Bab 9. Kehilangan Lagi

1185 Kata
"A-apa?" Ponsel yang sampai beberapa detik lalu masih berada di genggaman Kinara spontan terlepas saat sebuah kalimat mengejutkan menyapa indera pendengarannya. Sontak saja aksinya ini menuai perhatian sepasang ibu dan anak yang juga berada di sana. Safia dan Rayhan, mereka berdua tak bisa tak khawatir melihat kejadian tersebut. Bagaimana tidak, pasalnya Kinara langsung jatuh, bersamaan dengan ponselnya. Terlebih, wanita itu juga turut menangis dengan sesegukan setelahnya. "Kinara, ada apa?" tanya Safia yang langsung berjongkok guna menyetarakan tingginya dengan Kinara. "Kamu kenapa?" Rayhan ikut bertanya. "M-mama ...," lirih Kinara di sela-sela isak tangisnya. "M-mama s-saya ...," sambungnya dengan terbata. Sungguh! Kinara benar-benar tak memiliki tenaga lagi untuk sekedar menjawab pertanyaan Safia maupun Rayhan. Lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat, dadanya sesak. Sakit. "Mama kamu kenapa, Ra?" tanya Safia lagi. Kali ini dengan nada yang jauh lebih khawatir di banding sebelumnya. Namun, bukan jawaban, yang Safia dapatkan justru isakan kencang. Kinara menangis tersedu-sedu tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun lagi dari mulutnya. Rayhan yang sadar kalau Kinara tak dapat diajak berkomunikasi pun, langsung mengambil ponsel wanita itu yang kebetulan panggilannya masih tersambung. "Halo? Saya kerabat wanita yang ditelepon, ada apa, ya?" tanya Rayhan pada seseorang di seberang sana. "Baik," ujarnya setelah beberapa saat. Setelah mematikan sambungan telepon, buru-buru Rayhan memasukkan ponsel Kinara ke dalam saku celananya. Kemudian membantu wanita itu berdiri. "Kita harus pergi sekarang," katanya. "Ada apa sebenarnya, Ray?" tanya Safia penasaran. "Bu Ema kecelakaan, Ma. Dia jadi korban tabrak lari di depan rumah sakit. Sekarang Jenazahnya sudah dievakusi ke rumah sakit ini," jelasnya panjang lebar. "Ray temani Kinara dulu, Mama tolong jaga Alif, ya," lanjutnya kemudian. Usai mengatakan hal itu, Rayhan buru-buru memapah Kinara. Membantunya berjalan menuju ruang Jenazah. Benar, ibu wanita itu meninggal di tempat dalam kecelakaan yang terjadi beberapa menit lalu. Sementara Safia, wanita paruh baya itu hanya dapat terdiam seribu bahasa sembari menatap kepergian sang putra dan gadis yang hidupnya pasti kembali hancur karena kepergian mamanya. "Kinara, malang betul hidupmu, Nak," gumamnya pelan. Sangat pelan, hingga nyaris menyerupai sebuah bisikan. *** "Mama ... kenapa harus begini, Ma?" Sesampainya di ruang jenazah, Kinara langsung memeluk tubuh sang mama yang telah berlumuran darah. Meski tak meraung, tetapi isakan demi isakan yang keluar dari mulut wanita itu mampu mengalihkan perhatian setiap orang yang berada di sana. Apalagi para petugas medis yang sebenarnya sudah sangat mengenal wanita itu dan mamanya. Mereka turut bersedih. Beberapa di antaranya bahkan ikut menitikkan air mata, saking tak sanggupnya melihat momen menyedihkan itu. Pun, dengan Rayhan. Meski tak menangis seperti Kinara, tapi pria itu juga merasakan kesedihan yang mendalam atas kepergian Ema. Bagaimana tidak, pasalnya wanita paruh baya itu merupakan satu-satunya orang yang tak mengadilinya secara sebelah pihak atas perbuatannya di masa lalu. "Mama ... tolong bangun," pinta Kinara memohon. Meski tahu kalau mamanya tak mungkin bisa hidup kembali, tapi dia tetap berusaha membangunkan wanita paruh baya itu. Dipeluk dan digoyang-goyangkannya tubuh Ema yang masih berlumuran darah. Berharap hal itu dapat membuat sang mama kembali sadar. "Cukup, Kinara. Jangan buat ibu kamu lebih menderita lagi dari ini," kata Rayhan mengingatkan. "Kamu harus ikhlas, biarkan ibumu pergi dengan tenang." "Saya tahu kamu sedih, tapi meskipun begitu, kamu harus tetap kuat. Ingat, ada Alif yang harus kamu jaga." Rayhan berbicara begitu agar Kinara dapat membuka sedikit pikirannya. Juga agar wanita itu dapat menerima kenyataan meski sulit. Namun, sayangnya, Kinara mengartikan perkataannya secara berbeda. "Pak Rayhan bisa bicara begitu karena Bapak enggak ada di posisi saya! Bapak enggak ngerasain gimana sakitnya jadi saya!" "Gimana caranya saya bisa kuat, Pak, kalau alasan saya untuk bertahan aja udah enggak ada?!" "Selama ini, saya bisa bertahan karena ada Mama! Saya bisa baik-baik aja karena Mama!" "Tapi sekarang Mama ikut ninggalin saya! Terus gimana caranya saya bisa tenang?!" tanya Kinara bertubi-tubi. Tak dipedulikannya tatapan iba dari orang-orang yang berada di sana. Sungguh! Kinara benar-benar tak peduli pada apa pun lagi, saat ini. Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah mencari cara agar mamanya bisa hidup kembali. Meskipun, ia tahu bahwa tak mungkin ada cara untuk melakukan hal itu. Mamanya telah tiada. Wanita yang hingga beberapa menit lalu masih memeluknya dengan penuh kasih sayang itu, kini tak lagi mengembuskan napas. Menyadari hal ini membuat d**a Kinara yang sudah sesak karena terlalu banyak menangis, jadi semakin terasa sesak. Dia bahkan tak tahu lagi bagaimana cara bernapas dengan benar. "M-mama ...." Kinara kembali memeluk tubuh mamanya. "Jangan tinggalin Nara, Ma. Nara mohon ..." "Mama sudah janji bakal jaga Alif sama Nara. Mama enggak lupa kan, Ma?" tanya Kinara untuk kesekian kalinya. Wanita itu berbicara seolah-olah orang yang dipeluk akan membalas perkataannya. Hati Rayhan tak bisa tak terenyuh melihat pemandangan ini. Meski dia yang menyuruh Kinara untuk bersikap tegar, tapi tak bisa dipungkiri, dia pun, rasanya ingin ikut menangis. Apalagi saat mendengar racauan demi racauan yang keluar dari mulut wanita itu. Kinara, betapa malangnya nasib wanita itu. Belum genap seminggu dia berduka akibat kepergian kakak kandungnya, sekarang, dia bahkan harus menanggung duka lagi karena kepergian ibunya. "Mama ... please ...." Kinara kembali memohon di samping jenazah Ema. "Jangan tinggalin Nara sendirian," lanjutnya. "Kalau Mama pergi, Nara sama siapa, Ma? Nara enggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini! " "Kalau Mama enggak mau bangun, tolong ajak Nara, Ma! Ajak Nara pergi sama Mama. Nara enggak mau sendirian di sini!" racau Kinara untuk kesekian kalinya. Wanita itu tampak mulai kehilangan akal. Kata-katanya mulai melantur ke mana-mana. Rayhan yang menghadapinya pun, tampak mulai menghela napas panjang. Dia ikut sedih, dia prihatin, dia paham betapa menderitanya Kinara. Namun, dia juga tak tahan jika harus melihat wanita itu terus seperti ini. Hatinya sakit. "Kinara," tegur Rayhan pelan. Kemudian berusaha melepaskan pelukan wanita itu terhadap mamanya. "Kamu harus kuat," lanjutnya dengan penuh kelembutan. "Mama kamu pasti sedih kalau lihat anaknya seperti ini." Rayhan memegang kedua pundak Kinara setelah berhasil melepaskan pelukan wanita itu dengan ibunya. "Sudah, ya? Kalau kamu sayang sama mama kamu, sebaiknya kamu ikhlaskan kepergian beliau. Jangan buat langkahnya menjadi sulit dengan tangisan-tangisan kamu," ujar pria itu lagi sembari membawa tubuh Kinara ke dalam pelukannya. Berharap dengan begitu, Kinara bisa merasa sedikit lebih tenang. "Lagipula, kamu tidak sendiri. Ada Alif, ada mama saya dan juga saya di sini. Kami tidak mungkin meninggalkan kamu sendirian." Rayhan mengeratkan pelukannya. Sebisa mungkin ia berusaha memberikan ketenangan pada Kinara yang masih saja menangis sesegukan. Beruntung kali ini Kinara tak memberikan perlawanan seperti biasanya. Entah karena tak memiliki tenaga atau karena dia memang sedang membutuhkan bahu untuk bersandar. "Mas, tolong urus jenazahnya," ujar Rayhan pada salah seorang tenaga kesehatan yang kebetulan berada di sana. Rayhan pikir, apa yang ia lakukan barusan sudah cukup untuk membuat Kinara merasa lebih tenang dan membiarkan mereka mengurus jenazah ibunya. Tak tahunya .... "Jangan! Jangan sentuh mama saya!" pekiknya. Dengan cepat wanita itu melepaskan diri dari pelukan Rayhan. Kemudian kembali memeluk jenazah sang mama dengan erat. "Enggak ada yang boleh nyentuh mama saya! Pergi kalian dari sini!" teriaknya tanpa ampun. "Mama! Mama harus bangun! Mama enggak boleh tinggalin Nara! Mama harus di sini sam--" Belum sempat Kinara menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja tubuh wanita itu ambruk, menghantam kerasnya lantai hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. "Kinara!" pekik Rayhan kaget. "Tolong bantu saya!" *** "Dek." "Nara." "Kinara sayang, bangun!" -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN