Batal Jodoh

1169 Kata
"Jangan ganggu calon Istri gue, Ben," celetuk Utara tanpa segan sedikitpun. Terkejut atas kedatangan laki-laki itu, Jingga reflek menoleh padanya. Mengherankan, seseorang yang selama ini ia nilai memiliki sikap acuh pada dunia yang berputar di sekitarnya, tiba-tiba menunjukkan sifat peduli … eh mungkin lebih tepatnya sifat posesif. Seperti melindungi Jingga dari gangguan Ben. Adiknya sendiri. Ben yang baru mengusap bekas tamparan Jingga, tercengang mendengar apa yang baru saja ia dengar dari mulut Utara. "Hah? Calon Istri lo? Enggak salah? Dia ini Jingga, cewek yang Mama jodohin sama gue. Lo jangan halu, Bang!" timpal Ben tak terima atas Utara yang meng-klaim Jingga sebagai calon istrinya. Utara tersenyum santai menanggapi balasan dari Ben, "Oh, iya? Coba lo tanya aja sama orangnya. Dia masih mau enggak melanjutkan perjodohan itu sama lo," tukas Utara mengejek. Sontak, Ben-pun segera menatap Jingga dalam-dalam. "Jingga. Kamu enggak mungkin membatalkan perjodohan kita, 'kan?" cicit Ben memasang ekspresi memelas. Sulit menjelaskan situasi, saat keadaan yang sedang gonjang-ganjing seperti ini. Akan tetapi, setelah tau siapa Jingga sebenarnya, Ben merasa berat jika sampai gadis itu membatalkan perjodohan mereka. Sudah lama Ben tertarik pada Jingga, sejak pertama kali kedatangan gadis asli Jawa itu ke rumah. Tapi ia tahan perasaan itu, mengingat Ben yang mengira Jingga hanya seorang asisten rumah tangganya. Belum lagi saat ini, Ben masih resmi menyandang status sebagai kekasih Agnes. Gadis yang Jingga pergoki tengah bersetubuh dengannya beberapa hari lalu. Meski Ben tak pernah menceritakan tentang Agnes pada Jingga, pada akhirnya Jingga memergoki langsung apa yang dilakukan oleh dirinya dan Agnes. Tanpa Ben menyadari itu tentunya. Ben yang masih shock setelah tau siapa Jingga, dan semakin bertambah shock karena Jingga berniat membatalkan perjodohan yang sudah diatur oleh kedua orang tua mereka. Mendadak semua jadi kacau balau, tanpa bisa Ben meng-handlenya. "Aku emang membatalkan perjodohan kita. Tapi … aku akan tetap melanjutkan acara perjodohan ini dengan Bang Ara." Jeng-jeng! Terperangah Ben mendengar jawaban Jingga. Kenapa bisa Jingga semudah itu berubah haluan dari dirinya, ke Utara. Kakak kandungnya sendiri. Sementara Ben masih diliputi kekalutan, Utara tersenyum lebar pada sang adik. Dia selangkah lebih maju dari Ben, karena berhasil membujuk Jingga agar mau melakukan perjodohan itu dengannya. Dan tentunya, bukanlah tanpa alasan Utara menawarkan diri sebagai pengganti Ben bagi Jingga. "Lo denger sendiri, 'kan?" ejek Utara tersenyum menyeringai ke arah Ben. Saat ini Ben tidak bisa berkutik. Ia belum benar-benar paham dengan apa yang sedang terjadi. Manik hitamnya menatap Utara dan Jingga bergantian, seakan memohon agar kedua orang itu menjelaskan apa yang sudah terjadi di antara mereka, dan tidak diketahui olehnya. Merasa disudutkan oleh situasi, Ben memilih untuk pergi saja dari kedua orang yang sedang berdiri berjejeran. Wushhh... Jingga menurunkan satu tangan Utara yang masih merangkulnya. Seperti biasa, ekspresi Utara terlihat cuek saja meski dia sudah lancang menyentuh Jingga. "Jadi … kamu mau pulang ke Jogja? Mau aku antar? Bandung-Jogja enggak sejauh itu kok," tawar Utara terdengar tulus. Namun, Jingga bukan type yang mudah terlena oleh kebaikan seseorang. Terlebih lagi, setelah sakit hatinya mengetahui perilaku Ben. Bukan tidak mungkin, antara Utara dan Ben memiliki kemiripan sifat. Playboy.  "Enggak, aku bisa pulang sendiri. Lagian orang tua Kalian juga masih di Jakarta, mereka enggak bakal tau kalau selama dua bulan ini aku sempat tinggal di sini," timpal Jingga sedikit ketus.  Tak tau lah, mendadak Jingga jadi sensi begitu setelah kecewa pada Ben. Bahkan kepada Utara yang sudah ber-baik hati mau membantu perbaiki keadaan, Jingga tetap bersikap dingin. Utara mencebikkan bibir, seraya mengangkat bahunya tanda acuh. Terserah saja apa yang akan dilakukan oleh Jingga, yang terpenting untuk Utara … dia akhirnya menemukan seseorang yang bisa ia manfaatkan untuk kepentingan pribadinya. Siapa lagi jika bukan Jingga. "Ya udah. Terserah kamu aja. Mungkin minggu depan keluarga aku akan datang ke Jogja untuk membahas pernikahan kita," sahut Utara gamblang. *** Ya. Jingga pulang ke Jogja dengan membawa rasa kecewanya yang luar biasa besar. Tak menyangka, saat baru saja ia akan membuka hatinya untuk Ben, laki-laki itu telah dengan mudah mematahkan hatinya. Begitu parah, sampai Jingga bahkan merasa muak tatkala kilasan kejadian yang ia saksikan kembali berkelebatan dalam benak. "Dasar b******k!" maki Jingga dalam suara rendah.  Dan inilah dia Yogyakarta, atau akrab dengan sapaan kota Jogja. Kota gudeg, kota perjuangan, dan juga kota pariwisata. Begitu selama ini orang mengenal. Kota yang merupakan tempat kelahiran Jingga. Tempat di mana Jingga dibesarkan dalam didikan dan budaya Keraton yang kental. "Ndok, kamu udah pulang?"  Suara lembut mendayu, segera menyapa Jingga yang baru saja masuk ke dalam rumah. Ayu sang Ibu, terlihat begitu senang menyambut kepulangan sang putri. Kepergian Jingga dengan alasan mengunjungi teman lama, sama sekali tidak menanamkan kecurigaan bagi Ayu. Ia percaya seratus persen pada sang putri. Tanpa ia tau, bahwa sebenarnya Jingga baru saja selesai dari misinya menyelidiki Ben. Si calon suami pilihan orang tuanya. Sayang, Jingga pulang dengan tidak bahagia. Sebaliknya, ia kembali membawa rasa sakit yang cukup membuatnya untuk membenci perjodohan itu. "Aku capek, Bu. Mau ke kamar," sahut Jingga terkesan acuh. Langkah cepatnya langsung saja melewati sang Ibu, menuju kamarnya. Membingungkan, hingga Ayu mengerutkan dahinya dalam. Ekspresi wajah Jingga saat pulang sungguh berbeda dengan saat keberangkatannya yang penuh semangat. Ayu jadi heran, pada anak semata wayangnya itu. Dan malam harinya, menjadi malam paling menggemparkan bagi keluarga Jingga. Mengabaikan begitu banyak ragu dan segan, Jingga akhirnya mengungkapkan hal yang sebenarnya terjadi. Ke mana sesungguhnya ia pergi selama dua bulan kemarin. Dan sebagai jackpot, Jingga juga mengutarakan hal yang semakin membuat Ayu dan Jeno sang ayah terlonjak kaget. "Aku mau nikah sama Bang Ara," ucap Jingga begitu lugas. Mendengar hal itu, baik Ayu dan Jeno saling menoleh pada satu sama lain. Bagaimana bisa Jingga mengucapkan sekelumit kalimat yang sangat frontal seperti itu. Mereka menjodohkan Jingga dengan Ben. Kenapa malah kini Jingga berkata ingin menikahi Ara, yang tak lain merupakan kakak kandung dari Ben sendiri. "Kamu ini ngomong apa, Ndok? Ayah enggak paham," timpal Jeno masih belum mengerti ke mana arah perbincangan itu sebenarnya. Ayu yang duduk berdampingan dengan Jeno, hanya manggut-manggut membenarkan kebingungan suaminya. "Aku 'kan udah bilang, Yah. Aku enggak suka sama Ben. Dia itu Playboy. Aku lihat sendiri dia main gila sama cewek. Apa cowok kayakgitu yang kalian pilihin buat aku?" papar Jingga menerangkan hasil blusukannya di rumah Ben kemarin. Jeno menghela napas berat, "Iya, tapi gimana Ayah dan Ibu ngomongnya ke orang tua Ben. Ara ini 'kan Kakaknya Ben, kenapa kamu malah minta nikah sama dia? Kamu sukanya sama Ara, begitu?" desak Jeno lagi menuntut penjelasan lebih detail dari sang putri. "Ya aku enggak mau tau. Pokoknya batalin perjodohan aku sama Ben, dan atur Bang Ara sebagai gantinya," tuntut Jingga seraya bangkit berdiri. Belum sampai Jeno dan Ayu memberikan jawaban mereka lagi pada gadis itu, dia sudah minggat saja dari kedua orang tuanya tersebut. "Gimana ini, Mas? Masa iya batal sama Ben, malah ganti ke Ara. Emangnya enggak akan jadi masalah?" cicit Ayu resah, meremas satu lengan suaminya. "Nanti coba aku infokan ini dulu ke Rafli. Barangkali dia juga tidak tau, bahwa Jingga sudah tinggal di rumah mereka selama dua bulan kemarin. Aku yakin, mereka pasti akan sama terkejutnya sama kita," sahut jeno tak kalah gelisah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN