Suami Pengganti
"Kamu udah terlanjur menerima perjodohan ini. Jadi … sekarang kamu cuma punya dua pilihan. Menerima aku sebagai gantinya Ben, atau keluarga kamu akan malu."
Suara laki-laki itu terdengar rendah. Akan tetapi jelas terkandung ketegasan dalam setiap susuan kata yang ia ucapkan.
Siluet Jingga Sarasvati, tidak dalam posisi yang bisa memilih-milih ataupun menolak saat ini. Banyu Utara Abiyaksa, adalah jalan ninja yang sedang takdir tawarkan untuknya.
Laki-laki yang tak lain adalah kakak dari Benadia Silas Abiyaksa, calon suami Jingga. Menawarkan dirinya sendiri sebagai ganti si Adik, untuk menjadi calon suami Jingga.
Tidak disangka, setelah Jingga menjatuhkan hatinya pada Ben. Tuhan dengan cepat membolak-balikkan keadaan. Dengan mata kepalanya sendiri, Jingga menyaksikan betapa tidak ber-moralnya seorang Ben. Laki-laki itu tanpa malu menggauli seorang wanita di dalam ruang musiknya.
Hati wanita mana yang tak hancur, ketika melihat laki-laki yang disukai bersentuhan dengan wanita lain. Begitupun Jingga.
Dia sudah terlanjur menyetujui perjodohan ini. Kedua belah pihak orang tua juga telah mengkonfirmasi untuk menentukan tanggal pernikahan.
Tak ada jalan untuk mundur. Jingga harus tetap maju meneruskan perjodohan. Atau nama baik keluarganya akan tercoreng karena skandal ini.
Sekarang, hanya Utara-lah orang yang bisa menyelamatkan sisa harga diri seorang Jingga.
"Aku ada syarat," lirih Jingga membalas ucapan Utara.
Seperti lucu karena sesuatu. Utara terkekeh geli, "Hahah … emang kamu pikir, kamu lagi dalam posisi yang bisa memilih?" cibir Utara sinis, "Dengar, ya. Aku mau menggantikan Ben juga karena satu alasan. Aku butuh kamu, untuk menyingkirkan semua kesialan," tegasnya memberi ultimatum pada Jingga.
Wanita itu bingung. Tak mengerti maksud ucapan Utara.
"Enggak usah bingung gitu. Aku cuma butuh jawaban 'iya' dari kamu sekarang, sebelum aku berubah pikiran," desak Utara menuntut persetujuan dari Jingga.
Setelah Jingga pikirkan matang-matang, meski dengan terbatasnya waktu. Akhirnya Jingga mengambil sebuah keputusan besar. Sebuah jawaban yang ia harap benar-benar akan menyelamatkan nama baik keluarganya.
Terserah nanti akan bagaimana dirinya dengan Utara, yang jelas saat ini dia tidak ingin terlihat bodoh di mata Ben. Laki-laki itu tak setia, dan Jingga tidak akan sudi lagi menjadi calon istrinya.
"Baiklah. Tapi aku tetap memiliki syarat." Jingga tetap pada pendiriannya.
Utara diam bersedekap, menantikan kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh Jingga.
"Aku masih kuliah. Jadi setelah kita menikah nanti, tolong jangan menghambat kuliahku. Juga … aku minta jangan menyentuhku, sebelum aku siap untuk hal itu." Malu-malu Jingga mengutarakan keinginannya.
Walau ini mungkin terkesan absurd, tapi Jingga memang belum siap jika harus menjadi seorang ibu. Terlebih lagi sosok Utara yang merupakan pria dewasa, tentu kebutuhan biologisnya juga menuntut untuk dipenuhi, 'kan? Sedangkan Jingga benar-benar belum cukup siap untuk hal-hal semacam itu.
Ia masih ingin merampungkan pendidikan kuliahnya.
Utara tersenyum sekilas. Ia tak menduga, Jingga akan memberikan syarat semacam itu. Apa gadis itu pikir, menikah hanya sebatas tidur bersama di atas ranjang? Lucu. Utara jadi mengulum senyumnya, geli atas reaksi Jingga.
"Tenanglah. Pernikahan kita hanya untuk kepentingan kita masing-masing. Lagi pun, kamu bukan selera aku. Jadi enggak usah khawatir, aku enggak akan menyentuh kamu. Kecuali …." Sengaja Utara menahan kalimat. Matanya nakal saja menatap Jingga dari bawah ke atas.
Sontak, yang ditatap jadi risih karena tatapan itu terkesan liar menggoda.
"Kecuali … apa?" cicit Jingga cemas. Mendadak saja ia merasa sedang berada di bawah ancaman seksual seorang pria dewasa. Ini sedikit membuatnya canggung.
"Kecuali aku mabuk, dan hilang kesadaran. Bisa aja aku nyentuh kamu," jawab Utara diakhiri suara tawa kecilnya. Tawa yang bagi Jingga justru terkesan sedang mengejek.
Belum usai obrolan itu, hadirlah sosok laki-laki yang menjadi alasan percakapan Utara dan Jingga berlangsung serius. Ini dia Ben, laki-laki yang seharusnya menjadi suami Jingga. Namun pada akhirnya, Jingga sendiri yang menolak untuk bersanding dengannya di pelaminan nanti.
"Ngapain lo, Bang?" cetus Ben yang kini sudah berdiri menjejeri Jingga.
"Enggak kerja? Kok jam segini masih di rumah?" imbuh Ben lagi cerewet.
Santai, Utara atau akrab dipanggil Ara hanya tersenyum lebar pada sang Adik.
"Bukan urusan lo," sahutnya yang kemudian segera melenggang pergi meninggalkan Ben bersama Jingga.
Benar-benar mengherankan. Jingga tak habis pikir, kenapa ada laki-laki seperti Utara. Sikapnya yang cuek dan santai, tak menyangka rela menawarkan diri untuk menggantikan Ben menikahi dirinya. Tapi mengapa? Apa alasan Utara mau melakukan itu?
"Jingga, kalau kamu mau ke pasar biar aku antar, ya," usul Ben dengan senyuman lebarnya pada Jingga.
Senyuman yang justru malah membuat Jingga jijik.
Benar juga. Jingga teringat, dia belum menceritakan tentang siapa dirinya pada Ben. Dan hari ini juga, dia akan membongkar penyamarannya selama dua bulan ini selama berada di rumah keluarga Abiyaksa.
Jingga menatap Ben lekat, "Ben. Ada hal yang mau aku kasih tau ke kamu," ucapnya tanpa basa-basi.
Sudah saatnya Ben tau tentang siapa dirinya, yang selama ini dia ketahui hanya seorang asisten rumah tangga di rumahnya.
Mendengar cara bicara Jingga yang mendadak berubah santai, Ben jadi terkekeh geli.
"Hahah, sejak kapan kamu jadi bicara sesantai itu denganku?" Ben membalas tatapan Jingga padanya, "Em, tapi enggak apa-apa. Aku lebih suka kamu yang kayakgini kok," imbuhnya dengan satu tangan hendak meraih lengan Jingga.
Namun, dengan gerakan cepat Jingga menepis tangan Ben.
Wushhh...
Ben menaikkan sebelah alisnya. Heran, karena sikap Jingga terlihat sedikit berbeda dari biasanya.
****
Di teras belakang rumah, Ben dan Jingga berdiri saling berhadapan.
Ben masih terperangah tak percaya atas apa yang baru saja Jingga ungkapkan padanya. Yakni tentang siapa sebenarnya Jingga, dan tujuannya datang ke rumah Abiyaksa.
"Jadi … selama ini, kamu …." Nyaris Ben sulit merangkai kalimatnya sendiri. Ia terlalu kaget, setelah tau bahwa Jingga ini adalah gadis yang akan dinikahkan dengannya.
Matanya setengah mendelik, seakan sulit mempercayai selama ini dia tidak menyadari siapa wanita yang ber-akting, sebagai tukang bersih-bersih ruangan kamarnya.
"Ya, benar. Aku emang sengaja enggak memberi tahu siapapun tentang ini semua. Tadinya aku melakukan ini karena aku ingin mengenal kamu lebih baik lagi. Tapi akhirnya aku tau, kalau kamu itu sama sekali enggak pantas jadi Suami aku," sergah Jingga bernada kesal.
Bagaimana dia bisa lupa, saat matanya menyaksikan ke-brengsekan Ben langsung di depannya.
Menyadari kekeliruan tengah terjadi, Ben segera membela diri.
"Tunggu dulu, Jingga. Aku enggak ngerti kenapa kamu ngomong kayakgini. Apa salah aku sama kamu? Asal kamu tau aja, sebenarnya tanpa kamu menjadi Jingga yang dijodohin sama aku, aku itu … udah suka sama kamu." Kembali Ben hendak meraih satu tangan Jingga, dan gadis itu tetap menghindar. Sama sekali tak membiarkan Ben menyentuhnya.
"Jangan sentuh aku, Ben. Aku udah memutuskan untuk menolak dijodohin sama kamu. Setelah ini, aku juga akan pulang ke Jogja, dan memberitahu orang tua aku tentang siapa kamu sebenarnya," sungut Jingga menunjuk wajah Ben dengan jari telunjuknya. Kemarahan dan kekecewaan jelas terlihat di kedua netra hitamnya.
Membawa emosi yang tengah memenuhi rongga d**a, Jingga melenggang pergi meninggalkan Ben.
Akan tetapi Ben tak mau menyerah. Ia segera menyusul langkah Jingga, mencekal satu pergelangan tangan gadis itu agar menghentikan langkahnya sejenak.
"Tunggu dulu, dong Jingga! Kita belum selesai bicara," tahan Ben tak ingin Jingga berlalu begitu saja.
Tak disangka gerakan Jingga sangat gesit. Ia berputar badan, dan serta-merta melayangkan tamparan tangannya pada salah satu pipi Ben.
Plakkk!
Keras tamparan itu membuat wajah Ben sampai menengok ke samping.
"Aku bilang jangan sentuh aku!" pekik Jingga semakin terbakar emosi.
Dan saat itulah, Utara kembali datang dan langsung merangkul Jingga.