan hal itu, Kinara berdiri dari duduknya. Dia tak ingin lagi mendengar sepatah katapun dari mulut Safia. Itu niatnya beberapa detik lalu, sebelum .... "Cukup, Kinara! Mama enggak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap enggak sopan begini!" tegur Ema dengan raut wajah garang. Wanita paruh baya itu seolah kehilangan sisi lembutnya. Raut wajah Kinara yang semula merah padam, mendadak pias. Percaya tak percaya, sebuah kalimat bentakan yang keluar dari mulut mamanya, mampu membuat cairan bening seketika memenuhi kelopak mata wanita itu. Hatinya kembali hancur. "Duduk!" titah Ema tak terbantahkan. Mendengar nada bicara mamanya yang tak lagi bersahabat membuat Kinara mau tak mau kembali duduk. "Kejadiannya kurang lebih sembilan bulan lalu. Saat Kakak kamu, anak saya, dan para karyawan Askara Group hadir dalam acara family gathering yang diselenggarakan perusahaan. Saya enggak tahu persis bagaimana kejadiannya, tapi menurut cerita Rayhan dan beberapa bukti yang berhasil saya kumpulkan, Kakak kamu masuk ke kamar pribadi anak saya." "Jangan asal bicara, Bu! Kakak saya enggak mungk--" "Kinara!" sela Ema cepat. Sangat cepat, bahkan sebelum Kinara sempat menyelesaikan perkataannya. Wanita paruh baya itu seolah tak memberikan kesempatan untuk putrinya menyela sebelum benar-benar mendengarkan penjelasan Safia. "Saya tahu dan saya percaya kalau kakak kamu enggak mungkin melakukan hal itu dengan sengaja. Karena saya tahu persis bagaimana perangainya selama bekerja di kantor suami saya," jelas Ema panjang lebar. "Tapi saya juga enggak bisa menampik bukti CCTV yang ada di sana, Kinara. Dalam rekaman CCTV itu, kakak kamu memang benar-benar masuk ke kamar pribadi Rayhan dan baru keluar saat pagi hari. Malam itu, dia bahkan terlihat sempoyongan, persis seperti orang yang sedang mabuk. Saya enggak tahu apa yang terjadi di dalam kamar itu karena di dalam tidak ada CCTV, tapi ...." Kembali Safia menjeda kalimatnya. Mencoba menimbang-nimbang, apakah kata-katanya bisa diterima atau tidak oleh Kinara. "Rayhan mengakuinya. Dia tidur dengan kakak kamu," ungkap Safia dengan nada yang jauh lebih kecil dari sebelumnya. Ada kekecewaan yang tergambar jelas dalam raut wajahnya. Dan hal itu disadari betul oleh sepasang ibu dan anak yang berada di sana. "Dia juga mabuk dan enggak bisa mengendalikan diri saat ada wanita yang masuk ke kamarnya. Terlebih, dia pikir yang masuk saat itu adalah tunangannya." 'Tunangan?' Kinara tertegun. Dia syok saat mendengar pengakuan Safia. Rayhan sudah punya tunangan?' batinnya dibuat bertanya-tanya. 'Kenapa dia tak pernah tahu tentang hal ini? Ah, bodoh! Sejak awal, dirinya memang tak pernah tahu apa-apa tentang pria itu.' Kinara menggerutu di dalam hati. "Yang kamu pikirkan benar, Kinara. Rayhan sudah bertunangan, mereka bahkan sudah merencanakan pernikahan, tapi karena kasus itu, rencana pernikahan mereka berantakan, dan calon tunangannya memutuskan pergi ke luar negeri." "Saya sama sekali enggak menyalahkan kakak kamu atas batalnya pernikahan mereka. Saya tahu, ini semua sudah takdir yang harus kita jalani." "Rayhan tetap salah, tentu saja! Dia terlalu lamban dalam mengambil keputusan untuk bertanggung jawab terhadap anak yang ada di dalam kandungan kakakmu. Saya benar-benar minta maaf untuk itu. Tapi meskipun terlambat, akhirnya mereka berdua sepakat untuk bersama, Kinara. Mereka sepakat untuk berdamai dengan keadaan dan memutuskan untuk membesarkan anak mereka bersama-sama." Safia mengakhiri kalimatnya dengan setetes air mata. Meski tahu kalau yang paling dirugikan di sini adalah keluarga Kinara, tapi mereka juga bukannya hidup dengan tenang selama ini. Mereka juga melewati masa-masa sulit. Apalagi Rayhan. Percaya tak percaya, putranya itu bahkan sampai harus berkonsultasi dengan psikiater saat ditimpa masalah tersebut. Bagaimana tidak, masa depan yang sudah dia rancang dengan sangat matang, seketika hancur hanya dalam waktu semalam. Bukan hanya batal menikah, dan ditinggalkan oleh tunangannya, dia juga nyaris dicoret dari daftar pewaris oleh ayah kandungnya sendiri. "Baik Arini maupun Rayhan, mereka sama-sama enggak mau hal ini terjadi, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah takdir. Jadi, saya harap kamu pun, bisa seperti mereka. Berlapang d**a dan menerima takdir ini," pinta Safia penuh harap. "Terlepas dari ketidaksengajaan itu, kami sangat menyayangi anak mereka. Meskipun dia terlahir di luar ikatan pernikahan, dia tetap cucu kami. Jadi, tolong! Tolong jangan pisahkan kami dari dia," pinta Safia lagi. Kali ini bahkan lebih terdengar seperti sebuah permohonan dibanding permintaan. Sementara Safia sibuk memohon, Kinara justru tak bergeming. Alih-alih menjawab, dia lebih memilih pergi dari sana. Beruntung, kali ini mamanya tak menghalangi. Mungkin wanita paruh baya itu tahu kalau putrinya butuh waktu untuk berpikir. *** "Ini." Kinara melirik sebentar ke arah sebuah tangan yang terjulur di depan wajahnya. Tangan itu menggenggam sebotol air mineral. "Saya enggak haus!" tolaknya tanpa berbasa-basi. "Ambil atau nilai kamu saya kasih E!" ancam sang empunya tangan. Mendengar hal itu membuat Kinara mendelik sebal, sebelum akhirnya mengambil botol tersebut. Benar, yang memberikannya air adalah Rayhan. Pria yang akhir-akhir ini selalu bersitegang dengannya. Tidak, hubungan Kinara dan Rayhan tak lantas membaik, meski dirinya sudah mengetahui fakta di balik kehamilan kakaknya. Kinara juga bukannya sudah memaafkan pria itu. Di matanya, Rayhan masih tetap menjadi orang yang menyebabkan kepergian sang kakak. Hanya saja .... Kini ia tak lagi menghalangi pria itu untuk bertemu dengan keponakannya. Ataupun berniat memisahkan mereka. "Terima kasih." "Kamu sudah harus masuk kuliah." Alih-alih merespons perkataan Kinara, Rayhan justru menyuruh wanita itu agar kembali ke kampus. "Saya bisa bantu koordinasikan tentang ketidakhadiranmu dengan dosen yang lain. Jadi--" "Enggak perlu, Pak. Saya bisa sendiri," tolak Kinara cepat. "Saya pergi dulu," lanjutnya kemudian. "Saya minta maaf." Rayhan menahan sebelah pergelangan tangan Kinara. Tidak kuat, tapi mampu membuat pergerakan wanita itu terhenti. "Saya mungkin sudah keterlaluan beberapa hari yang lalu. Kamu mau memaafkan saya, 'kan?" tanya Rayhan akhirnya. "Enggak tahu," jawab Kinara. Kalau boleh jujur, sebenarnya Kinara tak akan pernah bisa memaafkan Rayhan. Namun ... ah, sudahlah! "Mama saya sudah cerita semuanya. Dia bilang, kamu mengizinkan kami untuk ikut merawat Alif." "Benar. Itu sudah cukup impas 'kan, untuk kita berdua?" "Belum." "Maksud Bapak?" -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN