BAB 5

732 Kata
Napas Bella tertahan di tenggorokan. Genggamannya pada ponsel milik Laura mengencang hingga buku-buku jarinya memutih, menghantarkan rasa linu yang tak sebanding dengan hantaman telak di dadanya. Dua puluh persen saham Sovereign Group. Itu bukan sekadar angka investasi. Di dunia korporat seketat Grand Vellara, dua puluh persen saham dari konsorsium sebesar Sovereign, ditambah dengan surat kuasa mutlak dari ayahnya, memberi Damian Vance kekuatan tirani. Pria itu bukan lagi sekadar singa sewaan yang dikirim untuk merapikan pembukuan perusahaan, dia adalah pemilik baru yang memegang tampuk kekuasaan tak tersentuh. Bahkan oleh Bella sekali pun. Rasanya seolah pembuluh darahnya akan pecah. "Bella... Kau tidak apa-apa?" bisik Laura, matanya bergerak panik antara wajah pucat atasannya dan sosok Damian yang kian mendekat di ujung koridor. Bella tidak menjawab. Dia memaksa dagunya tetap terangkat, mengembalikan ponsel ke tangan Laura dengan gerakan halus , berusaha keras menyembunyikan gemetar yang menjalar di tulang belakangnya. Di dalam ruang rapat, obrolan ringan para direksi perlahan senyap saat mereka menyadari kehadiran Bella di ambang pintu, disusul oleh langkah kaki Damian yang berirama teratur di belakangnya. "Vellara," sapa salah satu direktur senior, mengangguk hormat. Namun, mata pria tua itu segera beralih ke belakang bahu Bella, tempat Damian kini berdiri dengan ketenangan seorang kaisar yang baru saja menaklukkan wilayah jajahan baru. "Silakan masuk. Kita tidak punya waktu untuk mengagumi pintu," suara bariton Damian memecah keheningan koridor. Nada suaranya tidak mengandung ejekan terang-terangan—dan itulah yang membuatnya semakin berbahaya. Pria itu bersikap seolah pengumuman dari London tadi hanyalah sekadar memo cuaca harian yang tidak perlu dibahas. Bella membalikkan tubuhnya perlahan, berhadapan langsung dengan Damian di depan pintu masuk. Jarak mereka kurang dari satu meter. Dari jarak ini, Bella bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata cokelat gelap Damian—seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa gertakannya dihancurkan dalam satu langkah tak terduga. Kuat dan menyakitkan. "Kau merencanakan ini sejak awal," desis Bella, memastikan suaranya hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Damian menatapnya datar, ekspresinya terkontrol sempurna tanpa riak emosi. "Aku tidak merencanakan sesuatu yang sudah menjadi hakku, Bella. Aku hanya menggunakan alat yang efektif untuk menyingkirkan gangguan. Dan saat ini, emosimu adalah gangguan terbesar bagi masa depan Grand Vellara." Pria itu melangkah maju, memaksa Bella untuk mundur satu langkah masuk ke dalam ruang rapat demi menghindari kontak fisik. Damian berjalan melewati Bella tanpa memandangnya lagi, mengambil posisi di ujung meja kaca besar—kursi utama yang selama puluhan tahun diduduki oleh ayah Bella. Pertemuan pun dimulai, dan bagi Bella, itu adalah visualisasi dari neraka korporat yang sesungguhnya. Selama dua jam berikutnya, Bella dipaksa duduk dan menyaksikan bagaimana Damian membedah struktur organisasi Grand Vellara dengan mulut dan keahliannya yang amat tajam. Pria itu tidak hanya menguasai data keuangan, dia menghafal setiap metrik kinerja dari masing-masing departemen. Sifat pengamatnya yang dingin bekerja dengan efisiensi yang menakutkan. Dia tahu direktur mana yang bisa ditekan dengan angka, dan kepala divisi mana yang bisa dimanipulasi dengan janji bonus performa. Satu per satu, para petinggi yang selama ini bersikap manis di depan Bella mulai menundukkan kepala di hadapan Damian. Mereka manggut-manggut setuju saat Damian memaparkan proyeksi lini hotel baru untuk kelas bisnis keluarga—rencana yang beberapa jam lalu didebat habis-habisan oleh Bella. "Dan bagaimana dengan divisi pemasaran?" tanya Direktur Keuangan, melirik sekilas ke arah Bella yang duduk diam dengan tangan bersedekap di ujung meja yang lain. "Restrukturisasi ini membutuhkan kampanye agresif. Namun, kami mendengar ada kendala pembekuan anggaran di sana." Damian membalik halaman dokumen fisik di depannya, gerakan jemarinya lambat dan penuh pertimbangan. Dia tidak langsung menjawab, membiarkan keheningan yang menekan merayap di dalam ruangan ber-AC tersebut. Setiap pasang mata kini tertuju pada Bella, sebagian besar di antaranya sarat dengan rasa kasihan yang membuat lambung Bella bergolak mual. "Divisi pemasaran akan tetap berjalan di bawah pengawasanku langsung," ujar Damian akhirnya. Suaranya terdengar mutlak, memenuhi setiap sudut ruangan megah yang mengelilingi mereka. "Anggaran akan dicairkan secara bertahap, hanya untuk proyek yang selaras dengan visi restrukturisasi. Kepala divisi akan diberikan waktu satu minggu untuk menyesuaikan seluruh strategi mereka dengan cetak biru yang baru." Damian mendongak, matanya yang tajam langsung mengunci target. "Jika dalam satu minggu Kepala Divisi Pemasaran tidak mampu menunjukkan performa yang kooperatif, posisi tersebut akan dilikuidasi dan tugasnya akan dilebur ke bawah kendali eksekutif CEO. Ada pertanyaan?" Pertanyaan itu ditujukan untuk semua orang, tapi Bella merasa Damian mengatakan itu untuk menantangnya. Jika Damian pikir dia sudah menyerah, laki-laki itu sama sekali tidak mengenalnya. Ini akan jadi pertarungan yang sangat melelahkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN