Bukan Cinta, Tapi Jahitan Luka

2121 Kata
Syafia duduk di kursi rotan tua, di tengah kios kecil yang masih berdebu, menghadap jendela kaca yang belum sempat dipoles. Tangannya sibuk menjahit renda tipis berwarna krim, tapi pikirannya jauh—jauh sekali dari benang dan kain. “Aku nggak butuh kekayaanmu, Razif,” ucapnya beberapa hari lalu, saat pria itu memberinya proposal aneh: modal besar, toko megah, lokasi strategis, semua bisa didapat hanya jika dia bersedia tinggal di istana. Tapi bukan itu yang dia mau. Bukan istana. Bukan status. Dan jelas bukan cinta dari seseorang yang dulu mencintai perempuan lain. Yang dia butuh cuma satu: ruang untuk bernapas. --- “Kamu yakin tempat ini cukup?” tanya Rina, sahabat kecilnya yang kini setia membantu. Syafia tersenyum lelah. “Kalau tempat mewah bisa jamin bahagia, seharusnya dulu aku nggak pernah nangis di kamar pengantin.” Rina terdiam. “Di sini aku bisa pilih motif sendiri. Jahit sendiri. Nggak ada yang maksa aku pakai gaun mahal cuma buat nutupin luka.” “Kamu masih cinta sama dia?” Pertanyaan itu jatuh seperti hujan di musim panas. Mendadak, dingin. “Cinta yang dipaksa itu kayak baju kekecilan, Rin. Makin dipakai, makin sesak. Aku cuma pengen jadi diriku sendiri. Nggak ganti ukuran demi orang lain.” --- Hari demi hari, toko kecil itu mulai hidup. Spanduk putih bertuliskan "SYAFIA ATELIER" terpasang seadanya, tapi penuh harapan. Pelanggan pertama datang—seorang ibu muda yang ingin dibuatkan gamis untuk lamaran. “Boleh minta renda biru muda, Kak?” katanya sambil malu-malu. Syafia tersenyum, “Boleh. Tapi boleh juga kalau kamu cerita sedikit soal lamaranmu. Aku percaya, baju yang bagus harus tahu siapa yang memakainya.” Dan sejak hari itu, toko Syafia bukan cuma tempat menjahit, tapi juga tempat banyak perempuan menjahit ulang kepercayaan dirinya. --- Suatu malam, saat Syafia tengah menutup toko, Razif muncul. Dengan jas mahal, mobil hitam mengilap, dan tatapan yang tetap sama: tajam, namun kali ini… lelah. “Kenapa harus buka toko di pasar tradisional?” tanyanya dingin. Syafia menoleh pelan. “Karena di tempat ini, nggak ada yang ngelihat aku sebagai pengganti.” Razif mendekat. “Aku nggak pernah anggap kamu pengganti, Syafia.” “Aku bukan cuma pengganti Levana, tapi juga pengganti impianmu, rencana keluargamu, dan kehormatan yang harus kamu jaga.” Dia menatap mata Razif dengan tenang. “Kamu mungkin nggak sadar, tapi kamu mencintaiku karena terpaksa. Dan aku... nggak mau dipeluk rasa kasihan.” --- “Lalu kenapa kamu tetap bertahan?” Syafia menunduk, lalu menjawab, “Karena aku belajar. Bahwa kadang, cinta nggak perlu selalu dimiliki. Kadang cukup dijahit ulang jadi kekuatan.” --- “Yang Viral Bukan Cuma Outfit-nya” Dua minggu sejak toko "Saf & Co." buka, Syafia tidak menyangka… hidupnya bakal berubah segila ini. Semua bermula dari satu video t****k. > 🎥 @fashionbyzaza “GENGSSS! Aku nemu butik super hidden gem di pinggir kota, tapi aesthetic parahhh! Pemiliknya tuh… galak, cuek, tapi vibes-nya kayak karakter utama drakor gitu lohh~ 💅✨” Di video itu, terlihat Syafia dengan apron lusuh, rambut dicepol asal-asalan, sedang menjahit sambil mendelik ke arah kamera. "Mbak, jangan rekam-rekam ya. Ini tempat usaha, bukan tempat konten." Alih-alih kesal, netizen justru menggila: > 💬 “GILA! OWNER-NYA KAYAK CEO DRAMA THAILAND 😭” 💬 “Aku sih makin mau beli kalau ditatap dingin gitu 💀💘” 💬 “AESTHETIC + SASSY = SOLD.” --- Satu minggu kemudian... Toko mungil itu penuh antrean. Dari ibu-ibu pejabat sampai selebgram lokal, semua ingin datang dan merasakan "vibes galak tapi classy"-nya Syafia. Syafia sendiri? Tetap cuek. "Ngapain sih kalian antre buat baju basic kayak gini?" gumamnya sambil ngelap etalase. "Karena lo tuh kayak karakter yang ditulis pakai luka," sahut seseorang tiba-tiba dari pintu masuk. Perempuan dengan eyeliner tebal, sepatu boots warna perak, dan blazer oversized berdiri sambil ngunyah permen karet. "Dan karena lo sepupu Razif." Syafia membeku. “Siapa?” “Salma. Nama gua Salma. Gue sepupunya Razif. Dan entah kenapa... lo kayak baju hitam polos yang susah dicari tapi selalu cocok di momen apapun.” Dia menjentikkan kacamata hitamnya. "Gua suka lo, Syaf. Lo asli beda." --- Di belakang toko, Syafia ngeteh sendiri. Sampai Salma nyusul dan duduk di sampingnya. “Razif tuh butuh ditampar realita, dan lo… adalah realita yang dia nggak sangka bakal jatuh hati.” “Lho, lho, bentar. Gua gak ada urusan sama hidup Razif,” sahut Syafia cepat. Salma nyengir. “Persis. Makanya dia bakal makin tergila-gila.” Syafia mendengus. “Dia udah punya pengantin pilihannya. Gak usah tarik-tarik aku ke skenario hidup dia.” Salma nyeruput teh Syafia tanpa izin. “Mau nggak mau, lo tuh udah jadi plot twist.” --- Malam itu, Safiya buka i********: toko. Dikirim oleh followers: > 💬 @razif.ar: “Apakah kamu yang menjahit semua outfit di akun ini?” “Aku ingin memesan satu, langsung dari tanganmu.” Syafia tidak membalas. Hanya mengetuk layar, lalu mematikan notifikasi. Tapi jantungnya? Bunyi kayak drum marching band. "Garis Takdir yang Ngeyel" Toko baju Syafia makin viral. Bukan cuma karena desainnya yang anti-mainstream, tapi juga karena vibes-nya yang... healing. Ada nuansa hangat, ada aroma kayu manis dari lilin aroma terapi, dan playlist slow indie yang muter 24 jam nonstop bikin siapa aja betah. Tapi, bukan cuma pelanggan biasa yang datang hari itu. “Afiy, ada tamu spesial,” bisik Kirana, sahabat sekaligus asisten tokonya. Matanya melirik ke arah cowok tinggi pakai setelan kasual tapi mahal—celana bahan warna krem dan kemeja linen putih dengan tangan dilipat ke siku. Jam tangannya bling-bling. Kesan ‘gue kaya tapi lowkey’ terpampang jelas. “Siapa?” tanya Syafia sambil tetap lipat baju. Cowok itu melangkah mendekat. Dan… senyumnya familiar. “Syafia, ya? Sepupu Razif,” ujarnya. Suaranya berat tapi ada gurat kehangatan. “Aku Reihan.” Kirana langsung bersin kecil, “Hidup kayak drama Korea. Barusan bilang nama mantan, langsung muncul keluarganya.” Syafia cuma nyengir tipis. “Iya, aku Syafia. Ada yang bisa dibantu?” Reihan mengangguk. “Aku mau lihat-lihat. Tapi… sebenarnya aku ke sini karena penasaran. Razif cerita tentang kamu.” Kirana ngedesis pelan. “Wow. Mantan calon istri sekarang dibahas sama sepupunya. Dunia sekecil itu apa jiwaku yang terlalu luas?” Syafia tetap tenang. Tapi dadanya? Debar-debar kayak nunggu nilai matematika. Reihan mulai lihat-lihat baju, pegang satu kemeja oversized warna lilac. “Bagus. Ini desain kamu?” “Iya.” “Rasanya… kamu jauh dari bayangan perempuan pengganti. Kamu kelihatan… utuh.” Syafia mendongak. Mata mereka bertemu. Dan sesaat, waktu rasanya kayak disuruh slow motion. “Aku nggak pernah minta digantiin siapa-siapa, Mas Reihan,” balasnya lembut. “Aku cuma pengen hidupku… bukan jadi bayangan orang lain.” Reihan mengangguk, menyimpan senyum. “Razif kehilangan hal yang dia bahkan belum sempat punya.” Kalimat itu jatuh di antara mereka, kayak batu di kolam yang tenang. --- Malam harinya, Kirana ngedumel di kamar sambil makan roti sobek. “Reihan cakep banget. Beda sama Razif yang dinginnya kayak freezer rusak.” “Kir, jangan bawa-bawa dia lagi.” “Ya tapi… dia tuh kayak bonus cowok setelah heartbreak. Gimana sih rasanya, Fi?” Syafia melamun sebentar. “Kayak… baru sadar ternyata hatiku masih bisa bergetar. Tapi juga takut. Takut luka lama keulang.” Kirana duduk di sebelahnya, tepuk pelan bahunya. “Yang penting kamu tetap jadi kamu, Fi. Yang nggak gampang jatuh cuma karena perhatian tipis. Yang tahu harga dirinya, bukan diskon perasaan.” Syafia tersenyum. “Makasih ya, sahabat gen Z-ku.” --- Besoknya, toko makin rame. Salah satu pelanggan bahkan posting konten t****k: > “Nemu toko baju estetik + owner-nya literally main character vibe banget 😭✨#healingplace #syafstore #cewekuatbanget” Dan viral. Lagi. Notifikasi HP Syafia bunyi terus. Sampai satu chat dari nomor nggak dikenal masuk: > 🧊 Razif: “Aku bisa ketemu kamu sebentar? Ada hal yang belum sempat aku bilang. Dan kamu layak dengar langsung.” Syafia mematung. Layar HP-nya redup sendiri. Tapi hatinya? Ribet. Syafia nggak pernah nyangka, toko kecil yang awalnya cuma tempat pelarian dari hidupnya yang absurd… tiba-tiba jadi viral. Dan yang bikin tambah absurd? Cowok itu datang. Dengan sepatu kulit mengilap, kamera mahal tergantung di leher, dan senyum yang... damn, bisa bikin lupa cara napas. "Ini... butik viral itu ya?" tanya lelaki itu, matanya menyapu interior toko yang masih belum selesai di-renov total. “Lucu banget konsepnya. Lo yang desain semua ini?” Syafia menoleh sambil tetap menata baju di hanger, “Iya, kenapa?” “Gue Nayel,” ucapnya sambil menjulurkan tangan. “Fashion photographer. Dan... sepupu jauhnya Razif.” Petir. Dalam. Kepala. “Razif?” suara Syafia nyaris seperti gumaman ketus, “Yang itu?” “Yup. Tapi tenang aja, gue beda spektrum. Gue suka orang yang tahu apa yang dia mau. Lo kelihatan kayak gitu.” Syafia tersenyum tipis, nggak membalas. Tapi matanya menangkap satu hal: Nayel adalah antitesis dari Razif. Ramah. Terbuka. Nggak segan bicara. Dan… jelas banget tertarik padanya. --- Malam harinya, Razif muncul. Lagi-lagi diam-diam. Lagi-lagi nggak tahu aturan. “Syaf,” ucapnya, berdiri di depan toko yang udah tutup. “Aku cuma pengen lihat kamu.” Syafia melipat tangannya. “Kamu ngeliat aku tiap hari, waktu aku nggak minta. Kenapa sekarang baru bilang?” Razif mendekat, tapi Syafia mundur. “Aku tahu kamu belum bisa maafin semuanya,” bisik Razif. “Tapi... jangan kasih orang lain kesempatan yang belum sempat aku perjuangkan.” “Ini bukan soal siapa yang datang duluan, Razif,” kata Syafia pelan. “Tapi siapa yang benar-benar melihat aku. Bukan sekadar bayangan masa lalu.” Razif terdiam. --- Beberapa hari kemudian… Nayel datang lagi. Tapi kali ini dia bawa kamera dan seorang model. “Gue pengen kolaborasiin butik lo dengan photoshoot edisi indie couture. Lo mau?” Syafia diam sejenak. “Tapi gue bukan desainer beneran…” “Lo adalah kisah yang pantas ditangkap dalam lensa. Itu aja cukup.” Dan begitulah… untuk pertama kalinya, Syafia merasa dilihat. Bukan sebagai pengganti. Tapi sebagai pusat dari ceritanya sendiri. --- Di sudut langit Jakarta yang mendung, dua pria diam-diam mulai menyadari: Wanita yang dulu mereka kira bisa dikendalikan, kini justru jadi medan perang hati yang tak bisa mereka menangkan dengan kekuasaan. 3Pilihan yang Belum Siap Dipilih Hari itu butik Syafia ramai bukan main. Nayel menyiapkan set pemotretan di sudut depan toko. Background-nya sederhana tapi estetik, dengan tema “Healing in Chaos”. Model perempuan berdiri di antara tumpukan pakaian dan vas pecah yang sengaja ditata artistik. Syafia duduk di belakang meja kasir, matanya terus mengawasi. Tapi bukan cuma ke arah pemotretan—lebih ke arah satu sosok yang tiba-tiba muncul… tanpa kabar… seperti biasa. Razif. Dengan jas abu muda yang kayaknya nggak pernah lecek, dan ekspresi datar yang dia kira cool. Tapi buat Syafia? Lebih mirip kayak orang susah move on tapi gengsi ngakuin. "Dia selalu ngikutin kamu kayak bayangan, ya?" komentar Nayel pelan, sambil menatap Razif yang baru masuk. Syafia mendesah. “Aku nggak tau dia bakal datang.” “Kalau kamu nggak nyaman, aku bisa suruh dia pergi,” ujar Nayel sambil menyesap kopi dari gelas kertas. “Dia bukan maling, Nayel.” “Kadang, maling itu nggak selalu ambil barang. Kadang dia ambil... kesempatan.” Syafia diam. Perkataan Nayel kena banget. --- Di sisi lain ruangan... Razif berdiri diam, matanya lurus ke arah Syafia. Senyum Syafia—yang dia lihat dari jauh—bukan senyum basa-basi. Bukan senyum kaku kayak waktu mereka ketemu terakhir. Dan itu bikin hatinya mencelos. Razif mendekat, melewati kru pemotretan. Nayel langsung menoleh, kayak udah siap mode “defend”. “Syaf,” panggil Razif pendek. Syafia menoleh. “Kamu ngapain ke sini?” “Aku mau ngomong.” Nayel berdiri, mendekat juga. “Bro, lagi syuting nih. Bisa nanti aja?” Razif mendelik. “Gue ngomong sama dia, bukan sama lo.” "Sayangnya dia lagi kerja sama gue. Jadi lo bisa antri." Suasana makin tegang. Syafia berdiri cepat. “Stop. Dua-duanya.” Semua mata kru beralih ke mereka bertiga. “Aku nggak minta diperebutin,” ucap Syafia, nadanya tegas tapi pelan. “Aku lagi ngerjain hidup aku. Kalo kalian mau bikin drama, tunggu di luar. Biar aku yang tentuin siapa yang pantas masuk.” Razif menunduk sedikit. Nayel mengangkat alis, lalu mundur pelan. “Maaf,” ucap mereka hampir bersamaan. --- Sore harinya… Syafia duduk sendirian di belakang toko. Tangannya memegang mug teh, tapi isinya udah dingin sejak tadi. Kenapa hidupnya tiba-tiba kayak sinetron jam lima sore? Kenapa dua cowok—yang dua-duanya punya magnet masing-masing—datang pas dia lagi bangun ulang hidupnya? Dan... kenapa, dari semua orang, hati kecilnya masih ngerasa aneh setiap lihat Razif? Padahal dia udah disakitin. Dikhianati. Tapi... kadang luka nggak bisa dicuci bersih cuma pakai waktu. Kadang luka justru jadi bagian dari seseorang. Kayak nempel. Dan Syafia belum tahu... siapa yang bakal nolongin dia mengobati luka itu. Atau justru... bikin lukanya bertambah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN