Aku Mau Nikah

1314 Kata
Hampir semalam suntuk, Jingga tidak bisa tidur. Ia hanya duduk merenung di jendela kamarnya. Tatapannya melalang ke atas, di mana bulan sudah begitu sempurna memamerkan diri. Suara desahan dan lenguhan Ben dengan kekasihnya, seperti terus saja terngiang di telinga Jingga. Ia jijik, muak, juga benci jika mengingat adegan yang tak sengaja ia lihat. Rasanya ia benar-benar sakit hati sekali pada Ben. "Beneran lho, Ras. Aku enggak punya cewek. Jaman sekarang tuh susah nyari cewek yang benar-benar mau nerima aku apa adanya. Kebanyakan dari mereka cuma memanfaatkan materi aku aja." Ucapan Ben itu begitu membekas dalam hati Jingga. Betapa bodoh dirinya, yang saat itu percaya saja dengan bualan playboy seperti Ben. Drrrtt... drrrtt... Ponsel yang ada di atas pangkuan Jingga bergetar, menampilkan deretan nomer baru yang terlihat menari-nari di layar benda canggih berwarna putih itu. Jingga menaikkan sebelah alis. Nomer siapa itu? Jingga merasa asing sekali. Didorong rasa penasarannya, Jingga akhirnya menerima juga panggilan telepon yang masuk. "Ya, hallo? Siapa nih?" cetus Jingga, begitu ia sudah terhubung dengan si penelepon di ujung sana. "Jingga, ini aku. Ara." Deg! Astaga! Utara? Bagaimana bisa dia mendapatkan nomer telepon ponselnya? Bahkan Ben saja belum tau. Jingga membatin penasaran. "Bang Ara? Dari mana Abang bisa tau nomer aku?" cicit Jingga mencari tau. "Santai … enggak usah kaget gitu. Aku minta dari Mama kok," jawab Ara terdengar santai. Jingga manggut-manggut saja mengiyakan jawaban Ara. "Kamu lagi ngapain? Sibuk enggak?" sambung Ara lagi, semakin membuat Jingga penasaran. Sebenarnya apa tujuan laki-laki itu menelepon? "Lagi duduk. Ada apa?" "Aku cuma mau ngasih tau aja, kalau aku udah ngomong sama Mama soal kita. Dan mereka bilang, minggu depan mau ke Jogja buat merundingkan pernikahan." Dahsyat! Sukses Jingga kaget sebab penuturan Ara. Secepat itukah? Apa sudah benar keputusan yang Jingga ambil. Melepaskan Ben, dan menggantikannya dengan Ara. Sebentuk kebimbangan menyergap diri Jingga. Menikah? Bukankah ini adalah hal yang sangat serius? Apa Jingga sungguh-sungguh akan melakukan ini semua, hanya demi dirinya bisa membalaskan sakit hati pada Ben. "Secepat itukah, Bang?" cicit Jingga memastikan lagi informasi dari Ara. Di seberang telepon, Ara tersenyum. "Kenapa? Kamu takut ya, nikah sama aku?" seloroh Ara coba mencairkan keraguan Jingga. Jingga menggigit pelan bibir bawahnya. Bola matanya bergerak random ke kanan dan kiri, seakan mencoba menemukan jawaban untuk pertanyaan Ara. "Tenang aja, aku enggak galak kok. Tapi enggak tau juga sih, kalau udah di atas tempat tidur." Badas! Tercengang Jingga mendengar kalimat itu. Seorang Ara yang ia pikir bersifat dingin dan serius, ternyata bisa menggoda orang juga. Parahnya, godaan itu terdengar ambigu sekali di telinga Jingga. Galak di atas tempat tidur, itu maksudnya apa coba? Mengajak Jingga berpikir m***m saja. "Bang, serius kenapa sih? Kita itu mau nikah, bukan mau main rumah-rumahan. Ini Bang Ara beneran mau ngelanjutin perjodohan aku sama Ben?" Kembali Jingga memastikan keniatan Ara untuk menggantikan Ben menikah dengannya. "Ya serius lah, masa bohongan. Ya udah, pokoknya siap-siap aja minggu depan, ya. Aku mau istirahat. Jadi udah dulu, dan selamat malam, Jingga." Tut. Ara menutup telepon, menyisakan diri Jingga yang semakin larut dalam kebingungan. Bingung sekali, antara keseriusan Ara dan maksud lain laki-laki itu mau menikahi dirinya. **** Pagi hari di kota Bandung, tepatnya di kediaman dua bujang kakak-beradik. Ara dan Ben sarapan bersama, sebelum mereka melakukan aktifitas hari ini. Di tempatnya duduk, Ara terlihat fokus dengan kue sandwich-nya. Sedangkan Ben terkesan ogah-ogahan dengan nasi goreng yang tersaji di atas piring. Matanya intens memandangi sang kakak yang sudah sukses membuatnya galau. Bagaimana tidak galau? Secara langsung, Ara telah menyerobot Jingga yang notabene sudah dijodohkan dengannya oleh orang tua mereka. Bisa-bisanya Ara berlaku demikian? Biarpun kekacauan itu terjadi juga disebabkan oleh Ben. Akan tetapi, tetap saja Ara seharusnya tidak boleh main rebut Jingga begitu saja dari Ben. Pasalnya, Ben sudah memiliki rasa suka pada Jingga sejak pertama kedatangan gadis itu di rumah mereka. "Bang, lo enggak serius 'kan sama Jingga?" celetuk Ben, langsung menodong Ara dengan pertanyaannya. Terpancing oleh pertanyaan Ben, Ara pun lantas menaruh kembali roti di tangannya ke atas piring. Dahinya mengernyit, tatkala menatap ekspresi wajah adiknya terlihat masam. Tak sedap dipandang mata. "Harusnya lo itu berterima kasih sama gue. Gue tau, lo masih berhubungan sama Agnes, 'kan? Enggak mungkin lo bisa nikah sama Jingga," pangkas Ara, langsung saja mencegat kalimat berikutnya yang mungkin akan Ben ucapkan. "Lo sendiri, bukannya lo masih ngejar-ngejar Pandan? Kenapa tiba-tiba lo mau nikah sama Jingga? Apa sebenernya tujuan lo, Bang? Gue tau banget, lo bukan tipe orang yang setulus itu. Sejak kapan juga lo peduli soal hubungan gue sama Agnes?" sungut Ben, memberondong Ara dengan banyak tanya yang menuntut kejelasan. Menyimpul senyum, Ara tetap santai menanggapi Ben. "It's not your business," jawab Ara sebegitu singkat. Dan seperti tak ingin memperpanjang pembicaraan, Ara bergegas pergi dari meja makan. Cuek saja dia pada Ben yang beberapa kali masih memanggil-manggil dirinya, masih ingin melakukan pembahasan serius. "Sinting!" Ben mengumpat kesal, melihat betapa angkuhnya sang kakak. Dia berbuat sesuka hatinya saja, tanpa memikirkan bagaimana rasanya jadi Ben. Apa pula yang harus Ben katakan pada mama-nya nanti, jika ditanya mengapa Jingga tak mau meneruskan perjodohan dengan dirinya. Tak mungkin dia ceritakan tentang hubungannya dengan Agnes yang masih terjalin, walau sang mama sudah menentangnya ribuan kali. **** dr.Banyu Utara.A,Sp.KJ. Ialah Ara. Seorang Dokter spesialis kejiwaan, atau bisa disebut Dokter psikiater. Bekerja di sebuah Rumah Sakit besar, Ara dikenal sebagai seorang Dokter yang ramah, dan konsistensi-nya yang selalu merawat para pasien dengan sepenuh hati serta kesabaran. Muda, tampan, dan cerdas. Tiga hal yang jelas terlihat dalam sosok seorang Ara. Dengan tampilan visual yang terbilang goodlooking, Ara-pun kemudian menjadi idola para perawat, bahkan sampai di kalangan sesama Dokter. Khususnya para Dokter wanita. Selain kagum dengan paras rupawan yang Ara miliki, kebanyakan wanita itu juga kagum dengan sikap dan manner laki-laki tersebut. Sudah baik, Ara juga terkenal sangat sopan dengan rekan-rekan kerjanya di Rumah Sakit. Tak heran, iapun cukup disegani di lingkungan Rumah Sakit tempatnya bekerja. Menjadi idola dan sosok yang banyak dielukan oleh orang-orang, tak lantas membuat Ara tinggi hati. Meski dirinya begitu didambakan oleh banyak wanita, namun hanya ada satu wanita yang senantiasa mengisi ruang hati. Pandan Agustina Wilya, Dokter spesialis anak. Seorang wanita yang sejak 3 tahun lalu, sudah mengikat hati Ara. Dialah seorang yang berhasil menggetarkan hati laki-laki itu. Sayang sekali, hingga kini Pandan belum bisa membuka hatinya untuk Ara. Sebab, iapun juga telah jatuh cinta pada lelaki lain. Bekerja di Rumah Sakit yang sama, setidaknya memudahkan Ara untuk terus melancarkan pendekatannya dengan Pandan. Tapi kali ini, Ara sedikit mengubah alur mainnya. "Dokter Pandan?" Ara berjalan cepat menghampiri pujaan hatinya, yang sedang berbicara dengan dua suster di lorong ruang pasien rawat inap. Dengan seulas senyuman ramah, Pandan menoleh pada Ara. Tak hanya dirinya, dua suster yang ada juga ikut tersenyum menyambut kedatangan Ara. "Ada apa Dokter Ara?" sahut Pandan kemudian, setelah Ara sampai di hadapan. "Ada yang perlu aku bicarakan. Bisa minta waktunya sebentar?" Kemudian Pandan pun mengisyaratkan dua suster itu untuk pergi. Lalu setelahnya, ia berjalan bersama Ara menuju kantin Rumah Sakit. Kebetulan ini memang sudah jam istirahat makan siang. "Aku mau nikah." Sepenggal kalimat itu sukses membuat Pandan melebarkan kedua mata. Terkejut, karena tiba-tiba Ara berkata akan menikah. "Kamu mau nikah? Kok mendadak gini? Nikah sama siapa?" sahut Pandan menatap Ara begitu lekat. Mereka yang sudah duduk saling berhadapan di satu meja kantin, sesekali menjadi sorotan beberapa orang yang ada di sana. Ara yang tampan, terlihat begitu serasi dengan Pandan yang cantik. Kurang lebihnya, seperti itulah pendapat dari orang-orang yang sedari tadi melirik ke arah mereka berada. Ara tersenyum tipis, "Aku dijodohin sih sebenarnya," jawabnya pelan, kemudian menyeruput air putih di dalam gelas. Mendengar itu, raut wajah Pandan terlihat shock. Shock karena berita pernikahan, atau shock karena lelaki yang selama ini ia tolak akhirnya mau membuka hati untuk wanita lain? Ada rasa tak rela dalam batin Pandan, saat ia sadar ia akan segera kehilangan sosok yang selalu penuh perhatian kepadanya. "Kok kamu mau dijodohin? Kamu serius mau nikah?" Pandan memastikan lagi cerita Ara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN