Bab 8. Ditolak Mentah-mentah

1256 Kata
"Bapak mau apa lagi?" tanya Kinara dengan nada tak senang. Wanita itu menatap pria di depannya dengan sorot mata penuh kekesalan. Dasar laki-laki tak tahu diri! Kira-kira, begitu arti dari tatapannya. "Sama seperti yang saya katakan beberapa hari lalu," jawab Rayhan dengan raut wajah tanpa dosa. "Menikah?" tebak Kinara asal. Kinara pikir, Rayhan tak mungkin benar-benar ingin menikah dengannya. Apalagi hanya karena ingin merawat Alif bersama-sama. Ditambah, pria itu sudah pernah memiliki tunangan. Jadi, mustahil rasanya kalau tebakannya benar. Yah, meskipun rencana pernikahan mereka berantakan, tapi bukan tak mungkin 'kan, kalau pria itu kembali merajut asmara dengan mantan tunangannya? Telebih, tak ada lagi yang akan menghalangi hubungan mereka. Setidaknya, itu yang Kinara pikirkan hingga beberapa detik lalu. Sebelum, sebuah kalimat mengejutkan keluar dari mulut Rayhan dan mematahkan keyakinannya. "Benar, tawaran saya beberapa hari lalu masih berlaku. Saya ingin kamu menikah dengan saya agar kita bisa sama-sama merawat Alif." Gila! Mata Kinara terbelalak seketika usai mendengar hal itu. Mulutnya bahkan ikut terbuka saking kagetnya. "Jangan gila, Pak!" tegur Kinara dengan mata melotot. "Saya enggak mau menikah dengan Bapak!" tolaknya mentah-mentah. "Tapi ini demi kebaikan kita semua, Kinara. Terutama Alif. Dia butuh perhatian khusus." "Tapi bukan dengan cara menikah, Pak! Itu enggak masuk akal!" balas Kinara sengit. Dia tak terima dengan ide gila yang diajukan Rayhan. Menikah, katanya. Yang benar saja! "Lagipula, bukannya Bapak enggak tertarik sama saya? Bapak juga yang bilang kalau paling benci dengan orang-orang seperti saya, 'kan? Lantas, kenapa sekarang Bapak malah mau menikahi saya?" tanya Kinara sarkas. Sengaja ia menyinggung tentang hinaan yang Rayhan lontarkan tempo hari. "Sudah saya bilang, ini demi kebaikan kita semua. Terutama--" "Apa? Demi kebaikan Alif? Yakin hanya demi kebaikan dia?" sergah Kinara menggebu-gebu. "Bukan demi kebaikan orang-orang tertentu?" lanjutnya. "Maksud kamu?" "Ya siapa tahu 'kan, ada yang memiliki kepentingan lain di balik pernikahan itu. Untuk menyelamatkan nama baik, misalnya." Kinara mulai menyindir. Untuk urusan sindir-menyindir, dia ratunya. "Maksud kamu saya?" balas Rayhan dengan kedua alis bertaut hebat. Ada gurat ketidaksenangan yang tergambar jelas dalam raut wajahnya. Dan hal itu disadari langsung oleh Kinara. "Saya enggak bilang begitu, tapi kalau Bapak menyadarinya, ya bagus!" Kinara menggedikkan bahu sembari memutar bola matanya. 'Bagus kalau Rayhan sadar diri. Setidaknya, ia tak perlu repot-repot menyindir lagi.' Begitu pikirnya. "Terserah kamu mau berpikir bagaimana, tapi yang jelas, tujuan saya hanya satu. Saya ingin memberikan kasih sayang yang full untuk Alif. Saya ingin berada di sisinya dua puluh empat jam, saya ingin terlibat langsung dalam setiap momen tumbuh kembangnya!" jelas Rayhan panjang lebar. "Lagipula, memangnya apa susahnya sih, menerima tawaran saya? Toh kamu tidak akan rugi. Semua keperluanmu saya penuhi, pangan, sandang, papan, tidak akan ada yang terlewat! Saya juga akan memberikan fasilitas yang tidak main-main. Mobil, uang bulanan, bahkan uang belanja khusus untuk diri kamu sendiri." "Saya pikir Bapak hanya sekedar gila, tapi ternyata enggak. Saya salah," desis Kinara sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Bapak sinting!" hardiknya kemudian. "Dengar ya, Pak! Sampai kapan pun, saya enggak akan pernah mau menikah dengan Bapak! Jangan pikir karena saya mengizinkan kalian untuk ikut merawat Alif, Bapak bisa semena-mena sama saya!" "Kalau memang mau menikah, menikah sana sama mantan tunangan Bapak! Ngapain menikahi saya! Sinting!" Kembali Kinara melontarkan kata-kata pedas pada Rayhan tanpa memedulikan konsekuensi yang mungkin saja akan dirinya terima. "Kamu yakin mau saya menikah dengan wanita lain?" tanya Rayhan diiringi seringaian tipis. "Tentu saja! Memangnya kenapa saya harus enggak yakin? Tunggu! Jangan bilang ... Bapak berpikir kalau saya masih suka sama Bapak?" "Astaga ...." Kinara tergelak sebentar sebelum kembali melontarkan kata-kata pedas. "Dengar ya, Pak Rayhan! Saya sama sekali enggak punya rasa lagi sama Bapak! Dan asal Bapak tahu, saya menyesal pernah suka sama orang b******k kayak Bapak!" "Kamu!" Rayhan menggeram pelan. Dia benar-benar merasa tersinggung. "Kenapa? Bapak mau ngancam saya pakai nilai lagi?" sambar Kinara cepat. "Silakan! Saya enggak takut! Kasih aja saya nilai E, saya enggak peduli. Toh, saya juga enggak akan mau masuk kuliah lagi!" lanjutnya berapi-api. Wajah Rayhan yang sebelumnya merah padam akibat menahan kesal, mendadak berubah saat mendengar akhir dari kalimat Kinara. 'Apa maksud wanita itu? Dia ingin berhenti kuliah, kah?' tanyanya dalam hati. "Kamu mau berhenti kuliah?" tanya Rayhan akhirnya. "Bukan urusan Bapak!" jawab Kinara cepat. Kemudian bergegas pergi dari sana dengan sedikit terburu-buru. *** "Nara, Mama pulang dulu ya, Nak. Kamu enggak apa-apa 'kan, Mama tinggal sendiri di sini?" tanya Ema khawatir. Kinara tak langsung menjawab, hingga beberapa detik berikutnya, wanita itu hanya menatap wajah sang mama yang entah kenapa terlihat sangat pucat. "Mama sehat 'kan, Ma?" tanya Kinara balik. Sama seperti sang mama yang khawatir kepadanya, dia juga khawatir kepada wanita paruh baya itu. "Mama cuma sedikit kecapekan, Nak. Makanya Mama mau pulang dulu. Enggak apa-apa, 'kan?" "Yakin Mama mau pulang? Enggak mau dirawat aja?" Lagi. Kinara kembali bertanya dengan nada yang sangat khawatir. "Enggak perlu. Mama istirahat di rumah aja. Sekalian, Mama mau ke makam kakak kamu, Mama kangen sama dia," balas Ema sembari tersenyum kecut. Ema pikir, seiring berjalannya waktu, ia bisa perlahan-lahan melupakan kesedihan akibat kepergian putrinya. Namun, ternyata tidak. Semakin hari, rasa kehilangan itu justru semakin terasa hingga tak jarang membuat dadanya sesak. Ema merindukan putrinya. Dia ingin bertemu dengan putrinya. "Ya sudah, kalau begitu Nara antar Mama, ya," tawar Kinara akhirnya. "Enggak perlu, Nak. Kamu di sini aja. Lagian kalau kamu antar Mama, nanti siapa yang jaga Alif?" "Ada perawat, Ma. Lagipula, nanti nenek sama papanya mau datang, 'kan?" debat Kinara. "Kamu di sini aja, Sayang. Mama bisa pulang sendiri," kata Ema. Wanita paruh baya itu seolah kukuh dengan keputusannya. Kinara tak dapat berbuat apa-apa lagi usai mendengar kalimat mamanya itu. Dia pasrah. "Ya sudah, kalau begitu Mama hati-hati, ya. Jangan lupa kabarin Nara kalau sudah sampai." "Iya, Sayang." Setelah itu, tanpa berlama-lama lagi, Ema berpamitan. Dipeluk dan diciumnya kening sang putri dengan penuh kasih sayang. Seolah-olah, pelukan dan ciuman itu adalah momen indah terakhir yang bisa mereka lalui bersama. Kinara tentu dibuat bingung dengan sikap aneh mamanya. Namun, meskipun begitu, ia tak ingin ambil pusing. *** Seperti yang sudah Kinara duga sebelumnya, tak lama berselang setelah mamanya pergi, Rayhan datang bersama Safia. Mereka datang dengan membawa beberapa barang, seperti makanan, buah-buahan dan juga selimut yang entah untuk apa. Meski merasa penasaran, tapi lagi-lagi Kinara tak ingin ambil pusing. "Sudah makan, Ra?" tanya Safia penuh perhatian. Sejak kejadian tempo hari, sikap dan cara bicara wanita paruh baya itu padanya memang terlihat berbeda. Entah hanya perasaannya saja atau tidak, tapi Kinara merasa kalau Safia mencoba mengakrabkan diri dengannya. Percaya tak percaya, wanita paruh baya itu juga menyebut dirinya dengan sebutan "Ibu". Sesuatu yang sebenarnya cukup membuat risih. "Sudah," jawab Kinara seadanya yang langsung ditanggapi dengan anggukan oleh Safia. "Oh, ya. Tadi Ibu selisihan sama mama kamu, dia mau ke mana?" tanya Safia kemudian. "Pulang." "Pulang, ya. Baguslah." "Oh ya. Malam ini kamu biar ditemani Rayhan, ya." "Ha?" Kinara tersentak. "Maksudnya?" "Mama kamu 'kan, enggak ada. Jadi, biar Rayhan yang temani kamu di sini. Kasihan kalau kamu harus jaga sendirian," jawab Safia dengan raut wajah tenang. "Saya enggak perlu ditemani, Bu. Saya baik-baik aja di sini sendirian," tolak Kinara cepat. Gila! Bisa-bisanya ide seperti itu tercetus dari mulut Safia. Tak henti-hentinya Kinara menggerutu di dalam hati. Ditemani Rayhan? Yang benar saja! "Kenapa? Kamu takut dekat-dekat dengan saya?" Bukan Safia, kali ini yang mendebat Kinara justru Rayhan. Pria yang sedari tadi hanya sibuk mengucni mulut. "Saya enggak takut, tapi terganggu!" balas Kinara sebelum perhatiannya teralihkan oleh sesuatu. Ponselnya mendapat panggilan masuk dari nomor sang mama. Merasa heran, akhirnya Kinara mengangkat panggilan tersebut. Dan ... betapa terkejutnya ia ketika mendengar suara orang yang berada di balik sambungan telepon. -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN