Malam Pertama: "Gaun, Luka, dan Tatapan Tak Pantas"

2232 Kata
Gaun pengantin itu terlalu berat. Bukan karena berlian yang menjuntai di sepanjang ekor kain satin merah marun. Tapi karena nama yang ia bawa malam ini—nama yang bukan miliknya. Safiya berdiri mematung di depan cermin besar bertatahkan emas, yang memantulkan wajahnya dengan begitu asing. Bibirnya pucat, bukan karena riasan, tapi karena gemetar yang tak berhenti sejak siang. Gaun itu terlalu mewah. Dibuat untuk perempuan lain. Untuk kakaknya. Ia adalah pengantin... yang tak pernah dipersiapkan menjadi istri. Di luar, suara alunan gamelan kerajaan mulai mereda, tamu agung satu per satu meninggalkan istana. Tapi jantung Safiya baru mulai berdetak kencang. Sebentar lagi, pintu itu akan dibuka. Dan ia harus tidur… dengan pria yang bahkan tak menoleh padanya saat ijab kabul dibacakan. Razif. Putra mahkota kerajaan Tuwinda. Tampan, kaku, dan dingin seperti patung marmer. Safiya duduk di tepi ranjang, tangan mengepal di atas kain gaunnya yang kusut karena dilipat terlalu sering. Ruangan pengantin ini terlalu sunyi, terlalu megah, terlalu... tak berperasaan. Ia ingin kabur. Tapi kaki dan harga dirinya sudah dibekukan sejak pagi. Hingga akhirnya— klik Pintu dibuka. Langkah Razif terdengar tenang, tapi menusuk. Ia tak melihat Safiya. Tak satu pun. Ia berjalan langsung ke meja anggur, menuang segelas, lalu meminumnya seakan hari ini cuma hari kerja biasa yang panjang. “Bisa kau copot gaunmu sendiri?” tanyanya dingin, tanpa ekspresi, tak menatap Safiya barang sedetik. Safiya menggigit bibirnya. “Tidak seharusnya aku di sini,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Tapi Razif mendengar. Telinganya selalu tajam. Namun dia tak menjawab. Safiya berdiri, perlahan membuka peniti kecil di bahunya. Suaranya seperti petikan senar harpa yang putus satu per satu. Begitu sunyi, begitu memilukan. Dia bukan perempuan pertama yang dinikahi Razif. Tapi dia perempuan pertama yang tidak dicintai sejak awal. Saat gaun itu jatuh ke lantai dan hanya lapisan tipis sutra putih yang tersisa, Safiya memejamkan mata. Bukan karena malu. Tapi karena dia tahu, tubuhnya bukan miliknya malam ini. “Kau bisa memelukku, kalau kau mau,” katanya nyaris berbisik. “Tapi kau tak akan pernah benar-benar memiliki aku.” Dan untuk pertama kalinya malam itu, Razif menoleh. Sorot matanya seperti kilat yang tak sempat menyambar. “Bagus. Karena aku tak pernah berniat memilikinya,” balasnya. Tapi entah kenapa, tangan Razif yang menyentuh pundaknya tidak sedingin kata-katanya. Dan saat malam itu benar-benar dimulai, yang menyelimuti mereka bukan gairah… tapi dendam, luka, dan perjanjian yang tak pernah mereka setujui. --- > 🌑 Malam pertama bukan tentang gairah. Tapi tentang dua jiwa yang terikat paksa oleh janji, uang, dan masa lalu yang belum selesai. 🌹 Dan di balik setiap ciuman... ada luka yang belum sempat diobati. Tentu! Berikut lanjutan Bab 2.2 dari novel "Pengantin Pengganti", dengan gaya lebih banyak dialog, tetap dalam suasana malam pertama yang penuh konflik batin, ketegangan emosional, dan ketertarikan yang tak diakui. --- Malam Pertama Antara Tirai dan d**a yang Berdebar Lampu kamar padam separuh, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu minyak di sudut ruangan. Gaun pengantin Safiya telah diganti dengan baju tidur tipis berwarna perak. Tubuhnya menggigil bukan karena dingin, melainkan gugup. Pangeran Razif masuk dengan langkah pelan. Diam. Hanya tatapan matanya yang menyapu tubuh Safiya. > Safiya (berusaha tegar): “Jika Tuan Pangeran berkenan, aku akan tidur di sofa saja.” Langit di luar kamar memerah, pertanda malam sudah benar-benar jatuh. Pelita minyak bergoyang lembut diterpa angin yang menyelinap dari sela jendela kayu ukir. Suara denting lonceng penjaga istana bergema dari kejauhan. Tapi di kamar pengantin—hening. Mencekam. Safiya duduk kaku di ujung ranjang bertiang, tubuhnya dibalut kain sutra merah emas yang terlalu megah untuk seorang yang merasa hanya "pengganti". Sementara itu, Razif berdiri membelakangi dia, membuka ikatan jubah panjangnya tanpa sepatah kata pun. “Apakah aku... harus melepas ini?” Safiya akhirnya bertanya, nyaris seperti bisikan. Razif menoleh. “Apa yang biasa dilakukan pengantin di malam pertama?” “Aku tak tahu,” jawabnya pelan. “Aku tak pernah membayangkan akan menikah seperti ini... dengan seseorang yang membenciku.” Razif melangkah mendekat. Suaranya dingin, tapi matanya menyimpan badai. “Aku tidak membencimu, Safiya. Aku membenci keadaan ini. Aku membenci pernikahan yang dipaksakan. Aku membenci... kenyataan bahwa kau bukan Adriana.” Safiya menggigit bibirnya. “Kalau begitu, pergilah. Tak ada yang memaksa Tuan Pangeran untuk tidur di sini malam ini.” Razif tertawa kecil, getir. “Sayangnya, seluruh istana menunggu kabar bahwa pernikahan ini sah. Kalau besok pagi para pelayan menemukan kita tidur terpisah, maka keraguan akan menyebar. Skandal akan lahir. Dan... tahta yang sedang kutegakkan bisa jatuh.” Ia menunduk, menatap wajah Safiya yang kini terangkat, memandangnya dengan berani walau matanya mulai berkaca. “Jadi, semua ini hanya... sandiwara untuk menyelamatkan tahta?” gumamnya. “Ya. Tapi kau bisa tenang. Aku tak akan menyentuhmu malam ini.” Razif mengambil bantal dan menyimpannya di lantai, membentangkan selimut tipis di sana. Safiya terperangah. “Tuan Pangeran... mau tidur di bawah?” “Lebih baik tidur di dinginnya lantai... daripada membagi ranjang dengan seseorang yang membuat hatiku berkonflik,” jawabnya lirih. “Tapi jangan salah paham. Bukan karena kau buruk. Justru karena... kau terlalu berbeda dari yang kuharapkan.” Safiya terdiam. Perlahan, air matanya menetes tanpa suara. “Jika kau ingin menangis, menangislah. Aku tidak akan melihat.” “Tapi... aku tidak ingin menangis,” katanya sambil menyeka wajahnya cepat. “Aku hanya ingin tidur, dan berharap besok pagi saat aku bangun... dunia ini ternyata hanya mimpi buruk.” Razif menoleh sebentar, matanya tak bisa menyembunyikan rasa bersalah. Tapi ia memilih diam. Dan malam pun menelan mereka dalam kesunyian yang tak bisa ditebus. > Razif (dingin): “Kenapa? Takut tidur sekamar dengan suamimu sendiri?” > Safiya: “Bukan takut. Aku hanya… tak ingin Tuan merasa dipaksa.” > Razif (mendekat, suaranya pelan namun menusuk): “Segalanya sudah dipaksakan sejak siang tadi. Apa artinya satu ranjang?” Safiya menunduk. Jemarinya meremas ujung kain tidurnya. Ia bisa merasakan kehadirannya yang begitu dekat, begitu tajam menusuk udara di antara mereka. > Safiya: “Aku tak pernah minta dijadikan pengganti. Aku juga tak ingin menjadi orang yang kau benci seumur hidup.” > Razif (menatap dalam): “Tapi kau tetap berdiri di altar. Kau tetap mengucapkan sumpah. Dengan suara yang tenang… dan senyum yang—” (Razif terdiam sejenak) “—seolah tak ada yang kau sembunyikan.” > Safiya (mendekat, suaranya bergetar): “Lalu… apa yang Tuan inginkan dariku sekarang?” > Razif: “Aku ingin tahu... kenapa kau begitu tenang? Bahkan saat kau tahu kau hanya bayangan Adriana?” > Safiya: “Karena aku tahu… bayangan pun bisa punya cahaya sendiri. Walau redup.” Untuk pertama kalinya, wajah Razif berubah. d**a yang tadinya mengeras oleh amarah kini perlahan mengendur, digantikan rasa penasaran yang pelan-pelan tumbuh menjadi ketertarikan. Ia duduk di tepi ranjang, membelakangi Safiya. > Razif: “Adriana... akan kembali.” > Safiya (hampir tak terdengar): “Kalau begitu, malam ini, anggap aku hanya mimpi. Esok, semuanya bisa jadi seperti sedia kala.” > Razif (pelan, setengah mengejek): “Berbahaya sekali mimpi seindah ini.” Hening. Lalu suara hujan mulai terdengar dari luar jendela. Deras. Seolah langit pun ikut menahan tangis yang tertunda. Safiya menaiki ranjang perlahan, menjaga jarak, membaringkan tubuhnya di sisi paling ujung. > Razif (menoleh, suaranya lembut): “Apa kau tidak dingin?” > Safiya (tersenyum pahit): “Sudah terbiasa hidup tanpa selimut.” > Razif: “Dan kini hidup dengan seorang suami yang tak kau kenal.” > Safiya: “Tapi lebih baik tidur dengan orang asing daripada terus menunggu seseorang yang takkan datang.” Razif tak menjawab. Ia hanya menatapnya lama, sebelum akhirnya berbaring di sisi lain ranjang—masih dengan jarak, tapi tak lagi dengan amarah. Hujan terus turun. Tapi di kamar itu, dua hati yang dipaksa bertaut mulai saling menguping detak masing-masing. --- “Yang Menolak Raja” Keesokan paginya, saat embun belum sepenuhnya menguap, kabar tentang malam pertama yang dingin tersebar seperti angin beracun di seluruh koridor istana. "Katanya sang pangeran tidur di lantai?" "Dan si pengantin pengganti itu... bahkan tak menangis merengek. Dia hanya diam." Safiya berjalan melewati lorong panjang menuju taman dalam. Pelayan yang biasanya gemetar di dekat permaisuri kini malah menunduk hormat. Tapi bisik-bisik mereka tak bisa dihentikan. Namun ia tak peduli. Kepalanya tegak, wajahnya datar. Di sisi lain, Razif memperhatikan dari balkon atas. Pangeran itu kini punya masalah baru: wanita yang tak mengejarnya. --- “Kau menolakku dengan cara paling anggun,” gumam Razif ketika mereka kembali bertemu dalam jamuan sarapan istana. Safiya hanya menatap piringnya, tanpa menanggapi. Ia menyendok bubur hangat dan meniupnya perlahan. “Biasanya wanita berusaha keras untuk duduk di sebelahku. Kau? Bahkan tak sudi menyapaku.” Nada Razif terdengar seperti kelakar, tapi matanya tak berpaling darinya sedetik pun. “Karena aku tidak berusaha menjadi wanita biasa di istana ini,” jawab Safiya ringan. “Aku bukan Adriana. Dan aku tak akan pernah mencoba menggantikannya.” “Dan itu justru membuatmu…” —ia memiringkan kepala— “…terlalu berbahaya.” Safiya mendongak. “Tuan Pangeran takut?” “Sedikit,” bisik Razif, lalu menyeruput tehnya. --- Hari-hari berikutnya menjadi panggung tarik-ulur antara dua orang yang sama keras kepala. Razif mulai datang ke taman tempat Safiya membaca. Kadang hanya berdiri di jauh. Kadang duduk diam di bangku seberang. Ia tak pernah memaksa bicara, tapi kehadirannya konsisten. “Kalau kau mau bicara, bicara saja. Kalau tidak, jangan memandangiku seperti penguntit,” kata Safiya suatu sore. “Aku hanya penasaran... bagaimana rasanya tidak dianggap,” ucap Razif, setengah bercanda. “Semua wanita gila padaku. Kau—tidak.” “Karena aku tahu orang macam apa kau. Dingin. Berjarak. Dan terlalu terikat bayangan orang yang sudah pergi.” Razif tercengang. Tak ada seorang pun yang seberani itu berkata seperti itu padanya. Safiya bangkit, meninggalkannya. Tapi di dalam dadanya sendiri, ada sesuatu yang mulai retak. Ia membencinya, tapi juga... mulai melihat sisi manusia di balik gelar Tuan Pangeran itu. --- Di sisi lain, para selir dan putri bangsawan mulai resah. “Apa yang membuat Safiya begitu memikat, padahal dia hanya cadangan?” “Pangeran kita tak pernah secerewet ini pada wanita sebelumnya.” Rasa penasaran berubah jadi iri. Dan dari bayang-bayang, seseorang mulai menyusun rencana—untuk menyingkirkan si pengantin pengganti itu dari istana. Apa yang membuat Safiya begitu memikat, padahal dia hanya cadangan?” “Pangeran kita tak pernah secerewet ini pada wanita sebelumnya.” Hari itu, matahari tidak sepenuhnya muncul. Langit kelabu seperti menyimpan rahasia yang terlalu malas untuk diterjemahkan. Tapi di dalam taman belakang istana, di mana pohon kamboja menggugurkan kelopak-kelopak layu, dua manusia yang tak pernah memilih satu sama lain justru saling mendiamkan—lagi. > “Kau selalu datang... tapi tak pernah bicara,” ucap Safiya, tanpa menoleh dari buku yang dibacanya. > “Mungkin aku hanya ingin memastikan kau masih di sini,” balas Razif dari bangku seberang. > “Kenapa? Takut aku kabur sebelum kau sempat mewariskan dendammu?” > “Takut kau kabur... sebelum aku sempat mengenal siapa yang sebenarnya tidur di sisiku tiap malam.” Safiya menutup bukunya perlahan. Pandangannya menusuk, tapi nadanya tetap tenang. > “Kau tak butuh kenal aku, Tuan. Kau hanya perlu memastikan aku tetap patuh sebagai simbol di depan rakyatmu.” > “Dan kau... tetap ingin jadi simbol, bukan istri?” > “Aku tak ingin jadi apa pun yang membuatku kehilangan diriku sendiri.” Diam. Angin bergerak pelan di antara mereka. Razif memandangi jemari Safiya—ramping, tegas, namun selalu menggenggam sesuatu yang tak kelihatan. Mungkin itu trauma. Mungkin harga diri. > “Aku bertemu Adriana semalam,” ucapnya tiba-tiba. Safiya menegang. Napasnya tak bergerak. > “Kau masih... mencintainya?” Razif tak langsung menjawab. Ia menatap tanah, seolah jawabannya sudah jatuh dan terkubur di sana. > “Dia... berbeda. Tapi dia bukan kau.” > “Jadi kau sedang membandingkan aku dengan bayang-bayang yang sudah pergi?” > “Tidak. Aku sedang mencoba berhenti mencintai seseorang... dengan mencintai orang yang menolak untuk kucintai.” Mata Safiya membelalak. “Cinta? Kau bahkan belum menyentuhku, Razif.” Razif berdiri, perlahan berjalan mendekat. Ia berdiri di depan Safiya, tapi tak duduk. > “Mungkin... justru karena aku tak menyentuhmu, aku masih bisa jatuh cinta.” > “Berhenti bicara seperti itu.” Safiya berdiri cepat, gugup. “Kau sedang mempermainkan hatiku yang sudah cukup lelah.” > “Kalau aku bilang aku ingin mencoba? Mencoba memulai lagi—tanpa Adriana, tanpa dendam?” Safiya menggeleng. “Terlambat.” Razif menatap matanya. “Kenapa?” > “Karena aku sudah jatuh duluan. Dan itu menakutkan.” --- Malam itu, Safiya duduk di balik jendela kamar, memandangi langit Tuwinda yang terlalu gelap. Tak ada bintang. Hanya satu cahaya kecil dari lentera penjaga. Razif masuk. Tak mengetuk. Ia hanya berdiri di ambang pintu. > “Boleh aku duduk di sini malam ini?” Safiya menoleh, lalu mengangguk pelan. Razif duduk di dekat jendela. Sunyi mengisi jarak di antara mereka. > “Kalau aku menyentuh tanganmu malam ini... kau akan lari?” tanyanya. Safiya tak menjawab. Tapi ia mengulurkan tangannya perlahan. Dan untuk pertama kalinya... mereka saling menggenggam, bukan karena takdir. Tapi karena keinginan kecil yang akhirnya mereka akui. > “Aku belum bisa cinta,” bisik Safiya. > “Tapi aku bisa menunggu,” jawab Razif. > “Kenapa?” > “Karena kau satu-satunya yang menolakku bukan karena sombong... tapi karena takut kehilangan dirimu sendiri.” --- > 🌙 Mereka tak bicara banyak malam itu. Tapi keheningan mereka... sudah cukup untuk menyembuhkan sesuatu yang patah di dalam d**a masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN