Ketukan Pintu Takdir
Mendung pekat menggantung rendah di atas langit istana Sultan Malikudin, seolah hendak menumpahkan kegelisahan yang bersemayam di hati setiap insan yang terlibat dalam perang takdir ini. Di dalam ruang singgasana, aroma dupa dan rempah kerajaan berpadu, meneduhkan hawa tegang sebelum tibanya perhelatan yang tak pernah diinginkan oleh dua hati yang berbeda nasib.
Di sudut ruangan, Safiya berdiri terpaku. Gaun pengantinnya yang berumbai sulaman emas memeluk tubuhnya yang kurus, menjadikannya bagai patung pendamping perempuan bangsawan—indah, patuh, namun dingin. Mulutnya tercekat menahan gejolak emosi yang berdesak-desakan: takut, marah, putus asa, namun juga… keinginan untuk membuktikan diri. Tangannya yang lentik gemetar saat ia meraih selempang sutra merah tua yang akan menghias pundaknya, penanda status barunya sebagai Pengantin Pengganti.
Di tengah ruangan, Pangeran Razif menanti. Posturnya tinggi tegap dalam jubah kebesaran kerajaan tetangga, warna abu-abu kebiruan seakan menegaskan keteguhan hatinya, sekaligus dinginnya sikap yang selama ini ia tautkan pada sosok “pengantin” yang ia inginkan: Adriana. Matanya yang tajam memeriksa setiap inci ruang, sesekali menyapu tubuh Safiya dengan pandangan menghakimi. Ada kemarahan di sana—kemarahan karena sebuah rencana besar diruntuhkan seketika, dan kemarahan karena sebuah nama yang tak pantas dikenakan.
Tiba-tiba, dentingan palu pekat di kapak pernikahan bergema. Suara itu memecah diam, menandai saat semua orang menahan napas. Sang Khatib Agung memasuki ruang, langkahnya mantap menapaki karpet merah marun. Para penasehat kerajaan, uskup-uskup agama, dan bangsawan tinggi berjajar di belakang, menyaksikan wajah-wajah yang tertahan rautnya: Safiya gugup namun tegap, Razif dingin namun mata sesekali luruhkan kilasan penasaran.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih…”
Suara khatib mengalun syahdu, mengundang hening syahdu. Safiya menunduk dalam, merasakan deru jantung yang memekik di dalam d**a. Ia teringat betapa semalam ia terjaga sampai fajar—berusaha menghafal sumpah-sumpah kuno, doa-doa agar langkahnya tak goyah. Namun kini, janji takdir sudah ditebalkan atas namanya.
Khatib melanjutkan kalimat akad, lidahnya luwes menyebut ayat-ayat suci yang menyejukkan, menghubungkan dua insan dalam ikatan yang lebih mulia dari sekadar politik. Safiya merasakan bibirnya kaku, suaranya serak saat mengucap satu per satu kata sakral. “Saya terima nikahnya Safiya binti Dayang Rukiah…”. Suara itu teredam oleh sayup angin yang menerobos jendela, membawa aroma hujan dan rintik air yang mulai menampakkan bentuknya.
Razif berdiri kaku, jemarinya menahan cincin di atas dulang perak. Ketika ia menunduk untuk menyematkan cincin itu ke jari Safiya, dunia serasa berhenti. Gemuruh rintik hujan di atas atap mengiringi detik keheningan, menandai satu titik balik yang menggetarkan sanubari. Cincin meluncur lembut, mendarat di jari manis Safiya, menandai kegelapan sekaligus harapan baru.
Saat cincin menyatu dengan kulit, Safiya menutup mata sejenak. Ada dingin yang merayap, namun juga hangat aneh yang menelusup ke lubuk hati. Matanya terbuka menatap ke depan, menemukan pangeran yang selama ini ia tak pernah kenal—razif, dengan tatapan kompleks: marah, terkejut, namun juga sedikit tersentuh.
“Kau bukan Adriana,” bisiknya getir, suaranya rendah namun menembus kesunyian.
Safiya merasakan getar tertusuk di d**a. Ia mengangguk pelan, bibirnya bergetar sebelum berkata, “Tidak, Tuan Pangeran. Aku memang bukan dia. Tapi sumpahku pada Sang Raja dan bangsa ini sungguh nyata.”
Hujan benar-benar mengguyur saat itu, titisannya seperti mengetuk-ngetuk jendela hati semua yang hadir. Beberapa pelayan menahan piring-piring dan gelas, menanti perintah selanjutnya. Namun tak seorang pun yang bergerak. Udara penuh ketegangan, membeku di sekitar mereka.
Razif mengalihkan pandangannya, menatap tirai sutra di samping jendela yang ditiup angin. Dalam hatinya bergolak—antara tugas dan nurani, antara nama sang putri mahkota dan kegelisahan yang muncul tiap kali ia melihat ketegaran Safiya. Ia menyadari: sejak awal, ia menolak “pengganti” itu. Namun kini, ia merasakan ikatan aneh yang tumbuh, susah diungkap oleh kata.
Akhirnya, ia menoleh kembali pada Safiya. Pelan, seolah takut melewatkan detik berharganya, ia mengulurkan tangan—mengundang Safiya untuk melangkah mendekat. Safiya, yang sejak tadi terpaku, mengambil satu langkah dan menyentuh jemarinya. Kontak itu sekilas—tapi membuat getar di jantung mereka berdua.
“Mari kita selesaikan ini bersama,” ucap Razif serendah lembut, seakan merendahkan sekat-sekat kedudukan. Ada ketegasan sekaligus kesungguhan dalam suaranya.
Safiya menarik napas panjang, menatap mata Razif yang kali ini tak ada kemarahan, tetapi ada titik cahaya kepercayaan. “Dengan senang hati,” jawabnya, suaranya lebih mantap dari sebelumnya.
Seketika, palu kecil di balik pintu diketuk oleh para pembantu, menandakan prosesi perayaan kecil di ruang dalam siap dimulai—mereka yang ingin merayakan kemenangan politik, belum tahu bahwa benih cinta dan luka lama kini tertanam kuat di antara kedua mempelai. Di balik gaun merah emas dan cincin pernikahan itu, terpendam rahasia masa lalu dan misteri kelahiran yang kelak akan mengubah takdir sebuah kerajaan.
Lampu-lampu kristal dinyalakan, cahaya lilin menari lembut di dinding marmer, menciptakan bayangan gemulai. Musik gamelan mengalun perlahan, menambah sakral sekaligus getir suasana. Safiya melangkah mengikuti Razif, hati dan pikirannya bergejolak: antara rasa bangga memulai babak baru, rasa takut akan intrik istana, dan kerinduan yang tiba-tiba menyeruak—kerinduan pada sosok kakak yang telah lama pergi, dan keraguan pada dunia yang kini mengakui namanya.
Langit senja menggantung rendah di atas atap istana, warnanya merah saga seperti darah yang baru saja ditumpahkan. Di dalam kamar pengantin, Safiya duduk membeku di pelaminan yang mewah, tubuhnya terbungkus kain songket berhias benang emas, gaun yang semestinya dipakai Adriana. Wajahnya tertunduk, disaput kerudung halus, sementara d**a mungilnya naik-turun menahan gemuruh perasaan yang tak ia pahami sepenuhnya.
Aroma dupa cendana membumbung samar dari tungku perak di sudut ruangan, tapi tak mampu menenangkan pikirannya yang kusut. Suara genderang pernikahan yang tadi menggema di halaman istana kini telah redup, berganti dengan kesunyian yang menusuk.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Pangeran Razif masuk, langkahnya tegas dan berat, seakan tiap pijakan adalah keputusan yang tak bisa dibatalkan. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, namun ada badai yang tersembunyi di balik tatapan mata tajamnya.
Safiya tak berani mengangkat kepala.
“Kau bukan dia,” gumam Razif, suaranya rendah tapi menggores seperti belati.
Safiya menggigit bibir. “Beta tahu, Tuan Pangeran.”
Razif mendekat satu langkah. “Lalu kenapa kau diam di situ, mengenakan pakaian yang tak pantas untukmu?”
“Aku tak memilih ini,” jawab Safiya lirih. “Tapi beta juga tak bisa menolak ketika seluruh negeri menuntut pesta tetap dilangsungkan. Beta… hanya menjalankan titah.”
Hening sejenak.
Razif menoleh, menatap cermin ukiran emas di sudut ruangan. “Adriana pengecut. Tapi pengkhianatannya tak membuatmu berhak atas tempat ini.”
“Beta tak ingin tempat itu, Tuan. Beta hanya ingin menjaga kehormatan keluarga dan kerajaan,” sahut Safiya, masih menunduk, suaranya mulai gemetar namun tegar.
Razif terkesiap. Di matanya, gadis di depannya ini bukan siapa-siapa—anak dari selir rendahan, terpinggirkan dan tak dianggap. Tapi kini, ada kekuatan dalam nada bicaranya. Bukan ambisi. Tapi keberanian.
Ia menarik napas dalam-dalam. “Kau tahu apa yang kau korbankan?”
Safiya mengangkat wajahnya perlahan, dan untuk pertama kalinya mata mereka bertemu.
“Aku tahu. Selamanya beta akan jadi bayang-bayang, pengganti yang tak pernah diundang.”
Razif membeku. Ada luka yang samar di mata perempuan itu, luka yang tak dibuatnya tapi entah mengapa membuat dadanya bergetar.
“Kalau begitu,” katanya akhirnya, datar, “jangan pernah berharap akan lebih dari itu.”
Lalu ia berbalik dan pergi—meninggalkan Safiya di ruang pengantin yang dingin, di antara kelopak bunga kenanga yang jatuh perlahan seperti harapan yang tak pernah tumbuh.
Namun malam belum selesai.
Dari jendela kecil berjeruji, bulan menggantung di langit seperti saksi bisu. Dan Safiya, di dalam diamnya, bersumpah dalam hati—jika takdir memang menempatkannya di posisi ini, maka ia akan menjalaninya dengan kepala tegak. Bukan sebagai pengganti. Tapi sebagai perempuan yang kelak akan dikenang bukan karena nama, tapi karena keberaniannya melawan nasib.
---
Kadang aku nulis 📖 bukan karena kuat 💪
tapi karena kalau aku diem 🤐
sakitnya pindah ke d**a 💔🥀
Kalau kamu baca ini sambil nahan napas 😶🌫️
aku juga nulis ini sambil nahan dunia yang rasanya pengen nyalahin semuanya 🌪️
Kenapa dia yang dipilih? 🤷♀️
Kenapa bukan aku? 🫥
Kenapa cinta tuh selalu datang telat 🕰️
kayak kereta yang udah kosong 🚉😢
Novel ini bukan dongeng 🏰
tapi luka yang aku bungkus dalam gaun satin merah 🍷👗
Safiya bukan cuma karakter 😔
Dia adalah kita semua yang pernah dianggap pengganti 👥
padahal hatinya paling asli 💖
Razif? 😐
Dia pria bertakhta 👑
yang lupa gimana rasanya jatuh cinta tanpa perjanjian politik 💌🖋️
Tapi lihat aja nanti 👀
Apakah dia bakal jatuh sama tatapan perempuan yang nggak seharusnya ada di sana 🔥
tapi justru satu-satunya yang layak menangin perang hati 💘🕊️
Kalau kamu pernah ngerasa jadi plan B 🗂️
Jangan sedih 😭
Kadang Tuhan pakai jalur patah buat nunjukin arah pulang 🛤️🌈
Ke tempat yang bener-bener pantas buat kamu 🏡🌻
Peluk dari jauh 🫂💙
buat kamu yang hatinya juga pernah dijahit ulang karena jadi pengantin pengganti 🪡💔👰♀️
Aku nulis ini sambil makan mie jam dua pagi 🍜🌃
sambil mikir,
“Kalau mereka bahagia, aku rela hancur tiap paragraf.” 💀✍️📚
Yang lagi ngetik naskah sambil nangis-nangis lucu 🤡
— betari.nufails 🌪️🥀✨
---